Ilmu Yang Membahas Al-Qur’an


Beberapa ilmu Yang Membahas Al-Qur’an

a.  Ilmu Asbabun Nuzul, yaitu bagian dari ulumul Qur’an yang mempelajari sebab-sebab diturunnya ayat. Dengan ilmu ini seorang mufassir dapat mengetahui hikmah adanya suatu hukum dan perhatian syari’at terhadap kepentingan umum dalam menghadapi segala peristiwa. Selanjutnya seorang mufassir bisa membatasi hukum yang diturunkan dengan sebab yang terjadi. Para ulama sangat memperhatikan masalah asbabun nuzul ini, diantaranya apa yang dikatakan oleh Al Wahidy (Wafat 427 H) : “Tidak mungkin kita mengetahui tafsir suatu ayat tanpa mengetahui kisah dan sebab turunnya ayat tersebut.” Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah juga berkata : “Mengetahui asbabun nuzul menolong kita untuk memahami ayat, karena dengan mengetahui sebab turunnya ayat itu dengan sendirinya akan menghasilkan pengetahuan tentang yang disebabkan olehnya.” Diantara kitab asbabun nuzul yang termasyhur adalah kitab Lubabun Nuzul Fii Asbabin Nuzul, karya Imam Jalaluddin As Suyuthi, wafat : 911 H.

b.  Ilmu Makki dan Madani, yaitu bagian dari ulumul Qur’an yang mempelajari ayat-ayat mana yang turun di Makkah dan ayat-ayat mana yang turun di Madinah. Para ulama begitu tertarik untuk meneliti surat-surat Makiyah dan surat-surat Madaniyah, mereka meneliti surat demi surat untuk diterbitkan sesuai dengan nuzulnya. Bahkan lebih dari mereka juga mengumpulkan waktu, tempat dan pola kalimat. Diantara materi yang dipelajari oleh para ulama dalam pembahasan ini adalah :

1.      Yang diturunkan di Makkah.

2.      Yang diturunkan di Madinah.

3.      Yang diperselisihkan turunnya.

4.      Ayat-ayat Makiyah yang terdapat dalam surat Madaniyah.

5.      Ayat-ayat Madaniyah yang terdapat dalam surat Makiyah.

6.      Yang diturunkan di Makkah sedang hukumnya adalah Madaniyah.

7.      Yang diturunkan di Madinah sedang hukumnya adalah Makiyah.

8.      Yang serupa dengan yang diturunkan di Makkah dalam kelompok Madani.

9.      Yang serupa dengan yang diturunkan di Madinah dalam kelompok Makki.

10.  Yang dibawa dari Makkah ke Madinah.

11.  Yang dibawa dari Madinah ke Makkah.

12.  Yang turun sewaktu malam dan turun diwaktu siang.

13.  Yang turun di musim panas dan di musim dingin.

14.  Yang turun di saat menetap dan turun di saat bersafar.

Inilah pokok-pokok pembahasan dalam Ilmu Makki wal Madani. Diantara kitab yang di dalamnya membahas ilmu Makki dan Madani adalah Al Itqan fil Ulumil Qur’an karya Imam Jalaluddin As Suyuthi : wafat 911 H.

c.  Ilmu Fawatihus Suwar, yaitu bagian dari ulumul Qur’an yang membahas surat-surat yang dimulai dengan huruf-huruf Hijaiyah tertentu. Diantara huruf-huruf yang sering dipakai dalam Al-Qur’an sebagai permulaan adalah : Huruf Alif, Lam, Mim, Ra’, Shaad, Qaaf, Kaaf, Haa, ‘Ain, Yaa, Tha, Sin, Nun dan Ha. Masing-masing surat memiliki fawatihus suwar yang berbeda-beda, ada yang berjumlah satu, ada yang dua bahkan ada yang sampai lima. Para ulama juga berbeda-beda dalam menafsirkan huruf-huruf itu, diantara mereka ada menyerahkan semuanya kepada Allah, ada pula yang menisbatkan huruf-huruf itu kepada sifat-sifat Allah dan lain sebagainya.

d.  Ilmu Qiraat, yaitu bagian dari ulumul Qur’an yang membahas tentang cara dan kaifiyat dalam membaca Al-Qur’an. Dalam hal ini yang paling terkenal adalah istilah Qira’atus Sab’ah (Qiraat yang tujuh) atau Qira’atul Asyrah (Qira’at yang sepuluh). Diantara tokoh-tokoh dalam ilmu Qira’at adalah : Abdullah bin Katsir ad Dari di Mekkah, Nafi bin Adbur Rahman di Madinah, Abdullah al Yahashibi di Syam, Abu ‘Amer di Bashrah, Hamzah dan Ashim di Kufah dll.

e.  Ilmu Nasikh wal Mansukh, yaitu bagian dari Ulumul Qur’an yang membahas ayat-ayat yang terhapus (mansukh) dan ayat-ayat yang menghapus (nasikh). Para ulama berselisih pendapa tentang adanya naskh dalam Al-Qur’an. Diantara mereka ada yang berpendapat bahwa tidak mungkin ada ayat Al-Qur’an yang mansukh, karena Al-Qur’an merupakan ayat yang muhkamat. Diantara mereka ada juga yang berpendapat adanya naskh dalam Al-Qur’an sebagaimana firman Allah yang terdapat dalam surat :

“Dan apabila Kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata: “Sesungguhnya kamu adalah orang yang mengada-adakan saja”. Bahkan kebanyakan mereka tiada mengetahui.” (Q.S. An Nahl : 101)

dan Surat :

“Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?” (Q.S. Al Baqarah : 106)

Jumhur ulama mengatakan bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat beberapa ayat yang telah dimansukh oleh ayat yang datang terakhir kali. Dalam hal ini Imam Jalaluddin As Suyuthi banyak menjabarkan dalam kitabnya yang berjudul Al Itqan dan At Tahbir Fii Ilmi Tafsir.

f.   Ilmu Rasmil Qur’ani, yaitu bagian dari ulumul Qur’an yang membahas tentang perumusan dalam penulisan mushaf Al-Qur’an. Diantara mushaf yang paling masyhur dan telah disepakati oleh jumhur ulama adalah Mushaf Utsmani. Rasam inilah yang memiliki kedudukan tinggi, karena khalifah sendiri yang menyetujuinya dan menetapkannya, sehingga ia disebut sebagai mushaf imam.

g. Ilmu Muhkam dan Mutasyabih, secara bahasa bahwa yang disebut Muhkam adalah sesuatu yang paten dan kokoh, sedang mutasyabih adalah adanya penyerupaan antara dua jenis benda. Dalam hal ini pengertian ayat-ayat muhkam menurut istilah syar’i adalah ayat-ayat yang mudah diketahui maksudnya, sedang ayat-ayat mutasyabih adalah ayat yang hanya diketahui maknanya oleh Allah sendiri. Ayat muhkam berarti ayat yang memiliki satu bentuk (wahjun), sedang mutasyabih mengandung banyak wajah. Ayat muhkam juga berarti ayat yang maksudnya dapat diketahui secara langsung, sedang mutasyabih adalah ayat yang memerlukan penjelasan dengan merujuk kepada ayat-ayat yang lain. Para ulama memberikan contoh beberapa ayat-ayat muhkam, diantaranya adalah ayat-ayat yang membahas masalah halal dan haram, hudud, kewajiban, janji dan ancaman. Sedang diantara contoh ayat-ayat mutasyabih adalah ayat-ayat yang berbicara tentang asma’ dan sifat Allah, termasuk diantaranya masalah-masalah yang membahas tentang alam akhirat.

h. Ilmu Amtsalli Qur’an, yaitu bagian dari ulumul Qur’an yang membahas tentang berbagai perumpamaan yang Allah buat dalam Al-Qur’an. Objeknya adalah kisah, keadaan, binatang, benda-benda dan hal-hal yang biasanya menarik perhatian dan menakjubkan. Di dalam Al-Qur’an ada tiga macam amtsal, yaitu amtsal musharah (amtsal yang tegas), amtsal kaminah (amtsal yang tersembunyi), dan amtsal mursalah (yang terlepas). Di antara faedah dan adanya amtsal dalam Al-Qur’an adalah untuk mengumpulkan makna yang indah dalam satu ibarat yang pendek, ia juga berfungsi untuk mengungkap hakikat-hakikat dan mengemukakan sesuatu yang jauh dari fikiran hingga menjadi dekat dengan fikiran.

i.   Ilmu Qashashil Qur’an, yaitu bagian dari ulumul Qur’an yang membahas tentang kisah-kisah di dalam Al-Qur’an. Ia meliputi kisah-kisah para nabi, kisah-kisah umat-umat terdahulu, dan kisah-kisah yang berkaitan dengan kehidupan Rasulullah SAW. Diantara faedah dari semua ini adalah untuk menjelaskan dasar-dasar dakwah pada agama Allah dan menerangkan pokok-pokok syariat yang disampaikan oleh para nabi. Kisah itu juga berfungsi untuk mengokohkan hati Rasulullah SAW dan umatnya agar yakin dalam berpegang teguh kepada agama ini bahwasanya Allah akan memberikan pertolongan kepada hamba-Nya. Hikmah lainnya adalah untuk menampakkan kebenaran risalah nabi Muhammad, dimana beliau dapat menerangkan sifat-sifat umat-umat terdahulu.

j.   Ilmu Jadalil Qur’an, yaitu bagian dari ilmu ulumul Qur’an yang membahas tentang debat di dalam Al-Qur’an. Jadal atau munadharah bisa berarti membantah atau mendebat sesuatu, maksudnya membantah pendapat orang kafir dan mematahkan hujjah-hujjah mereka. Tujuan dari jadal atau munadharah ini untuk menunjukkan kelemah dan kekurangan mereka, serta menampakkan kebenaran dan misi risalah yang dibawa oleh Rasulullah SAW.

k.  Ilmu Aqsamil Qur’an, yaitu bagian dari ulumul Qur’an yang membicarakan tentang sumpah-sumpah di dalam Al-Qur’an. Fungsi dari adanya sumpah ini adalah untuk menekankan kebenaran isi Al-Qur’an, karena benda-benda yang dijadikan Allah sebagai sumpah merupakan benda-benda yang memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh benda lainnya. Diantara benda yang sering digunakan untuk bersumpah adalah : matahari, malam, waktu siang, waktu subuh, waktu ashar, kuda perang, bulan dll.

l.   Ilmu Tafsir Al-Qur’an, ilmu inilah yang menempati bagian terbesar dalam ulumul Qur’an, karena hampir semua ilmu-ilmu Al-Qur’an lainnya berfungsi untuk membantu menafsirkan ayat Al-Qur’an. Para ulamat salaf sangat berhati-hati dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an, bila mereka tidak mengerti maka mereka akan mengembalikan permasalahan itu kepada orang yang lebih mengerti, dalam hal ini adalah Rasulullah SAW  dan para sahabatnya. Tokoh sahabat yang menjadi penterjemah Al-Qur’an adalah Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas. Keduanya sering disebut sebagai Syeikhul Mufassirin.

Wabbillahi Taufik Wal’hidayah Wal’inayah Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabaraakatuh Wamaghfirah

Sumber : AWW

4 responses to this post.

  1. ada satu lagi yg belum ada tuh mbak
    ilmu TAJWID

    Balas

  2. ILMU TAJWID Yaitu ilmu yang mempelajari bagaimana cara membaca dengan baik. Ilmu ini ditujukan dalam pembacaan Alquran. Pengucapan huruf hija’iyah harus benar, karena pengucapan yang tidak tepat akan menghasilkan arti yang berbeda.

    Ilmu tajwid bertujuan untuk memberikan tuntunan bagaimana cara pengucapan ayat yang tepat, sehingga lafal dan maknanya terpelihara. Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa pengucapan hadis-hadis Rasulullah SAW pun harus dilakukan dengan aturan-aturan tajwid, karena merupakan penjelasan dan sumber hukum kedua setelah Alquran.

    Masalah yang dicakup dalam ilmu tajwid adalah makharij al-huruf (tempat keluar masuk), ahkam al-huruf (hubungan antarhuruf), ahkam al-maddi wa al-qasr (masalah panjang dan pendek ucapab), ahkam al-waqf wa al-ibtida (masalah memulai dan menghentikan bacaan), dan al-katt al-Utsmani (masalah bentuk tulisan mushaf Usmani).

    Mempelajari tajwid sebagai disiplin ilmu merupakan fardu kifayah atau kewajiban kolektif. Namun, membaca Alquran dengan memaknai aturan-aturan tajwid merupakan fardu ain atau kewajiban individu.

    Membaca Alquran termasuk ibadah, dan karenanya harus sesuai ketentuan. Ini sesuai dengan perintah Allah dalam Alquran, “…Bacalah Alquran itu dengan tartil.” (QS Al Muzzammil [73]: 4). Arti tartil menurut ahli tafsir Ibnu Katsier adalah membaca dengan perlahan-lahan dan hari-hati karena hal itu akan membantu pemahaman serta perenungan terhadap Alquran.

    Balas

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: