Hakikat Jodoh dan Dewasa Buat Kita


Sebagai sebuah mysterius problem sekaligus sebagai sebuah takdir selain perkara rizki, ajal, dan amal perbuatan kita adalah “Saqiyyun au Sa’iid..dan di dalamnya kita mengenal istilah JODOH. Hal ini sesungguhnya bukanlah merupakan kekhususan atas nama kekhawatiran bagi para akhwat, namun para ikhwan pun termasuk di dalamnya terutama ketika mereka sudah berada pada masa atau usia pernikahan. Kemana pun mereka melangkah, pertanyaan-pertanyaan “kreatif” baik dari diri sendiri maupun orang-orang yang mengenalnya tiada henti membayangi. ”Kapan ana menikah?, Kapan antum menikah? Mas, Mba..Pak…dst? Udah punya pacar blom? Lohh??…Calon isteri maksudnya. Dan mungkin, sebagian dari kita kemudian akan tersenyum ketika kita melihat sebuah iklan di tv atau sebuah poster iklan di jalan ketika pertanyaan senada dibuat untuk menyindir kita (kiiita?:)) maka sang artis pun dengan enteng dan tanpa merasa bersalah menjawab: ”Maybe Yes, Maybe No..”

”Saya rindu seorang pendamping, namun siapa? Seorang alim senior diceritakan datang menghampiri seorang pemuda (alim junior) yang terlihat sedih dan murung seperti sedang bergelut dalam suatu masalah. Kemudian beliau semakin mendekati pemuda tersebut dan berkata: ”Wahai anak muda…bukankah antum seorang yang alim, namun mengapa engkau terlihat sedih dan seperti sedang memendam masalah?..Si pemuda tersebut pun lantas mulai bercerita…dan di akhir ceritanya Sang Alim Senior berkata dengan bijak. ”Ketahuilah anak muda, tidak pantas seorang yang alim merasa bersedih hati hingga berlama-lama dengan ujian yang sedang ia hadapi (apapun bentuk ujian atau cobaan tersebut). Karena sekecil apapun yang terjadi di muka bumi ini Allah sudah mengaturnya kok!. ”Bukankah setiap ujian dan cobaan yang menimpa kita tersebut memang Allah SWT yang berkehendak?, semua yang terjadi di dunia dan khususnya yang menimpa kita itu pastilah berakhir, karena yang kekal hanyaalah Dia. Bahwa sesungguhnya semua perkara yang menimpa kita sebagai seorang mu’min adalah pada hakikatnya tetap bernilai baik dan berpahala. ”Sebab, jika Alllah SWT memberi ujian berupa ni’mat kepada orang-orang mu’min adalah pada hakikatnya agar mereka senantiasa bersyukur dan jika Alllah SWT memberikan cobaan buat mereka berupa masalah atau kesulitan maka mereka pun tetap bersabar”.

Ada seorang teman mengatakan: ”Aku iri melihat wanita muda menggendong bayi, kapan giliranku dipanggil ibu? ”Aku jadi ragu, benarkah aku punya jodoh? Atau jangan-jangan Tuhan berlaku tidak adil?. Maka InsyaAllah apa yang ia pertanyakan tersebut sebenarnya timbul karena kekuranganfahaman ia tentang Syumuliyah Ad dienul Islam. Di sana sudah terang disebutkan bahwa kita hanya dibolehkan iri cuma terhadap 2 hal: 1. Seseorang yang alim (berilmu), ia mengamalkan ilmunya dan ia sampaikan ilmunya dengan cara mengajarkannya kepada orang lain, 2. Seseorang yang kaya raya namun ia dermawan. Selain kedua hal tersebut maka kita dilarang dan hukumnya menjadi berdosa manakala kita iri terhadap perkara yang lain. Namun jika kemudian kita lebih cermat dalam memilih kata, maka jika maksudnya ialah sekedar keinginan yang sangat kuat dan mendalam untuk memilikinya atau merasakannya untuk kemudian diungkapkan melalui do’a kita kepada Allah SWT Yang Maha Mendengar lagi Maha Menerima do’a para hamba-Nya dengan sebenar-benarnya maka itu hukumnya boleh, sangat wajar dan merupakan hal yang sangat dianjurkan secara syar’i.

”Jangan pernah meragukan kekuasaan Allah, karena sesungguhnya ia akan memberikan atau berlaku adil seperti sangkaan hambaNya.. Dan Demi Allah, kalau bukan Allah yang memiliki keadilan, maka kepada siapa lagi keadilan itu berada?, kepada Tuhan yang mana lagi prinsip kepercayaan kita terhadap keadilan dan aqidah syar’iyyah kita mau dipertaruhkan dengan cara meragukan kekuasaanNya??. Nastaghfirullahal adziim, Naudzubillah min dzaalik.

”Jodoh serasa ringan diucap, tapi rumit dalam realita. Ungkapan seperti ini saya fikir masih saja menyisakan sebuah semangat yang rentan dengan sebutan patah semangat dan bisa berakhir ke sebuah paradigma yang merumitkan realita dalam perkara jodoh.

”Kebanyakan orang ketika berbicara soal jodoh selalu bertolak dari sebuah gambaran ideal tentang kehidupan rumah tangga. Ya, hal ini benar. Dan otomatis kita pun lalu berpikir serius tentang kriteria calon idaman. Nah, di sinilah segala sedu-sedan pembicaraan soal jodoh itu berawal. Pada mulanya, kriteria calon hanya menjadi ‘bagian masalah’, namun kemudian justru menjadi inti permasalahan itu sendiri. Di sini orang berlomba mengajukan “standardisasi” calon: wajah rupawan, berpendidikan tinggi, wawasan luas, orang tua kaya, profesi mapan, latar belakang keluarga harmonis, dan tentu saja kualitas keshalihan.

Ketika ditanya, haruskah seideal itu? Jawabnya ringan, “Apa salahnya? Ikhtiar tidak apa-apa, kan?” Memang, ada juga jawaban lain, “Saya tidak pernah menuntut. Yang penting bagi saya calon yang shalih saja.” Sayangnya, jawaban itu diucapkan ketika gurat-gurat keriput mulai menghiasi wajah. Dulu ketika masih fresh, sekadar senyum pun mahal. Tidak ada satu pun dalih, bahwa peluang jodoh lebih cepat didapatkan oleh mereka yang memiliki sifat superior (serba unggul). Memperhitungkan kriteria calon memang sesuai sunnah, namun kriteria tidak pernah menjadi penentu sulit atau mudahnya orang menikah. Pengalaman riil di lapangan kerap kali menjungkirbalikkan prasangka-prasangka seperti ini.

Jodoh, jika direnungkan, sebenarnya lebih bergantung pada tingkat kedewasaan kita. Banyak orang merintih pilu, menghiba dalam doa, memohon kemurahan Allah, sekaligus menuntut keadilan-Nya. Namun prestasi terbaik mereka hanya sebatas menuntut, tidak tampak bukti kesungguhan untuk menjemput kehidupan rumah tangga.

Mereka membayangkan kehidupan rumah tangga itu indah, bahkan lebih indah dari film-film picisan ala bintang India. Mereka tidak memandang bahwa kehidupan keluarga adalah arena perjuangan, penuh liku dan ujian, dibutuhkan nafas kesabaran yang panjang, kadang berupa kegetiran dan mampir susul-menyusul. Mereka hanya siap menjadi raja atau ratu, namun tidak pernah menyiapkan diri untuk berletih-letih dalam membina sebuah keluarga.

Kehidupan keluarga tidak berbeda dengan kehidupan individu, hanya dalam soal ujian dan beban memang kenyataanya jauh lebih berat. Di sinilan kemudian hikmah tanggungjawab berumahtangga mulai Allah SWT paparkan, namun di sisi yang lain pun Allah SWT menguji kesabaran dan keimanan kita bahwa sesungguhnya tidak ada satu pun makhluknya di muka bumi ini sekalipun hewan melata yang Allah pasti jamin rizkinya.

Jika ada seseorang yang masih single, lalu dibuai dengan penyakit malas untuk berikhtiar lebih keras lagi untuk mencari nafkah, apalagi manja dengan bantuan dari orang tua, kehidupan keluarga macam apa yang ia impikan? Kapan ia bisa mandiri? Dan kelak anak-anak dan cucu-cucu generasi penerus seperti apa yang akan datang?

Pendidikan, lingkungan, dan media informasi kadang membesarkan generasi muda kita menjadi manusia-manusia yang rapuh. Mereka sangat pakar dalam memahami sebuah gambaran kehidupan yang ideal, namun lemah nyali ketika didesak untuk meraih keidealan itu dengan pengorbanan… Sebagian pendapat ini mungkin ada benarnya, tapi tidak berati justifikasi ia lemah nyali ketika didesak untuk menikah atau mengkhitbah (melamar) seseorang maka kiranya perlu sudut pandang yang lebih arif dan bijak lagi. Misalnya, oo…sebenarnya masalahnya bukan itu, tapi lebih terhadap ternyata tuntutan keluarga besar sang pemuda masih melihat ia belum siap untuk menikah, oo..ternyata ia belum menemukan seseorang yang bisa menentramkan hatinya ketika ia melihatnya, atau ketika ia mendengar bagaimana calon isterinya berkata-kata atau bagaimana calon isterinya berpendapat mengenai soal prinsip agama atau prinsip kehidupan, oo…ternyata …dan sedikit realita yang kadang bagi sebagian orang hal tersebut remeh atau tidak sya’ri namun setelah dikaji lebih dalam ternyata alasan tersebut reasonable bahkan termasuk kategori alasan sya’ri. Misalnya, ketika ia menilai dengan karakter seorang calon isteri yang ia kenal keras, maka berdasarkan pertimbangan ia sendiri, dan nasihat dari guru ngajinya atau orang tuanya sendiri disarankan untuk tidak memilihnya karena akan terlalu sulit untuk membimbing ia ke sebuah rumah tangga yang Sakinah Mawaddah warahmah.

”Jika harus ideal, mereka menuntut orang lain yang menyediakannya. Adapun mereka cukup ongkang-ongkang kaki. Mm…pendapat ini pun kiranya perlu diluruskan bahwa akan sangat ironis dan egois sekali jika ada orang yang ingin mendapatkan pendamping yang harus ideal, pokoknya HARUS ideal. Karena jika demikian, tentu akan sangat sulit menemukannya. InsyaAllah ada orangnya, tapi langka. Dan karena itulah sebuah nasihat bagus perlu kita tanamkan dalam-dalam di hati kita bahwa kalau kita menghendaki pendamping yang ideal maka idealkan dahulu diri kita. InsyaAllah, kita pun akan dipertemukan dengan yang seideal dengan kita. Amiin.

”Kesulitan itu pada akhirnya kita ciptakan sendiri, bukan dari siapa pun. Benar!, saya sependapat dengan hal ini. ”Bagaimana mungkin Allah akan memberi nikmat jodoh, jika kita tidak pernah siap untuk itu? Siap atau tidak siap, maka bagi seorang muslim yang normal jalan fikirannya maka ia akan berkata InsyaAllah ia akan siap pada waktunya. Ia sudah pasti akan membuat agenda atau minimal target kapan ia harus mengatakan siap. Mungkin saat ini ia belum siap, tapi wallahu a’lam kalau ternyata bulan depan, minggu depan bahkan mungkin besok ternyata ia sudah sangat siap untuk menikah. Hal tersebut saya yakin ada pada setiap fikiran seorang muslim yang Allah SWT karuniai ia akal yang sehat.

“Tidaklah Allah membebani seseorang melainkan sekadar sesuai kesanggupannya ” (QS Al Baqarah, 286).

Di balik fenomena “telat nikah” sebenarnya ada bukti-bukti kasih sayang Allah SWT. Ketika sifat dewasa telah menjadi jiwa, jodoh itu akan datang tanpa harus ditunggu-tunggu bahkan tanpa perlu dirintihkan. Kala itu hati seseorang telah bulat utuh, siap menerima realita kehidupan rumah tangga, manis atau getirnya, dengan lapang dada. Jangan pernah lagi bertanya, mana jodohku? Namun bertanyalah, sudah dewasakah aku?

Ya, sebuah taushiah atau nasihat bagus ketika kita mulai bisa mendefinisikan apa itu dewasa?. Walaupun ternyata, saya tidak terlalu setuju jika dewasa hanya diidentikkan dengan sepotong kalimat atau pendapat seperti di atas. Kalau boleh saya berpendapat maka saya ingin mengatakan bahwa Definisi Dewasa yang sesungguhnya adalah jika seseorang mampu mengatasi setiap masalah yang ia hadapi (apapun bentuknya).

Perkara ia berhasil atau tidak dalam mengatasi masalah tersebut untuk kasus masalah yang baru terjadi maka itu tidak menjadi sebuah ukuran utama. Namun jika kemudian masalah yang serupa atau hampir serupa datang maka keberhasilan dalam mengatasi masalah tersebut menjadi sebuah ukuran utama. Oleh karena itulah kemudian ia akan dikenal sebagai “Solution Maker” atau “Problem Solver”, tempat orang-orang bertanya, berkonsultasi, atau minimal sekedar sharing tentang banyak hal. Yang jelas, dari kebiasaan bagaimana ia mengatasi masalah maka akan muncul sebuah karakter kuat untuk bagaimana ia akan selalu bersikap dewasa dalam setiap situasi dan kondisi. Dan ghalibnya, dewasa menurut saya merupakan sebuah proses bagaimana mencari dan menemukan solusi dari setiap permasalahan hidup dan proses tersebut akan terus berjalan seiring bertambahnya usia dan pengalaman hidup seseorang. Artinya, mestinya memang seseorang yang berusia di atas kita tentu lebih dewasa daripada kita. Dengan ungkapan yang lain, mestinya ia lebih mampu mengatasi masalah yang ia hadapi dibandingkan orang yang berusia lebih muda. Namun ternyata fakta membuktikan lain, faktor usia hanyalah merupakan salah satu parameter pendukung kedewasaan seseorang. Tiidak ada jaminan bahwa seseorang yang lebih muda usianya maka kadar kedewasaanya lebih rendah. Barangkali, faktor-faktor pendukung lainnya yang perlu dicermati adalah bagaimana sebenarnya karakter pribadi seseorang tersebut sejak awal, apakah ia termasuk tipe orang yang mudah menerima saran, kritik, atau pendapat orang lain yang atau tidak, apakah ia terus belajar dan memperbaiki diri atau tidak, dengan siapa sajakah ia berteman?, berapa banyak teman yang dinilai sudah dewasa, dst. Lebih spesifik mengenai sikap atau karakter seseorang yang bisa disebut dewasa menurut saya adalah ia selalu memposisikan masalah seobjektif mungkin dan menjauhkan diri dari subjektifitas, mau mengalah, tidak mudah menyerah atau berputus asa, tidak mudah mengeluh, selalu optimis dan bersemangat dalam hidup ini, mudah memaafkan kesalahan orang, tidak mudah menjustifikasi orang atas kesalahan, kekeliruan atau kekhilafannya, jujur, amanah, bertanggungjawab, ringan tangan untuk membantu sesama, ia akan menerima takdir baik maupun buruk secara proporsional, dan ia akan bersikap lebih baik daripada hari-hari sebelumnya.

Dan kembali ke soal pembahasan mengenai jodoh, ada sebuah hadist yang sangat mengena di hati untuk senantiasa kita ingat untuk lebih memotivasi dan menimbulkan efek positif buat kita yang mendambakan sebuah keluarga baru penuh rahmat dan barakah. “Bahwa sesungguhnya ketika seorang suami memperhatikan istrinya dan begitu pula dengan istrinya, maka Allah memperhatikan mereka dengan penuh rahmat, manakala suaminya merengkuh telapak tangan istrinya dengan mesra, berguguranlah dosa-dosa suami istri itu dari sela jemarinya” (Diriwayatkan Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi’ dari Abu Sa’id Alkhudzri r.a) “



5 responses to this post.

  1. Perlukah kita mempertanyakan tentang jodoh kita???sedangkan Alloh telah menyediakan untuk kita

    Balas

    • Betul pak Bambang…kadang manusia tdk sabar dgn ujian yg diberikan kpdnya maka timbullah pertanyaan2 ” kapan jodoh saya dtg ” terlebih jika usia sudah cukup matang, jika qt sudah memahami itu maka smua akan indah pada waktunya

      Balas

  2. Posted by tiani on Januari 3, 2014 at 1:00 pm

    boleh saya copas untuk membantu memotivasi yg lain :)

    Balas

  3. Posted by Mutiara Heni Susanti on Januari 16, 2014 at 9:18 pm

    Romantis ya, ALLAH SWT sungguh sgtlah mulia tiada tandingannya, I LOVE YOU ALLAH ya thnku yg mh pengasih lg mh penyanyang,

    Balas

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: