<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Sang Bidadari</title>
	<atom:link href="http://bidadari08.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bidadari08.wordpress.com</link>
	<description>Terus Berjuang dan Berdoa</description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Oct 2009 01:23:54 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='bidadari08.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/8244e32341d15953c1f327a177c7936c?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Sang Bidadari</title>
		<link>http://bidadari08.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>makna ikhlas</title>
		<link>http://bidadari08.wordpress.com/2009/10/28/makna-ikhlas/</link>
		<comments>http://bidadari08.wordpress.com/2009/10/28/makna-ikhlas/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 01:23:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bidadari</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bidadari08.wordpress.com/2009/10/28/makna-ikhlas/</guid>
		<description><![CDATA[Ikhlas kepada Allah Ta’ala maknanya seseorang bermaksud melalui ibadahnya tersebut untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Ta’ala dan mendapatkan keridhaan-Nya.  Bila seorang hamba menginginkan sesuatu yang lain melalui ibadahnya, maka disini perlu dirinci lagi berdasarkan klasifikasi-klasifikasi berikut :  Pertama. Dia memang ingin bertaqarrub kepada selain Allah di dalam ibadahnya ini dan mendapatkan pujian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&blog=3447897&post=254&subd=bidadari08&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ikhlas kepada Allah Ta’ala maknanya seseorang bermaksud melalui ibadahnya tersebut untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Ta’ala dan mendapatkan keridhaan-Nya. <strong> Bila seorang hamba menginginkan sesuatu yang lain melalui ibadahnya, maka disini perlu dirinci lagi berdasarkan klasifikasi-klasifikasi berikut :  Pertama. Dia memang ingin bertaqarrub kepada selain Allah di dalam ibadahnya ini dan mendapatkan pujian semua makhluk atas perbuatannya tersebut. Maka, ini menggugurkan amalan dan termasuk syirik.  Di dalam hadits yang shahih dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman.  “Artinya : Aku adalah Dzat Yang paling tidak butuh kepada persekutuan para sekutu ; barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang didalamnya dia mempersekutukan-Ku dengan sesuatu selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya berserta kesyirikan yang diperbuatnya” [1]  Kedua Dia bermaksud melalui ibadahnya untuk meraih tujuan duaniawi seperti kepemimpinan, kehormatan dan harta, bukan untuk tujuan bertaqarrub kepada Allah ; maka amalan orang seperti ini akan gugur dan tidak dapat mendekatkan dirinya kepada Allah Ta’ala. Dalam hal ini, Allah Ta’ala berfirman.  “Artinya : Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuai neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan” [Hud : 15-16]  Perbedaan antara klasifikasi kedua ini dan pertama ; Bahwa dalam klasifikasi pertama, orang tadi bermaksud agar dirinya dipuji atas ibadahnya tersebut sebagai ahli ibadah kepada Allah. Sedangkan pada klasifikasi ini, dia tidak bermaksud agar dirinya di puji atas ibadahnya tersebut sebagai ahli ibadah kepada Allah bahkan dia malah tidak peduli atas pujian orang terhadapn dirinya.  Ketiga Dia bermaksud untuk bertaqarrub kepada Allah Ta’ala, disamping tujuan duniawi yang merupakan konsekuensi logis dari adanya ibadah tersebut, seperti dia memiliki niat dari thaharah yang dilakukannya –disamping niat beribadah kepada Allah- untuk menyegarkan badan dan menghilangkan kotoran yang menempel padanya ; dia berhaji –disamping niat beibadah kepada Allah- untuk menyaksikan lokasi-lokasi syi’ar haji (Al-Masya’ir) dan bertemu para jama’ah haji ; maka hal ini akan mengurangi pahala ikhlas akan tetapi jika yang lebih dominan adalah niat beribadahnya, berarti pahala lengkap yang seharusnya diraih akan terlewatkan. Meskipun demikian, hal ini tidak berpengaruh bila pada akhirnya melakukan dosa. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala mengenai para jama’ah haji.  “Artinya : Tidak ada dosa bagimu mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Rabb-mu” [Al-Baqarah : 198]  Jika yang dominan adalah niat selain ibadah, maka dia tidak mendapatkan pahala akhirat, yang didapatnya hanyalah pahala apa yang dihasilkannya di dunia itu. Saya khawatir malah dia berdosa karena hal itu, sebab dia telah menjadikan ibadah yang semestinya merupakan tujuan yang paling tinggi, sebagai sarana untuk meraih kehidupan duniawi yang hina. Maka tidak ubahnya seperti orang yang dimaksud di dalam firmanNya.  “Artinya : Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) zakat ; jika mereka diberi sebagian daripadanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebagian daripadanya, dengan serta merta mereka menjadi marah” [At-Taubah : 58]  Di dalam Sunan Abu Dawud dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa ada seorang laki-laki berkata : ‘Wahai Rasulullah, (bagaimana bila ,-penj) seorang laki-laki ingin berjihad di jalan Allah sementara dia juga mencari kehidupan duniawi?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Dia tidak mendapatkan pahala” Orang tadi mengulangi lagi pertanyaannya hingga tiga kali dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab sama, “Dia tidak mendapatkan pahala” [2]  Demikian pula hadits yang terdapat di dalam kitab Ash-Shahihain dari Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.  “Artinya : Barangsiapa yang hijrahnya karena ingin meraih kehidupan duniawi atau untuk mendapatkan wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya hanya mendapatkan tujuan dari hijrahnya tersebut” [3]  Jika persentasenya sama saja, tidak ada yang lebih dominan antara niat beribadah dan non ibadah ; maka hal ini masih perlu dikaji lebih lanjut. Akan tetapi, pendapat yang lebih persis untuk kasus seperti ini adalah sama juga ; tidak mendapatkan pahala sebagaimana orang yang beramal karena Allah dan karena selain-Nya juga.  Perbedaan antara jenis ini dan jenis sebelumnya (jenis kedua), bahwa tujuan yang bukan untuk beribadah pada jenis sebelumnya terjadi secara otomatis. Jadi, keinginannya tercapai malalui perbuatannya tersebut secara otomatis seakan-akan yang dia inginkan adalah konsekuensi logis dari pekerjaan yang bersifat duniawi itu.  Jika ada yang mengatakan, “Apa standarisasi pada jenis ini sehingga bisa dikatakan bahwa tujuannya yang lebih dominan adalah beribadah atau bukan beribadah?”  Jawabannya, standarisasinya bahwa dia tidak memperhatikan hal selain ibadah, maka hal itu tercapai atau tidak tercapai, telah mengindikasikan bahwa yang lebih dominan padanya adalah niat untuk beribadah, demikian pula sebaliknya.  Yang jelas perkara yang merupakan ucapan hati amatlah serius dan begitu urgen sekali. Indikasinya, bisa hadi hal itu dapat membuat seorang hamba mencapai tangga ash-Shiddiqin, dan sebaliknya bisa pula mengembalikannya ke derajat yang paling bawah sekali.  Sebagian ulama Salaf berkata, “Tidak pernah diriku berjuang melawan sesuatu melebihi perjuangannya melawan (perbuatan) ikhlas”  Kita memohon kepada Allah untuk kami dan anda semua agar dianugrahi niat yang ikhlas dan lurus di dalam beramal.  [Kumpulan Fatwa dan Risalah dari Syaikh Ibnu Utsaimin, juz 1, hal. 98-100]  [Disalin dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masail Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Albalad Al-Haram, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penyusun Khalid Al-Juraisiy, Penerjemah Musthofa Aini, Penerbit Darul Haq]</strong></p>
Posted in artikel  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bidadari08.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bidadari08.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bidadari08.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bidadari08.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bidadari08.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bidadari08.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bidadari08.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bidadari08.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bidadari08.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bidadari08.wordpress.com/254/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&blog=3447897&post=254&subd=bidadari08&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bidadari08.wordpress.com/2009/10/28/makna-ikhlas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/042a78073904b6dd72c519fb96cf57a8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bidadari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BELAJAR DARI TANAMAN</title>
		<link>http://bidadari08.wordpress.com/2009/10/09/belajar-dari-tanaman/</link>
		<comments>http://bidadari08.wordpress.com/2009/10/09/belajar-dari-tanaman/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 09:57:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bidadari</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bidadari08.wordpress.com/?p=250</guid>
		<description><![CDATA[1. Belajar dari Daun
Perhatikanlah hikmah daun! Anda jumpai dalam satu daun terdapat sejumlah serat memanjang yang amat mengagumkan bagi yang melihat. Ada yang besar-besar, panjang, dan lebar. Ada yang kecil-kecil, terselempit di antara yang besar-besar tersebut, tersusun dengan rapi dan menakjubkan. Kalau yang membuatnya manusia, setahun penuh satu daun tidak selesai. Tentu mereka memerlukan alat-alat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&blog=3447897&post=250&subd=bidadari08&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>1. Belajar dari Daun<br />
Perhatikanlah hikmah daun! Anda jumpai dalam satu daun terdapat sejumlah serat memanjang yang amat mengagumkan bagi yang melihat. Ada yang besar-besar, panjang, dan lebar. Ada yang kecil-kecil, terselempit di antara yang besar-besar tersebut, tersusun dengan rapi dan menakjubkan. Kalau yang membuatnya manusia, setahun penuh satu daun tidak selesai. Tentu mereka memerlukan alat-alat dan proses pengolahan yang kapasitas mereka tidak mampu menghasilkannya. Tapi Allah ta’ala , Sang Maha Pencipta dan Maha Tahu, dalam beberapa hari saja menebarkan daun-daun yang memenuhi bumi, dataran rendah dan pegunungan, tanpa alat atau pembantu. Yang berlaku hanya kehendak-Nya yang pasti terlaksana dalam sagala hal, dan kekuasaan-Nya yang tak terhalangi.<br />
“Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, ‘jadilah!’ maka terjadilah a.” (Yaasiin: 82)<br />
Sekarang perhatikan hikmah serat-serat yang ada di daun. Mereka menyirami daun dan menyuplai bahan makanan ke sana sehingga mempertahankan hidup dan kesegarannya seperti urat-urat yang tersebar di badan yang mengantarkan makanan ke setiap bagian tubuh. Perhatikanlah kemampuan serat-serat yang besar dan keras yang menjaga daun agar tidak robek dan lapuk. la berfungsi seperti otot dan urat bagi badan hewan.<br />
* * *<br />
Kemudian perhatikan hikmah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Tahu dalam menjadikan daun itu sebagai hiasan bagi pohon, penutup dan baju bagi buah, serta melindunginya dari hama yang menghalangi kesempurnaannya. Karena itu, apabila pohon ditebas daunnya, maka buahnya rusak, tidak dapat dimanfaatkan. Lihat bagaimana daun dijadikan sebagai pelindung bagi tunas tumbuhnya buah yang lemah dari kekeringan. Apabila buah telah jatuh, daun tetap ada di sana sebagai pelindung dahan dari panas (matahari). Hingga apabila bara itu telah padam dan tidak membahayakan dahan-dahan, daunnya berguguran agar setelah itu mengenakan baju baru yang lebih indah. Maha Besar Allah yang mengetahui tempat dan waktu jatuh dan tumbuhnya daun-daun itu. Tidak ada daun yang tumbuh kecuali dengan izin-Nya, dan tidak ada yang jatuh kecuali sepengetahuan-Nya.<br />
Di samping itu, kalau saja manusia menyaksikan sedemikian banyak daun itu bertasbih kepada Tuhannya bersama buah-buahan, dahan-dahan, dan pohon-pohon, tentu mereka menyaksikan hal lain dari keindahannya itu. Mereka tentu akan melihat penciptaannya dengan pandangan lain, dan pasti mereka tahu bahwa itu semua diciptakan untuk manfaat yang besar, tidak diciptakan dengan sia-sia. Allah ta’ala berfirman,<br />
“Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada-Nya.” (ar-Rahmaan: 6)<br />
An-najm adalah tanaman yang tidak berbatang, sedang asy-syajar adalah yang punya batang. Semuanya sujud dan bertasbih kepada tuhan.<br />
“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan, tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (al-lsraa”: 44)<br />
Mungkin Anda termasuk orang yang terlalu tebal hijabnya sehingga berpendapat, arti ‘tasbiih’ dalam ayat di atas adalah mereka jadi bukti atas pencipta. Ketahuilah, pendapat ini tampak kesalahannya dilihat dari tiga puluh aspek yang sebagian besar telah kami sebutkan di tempat lain. Tidak ada di dalam logat bahasa mana pun bukti atas pencipta dinamakan dengan tasbiih, sujud, shalat, ta’ wiib, dan hubuth min khasyyatihi seperti disebutkan Allah ta’ala dalam kitab-Nya. Kadang Allah ta’ala menyebutnya tasbiih, kadang sujud, kadang dengan shalat. Seperti firman-Nya,<br />
”Dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) shalat dan tasbihnya.” (an-Nuur: 41)<br />
Apakah akalmu menerima kalau ayat itu diartikan, “Allah telah mengetahui bahwa mereka adalah bukti atas diri-Nya”, padahal Dia menyebut bukti itu dengan shalat dan tasbiih, membedakan keduanya dan menyambung shalatf dan tasbih dengan kata sambung ‘dan’.<br />
Kadang Allah ta’ala menyebutnya dengan ta ‘wib seperti dalam firman-Nya,<br />
“Hai gunung-gunung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud.” (Sabaa’: 10)<br />
Kadangkala Allah menyebutnya dengan tasbiih yang khusus pada waktu tertentu, seperti senja dan waktu terbit matahari. Apakah mungkin mereka jadi bukti atas Sang Pencipta hanya pada dua waktu ini saja? Tentu tidak!<br />
Intinya, kesalahan pendapat seperti ini bagi para pemilik bashirah sangat jelas. Saking jelasnya, mereka tidak perlu menguras tenaga mencari dalil atas kesalahannya. Alhamdulillah.<br />
* * *<br />
2. Belajar dari Biji<br />
Perhatikanlah hikmah Allah ta’ala meletakkan isi/biji di dalam buah! Di antara faedahnya, dia berfungsi seperti tulang untuk badan hewan. Dengan kekerasannya, dia menahan kelunakan buah. Kalau tidak ada biji, buah akan pecah dan cepat rusak. la seperti tulang, dan buah itu seperti daging yang dibungkuskan oleh Allah ta’ala pada tulang.<span id="more-250"></span><br />
Di antara manfaatnya juga, melestarikan jenis pohon. Sebab, mungkin pohon akan mati. Maka, diciptakanlah apa yang menggantikannya, yaitu biji yang ditanam sehingga menumbuhkan seperti pohon induknya.<br />
Manfaat selanjutnya, kandungan yang terdapat dalam biji-bijian itu seperti bahan makanan, minyak, obat, dan berbagai kegunaan lain yang dipelajari manusia. Tapi, yang tak mereka ketahui lebih banyak. Perhatikanlah hikmah Allah ta’ala mengeluarkan biji-bijian itu untuk manfaat-manfaat tersebut dan membungkusnya dengan daging yang lezat untuk konsumsi anak Adam.<br />
Perhatikan pula hikmah yang menakjubkan ini. Allah ta’ala  menciptakan buah yang lunak yang dapat rusak oleh udara dan matahari mempunyai kulit penutup yang menjaganya. Contohnya. delima, buah pala, buah badam, dan sebagainya. Sedang buah yang tidak rusak apabila tampak, Allah ta’ala   memberinya penutup pada saat pertama kali keluar. Penutup ini melindunginya karena ia masih lemah dan kurang tahan terhadap panas. Apabila telah mengeras dan kuat, kulit penutup itu terbelah sehingga ia terkena sinar matahari dan udara. Contohnya, mayang kurma dan sebagainya.<br />
* * *<br />
Sekarang perhatikan pertumbuhan yang diberikan Allah ta’ala pada tanaman pertanian, sampai-sampai satu biji saja mungkin menghasilkan tujuh ratus biji. Kalau satu biji hanya membuahkan satu biji juga, tentu hasil panen tidak cukup jadi benih untuk ditanam lagi dan untuk bahan makanan manusia. Maka, tanaman pertanian punya pertumbuhan seperti itu untuk memenuhi kebutuhan pangan sekaligus bibit perkembangbiakan. Begitu pula buah pepohonan dan kurma.<br />
Demikian juga cabang-cabangnya yang keluar dari satu batang sehingga dapat menggantikan batang yang telah ditebang dan dipakai manusia hingga tanaman itu tidak punah dan berkurang. Kalau pemimpin sebuah daerah ingin memakmurkan daerahnya, ia pasti memberi penduduk daerah itu benih tanaman dan juga memberikan bahan makanan sampai masa panen. Maka dari itu, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Tahu mengeluarkan banyak biji dari satu biji agar hasilnya dipakai untuk makanan manusia dan disimpan untuk ditanam lagi.<br />
* * *<br />
Kemudian perhatikanlah hikmah biji-bijian seperti gandum dan sejenisnya. Bagaimana biji gandum itu berada di dalam kulit, dan ujungnya berbentuk seperti mata tombak sehingga burung-burung tidak dapat merusaknya. Kalau kebetulan biji itu berada di luar tanpa kulit penutup yang melindunginya dari burung, tentu dia dapat berbuat sesukanya, merusak dan menyantap semaunya, dan para petani tidak dapat mengusirnya.<br />
Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Tahu menciptakan pelindung-pelindung itu untuk menjaganya sehingga burung hanya dapat mengambil sekedar kebutuhan pangannya. Kebanyakan sisanya untuk manusia karena manusia lebih berhak mendapatkannya karena dialah yang bekerja keras mengeluarkan keringat menanamnya. Juga karena kebutuhan manusia terhadap biji-bijian jauh melebihi kebutuhan burung.<br />
* * *<br />
3. Hikmah Pohon<br />
Perhatikan pula hikmah pohon-pohon! Anda lihat dalam setiap tahun mereka hamil dan melahirkan. Mereka selalu menjalani peristiwa kehamilan dan kelahiran ini. Apabila Tuhan mengizinkannya hamil, panas alami tersimpan di dalamnya agar terjadi kehamilan pada masa yang telah ditakdirkan. Masa ini seperti masa terbentuknya sperma. Sel-sel melakukan proses di dalamnya, menyiapkannya untuk kehamilan. Sehingga, apabila waktu kehamilan telah tiba, air mengalirinya hingga sisi-sisinya menjadi lentur. Air mengaliri dahan-dahannya; panas dan kelembaban menyebar di seluruh bagiannya. Apabila waktu melahirkan telah tiba, pohon-pohon itu mengenakan baju-baju baru. Yakni, bunga dan daun yang indah-indah yang dibanggakannya di hadapan pohon yang mandul.<br />
Apabila anak-anaknya telah muncul dan kehamilannya tampak, saat itulah diketahui mana pohon yang baik dan mana yang tidak. Dan, yang memberi makanan kepada kandungan itu adalah Tuhan yang memberi makanan kepada janin di dalam perut ibunya. Dia menutupinya dengan dedaunan, melindunginya dari panas dan dingin.<br />
Apabila kehamilan telah sempurna dan tiba saat penyapihan serta dahan-dahannya menjuntai ke bawah, seakan-akan dia menyerahkan buahnya kepadamu. Apabila Anda mendatanginya, Anda melihat seakan-akan dahan-dahannya menyongsong kedatanganmu dengan anak-anaknya, menyalamimu, dan memuliakanmu dengan mereka; menyerahkan kepadamu seperti anugerah. Dia tidak menyerahkan dengan tangannya, apalagi buah-buah surga yang rendah-rendah yang dapat digapai oleh orang mukmin baik dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring.<br />
Begitu pula Anda lihat pohon Raihan (tumbuhan yang berbau harum), seakan-akan menyapa kamu dengan nafasnya yang segar dan menyongsong kehadiranmu dengan baunya yang harum. Semua itu untuk menghormatimu, mengingat kebutuhanmu, dan mengutamakan kamu atas hewan-hewan. Apakah karunia ini membuatmu lupa terhadap sang pemberi nikmat? Pantaskah kalau kamu menggunakannya dalam kemaksiatan dan hal-hal yang dimurkai-Nya? Bagaimana jika kamu mengingkarinya dan mengatakan itu bukan dari Dia? Sebagaimana Allah berfirman,<br />
“Kamu (mengganti) rezeki (yang Allah berikan) dengan mendustakan (Allah)/’ (al-Waaqi’ah: 82)<br />
Sudah sepantasnya orang yang berakal berkelana dengan pikirannya, merenungkan nikmat dan karunia itu, berulang-ulang menyebutnya. Barangkali dengan begitu dia dapat mengerti tujuannya: apa hakikatnya, untuk apa diciptakan, kenapa disediakan, dan apa yang dituntut darinya terhadap nikmat-nikmat ini. Allah ta’ala berfirman,<br />
“Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (al-A’raaf: 69)<br />
Jadi, mengingat-ingat karunia dan nikmat Allah ta’ala atas hamba-hamba-Nya adalah sebab kebahagiaan dan keberuntungan. Karena hal itu makin menambah cinta, syukur, taat, dan kesadaran akan kurangnya melaksanakan kewajiban kepada Allah ta’ala.<br />
* * *<br />
4. Belajar dari Semangka<br />
Kemudian perhatikanlah hikmahnya buah labu, semangka, dan sejenisnya. Ketika hikmah Allah ta’ala menuntut buahnya besar, Dia menjadikan tumbuhnya menjalar, merambat di atas tanah. Kalau tegak berdiri seperti tanaman lain, kekuatannya tidak cukup untuk membawa buah-buah yang berat itu.<br />
Maka, dengan hikmah-Nya Allah ta’ala menjadikannya menjalar di atas tanah. Pohon itu bisa meletakkan buahnya di sana, sehingga bumilah yang membawa buah itu. Anda lihat batang-batang yang kurus dan lemah itu memanjang di tanah sedang buahnya berserakan di sekitarnya seperti hewan yang dikelilingi anak-anaknya, ia menyusui mereka. Karena pohon kacang kapri, terong, dan sejenisnya termasuk pohon yang mampu membawa buahnya, maka Allah ta’ala menumbuhkannya berdiri tegak di atas batangnya karena dia tidak berat membawa buahnya.<br />
* * *<br />
5. Pohon pun Berbuah Sesuai Musimnya<br />
Sekarang perhatikan hikmah Allah ta’ala menyesuaikan antara jenis-jenis buah dengan musim keluarnya. Buah-buah itu pas benar dengan kebutuhan manusia seperti adanya air bagi orang yang sedang kehausan. Sehingga, nafsu menerimanya dengan gembira, rindu, dan menunggu-nunggu kedatangannya seperti menunggu kedatangan orang yang lama pergi. Kalau saja tanaman musim panas keluar pada musim dingin, tentu manusia merasa tidak suka, dan di samping itu menimbulkan mudarat bagi badan. Begitu pula kalau tumbuhan musim semi keluar pada musim gugur, atau sebaliknya, tentu tidak disenangi jiwa manusia dan tidak dirasakan kenikmatannya secara utuh. Oleh karena itu, Anda menjumpai buah yang keluarnya di akhir-akhir musim terasa menjemukan dan tidak enak. Jangan disangka itu karena semata-mata kebiasaan yang telah berjalan demikian. Kebiasaan hanya berjalan seperti itu sebab sesuai dengan hikmah dan maslahat yang telah diatur oleh Tuhan Yang Maha Bijaksana.<br />
* * *<br />
6. Belajar dari Kurma<br />
Perhatikanlah pohon kurma itu, yang merupakan salah satu ayat Allah ta’ala, Anda pasti akan mendapati ayat dan keajaiban yang mencengangkan. Ketika menakdirkan pohon kurma ada yang betina yang membutuhkan pembuahan, Allah ta’ala menciptakan pejantan yang membuahi betina tersebut seperti jantan dan betina hewan. Oleh karena itu, ia amat mirip dengan manusia, khususnya orang beriman, jika dibanding pohon-pohon lain seperti diperumpamakan oleh Nabi shollallahu alaihi wassalam.. Persamaan itu dapat dilihat dari beberapa hal.<br />
Pertama: kekokohan akarnya di tanah. Ia tidak seperti pohon yang tercerabut dengan akar-akarnya dari tanah, tidak dapat tegak sedikit pun.<br />
Kedua: buahnya yang enak, manis, dan banyak manfaatnya. Seperti itulah orang mukmin; perkataannya baik, amalannya baik, dan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.<br />
Ketiga: hiasan dan bajunya terus dipakai tidak gugur baik pada musim panas maupun dingin. Begitu pula orang mukmin, pakaian takwa tidak pernah lepas darinya sampai bertemu Rabbnya.<br />
Keempat: buahnya mudah dijangkau. Orang tidak perlu memanjat pohon kurma yang pendek. Sedang pohon kurma yang tinggi mudah dipanjat dibanding memanjat pohon-pohon tinggi yang lain. Anda lihat di pohon itu telah tersedia tangga-tangga untuk mendaki ke atas. Mukmin juga seperti itu. Kebaikannya mudah didapat oleh orang yang menginginkannya, tidak perlu dirampas dengan tipu muslihat dan cara tak terpuji.<br />
Kelima: buahnya termasuk buah yang paling bermanfaat di seantero dunia. Yang masih basah dimakan sebagai buah atau manisan. Yang sudah kering menjadi quut (makanan pokok), juga sebagai buah. Juga bisa dibuat menjadi cuka, manisan, campuran obat, dan minuman. Manfaatnya dan manfaat anggur amat banyak melebihi buah-buah lain.<br />
Orang-orang berbeda pendapat soal mana yang lebih bermanfaat dan lebih utama. apakah kurma atau anggur. Dalam membandingkan keduanya, al-Jahizh menyusun sebuah buku. Di sana ia menjelaskan panjang lebar kelebihan masing-masing. Kesimpulan perselisihan itu sebagai berikut, pohon kurma di daerah tumbuhnya (seperti: Madinah, Hijaz, dan Irak) lebih bermanfaat dan lebih utama bagi penghuni daerah itu daripada anggur. Dan di daerah tumbuhnya, anggur lebih utama dan bermanfaat bagi penduduk daerah itu; seperti Syam, daerah pegunungan dan berhawa dingin yang tidak bisa ditumbuhi pohon kurma.<br />
Pernah aku menghadiri suatu majelis di Mekah yang dihadiri oleh para pemuka daerah situ. Masalah ini diungkapkan. Salah seorang hadirin mulai berbicara panjang lebar tentang faedah dan keutamaan pohon kurma. Katanya, “Untuk menunjukkan keutamaan kurma cukup dengan bukti berikut. Kita dapat membeli anggur dengan biji kurma. Jadi, tidak mungkin buah yang dapat dibeli dengan biji buah lain dilebihkan dari buah tersebut.”<br />
Ada yang lain menambah. Katanya, “Nabi telah memutuskan perselisihan dalam masalah ini. Beliau melarang menamai pohon anggur dengan nama ‘karam’ (mulia). Beliau bersabda, ‘Karam adalah hati orang mukmin.’ Tidak ada dalil yang lebih jelas dari ini.” Selanjutnya, secara berlebihan mereka menjelaskan arti hadits tersebut.<br />
Aku berkata kepada orang pertama, “Yang kamu sebutkan, yaitu biji kurma seharga dengan anggur, tidak dapat dijadikan dalil, karena itu ada sebab-sebabnya. Pertama: kebutuhan kalian kepada biji kurma untuk makanan hewan. Pemilik anggur mau menukarnya dengan anggur untuk memberi makanan binatang peliharaannya. Kedua: biji anggur tidak ada faedahnya, dan tidak dikumpulkan. Ketiga: anggur di daerah kalian amat sedikit, dan kurma adalah buah yang paling banyak sehingga bijinya juga banyak. Karenanya, dapat digunakan untuk membeli sedikti anggur. Tapi di negeri-negeri yang banyak anggurnya, biji kurma tidak dapat dipakai untuk membeli apa pun juga. Biji kurma tidak ada nilainya di daerah-daerah tersebut.”<br />
Aku kemudian menjelaskan kepada orang kedua yang berargumen dengan hadits di atas, “Di antara alasan keutamaan anggur: mereka menamai anggur dengan syajaratul-karam (pohon mulia) sebab banyak manfaat dan gunanya. Ia dapat dimakan masih segar, sudah kering, manis maupun masam; dibuat bermacam minuman, manisan, sirup, dan sebagainya. Oleh karena itu, mereka menamainya karam karena banyak faedahnya.<br />
Nabi saw. memberitahu mereka bahwa hati orang beriman lebih berhak mendapat penamaan ini daripada pohon anggur sebab banyak sifat mulia yang diletakkan Allah ta’ala di dalamnya; seperti santun, lembut, adil, ihsan, ikhlas, dan sebagainya. Nabi tidak bermaksud menyangkal adanya manfaat dan faedah pada pohon anggur. Penamaan karam itu bohong belaka. Itu adalah kata yang tidak punya arti di baliknya seperti menamai orang bodoh dengan ‘alim’, orang jahat dengan ’saleh’, dan orang kikir dengan ‘dermawan’. Beliau tidak menyangkal adanya faedah dalam pohon anggur. Beliau hanya memberitahu bahwa hati orang beriman itu lebih banyak dan berlimpah kebaikan serta manfaatnya daripada pohon anggur.”<br />
Omongan seperti ini telah berlangsung di majelis itu. Apabila Anda perhatikan sabda Nabi shollallahu alaihi wassalam., “Karam adalah hati orang mukmin”, Anda mendapatinya sama dengan sabda beliau tentang kurma, “Perumpamaan pohon kurma seperti orang muslim.” Dalam hadits Ibnu Umar ini, beliau mengumpamakan pohon kurma dengan muslim. Dalam hadits di atas beliau mengumpamakan muslim dengan pohon anggur, dan melarang mereka menamai pohon anggur dengan nama karam.<br />
Sebagian orang mengatakan, “Dalam hal ini ada makna lain. Yaitu, Rasulullah saw. melarang mereka menamai pohon anggur dengan karam karena dari buah anggur itu orang membuat induk kejahatan (ummul-khabaa^its), yaitu arak. Beliau tidak suka pohon itu diberi nama dengan nama yang membuat orang senang dan tertarik kepadanya. Larangan ini tergolongsaddudz-dzaraaH’%’.”<br />
Penafsiran ini sah-sah saja seandainya sabda beliau, “Karena karam adalah hati orangberiman” bukan sebagai ta’lil (alasan) dari larangan ini dan isyarat bahwa hati orang mukmin lebih berhak disebut dengan nama ini daripada pohon anggur. Rasulullah lebih tahu maksud sabda beliau. Dan, yang beliau maksud itulah yang benar.<br />
Intinya di sini, Allah ta’ala menghitung bahwa di antara nikmat-nikmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya adalah buah kurma dan anggur.<br />
Makna pertama insya Allah lebih dekat kepada kebenaran daripada makna kedua. Karena arak dibuat dari segala jenis buah, termasuk buah kurma, sebagaimana firman Allah ta’ala,<br />
“Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan yang baik.” (an-Nahl: 67)<br />
Anas berkata, “Pada saat larangan arak turun, di Madinah tidak ada arak yang terbuat dari anggur, yang ada hanya yang terbuat dari kurma.” Kalau larangan Rasulullah shollallahu alaihi wassalam, menamai pohon anggur dengan karam karena dia memabukkan, tentu beliau tidak mengumpamakan pohon kurma dengan orang mukmin karena dari kurma juga dibuat arak yang memabukkan. Wallahu a’lam.<br />
Sisi persamaan” yang keenam: kurma adalah pohon yang paling tabah dan tahan menghadapi serangan angin dan cuaca yang ganas. Pohon dan bangunan lain yang tinggi besar kadang dibuat condong oleh angin, kadang malah tumbang dan dahan-dahannya patah-patah, dan kebanyakan mereka tidak tahan haus seperti pohon kurma. Begitulah, orang mukmin selalu sabar dan tabah menghadapi cobaan. Badai tidak bisa menggoyahkannya.<br />
Ketujuh: seluruh bagian pohon kurma punya manfaat, tidak ada bagian yang tiada faedahnya. Buahnya bermanfaat. Batangnya juga bermanfaat untuk bangunan dan atap, dan sebagainya. Pelepahnya dipakai sebagai atap rumah sebagai ganti dari bambu dan untuk menutup lubang-lubang dan celah-celah. Daunnya dibuat keranjang, tikar, daan Iain-lain. Serabutnya juga sudah kita tahu manfaatnya.<br />
Sebagian orang mencocokkan manfaat-manfaat ini dengan sifat-sifat orang mukmin. Setiap manfaat dari pohon kurma itu dia letakkan padanannya dari sifat orang mukmin. Hingga ketika tiba pada duri kurma, dia menjadikan padanannya dari sifat orang mukmin sifat ‘keras terhadap musuh-musuh Allah ta’ala’. Orang mukmin itu keras terhadap mereka seperti duri, dan kepada sesama mukmin dia seperti buah kurma yang manis dan enak.<br />
“Keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (al-Fath: 29)<br />
Kedelapan: makin tambah usianya, makin banyak manfaatnya dan makin baik buahnya. Begitu juga orang mukmin, apabila usianya panjang, kebaikannya bertambah dan amalannya meningkat.<br />
Kesembilan: jantungnya paling baik dan manis. Ini adalah keistimewaan yang khusus dimiliki pohon kurma, tak ada pada pohon-pohon lain. Dan, hati orang beriman seperti itu, paling baik.<br />
Kesepuluh: manfaatnya tidak pernah berhenti secara total. Kalau salah satu manfaatnya terhalang, masih ada manfaat-manfaatnya yang lain. Apabila buahnya tidak keluar selama satu tahun, manusia masih dapat mengambil manfaat dari daun, pelepah, atau serabutnya. Begitu pula orang mukmin tidak pernah kosong dari salah satu sifat dan perangai baik. Bila salah satu perbuatan baik tak dapat dia kerjakan, masih ada kebaikan lain yang bisa diharap darinya. Kebaikannya selalu dapat diharapkan, dan kejahatannya tak perlu dikhawatirkan. Dalam Sunan Tirmidzi disebutkan hadits yang marfu’ dari Nabi shallallohu alaihi wassalam.,<br />
“Orang terbaik di antara kalian adalah orang yang kebaikannya diharap dan kejahatannya tak dikhawatirkan; dan yang paling jelek adalah yang kebaikannya tak diharapkan dan kejahatannya dicemaskan.”(HR Tirmidzi)<br />
Masalah ini kami bicarakan untuk melengkapi pembicaraan mengenai hikmah pohon kurma. Sekarang mari kita kembali.<br />
Perhatikanlah bentuk batang kurma itu. Anda mendapatinya seperti terpintal dari benang-benang yang memanjang dan yang lain melintang, persis seperti pintalan tangan. Hikmahnya: agar keras dan erat, tidak putus-putus ketika membawa bawaan yang berat dan tahan terhadap tiupan angin kencang, tahan lama di atap, jembatan, perabot, dan sebagainya yang terbuat darinya. Begitu pula kayu-kayu yang lain; jika kamu perhatikan seperti tenunan. la tidak seperti batu cadas yang tidak berlubang. Anda lihat sebagiannya seakan-akan masuk pada bagian yang lain, memanjang dan melintang seperti susunan daging. Susunan seperti itu sangat kuat dan cocok dengan kebutuhan manusia terhadapnya. Karena kalau tidak berlubang seperti batu, tentu tidak mungkin dipakai untuk alat-alat, pintu, perabot, ranjang, keranda mayat, dan sebagainya. Di antara hikmah kayu: ia ditakdirkan terapung di atas air. Ini mengandung hikmah yang luar biasa. Kalau tidak terapung, kapal-kapal itu tidak dapat membawa muatan yang segunung dan tidak dapat bergerak maju dan mundur; juga jalur transportasi yang ada tidak dapat dipergunakan untuk membawa dagangan yang besar dan barang-barang yang banyak, memindahkannya dari satu daerah ke daerah lain. Sebab, jika dipindahkan melalui darat, memakan tenaga dan biaya yang besar, dan mengganggu kepentingan manusia.<br />
* * *</p>
<p>Dikutip dari; KUNCI KEBAHAGIAAN, Ibnul Qoyyim Al Jauziyah</p>
Posted in artikel  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bidadari08.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bidadari08.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bidadari08.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bidadari08.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bidadari08.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bidadari08.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bidadari08.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bidadari08.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bidadari08.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bidadari08.wordpress.com/250/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&blog=3447897&post=250&subd=bidadari08&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bidadari08.wordpress.com/2009/10/09/belajar-dari-tanaman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/042a78073904b6dd72c519fb96cf57a8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bidadari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>menghidupkan ruh islam</title>
		<link>http://bidadari08.wordpress.com/2009/09/29/menghidupkan-ruh-islam/</link>
		<comments>http://bidadari08.wordpress.com/2009/09/29/menghidupkan-ruh-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Sep 2009 13:31:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bidadari</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bidadari08.wordpress.com/?p=245</guid>
		<description><![CDATA[Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai… 
(Q.S At Taubah  [9]: 32) 
 
 
Apakah yang menyebabkan umat Islam tidak bisa bangkit kembali sebagai ‘penguasa bumi’ sampai abad ini? Mengapa, umat Islam yang didesain Allah sebagai  khairu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&blog=3447897&post=245&subd=bidadari08&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="center"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><em>Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai… </em></span></p>
<p align="center"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">(Q.S At Taubah  [9]: 32) </span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> </span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Apakah yang menyebabkan umat Islam tidak bisa bangkit kembali sebagai ‘penguasa bumi’ sampai abad ini? Mengapa, umat Islam yang didesain Allah sebagai <em> khairu ummah,</em> umat terbaik, tidak lagi memberikan contoh keteladanannya. Mari kita mencoba untuk bercermin ke segala penjuru untuk memahami ’wajah’ kita dewasa ini. Untuk apa? Untuk mencari tahu, kenapa wajah kita yang seharusnya memesona tidak lagi menarik seperti yang seharusnya. Dan jika kita menemukan banyak noda di wajah, janganlah cermin itu yang kita pecah. Marilah bersama-sama kita obati diri dan wajah ini. Daripada menyalahkan sejarah dan umat diluar Islam sebagai penanggung jawab kemunduran, akan lebih baik kalau kita berintrospeksi melihat kesalahan sendiri. Allah menyukai orang-orang yang rendah hati dan membenci orang yang sombong. Introspeksi akan lebih bermanfaat buat umat Islam untuk bangkit kembali, daripada sibuk menyalahkan umat lain, dan lupa bahwa kualitas kita sendirilah yang menjadi penyebab kemunduran Islam </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Kondisi dunia Internasional di era modern menjadi sangat berbeda di abad-abad sebelumnya. Masihkah umat Islam bisa membangun kekhalifahan kembali seperti dulu? Pertanyaan ini terus bergema di jantung umat Islam seluruh dunia. Apalagi ketika melihat umat ini teraniaya di berbagai belahan bumi. Dari tragedi perang yang masih berkelanjutan di Afganistan hingga kekejaman Israel di Gaza Palestina, yang telah merenggut nyawa 1.300 warganya sebagai syuhada. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Di Indonesia, pertengkaran umat Islam terjadi terus menerus antar berbagai kelompok dan golongan yang mengklaim dirinya paling benar. Sehingga salah satu pihak merasa dirinya paling berhak untuk mengadili dan memusnahkan saudaranya yang lain, tanpa proses hukum. Bagaimana mungkin kita menegakkan khilafah dalam suasana yang demikian egoistik dan emosional seperti ini. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Kehidupan harmonis hanya akan kita temukan, jika masing-masing manusia menjalankan peranannya dengan sebaik-baiknya. Tak ubahnya seperti sejumlah organ-organ tubuh manusia, kerjanya hanya saling berkoordinasi belaka, tidak memerintah ataupun menguasai. Sistem kinerja limpa, liver, ginjal hingga jantung pun bukan atas perintah otak sadar. Semua bekerja atas kodrat yang dikoordinasi otak. Masing-masing berjalan menjalankan peranannya. Sedangkan sel yang kerjanya menindas atau membunuh sel lainnya, itu namanya sel kanker. Ada yang berperan sebagai parasit, yang menyerap sari-sari makanan dari organisme yang hidup. Itulah kapitalis. Dalam ilmu Biologi dinamakan simbiosis parasitisme. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Dalam kehidupan masyarakat hingga bernegara pun demikian. Orang-orang yang kerjanya hanya menindas, merugikan, menguasai dan membunuh orang atau kelompok lain yang menjalankan fungsinya dengan benar; mereka itulah sel-sel kanker di dalam kehidupan. Lihat saja fenomena sekarang ini. Dari terkurasnya sumber daya alam di Indonesia oleh sejumlah perusahaan asing sampai konflik Palestina, yang dibombardir Israel dengan dalih balas dendam terhadap pejuang Hamas palestina yang telah meluncurkan beberapa roket di negerinya.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Di sisi lain, hingga kini, pesona kekuasaan politik masih menjadi daya tarik yang luar biasa besar untuk memicu terjadinya pertengkaran dan pertumpahan darah di kalangan umat Islam. Semua itu masih terus terjadi sampai kini. Baik di Timur Tengah, maupun di Indonesia. Betapa kita telah melihat terjadinya perebutan kekuasaan politik di berbagai negara-negara Islam, seperti Iran, Irak, Mesir, Kuwait, Pakistan, Afganistan, Aljazair dan sebagainya. Baik yang bersifat internal maupun antar negara, sehingga mengorbankan jutaan umat Islam. Kejayaan Islam bukan tergantung kepada para khalifah yang mementingkan diri sendiri. Bukan pula tergantung pada kekuatan militer dan politik. Sungguh, kekuatan militer boleh jadi akan memenangkan peperangan. Tetapi, mereka tak akan pernah mengalahkan hati nurani orang-orang yang memilki martabat dan kehormatan diri. Demikian pula dalam politik, penulis sependapat dengan kesatuan<em> the religious</em> dan <em>the political,</em> tapi bukan dalam bentuk <em>Islamic State</em>. Bukan penerapan syariatnya secara formal, akan tetapi – yang lebih penting – adalah aktualisasinya. Keterlibatan Islam dalam politik harus ditujukan untuk menegakkan keadilan, menentang tirani, membela kaum lemah, memajukan perdamaian dan kesejahteraan umat manusia seluruhnya. Islam bukanlah sebatas simbol dan atribut Islam itu sendiri, melainkan menerapkan perilaku dan akhlak yang Islami. <em>Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.. </em>(Q.S Ali Imran [3]: 110).</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Perlu  kita ketahui, sejak akhir masa pemerintahan <em>khulafaurrasyidun</em>, umat Islam sudah mulai terpecah yang disebabkan oleh perebutan kekuasaan. Meskipun beberapa sejarawan mengaitkan dengan munculnya pihak ’ketiga’, yang mengompori situasi ini. Sedangkan selebihnya, para khalifah di zaman bani Umayyah maupun Abassiyah justru mempertontonkan perebutan kekuasaan politiknya. Pada masa itu, para khalifah dipilih bukan dilihat dari kapasitas kemampuannya, melainkan berdasarkan keluarga dan keturunannya (monarki). Akibatnya, terjadilah pro-kontra politik dimana-mana yang mengakibatkan jutaan umat Islam menjadi korban perang saudara. Hingga cucu Rasulullah saw, Husein bin Ali, menjadi korban pembantaian oleh pasukan Daulah Bani Umayyah, di Karbala. Dengan sangat sadis, Husein dipenggal kepalanya dan dipersembahkan kepada Yazid bin Muawiyah, khalifah Daulah Umayyah yang kedua. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Kita harus jernih melihat persoalan semacam ini. Benarkah kita telah mencapai keteladanan selama masa kekhalifahan? Jika iya, kapankah itu terjadi? Pada zaman siapa? Dalam bentuk apa? Dan, apakah kekhalifahan yang selama ini yang kita banggakan dan kita harapkan terbentuk kembali itu, merupakan sebuah kesuksesan puncak umat Islam? Maka, jawabannya harus kita telaah dan klarifikasi kembali secara kritis. Sebab dari catatan sejarah, banyak di antara para khalifah yang justru tidak menunjukkan kehidupan yang islami. Adanya hanya perebutan kekuasaan, dan peperangan sesama saudara. Hal ini karena mereka meninggalkan sistem ”demokrasi” yang telah diterapkan oleh Rasulullah. Padahal Rasulullah SAW sangatlah demokratis dan sangat menghargai pendapat para sahabatnya. Beliau lebih menyukai cara diplomasi dan musyawarah daripada perang. Bukan mengirim pasukan ke negeri tetangga. Kendati demikian, tentu saja kita tidak melupakan sejumlah khalifah yang berhasil membawa umat Islam pada kemuliaannya. Diantaranya adalah Umar bin Abdul Azis dari Bani Umayyah dan Harun al Rasyid dari Bani Abassiyah. Tapi, kalau kita kritisi kembali rasa-rasanya kehidupan teladan itu terjadi secara ideal hanya pada zaman Rasulullah SAW. Dan kemudian yang dilanjutkan oleh khulafaurrasyiddin, dengan beberapa kelebihan dan kelemahannya. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Kini, Islam sedang dikerdilkan. Oleh siapa? Oleh orang-orang di luar Islam dan oleh orang-orang Islam sendiri. Oleh mereka yang tidak suka kepada Islam, sekaligus oleh pemeluknya sendiri yang tidak paham bahwa Islam adalah agama yang besar dan sempurna. Jika kebesaran agama ini dikerdilkan oleh mereka yang tidak suka kepada Islam, memang begitulah sejak dulu. Tidak ada hal yang baru. Yang justru memprihatinkan adalah jika umat Islam sendirilah yang mengerdilkan kebesaran agamanya. Akhirnya, umat Islam menjadi bulan-bulanan di dunia. Celakanya, di melenium ketiga ini cap teroris disandang oleh umat Islam. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;">Rasulullah  SAW pernah memberikan wasiat kepada umatnya, <em>balighu  ’anni walau ayat</em> – ”sampaikanlah dariku walau sepotong ayat.” Umat Islam saat ini sudah mencapai 1.3 milyar jiwa lebih. Jika setiap orang menyampaikan satu ayat, maka sudah ada 1.3 milyar ayat yang tersampaikan dalam syiar kebesaran Islam. Apalagi yang dimaksud dengan menyampaikan itu, bukan hanya omongan belaka, melainkan sebuah keteladanan. Berarti sudah ada 1.3 milyar keteladanan yang mestinya telah kita lakukan. Apalagi, Rasulullah SAW juga memerintahkan untuk melakukan <em>amar ma’ruf nahyi  munkar</em>. Mestinya, sudah ada 1.3 milyar perbuatan yang mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Bahkan, beliau juga mengatakan agar kita menuntut ilmu setinggi-tingginya. Jika ini dilakukan oleh 1.3 milyar orang, betapa dahsyatnya. Tapi, kenapa belum terjadi juga? Sungguh, tak ada jawaban kecuali jika kita bertanya pada diri kita sendiri dengan pikiran terbuka. Dengan demikian, kita akan kembali menemukan kembali ruh Islam yang sebenarnya dalam diri kita, yang pernah hidup pada masa lalu, sehingga Islam mampu menjadi penguasa dan mampu memberikan sumbangan pada peradaban.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"><em>Wallahu’alam. </em></span></p>
Posted in artikel  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bidadari08.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bidadari08.wordpress.com/245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bidadari08.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bidadari08.wordpress.com/245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bidadari08.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bidadari08.wordpress.com/245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bidadari08.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bidadari08.wordpress.com/245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bidadari08.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bidadari08.wordpress.com/245/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&blog=3447897&post=245&subd=bidadari08&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bidadari08.wordpress.com/2009/09/29/menghidupkan-ruh-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/042a78073904b6dd72c519fb96cf57a8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bidadari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SHALAWAT NABI</title>
		<link>http://bidadari08.wordpress.com/2009/09/28/shalawat-nabi/</link>
		<comments>http://bidadari08.wordpress.com/2009/09/28/shalawat-nabi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Sep 2009 02:27:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bidadari</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bidadari08.wordpress.com/?p=242</guid>
		<description><![CDATA[Kaidah-kaidah ilmu Ushul digunakan untuk mengetahui keinginan atau maksud dari sebuah redaksi yang bagi orang awam sedikit membingungkan. Misalnya sebuah kata perintah (amr) atau larangan (Nahyu), akan bisa diterjemahkan maknanya apabila ada kata yang mendukung kata yang lainnya atau kata itu akan berubah arti dari arti sebenarnya jika dikaitkan keadaan subjek dan objek yang dibicarakan. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&blog=3447897&post=242&subd=bidadari08&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kaidah-kaidah ilmu Ushul digunakan untuk mengetahui keinginan atau maksud dari sebuah redaksi yang bagi orang awam sedikit membingungkan. Misalnya sebuah kata perintah (amr) atau larangan (Nahyu), akan bisa diterjemahkan maknanya apabila ada kata yang mendukung kata yang lainnya atau kata itu akan berubah arti dari arti sebenarnya jika dikaitkan keadaan subjek dan objek yang dibicarakan. Sebagai contoh, perintah (amar), yang artinya : Tuntunan melakukan pekerjaan dari yang lebih tinggi kepada yang lebih rendah (kedudukannya). Yang lebih tinggi kedudukannya dalam hal ini adalah Allah dan yang lebih rendah kedudukannya adalah manusia (mukallaf). Jadi Amr ialah perintah Allah Swt yang harus dilakukan oleh ummat manusia yang mukallaf. Misalnya : wa aqiimush shalata …(QS. Al baqarah : 43). Dan dirikanlah shalat !!</p>
<p>Amar itu mempunyai ketentuan-ketentuan yang menjadi dasar pengambilan atau penetapan hukum. Ketentuan-ketentuan itu kemudian kita kenal dengan istilah kaidah. Amar mempunyai beberapa kaidah:</p>
<p>1. Kaidah pertama : Al ashlu fil amar lil wujub. Artinya : pada dasarnya amr itu menunjukkan wajib. Setiap amr atau perintah itu menunjukkan hukum wajib , kecuali ada petunjuk yang menunjukkan arti selain wajib.</p>
<p>2. Amr menunjukkan arti sunnah/ Nadb, seperti Firman Allah : Hendaklah kamu buat perjanjian (menebus diri ) dengan mereka (hamba sahaya ), jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka (QS. An Nur: 33)</p>
<p>3. Amr menunjukkan arti irsyad lil irsyad, atau petunjuk , seperti Firman Allah ; Apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai (hutang)untuk waktu yang ditentukan, maka hendaklah kamu menuliskannya (QS. Al Baqarah : 282)</p>
<p>4. Amr menunjukkan arti ibahah , mubah seperti firman Allah : Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam yaitu fajar (QS. Al Baqarah: 187)</p>
<p>5. Amr menunjukkan arti tahdid ( ancaman )</p>
<p>6. Amr menunjuk pada arti ikram ( memuliakan ).</p>
<p>7. Amr menunjukkan pada arti taskhir ( penghinaan) , jadilah kamu kera yang hina (QS.Al Baqaarah: 65)</p>
<p>8. Amr menunjukkan pada ta&#8217;jiz (melemahkan)</p>
<p>9. Amr menunjukkan pada arti taswiyah ( mempersamakan )</p>
<p>10. Amr menunjukkan pada arti doa , atau permohonan seperti Firman Allah :Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan kebaikan di akhirat serta peliharalah kami dari siksa neraka (QS. Al Baqarah 201)</p>
<p>Terakhir ada amr yang menunjukkan kepada arti iltimas, yaitu ajakan seperti kata-kata kepada kawan-kawan sebaya kerjakalah ~ misal : tolong ambilkan baju itu, datang dong kepesta ulang tahunku ….dll.</p>
<p>Kembali kepada persoalan diskusi kita mengenai shalawat kepada Nabi, yang berarti memohon doa keselamatan, kesejahteraan dan rahmat untuk junjungan Nabi Muhammad Saw. Seperti Firman Allah : Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya (QS. Al Ahzab: 56)</p>
<p>Setelah kita mengetahui kaidah ushul fiqh diatas, bahwa setiap kata perintah belum tentu menentukan sebuah hukum wajib, bisa jadi kata perintah itu berarti memohon, mengajak, petunjuk, anjuran, mengharapkan, dll</p>
<p>Mari kita kaji surat Al Ahzab: 56, tentang shalawat kepada Nabi. Pada ayat tersebut terdapat kalimat bahwa Allah bershalawat kepada Nabi. Kemudian para malaikat, dan selanjutnya Allah memerintahkan orang-orang mukmin untuk bershalawat kepada Nabi. Arti shalawat adalah doa , memberi berkah, dan ibadat.</p>
<p>Shalawat Allah kepada Muhammad, berarti Allah memberi berkah, penghargaan, dan menempatkan Rasulullah yang mulia disisi-Nya. Kemudian shalawat Malaikat kepada Muhammad : Adalah memberi salam penghormatan atas diangkatnya kemuliaan dan kerasulan Muhammad, sebagaimana penghormatan malaikat kepada Nabi Adam as.</p>
<p>Dikarenakan Allah selalu memberikan shalawat (keberkatan, kemuliaan, (kebesaran), maka ummat Muhammad hanya mengharapkan agar shalawat Allah itu tetap langgeng untuk beliau dan keluarganya, walaupun shalawat orang-orang mukmin tiada artinya bagi Muhammad karena beliau telah medapatkan curahan rahmat dan keberkatan itu langsung dari Allah selamanya. Sesungguhnya Allah bershalawat (memberi keselamatan, keberkatan, penghargaan, kebahagiaan) kepada Muhammad dan keluarganya…(QS. Al Ahzab 56)</p>
<p>Perhatikan kata shalawat Allah kepada Muhammad pada ayat tersebut diatas, bagaimana menurut anda kalau kata shalawat diartikan berdoa, Apakah Allah akan berdoa untuk Muhammad ?? kepada siapa ??</p>
<p>Berkata Al Hulaimi dalam Asy syu&#8217;ab tegasnya, pengertian shallu alaihi ~ bershalawat-lah kepadanya, ialah : ud&#8217;u rabbakum bish shalati alaihi.. mohonlah kamu kepada Tuhanmu supaya melimpahkan shalawat kepadanya .</p>
<p>Penghormatan anda kepada presiden bukan berarti kehormatan presiden itu akan bertambah atau berkurang kalau anda tidak menghormatinya, karena kedudukan presiden itu adalah tempat yang paling terhormat di suatu negara. Sebagai rakyat seharusnyalah kita mengormati dan menghargai presiden sebagaimana Allah telah memuliakan orang yang diangkat derajatnya sebagai presiden. Sebab orang tersebut tidak akan menjadi presiden tanpa pertolongan dan kasih sayang-Nya. Untuk itu hargailah dan bersyukurlah kita telah memiliki presiden.</p>
<p>Logika anda yang menyebutkan bahwa mana mungkin bahwa seorang rakyat yang menderita memerintahkan presiden untuk menaikkan pangkat dan gajinya sang panglima sementara diri kita yang menderita masih kekurangan.</p>
<p>Setelah anda membaca uraian saya mengenai kaidah ushul, mari kita coba membandingkan makna kata perintah yang terdapat dalam Alqur&#8217;an, yang apabila membaca ayat tersebut tidak memahami kaidahnya maka artinya akan rancu. Misalnya kata perintah yang berbunyi :</p>
<p>&#8220;Allahumma dammir man ada aka wa ada ad dien, Ya Allah hancurkan orang yang mengganggu Engkau dan yang mengganggu agamamu.</p>
<p>Allahumma shayyiba naafi&#8217;a , Ya Allah turunkanlah hujan yang berguna (QS. Al Adzkar:81)</p>
<p>Rabbana aatina fid dunya hasanah wafil akhirati hasanah waqina adzabannar (QS. Al Baqarah: 201)~ Ya Allah datangkan kepada kami kebaikan di dunia , dan kebaikan di akhirat</p>
<p>Seperti apa yang telah diurai diatas, bahwa kata perintah atau Amr secara umum merupakan tuntutan melakukan suatu pekerjaan dari yang lebih tinggi kepada yang lebih rendah (kedudukannya)</p>
<p>Akan tetapi kalau anda perhatikan bentuk yang di gunakan redaksi ayat dan hadist diatas menggunakan kata perintah, seperti kata dammir (hancurkan), shayyiba (turunkan hujan), atina fiddunya hasanah (datangkan kepada kami kebaikan )……</p>
<p>Kalau melihat kaidah ushul secara umum dalam kasus diatas, seharusnya yang lebih tinggi memerintahkan yang rendah derajatnya. Akan tetapi ayat diatas telah mengguna-kan kata perintah dari bawah keatas (dari hamba kepada Tuhan). Apakah hal ini akan diartikan memerintah Allah ?? Tentu tidak. Akan tetapi amar disini berarti doa.</p>
<p>Kemudian bandingkan dengan kata shalawat yang juga artinya berdoa atau memberikan berkah. Apakah kita akan memberikan berkah kepada Rasulullah yang telah tercurahkan dari Allah swt ?? Apakah kita juga termasuk memerintahkan Allah untuk memberikan berkah kepada Rasulullah ?? Atau apakah Rasulullah butuh shalawat kita agar beliau mendapat Rahmat dari Allah. Padahal Rasulullah telah dijamin syurga oleh Allah. Apakah kita akan tetap menterjemahkan kata shalawat berarti doa untuk Nabi ??</p>
<p>Baiklah saya akan meneruskan pengertian shalawat dengan mengambil makna yang lain agar tampak jelas pengertian shalawat bahwa Rasulullah tidak membutuhkan rahmat ataupun doa ummatnya.</p>
<p>Bersabda Nabi :</p>
<p>Barang siapa bershalawat untukku sekali, niscaya Allah bershalawat untuknya sepuluh kali ( HR Muslim dari Abu Hurairah, Al Mirqah II :5 )</p>
<p>Bahwasanya bagi Allah Tuhan semesta alam ada beberapa malaikat yang diperintah berjalan dimuka bumi untuk memperhatikan keadaan hamba-Nya. Mereka menyampai-kan kepadaku ( sabda nabi) akan segala salam yang diucapkan oleh ummatku. (HR. Ahmad, An Nasaiy &amp; Ad Damrimy Syarah Al Hishn, Al Mirqah II:6)</p>
<p>Barang siapa bershalawat untukku dipagi hari sepuluh kali dan dipetang hati sepuluh kali mendapatkan ia syafaatku pada hari kiyamat ( HR . At Thabrany Al Jami&#8217;)</p>
<p>Manusia yang paling utama terhadap diriku pada hari kiyamat, ialah manusia yang paling banyak bershalawat untukku ( HR At Thurmudzy )</p>
<p>Semakin terang bagi kita atas arti shalawat pada hadist diatas, bahwa Rasulullah tidak membutuhkan rahmat ataupun doa dari kita, akan tetapi justru Rasulullah yang akan memberikan pertolongan nanti dihari kiyamat apabila kita sering memberikan salam atau shalawat penghormatan kepada beliau. Dan Allah juga memberikan shalawat kepada orang yang bershalawat kepada Rasulullah.</p>
<p>Hadist yang mengatakan bahwa : Barang siapa yang bershalawat untukku sekali, niscaya Allah bershalawat untuknya sepuluh kali ( HR Muslim dari Abu Hurairah )</p>
<p>Hadist inilah yang menguatkan bahwa Allah bershalawat kepada siapa saja, bukan hanya kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad. Untuk lebih tegasnya kita perhatikan bacaan shalawat dalam tahiyyat shalat. at tahiyyatul mubarakatush shalawatu thoyyibatulillah, assalamu alaika ayyuhannabiyyu warahmatullahi wabarakaatuh, asssalamu&#8217;alaina wa&#8217;ala ibaadillahish shalihin. Terjemahan bebasnya: Salam hormat, keberkahan, shalawat yang terbaik untuk Allah, keselamatan atasmu wahai nabi serta rahmat dan keberkatan, juga salam hormat kepada para ahli ibadah yang shalih …..</p>
<p>Tahiyyat berarti penghormatan dan kita bershalawat kepada Allah yang berarti kita memuja Allah, kemudian menghormati Nabi dan yang terakhir menghormati orang-orang yang shalih ….itulah arti shalawat, dimana kata itu bisa berarti berbeda jika penempatan kata tersebut berbeda.</p>
<p>Seperti saya uraikan diatas tadi, kata perintah tidak harus berarti memerintah dari yang lebih tinggi kepada yang lebih rendah, akan tetapi kata perintah bisa berarti memohon, meminta pertolongan, anjuran, memberikan khabar (seperti iklan / promosi), menghina, meremehkan, penjelasan dll.</p>
<p>Demikian uraian dari saya, mudah-mudahan kita diberi kemudahan untuk memahaminya. Dan saya menyarankan dan menghimbau kepada saudaraku yang sedang ghirah belajar agama berhati-hatilah dengan doktrin agama yang terkadang tidak menempatkan makna yang sebenarnya, sehingga tidak menguraikan secara objektif sesuai kata aslinya. bukan diterjemahkan menurut keinginan nafsu golongannya.</p>
Posted in artikel  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bidadari08.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bidadari08.wordpress.com/242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bidadari08.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bidadari08.wordpress.com/242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bidadari08.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bidadari08.wordpress.com/242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bidadari08.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bidadari08.wordpress.com/242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bidadari08.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bidadari08.wordpress.com/242/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&blog=3447897&post=242&subd=bidadari08&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bidadari08.wordpress.com/2009/09/28/shalawat-nabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/042a78073904b6dd72c519fb96cf57a8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bidadari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KEAGUNGAN SHALAWAT</title>
		<link>http://bidadari08.wordpress.com/2009/09/28/keagungan-shalawat/</link>
		<comments>http://bidadari08.wordpress.com/2009/09/28/keagungan-shalawat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Sep 2009 02:15:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bidadari</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bidadari08.wordpress.com/?p=239</guid>
		<description><![CDATA[Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatnya bershalawat untuk nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan (Qur’an surat-al-ahzab: ayat ke 58).
Imam Bukhari dalam kitab shaihnya pada bagian At-Tafsir menjelaskan, maksud shalawat dari Allah SWT, adalah sanjungan Allah yang terdapat atasnya. Sementara Imam Ja’far Shiddiq membagi pengertian shalawat yaitu:
1. SHALAWAT DARI ALLAH SWT [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&blog=3447897&post=239&subd=bidadari08&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h3>Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatnya bershalawat untuk nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan (Qur’an surat-al-ahzab: ayat ke 58).</h3>
<p>Imam Bukhari dalam kitab shaihnya pada bagian At-Tafsir menjelaskan, maksud shalawat dari Allah SWT, adalah sanjungan Allah yang terdapat atasnya. Sementara Imam Ja’far Shiddiq membagi pengertian shalawat yaitu:<br />
1. SHALAWAT DARI ALLAH SWT ADALAH RAHMAT ALLAH SWT.<br />
2. SHALAWAT DARI PARA MALAIKAT ADALAH PENYUCIAN.<br />
3. SHALAWAT DARI MANUSIA ADALAH DO’A.</p>
<p>SEJARAH SINGKAT SHALAWAT NABI MUHAMMAD SAW</p>
<p>Sebuah hadits diriwayatkan sahabat Wahib bin Munabih, bahwasanya Rasulullah Muhammad saw menerangkan, dulu ketika Allah SWT menciptakan nabi Adam As, dan meniupkan roh ke dalam jasadnya, Allah SWT membukakan kedua matanya agar melihat pintu surga. Maka dilihatlah oleh Adam As pintu surga itu. Disana tertulis kalimat Laa ilaaha illallah Muhammadarrasulullah.<br />
Adam bertanya,” ya Allah….apakah kau ciptakan seorang makhluk yang lebih mulia dari pada aku?”.<br />
“ ya…dia adalah seorang nabi dari anak cucumu kelak”, jawab Allah.<br />
Dan ketika Allah menciptakan hawa, dimata hawa dilengkapi dengan syahwat. Adam bertanya kepada Allah SWT,” ya Allah…kawinkanlah aku dengan gadis cantik itu”.<br />
Allah SWT berfirman, “ silahkan, tapi kamu harus membayar mas kawinnya dulu!”<br />
“apa mas kawinnya, ya Allah?” Tanya Adam As.<br />
“bacalah shalawat kepada nabi Muhammad saw 100 x, “ jawab Allah.<br />
“kalau nanti saya sudah membaca 100 x, apakah Allah akan mengawinkan aku dengan gadis cantik itu?”<br />
“ya, tegas Allah SWT.<br />
Dan Adam pun membaca shalawat nabi sebanyak 100 x sebagai mas kawin buat Hawa, sigadis cantik jelita itu.<br />
KEISTIMEWAAN SHALAWAT NABI MUHAMMAD SAW<br />
Membaca shalawat nabi kepada Nabi Muhammad saw, sungguh banyak mengandung faedah dan keistimewaan. Diceritakan, dulu ada seorang yahudi mendatangi Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib, seraya menanyakan keistimewaan Nabi Muhammad SAW.<br />
“Nabi Muhammad saw lebih utama dari nabi Adam As, karena Allah SWT sendiri bershalawat atas beliau, memerintahkan malaikat-NYA untuk bershalawat, dan menjadikan shalawat nabi sebagai ibadah hamba-hamba-NYA,” kata Ali.<br />
BEBERAPA FAEDAH DAN KEISTIMEWAAN SHALAWAT NABI MUHAMMAD SAW ADALAH:<br />
1. SHALAWAT DAPAT MENDEKATKAN SEORANG HAMBA KEPADA TUHANNYA, MALAIKATNYA, DAN PADA RAHMAT TUHAN.<br />
Allah SWT berfirman kepada Nabi Musa As, “ maukah engkau, AKU dekat denganmu melebihi dekatnya ucapanmu dengan lisanmu, melebihi jiwamu dengan kedua matamu?&#8230;bacalah shalawat sebanyak mungkin kepada Nabi Muhammad SAW (Kitab Duratun Nasihin: halaman 132).<br />
Mengapa membaca shalawat kepada nabi Muhammad saw sama dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT?, sebab dalam shalawat itu tercantum pula asma Allah SWT. Semakin sering orang membaca shalawat kepada nabi Muhammad SAW, maka semakin sering pula itu menyebut asma Allah SWT. Ini berarti semakin mahabbah (cinta) seseorang kepada Nabi Muhammad SAW, berarti ia juga lebih sering mengingat kepada Allah SWT, dan dapat selalu mendekatkan diri kepada-NYA.</p>
<p>2. AKAN MEMBALAS SATU BACAAN SHALAWAT DENGAN 10 X LIPAT PAHALANYA.<br />
Rasulullah Muhammad saw bersabda,” Allah memerintahkan satu malaikat diantara para malaikat untuk membawa nama setiap orang yang bershalawat dan nama orang tuanya kepadaku. Malaikat itu berada dimakamku sampai hari kiamat. Ketika seseorang bershalawat atasku malaikat tersebut berkata,” wahai Muhammad fulan bin fulan bershalawat atasmu sebanyak ini, Allah SWT telah menjamin bahwa setiap shalawat akan dibalas dengan 10 shalawat”.<br />
3. SHALAWAT NABI DAPAT MENUTUPI KESALAHAN YANG TELAH DIPERBUAT DAN DAPAT MENGANGKAT DERAJAT ORANG YANG MEMBACANYA.<br />
Abu Thalhah berkata,” saya pernah mengahdapi Rasulullah SAW, dan tampak wajah beliau berseri-seri. Aku bertanya, ya rasul, saya melihat wajah tuan hari ini tampaknya berbunga-bunga dan berseri-seri?” Rasul menjawab, “bagaimana aku tidak gembira. Baru saja Jibril datang menghadapiku, dan berkata, barangsiapa yang membacakan shalawat kepadaku sekali saja, ia akan mendapatkan balasannya 10x, dan akan diangkat derajatnya menjadi 10 x.”<br />
Ada kisah menarik dari Aisyah. Ia berkata,” suatu malam di waktu sahur, saya menjahit sebuah pakaian. Namun ketika itu lampu kamarku mati, maka jatuhlah jarum tusukku. Kemudian datang Rasulullah SAW dan teranglah seluruh kamarku dengan seluruh wajahnya. Akupun dapat menemukan jarum tusukku yang jatuh tadi. Aku bertanya kepadanya, ya rasul, apa yang membuat wajahmu bercahaya?<br />
Rasul menjawab, “ hai Aisyah, celakalah bagi orang yang tidak dapat melihat wajahku di hari kiamat nanti.”<br />
“siapakah orang yang tidak dapat melihat wajahmu ya rasul?”<br />
“mereka adalah orang-orang yang bakhil.”<br />
“siapakah orang yang bakhil itu?”<br />
“yaitu orang-orang yang apabila disebutkan namaku dihadapannya, mereka tidak membalasnya dengan membaca shalawat kepadaku.”<br />
4. SHALAWAT JUGA DAPAT MENJADI PENUTUP KEBUTUHAN DUNIA DAN AKHIRAT<br />
Diriwayatkan oleh Imam Ja’far As Shiddiq, bahwa rasulullah pernah bersabda,” bacaan kalian atasku menyebabkan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan kalian, dan Allah SWT ridho pada kalian serta membersihkan perbuatan-perbuatan kalian.”<br />
5. SHALAWAT DAPAT MENJADI SEBAB DIAMPUNINYA DOSA.<br />
Rasulullah bersabda, “ dua orang hamba yang saling mencintai karena Allah, saling berjabat tangan dan membaca shalawat atasku, maka selama kedua orang tersebut belum berpisah, Allah mengampuni dosa-dosa mereka, baik yang terdahulu maupun yang akan datang.”<br />
6. DIBEDAKAN DERAJATNYA DARI ORANG MUNAFIK.<br />
Setiap umat nabi Muhammad saw yang membiasakan diri dengan membaca shalawat atasnya dan keluarganya, maka ia akan dibedakan derajatnya dari orang munafik dan kafir.<br />
7. MENDAPAT CAHAYA (PETUNJUK) LAHIR BATHIN DI HARI KIAMAT.<br />
Nabi khaidir As menjumpai Imam Hasan al Mujtaba. Lalu terjadilah dialog dan tanya jawab diantara mereka.<br />
“mengapa manusia kadang lupa pada sesuatu yang telah diketahui sebelumnya?”, tanya Nabi Khaidir As.<br />
Imam Hasan menjawab, “ hai manusia berlandaskan kebenaran dan cenderung pada kebenaran serta terikat pada kebenaran. Jika ia menyampaikan shalawat dan salam secara sempurna kepada Muhammad dan keluarga beliau, hatinya memancarkan cahaya tertentu, sesuatu yang terlupakan kembali teringat. Jika ia tidak membaca shalawat atas Muhammad dan keluarga beliau atau membaca shalawat yang tidak sempurna, maka sesuatu yang diketahui tersebut akan tetap terikat dan menempel pada kebenaran. Pada saat itulah manusia mengalami lupa.”</p>
<p>8. AKAN SELAMAT DALI LALAPAN API NERAKA.<br />
Pernah suatu hari Imam Ja’far As Shiddiq berkata pada Shabah bin Sahabah,” apakah engkau ingin aku ajarkan sesuatu agar wajahmu terjaga dari panasnya api neraka?”<br />
“ya,” jawab shabah bin sahabah.<br />
Imam ja’far berujar,” setelah shalat subuh ucapkan 100 x: allhumma shali ‘ala saidina Muhammad, wa’ala ali saidina Muhammad (ya Allah, sampaikanlah shalawat pada Muhammad dan keluarga Muhammad), niscaya Allah akan menjaga wajahmu dari api neraka.”<br />
Imam Muhammad al Baqir Ra meriwayatkan, ada seorang hamba yang telah berada dineraka selama 70 masa ( 1 masa = 70 tahun). Kemudian dia $memohonkan pada Allah SWT dengan keutamaan Nabi Muhammad SAW dan ahlul baitnya agar dia merahmati dirinya.”<br />
Lalu terdengar seruan Allah SWT kepada malaikat Jibril,” turunlah engkau, temui hamba-KU itu, keluarkan ia dari neraka.”<br />
“wahai tuhanku, bagaimana aku dapat masuk neraka?”tanya Jibril.<br />
“AKU telah memerintahkan agar api neraka menjadi sejuk dan dingin bagimu.”<br />
“hamba-MU itu berada dimana?”<br />
“dia ada dilembah neraka Sijjin,” jawab Allah SWT.<br />
Lalu malaikat mendatangi hamba tersebut, dan menyaksikan ia sedang duduk melipat kedua kakinya. Jibrilpun mengeluarkannya.<br />
Allah berfirman kepada hamba-NYA itu. “wahai hamba-KU berapa lama kau berada disana?”<br />
“aku tidak tahu,” jawab sihamba.<br />
Kemudian Allah SWT berfirman, “ AKU bersumpah demi kemuliaan dan keagungann-KU, jika engkau tidak memohon padaku seperti tadi, untuk setiap titik kehinaanmu, satu masa engkau akan berada dineraka. Namun AKU mengharuskan pada diri-KU siapa yang memohon dengan keutamaan Muhammad saw dan keluarganya agar diampuni dosa-dosanya, maka AKU akan ampuni. Dan kini engkau AKU ampuni.”<br />
9. ADA JAMINAN MASUK SURGA DAN KENIKMATANNYA.<br />
Banyak orang awam yang belum mengerti bahwa shalawat Nabi SAW merupakan jalan menuju surga. Dengan banyak membaca shalawat, secara otomatis orang itu akan sering menyebut asma Allah dan kekasihnya. Nabi Muhammad SAW. Dengan cara ini, berarti ia telah bermahabbah kepada Allah SWT dan rasul-NYA.<br />
Abdurrahman bin Auf meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda,” Jibril datang kepadaku dan berkata, ya Muhammad tidak ada yang bershalawat kepadamu, kecuali ada 70.000 malaikat yang bershalawat kepadanya. Dan barang siapa dishalawati oleh para malaikat, maka ia termasuk ahli surga (kitan durratun nashihin halaman 11).<br />
Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW,” bacaan shalawat dari Umar merupakan kiriman hadiah untukmu. Lalu, apakah engkau balas mengirimkan hadiah kepadanya?”.<br />
Rasullullah saw menjawab,” hari ini shalawat umatku merupakan hadiah mereka untukku, sedang esok menjadi hadiahku untuk mereka disurga.<br />
10. MENDAPAT SYAFAAT DI HARI KIAMAT.<br />
Ada seorang laki-laki penduduk marwi berkata,” aku adalah orang yang sangat malas membaca shalawat atas pemimpin alam, Nabi Muhammad saw, dan sama sekali tidak memberikan perhatian dalam masalah tersebut. Hingga suatu malam aku bermimpi melihat Rasulullah SAW, namun beliau tidak mempedulikan aku seolah-olah beliau tidak menyukaiku. Aku bertanya kepada beliau, wahai rasulullah mengapa engkau tidak mempedulikan aku? Bukankah aku adalah umatmu? Aku mendengat dari para ulama bahwa para nabi lebih mengenal umatnya dibanding ayah terhadap anaknya.<br />
Beliau menjawab,” pengenalanku pada umatku bergantung pada shalawat mereka sampaikan kepadaku. Karena engkau tidak mengingatku dengan shalawat, lalu bagaimana aku mengenalmu dan bagaimana aku peduli denganmu?”<br />
Aku terbangun dari tidur. Sejak saat itu aku mewajibkan diriku membaca shalawat 100 x setiap hari. Allah memberiku taufik untuk bisa melaksanakannya. Tidak lama kemudian aku kembali bermimpi menjumpai Rasulullah SAW, dan berkata, “sekarang aku mengenalmu. Aku bangga padamu dan akan memberimu syafaat di hari kiamat kelak.”<br />
Wahai umat Muhammad, perbanyaklah membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW (Allahummashalli’ala saidina Muhammad, wa’ala ali saidina Muhammad), karena shalawat dapat menutupi dosa besar dan menunjukkan jalan yang lurus. Orang yang membaca shalawat akan jauh dari neraka dan akan masuk surga dengan kekal. Amin ya rabbal ‘alamin.</p>
Posted in artikel  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bidadari08.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bidadari08.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bidadari08.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bidadari08.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bidadari08.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bidadari08.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bidadari08.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bidadari08.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bidadari08.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bidadari08.wordpress.com/239/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&blog=3447897&post=239&subd=bidadari08&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bidadari08.wordpress.com/2009/09/28/keagungan-shalawat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/042a78073904b6dd72c519fb96cf57a8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bidadari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Metode Memahami Kitab Kuning</title>
		<link>http://bidadari08.wordpress.com/2009/09/16/metode-memahami-kitab-kuning/</link>
		<comments>http://bidadari08.wordpress.com/2009/09/16/metode-memahami-kitab-kuning/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Sep 2009 16:05:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bidadari</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bidadari08.wordpress.com/?p=236</guid>
		<description><![CDATA[
















Term kitab kuning bukan merupakan istilah untuk kitab yang kertasnya kuning saja, akan tetapi ia merupakan istilah untuk kitab yang dikarang oleh para cendekiawan masa silam. Istilah tersebut digunakan karena mayoritas kitab klasik menggunakan kertas kuning, namun belakangan ini penerbit-penerbit banyak yang menggunakan kertas putih. Yang pasti, istilah tersebut digunakan untuk produk pemikiran salaf. Sementara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&blog=3447897&post=236&subd=bidadari08&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><table style="height:20px;" border="0" width="819">
<tbody>
<tr>
<td width="100%"></td>
<td width="100%" align="right"><a title="Cetak" rel="nofollow" href="http://www.pesantrenvirtual.com/index.php/seputar-pesantren/1218-metode-memahami-kitab-kuning?tmpl=component&amp;print=1&amp;layout=default&amp;page="><br />
</a></td>
<td width="100%" align="right"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<div>Term kitab kuning bukan merupakan istilah untuk kitab yang kertasnya kuning saja, akan tetapi ia merupakan istilah untuk kitab yang dikarang oleh para cendekiawan masa silam. Istilah tersebut digunakan karena mayoritas kitab klasik menggunakan kertas kuning, namun belakangan ini penerbit-penerbit banyak yang menggunakan kertas putih. Yang pasti, istilah tersebut digunakan untuk produk pemikiran salaf. Sementara itu, produk pemikiran salaf dikalangan akdemisi lebih populer dengan sebutan turats.</div>
<p>Turats secara harfiah berarti sesuatu yang ditinggalkan/ diwariskan. Di dunia pemikiran Islam, turats digunakan dalam khazanah intelektual Islam klasik yang diwariskan oleh para pemikir tradisional. Istilah turats yang berarti khazanah tradisional Islam merupakan asli ciptaan bahasa Arab kontemporer.</p>
<p align="justify">Sejarah mencatat bahwa para pembuat kitab kuning/ turats dalam memainkan perannya di panggung pergulatan pemikiran Islam tak pernah sepi dari polemik dan hal-hal yang berbau kontradiktif. Sengitnya perdebatan antara Mu’tazilah, Murji’ah, Rafidhah, dan Ahlu al Sunnah yang direkam secara rinci oleh Abdul Qohir ibn Thahir ibn Muhammad al Baghdadi (w. 429/1037) dalam karyanya al Farqu bain al Firaq. Dalam buku tersebut tergambar dengan jelas kemajemukan pemahaman agama terlebih masalah akidah. Setelah melakukan pencarian dan kajian yang mendalam para tokoh aliran masing-masing menemukan konklusi yang berbeda-beda.</p>
<p>Pada kurun berikutnya, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali (w.505 H) berhasil mengguncang dunia filsafat melalui bukunya yang bejudul Tahafut al Falasifah. Dengan sangat rasional beliau mengungkap kerancuan pemikiran para filosof terutama pemikiran al Farabi dan Ibnu Sina. Namun kritikan tajam dari Ghazali terhadap para filosof ini mendapatkan serangan balik dari Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Rusyd (w. 595 H) melalui Tahafut al Tahafut. Dalam pandangan Ibnu Rusyd, Ghazali dinilai kurang tepat dalam menguak sisi fatalitas pemikiran para filosof karena Ghazali pada dasarnya hanya bersandar pada dua pemikiran yakni al Farabi dan Ibnu Sina, bukan pada akarnya, yakni filsafat Yunani. Dalam hal, ini Ibnu Rusyd adalah sosok yang melakukan apologi (pembelaan) sekaligus purifikasi (pemurnian) filsafat Aristoteles yang tercemar dan terkaburkan oleh pendapat Ibnu Sina. Bahkan Ibnu Rusyd berusaha untuk mengharmoniskan hubungan antara filsafat dan agama.<br />
Silang pendapat juga tumbuh subur di ranah hukum Islam (fikih). Gesekan-gesekan banyak terjadi pada pentolan dan pendiri madzhab seperti Syafi’i, Maliki dan imam-imam yang lain. Dalam tubuh sebuah madzhab juga kerap terjadi benturan ide sebagaimana yang ada dalam kubu Syafi’iyah seperti al Nawawi dengan al Rafi’i. Namun perlu diingat bahwa perbedaan bukan berarti permusuhan. Beragam pendapat yang muncul disikapi oleh para pemikir klasik dengan penuh kedewasaan sehingga dengan perbedaan justru benar-benar membawa rahmat.<br />
Berbicara soal ilmu pengetahuan, ada baiknya kita tengok kembali gagasan Ghazali dalam al Mustashfa fi ’Ilm al Ushul -buku tentang teori hukum Islam (ushul fikih). Dalam prolog (khutbah al kitab) buku tersebut, Hujjatul Islam memetakan ilmu menjadi tiga macam. Pertama, ilmu rasional murni (’aqli mahdh) seperti matematika (al hisab), arsitektur (al handasah) dan astrologi (al nujum). Agama tidak menganjurkan untuk mempelajari ilmu jenis ini. Ilmu ini sebagian mengandung kebenaran dan sebagian yang lain hanyalah spekulasi yang tak berdasar. Dalam kacamata Ghazali, ilmu ini tidak berguna karena hanya terkait erat dengan kehidupan dunia yang fana. Ilmu bisa dikatakan bermanfaat bukanlah ilmu yang hanya berorientasi pada kenikmatan dan kegemilangan masa depan, melainkan diukur dengan kemampuannya mengantarkan kepada kebahagian akhirat yang abadi.<br />
Kedua, ilmu yang murni hanya merujuk pada sumber-sumber terdahulu (naqli mahdh). Contoh ilmu ini adalah ilmu hadis, tafsir dan yang sejenis. Ilmu hadis dan tafsir diperoleh dari sahabat, tabi’in dan orang-orang zaman dahulu. Untuk mengkaji ilmu jenis ini sangat mudah sebab orang muda dan tua dapat menguasai dengan gampang asalkan memiliki daya ingat yang tajam (quwwat al hifdzi), sementara rasio tidak begitu berperan di bidang ini.</p>
<p align="justify">Dalam perspektif Ghazali, pembagian ilmu yang paling mulia adalah ilmu yang ketiga. Ilmu ketiga merupakan upaya mensinergikan antara akal dan nukil, antara penalaran dan periwayatan. Ilmu fikih dan ushul fikih merupakan cakupan dari bagian ilmu yang ketiga, sebab porsi akal dan wahyu bekerja bersama-sama di dalamnya. Karena dalam ilmu ushul fikih dan fikih terkandung dua unsur sekaligus, maka ilmu ini mempunyai nilai plus bila dibandingkan ilmu hadis, tafsir dan lainnya.<br />
Pengarang buku Ihya’ Ulumuddin ini menambahkan argumen bahwa ilmu-ilmu semacam itu tidak dilandaskan pada taklid semata yang menjadi ciri khas ilmu naqli begitu pula tidak bersandar pada akal murni. Upaya peniruan secara membabi buta ditolak oleh akal, sementara berpegang pada akal semata tidak dibenarkan agama. Dapat ditarik kesimpulan bahwa ilmu yang paling unggul adalah ilmu yang berdiri ditengah-tengah antara akal dan wahyu.</p>
<p align="justify">Ada beberapa hikmah yang bisa diambil dari tiga pemetaan ilmu yang telah dilakukan oleh Ghazali dan sepenggal sejarah perjalanan intelektual dari masa ke masa.</p>
<p align="justify">Dari sana, penulis ingin menawarkan metode baru dalam memahami kitab kuning.</p>
<p align="justify">1. Pengkaji kitab kuning tidak hanya berhenti pemahaman hukum-hukum hasil karya ulama terdahulu, tetapi melacak metodologi penggalian hukumnya. Hal ini sebagaimana tawaran al Ghazali bahwa ilmu yang paling baik adalah penggabungan antara aqli dan naqli, antara menerima hasil pemikiran ulama’ salaf sekaligus mengetahui dalil dan penalarannya.</p>
<p align="justify">2. Membiasakan untuk bersikap kritis dan teliti terhadap objek kajian. Karena pada dasarnya budaya kritis adalah hal yang lumrah dalam dunia intelektual. Sebagaimana telah kita saksikan potret kehidupan ulama’ salaf yang sarat dengan nuansa konflik dan polemik. Hal itu terjadi, tak lain hanyalah karena ketelitian, kejelian dan kritisisme yang dimiliki oleh para pendahulu kita yang kesemuanya patut untuk kita teladani.</p>
<p align="justify">3. Melakukan analisa yang mendalam, apakah pendapat ulama itu benar-benar murni refleksi atas teks (nash) atau ada faktor lain yang mempengaruhi. Sekedar contoh, kenapa sampai ada qoul qodim dan qoul jadid, kenapa Imam Nawawi berbeda pendapat dengan Imam Syafi’i dalam transaksi jual beli tanpa sighat (bai’al mu’athoh), kenapa Imam Qoffal berani berbeda pendapat dalam memahami sabilillah yang berarti setiap jalan kebaikan (sabil al khair) dapat menerima zakat sedangkan mayoritas ulama tidak memperbolehkan.</p>
<p align="justify">4. Menelusuri sebab terjadinya perbedaan pendapat, sejarah kodifikasi kitab kuning, latar belakang pendidikan pengarang, keadaan sosial dan budaya yang mempengaruhinya. Memahami faktor dan tujuan pengarang mengemukakan pendapatnya.</p>
<p align="justify">5. Pengkaji harus menjaga jarak antara dirinya (selaku subyek) dan materi kajian (selaku obyek). Dengan prinsip ini, peneliti tidak boleh membuat penilaian apapun terhadap materi dan melepaskan dari fanatisme yang berlebihan. Dalam tahap ini peneliti harus berusaha ”menelanjangi” aspek kultural, sosial dan historis dimana suatu hukum dicetuskan. Benar-benar memahami latar belakang suatu hukum yang telah dirumuskan ulama’ salaf. Hal ini dimaksudkan agar terjadi penilaian dan pemahaman yang obyektif.</p>
<p align="justify">Langkah terakhir adalah pengkaji menghubungkan antara dirinya dengan obyek kajian. Langkah ini diperlukan untuk mereaktualisasi dan mengukur relevansi kitab kuning dengan konteks kekinian. Pengkaji dalam hal ini dituntut untuk menjadikan kitab kuning sebagai sesuatu yang cocok untuk diterapkan, sesuai dengan kondisi saat ini dan bersifat ke-Indonesiaan. Senantiasa berpegang pada prinsip bahwa syariat Islam diciptakan demi tegaknya kemaslahatan sosial pada masa kini dan masa depan.<br />
Di samping langkah-langkah di atas, pemerhati kajian kitab kuning hendaknya membekali dengan ilmu penunjang yakni logika (mantiq). Ilmu anggitan Aristoteles ini tampaknya kurang mendapatkan perhatian, padahal ilmu tersebut dapat mempertajam rasionalitas dan menumbuhkan daya nalar yang kreatif. Imam Ghazali, Ibnu Rusyd, Ibnu Hazm dan ulama salaf lainnya adalah pakar filsafat Islam disamping menguasai ilmu-ilmu keIslaman.</p>
<p align="justify">Kitab kuning merupakan hasil kerja keras para sarjana Islam klasik yang menyimpan segudang jawaban atas permasalahan-permasalahan masa lalu. Sementara itu, disisi lain kita adalah generasi yang hidup di ruang dan kondisi yang berbeda serta menghadapi peliknya problematika modern. Upaya yang dilakukan para pemikir bebas dalam merespon pernak-pernik modernitas sembari meninggalkan khazanah tradisional Islam tak lain hanyalah kecongkakan intelektual. Namun serta merta menjadikan kitab kuning sebagai pedoman yang ’sepenuhnya laku’ adalah tindakan yang kurang bijaksana, karena hanya al Quran dan hadis-lah yang bersifat universal.<br />
Kita ini ibarat anak saudagar kaya yang diwarisi ratusan perusahaan besar oleh bapaknya. Akan tetapi apabila kita tidak mampu memperbaharui sistem, meingkatkan produktifitas, kreatif dalam merespons dinamika zaman, lambat laun produk perusahaan tidak laku dan tidak menarik konsumen. Akhir cerita perusahaan yang besar itu akan mati meninggalkan seribu kisah manis.<br />
Dengan pendekatan-pendekatan di atas untuk memahami kitab kuning, Insya Allah kitab kuning akan senantiasa aktual, up to date dan layak pakai sepanjang masa. Dengan berbekal pendekatan tekstual dan pemahaman yang lugu justru akan menjadikan kitab kuning hanya sekedar bundelan kertas peninggalan ratusan tahun silam.<br />
Realitas mengatakan bahwa yang berhasil menjadi pemikir-pemikir besar Islam Indonesia adalah mereka yang betul-betul mampu mengusai khazanah Islam klasik dengan baik. Tokoh seperti Sahal Mahfudz, Quraisy Syihab, Said Aqil Siraj dll adalah tokoh-tokoh yang berlatar belakang pendidikan pesantren dan kitab kuning. Penulis sangat yakin bahwa orang yang mampu mengusai kitab kuning dengan sempurna adalah orang yang layak meneruskan estafet intelektual pemikiran Islam masa depan. Selamat bergumul dengan kitab kuning dan berhadapan dengan arus modernitas serta tantangan zaman.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
Posted in artikel  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bidadari08.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bidadari08.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bidadari08.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bidadari08.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bidadari08.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bidadari08.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bidadari08.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bidadari08.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bidadari08.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bidadari08.wordpress.com/236/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&blog=3447897&post=236&subd=bidadari08&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bidadari08.wordpress.com/2009/09/16/metode-memahami-kitab-kuning/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/042a78073904b6dd72c519fb96cf57a8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bidadari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kopiah, identitas Santri?</title>
		<link>http://bidadari08.wordpress.com/2009/09/16/kopiah-identitas-santri/</link>
		<comments>http://bidadari08.wordpress.com/2009/09/16/kopiah-identitas-santri/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Sep 2009 15:58:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bidadari</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bidadari08.wordpress.com/?p=233</guid>
		<description><![CDATA[















Zaman sekarang sebuah kemasan, merek, bahasa pesantrennya bentuk dhahir, dianggap jauh lebih penting ketimbang sebuah isi. Perkembangan zaman telah berhasil menanamkan kemasan menjadi sesutau yang penting, mengabaikan kwalitas.
Dalam Ta&#8217;lim al-Muta&#8217;alim, buah pena Syeikh Zarnuji yang menurut sebagian kalangan sudah tidak relevan, ada penekakan untuk selalu memakai tutup kepala dalam setiap aktifitas. Kemudian oleh pesantren hal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&blog=3447897&post=233&subd=bidadari08&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><table style="height:22px;" border="0" width="819">
<tbody>
<tr>
<td width="100%"><a href="http://www.pesantrenvirtual.com/index.php/seputar-pesantren/1257-kopiah-identitas-santri"><br />
</a></td>
<td width="100%" align="right"><a title="Cetak" rel="nofollow" href="http://www.pesantrenvirtual.com/index.php/seputar-pesantren/1257-kopiah-identitas-santri?tmpl=component&amp;print=1&amp;layout=default&amp;page="><img src="http://www.pesantrenvirtual.com/images/M_images/printButton.png" alt="Cetak" /></a></td>
<td width="100%" align="right"><a title="E-mail" href="http://www.pesantrenvirtual.com/index.php/component/mailto/?tmpl=component&amp;link=aHR0cDovL3d3dy5wZXNhbnRyZW52aXJ0dWFsLmNvbS9pbmRleC5waHAvc2VwdXRhci1wZXNhbnRyZW4vMTI1Ny1rb3BpYWgtaWRlbnRpdGFzLXNhbnRyaQ%3D%3D"><img src="http://www.pesantrenvirtual.com/images/M_images/emailButton.png" alt="E-mail" /></a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">Zaman sekarang sebuah kemasan, merek, bahasa pesantrennya bentuk dhahir, dianggap jauh lebih penting ketimbang sebuah isi. Perkembangan zaman telah berhasil menanamkan kemasan menjadi sesutau yang penting, mengabaikan kwalitas.</p>
<p>Dalam Ta&#8217;lim al-Muta&#8217;alim, buah pena Syeikh Zarnuji yang menurut sebagian kalangan sudah tidak relevan, ada penekakan untuk selalu memakai tutup kepala dalam setiap aktifitas. Kemudian oleh pesantren hal itu tidak diterjemahkan dalam bentuk serban atau tutup kepala lainnya, tetapi diwujudkan dalam bentuk kopiah.</p>
<p>Dalam pandangan mereka, memakai kopiah merupakan bentuk kewiraian atau kezuhudan seseorang, paling tidak sebagai bentuk kelaziman. Oleh karenanya, seorang santri tidak diperbolehkan melepas peci dalam kesehariannya. Santri yang berani menanggalkan kopiah diidentikkan dengan santri badung yang sering melangar tatakrama dan aturan.</p>
<p>Tradisi ini menjalar ke masyarakat, dengan berkopiah seseorang dianggap memiliki nilai plus, kurang utama bila menanggalkan kopiah saat menunaikan shalat, dan lain sebagainya, termasuk ketika sekarang banyak orang mencari simpati untuk meraih suara. Namun ironis, akibat penekanannya atas bentuk lahir, pemahaman akan tradisi pesantrenpun menjadi keliru. Banyak masyarakat memakan mentah-mentah tradisi ini, contoh kecil ketika mereka salah kaprah memakai kopiah dalam shalat, terbukti masih banyak yang malah menutup bagian yang mestinya terbuka waktu melakukan sujud, tidak sedikit yang keliru memakai kopiah.</p>
<p>Tutup kepala yang terbuat dari beludru warna gelap dengan ketinggian antara 6-12 cm ini, ada yang mengatakan, bila dipandang dari segi bentuk merupakan modifikasi antara torbus Turki dengan peci India. Ada pula yang menyatakan bahwa kopiah memang asli kreasi nusantara. Penutup kepala, entah apakah bentuknya sama seperti kopiah-kopiah Indonesia sekarang, memang telah ada sejak dulu kala.</p>
<p>Yang jelas, menurut sejarah pada awal pergerakan Nasional 1908-an, kebanyakan para aktivis masih memakai daster dan tutup kepala blangkon, yang lebih dekat ke tradisi priyayi dan aristokrat. Seiring meluasnya gerakan sama rata sama rasa dan penolakan terhadap feodalisme -paham dan pola sikap yang mengagung-agungkan pangkat dan jabatan tanpa mengagungkan prestasi kerjanya- termasuk dalam berpakaian dan berbahasa, tokoh idola panutan kaum pergerakan waktu itu, Tjokroaminoto yang sering berkopiah, dengan sendirinya kopiah menjalar di kalangan aktifis, termasuk muridnya, Soekarno.</p>
<p>Sejak saat itu kopiah yang semula merupakan tradisi pesantren dijadikan sebagai songkok nasional, identitas ke Indonesiaan, yang dipelopori kaum pergerakan. Ada yang bilang, berkat pesona seorang Soekarno, para aktivis dan priyayi waktu itu mulai menggunakan kopiah. Di samping menjadi simbol Islamisme, kopiah waktu itu juga sebagai simbol patriotisme dan nasionalisme, yang mampu membedakan mana priyayi pro rakyat dan priyayi kolaborator Belanda.</p>
<p>Pada Muktamar NU ke 10 di Banjarmasin, saat Nahdlatul Ulama (NU) mulai sangat aktif melibatkan diri untuk merespon perkembangan dunia luar, baik nasional maupun internasional. NU mengakui Nasioalisme Hindia Belanda dan mulai memperbolehkan warganya memakai pantaloon (celana panjang), namun identitas kesantrian harus tetap terlihat. Salah satu bentuknya adalah memakai kopiah, sehingga masih bisa dibedakan dengan kolonial Belanda.</p>
<p>Namun kini, kopiah bukan hanya identifikasi bagi seorang muslim, pembeda dengan penjajah, patriotisme, ataupun simbol nasionalisme. Lihat saja upacara–upacara pelantikan pejabat Negara, meskipun dia bukan seorang muslim, tidak sedikit yang memakai penutup berbahan beludru ini. Sering pula kita saksikan, bahkan kebanyakan, para perusak Negara memakai kopiah ketika tersudut di depan meja hijau. Berubah fungsikah?</p>
<p>Permasalahan kopiah seperti di atas mestinya ‘menghina’ kecerdasan kita sebagai muslim, khususnya kalangan pesantren. Bagaimana mungkin cuma dengan modal kopiah, orang sudah dipercaya ‘pindah agama’. Segampang itukah? Bagaimana bisa ketaatan beragama hanya muncul sebagai penutup kepala, sebuah keputusan yang perlu dipertanyakan.</p>
<p>Tapi, mari kita hargai keputusan ini, sebab kita memang masyarakat yang gampang ditipu. Apalagi bila tipuan itu memuat unsur-unsur yang kita suka, simbol dan atribut, kopiah misalnya.</p>
<p>Begitu besar minat kita pada atribut, keindahan kemasan, hingga mendorong orang dengan mudahnya merubah kepribadian. Jika ia telah berdandan sedemikian rupa, merasa telah menjadi orang bertakwa. Untuk menjadi seorang nasionalis, kita cukup hanya dengan mengganti nama saja dan kalau mau jadi seniman, orang cukup bermodal memanjangkan rambut dan mengacak-acak dandanan.</p>
<p>Begitulah, zaman telah begini maju, tapi kita masih dengan mudahnya tertipu dengan ‘merek’. Bila kita tidak segera berbenah, jangan heran bila ke depan makin banyak kita temui para penipu.</p>
<p>Untuk mewaspadai hal itu, mulai sekarang kita harus menekan ambisi yang kelewatan atas sebuah simbol dan atribut. Perlu juga ada semacan ‘penelaahan kembali’ oleh setiap muslim. Bagi kalangan pesantren, tentu penelaahan tentang perkopiahan juga perlu ada penekanan, karena ketika imej sebuah kopiah telah tercoreng, secara tidak langsung pesantrenpun terkena imbasnya. Dengan itu, semoga saja penipu-penipu handal sekarang adalah generasi terakhir mereka. Semoga.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
Posted in artikel  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bidadari08.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bidadari08.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bidadari08.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bidadari08.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bidadari08.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bidadari08.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bidadari08.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bidadari08.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bidadari08.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bidadari08.wordpress.com/233/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&blog=3447897&post=233&subd=bidadari08&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bidadari08.wordpress.com/2009/09/16/kopiah-identitas-santri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/042a78073904b6dd72c519fb96cf57a8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bidadari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.pesantrenvirtual.com/images/M_images/printButton.png" medium="image">
			<media:title type="html">Cetak</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.pesantrenvirtual.com/images/M_images/emailButton.png" medium="image">
			<media:title type="html">E-mail</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>hakekat idul fithri</title>
		<link>http://bidadari08.wordpress.com/2009/09/16/231/</link>
		<comments>http://bidadari08.wordpress.com/2009/09/16/231/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Sep 2009 15:38:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bidadari</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bidadari08.wordpress.com/?p=231</guid>
		<description><![CDATA[







Setiap tanggal 1 syawal seluruh umat Islam diseluruh dunia selalu merayakan Hari Idul Fithri dengan penuh kegembiraan dan rasa syukur. Hari Raya Idul Fithri merupakan puncak dari seluruh rangkaian proses ibadah selama bulan Ramadhon, dimana dalam bulan tersebut kita melakukan ibadah shaum dengan penuh keimanan kepada Allah SWT. Penetapan Hari Raya Idul Fithri oleh Rasulullah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&blog=3447897&post=231&subd=bidadari08&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><table style="height:18px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="67">
<tbody>
<tr>
<td style="text-align:center;"></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Setiap tanggal 1 syawal seluruh umat Islam diseluruh dunia selalu merayakan Hari Idul Fithri dengan penuh kegembiraan dan rasa syukur. Hari Raya Idul Fithri merupakan puncak dari seluruh rangkaian proses ibadah selama bulan Ramadhon, dimana dalam bulan tersebut kita melakukan ibadah shaum dengan penuh keimanan kepada Allah SWT. Penetapan Hari Raya Idul Fithri oleh Rasulullah SAW dimaksudkan untuk menggantikan Hari Raya yang biasa dilaksanankan orang­orang Madinah pada waktu itu. Hal ini sesuai dengan Hadits Rasulullah SAW yaitu :</p>
<p><em>&#8220;Jabir ra. Berkata : Rasulullah SAW datang ke Madinah, sedangkan bagi penduduk Madinah ada dua hari yang mereka ( bermain-main padanya dan merayakannya dengan berbagai permainan). Maka Rasulullah SAW bertanya : &#8221; Apakah hari yang dua ini ? &#8221; Penduduk Madinah menjawab : &#8221; Adalah kami dimasa jahiliyah bergembira ria padanya &#8220;. Kemudian Rasulullah bersabda : &#8221; Allah telah menukar dua hari itu dengan yang lebih baik yaitu Idul Adha dan Idul Fithri &#8220;.</em> <strong>(HR Abu Dawud)</strong></p>
<p>Di negara Indonesia, Hari Raya Idul Fithri juga merupakan puncak pengalaman hidup sosial dan spiritual keagamaan masyarakat Indonesia. Dapat dikatakan bahwa seluruh kegiatan masyarakat selama satu tahun diarahkan untuk dapat merayakan hari besar itu dengan sebaik-baiknya. Mereka bekerja dan banyak yang menabung untuk kelak mereka nikmati pada saat tibanya Idul Fithri.</p>
<p>Hari raya yang juga disebut lebaran itu sebanding dengan perayaan <em>Thanks Giving Day </em>di Amerika Serikat, saat rakyat negeri itu bersuka-ria dengan bersyukur kepada Tuhan bersama seluruh keluarga. Gerak mudik rakyat Indonesia juga mirip sekali dengan yang terjadi pada orang-orang Amerika menjelang <em>Thanks Giving Day</em> itu. Semuanya merasakan dorongan amat kuat untuk bertemu ayah-ibu dan sanak saudara, karena justru dalam suasana keakraban kekeluargaan itu hikmah Idul Fithri atau <em>Thanks Giving Day</em> dapat dirasakan sepenuh-penuhnya.</p>
<p>Sebagai hari raya keagamaan, Idul Fithri pertama-tama mengandung makna keruhanian. Tapi karena dimensi sosialnya sedemikian besarnya, khususnya dimensi kekeluargaannya, maka Idul Fithri juga memiliki makna sosial yang amat besar. Dan juga dilihat dari segi bagaimana orang bekerja dan menabung untuk berlebaran, Idul Fithri juga mempunyai makna ekonomis yang besar sekali bagi masyarakat Indonesia. Cukup sebagai indikasi tentang hal itu ialah bagaimana daerah-­daerah tertentu memperoleh limpahan ekonomi dan keuangan dari para pemudik, sehingga pemerintah daerah bersangkutan merasa perlu menyambut dan mengelu-elukan kedatangan warganya yang bekerja di kota-kota besar itu.</p>
<p><strong>PENGERTIAN IDUL FITHRI</strong></p>
<p>Makna keruhanian Idul Fithri dapat dipahami dengan baik jika kita dapat melihatnya dari sudut pandang keagamaan yang melatarbelakanginya. Seperti halnya dengan semua pranata keagamaan, Idul Fithri berkaitan langsung dengan ajaran dasar Islam. Karena itu makna Idul Fithri merupakan rangkuman nilai-nilai Islam dalam sebuah kapsul kecil, dengan muatan simbolik yang sangat sentral.</p>
<p>Mayoritas umat Islam mengartikan Idul Fithri dengan arti &#8220;kembali menjadi suci &#8220;, pendapat ini didasari oleh sebuah hadits Rasullullah SAW yaitu :</p>
<p><em>“Barang siapa yang melaksanakan ibadah shaum selama satu bulan dengan penuh keimanan kepada Allah SWT maka apabila ia memasuki Idul Fithri ia akan kembali menjadi Fithrah seperti bayi (Tiflul) dalam rahim ibunya &#8220;</em> <strong>(HR Bukhari )</strong></p>
<p>Kalau ditilik kembali, pendapat yang mengartikan idul Fithri dengan &#8220;kembali menjadi suci&#8221; tidak sepenuhnya benar, karena kata &#8220;Fithri&#8221; apabila diartikan dengan &#8220;Suci&#8221; tidaklah tepat. Sebab kata &#8220;Suci&#8221; dalam bahasa Arabnya adalah &#8220;Al Qudus&#8221; atau &#8220;Subhana&#8221;. Oleh karena itu, menurut penulis istilah Idul Fithri dapat ditelusuri minimal dalam tiga pengertian yaitu sebagai berikut:</p>
<p>Untuk memperoleh pengertian itu kita bisa memulainya dengan melihat makna asal ungkapan Arab <em>id al-fithr</em>. Kata <em>id</em> berasal dari akar kata yang sama dengan kata <em>`awdah</em> atau `<em>awdat-un</em>, <em>`adab</em> atau <em>adat-un</em> dan <em>isti&#8217;adat-un</em>. Semua kata-kata itu mengandung makna asal &#8220;kembali&#8221; atau &#8220;terulang&#8221; (perkataan Indonesia &#8220;adat-istiadat&#8221; adalah pinjaman dari bahasa Arab <em>`adat-un wa isti &#8216;adat-un</em> yang berarti sesuatu yang selalu akan terulang dan diharapkan akan terus terulang, yakni, sebagai &#8220;adat kebiasaan&#8221;). Dan hari raya diistilahkan sebagai <em>id</em> karena ia datang kembali berulang-ulang secara periodik dalam daur waktu satu tahun.</p>
<p>Makna asal kata-kata &#8220;fithri&#8221; kiranya sudah jelas, karena satu akar dengan kata &#8220;fitrah&#8221; (fithrah), yang artinya &#8220;Pencipta&#8221; atau &#8220;Ciptaan&#8221;. Secara kebahasaan, fithrah mempunyai pengertian yang sama dengan <em>khilqah</em>, yaitu &#8220;ciptaan&#8221; atau &#8220;penciptaan&#8221;. Tuhan Yang Maha Pencipta disebut dengan A-Khaliq, atau Al-Fathir. Sebagai contoh, misalnya kita lihat dalam Al Qur&#8217;an :</p>
<p><em>&#8221; Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi&#8221;.</em> <strong>(QS Al Fathir 35 : 1)</strong></p>
<p>Berdasarkan uraian diatas maka penulis menyimpulkan bahwa kata &#8220;Idul Fithri&#8221; mempunyai minimal tiga pengertian yaitu :</p>
<p>1.      Kembali ke Awal Penciptaan.</p>
<p>2.      Kembali ke Penciptaan Yang Awal.</p>
<p>3.      Kembali ke Sang Maha Pencipta.</p>
<p><strong>IDUL FITHRI SEBAGAI PROSES KE AWAL PENCIPTAAN</strong></p>
<p>Menurut para ahli tasawuf, hakikat manusia dibagi menjadi dua bangunan utama yaitu bangunan jasmani dan bangunan rohani. Bangunan jasmani manusia diciptakan oleh Allah melalui enam proses kejadian yaitu :</p>
<p>1.      Saripati tanah.</p>
<p>2.      Saripati mani.</p>
<p>3.      Segumpal darah.</p>
<p>4.      Segumpal daging.</p>
<p>5.      Pertumbuhan tulang belulalang.</p>
<p>6.      Pembungkusan tulang belulang dengan daging.</p>
<p>7.      Peniupan Roh-Ku ke dalam janin.</p>
<p>Proses tersebut sesuai dengan firman Allah dalam Al Qur&#8217;an yaitu :</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia dari saripati tanah. Kami jadikan saripati tanah itu menjadi air mani yang ditempatkan dengan kokoh ditempat yang teguh. Kemudia air mani itu Kami jadikan segumpal darah., dari segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, Kami jadikan pula tulang belulang. Kemudian tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging kembali &#8220;.</em> <strong>(QS Al Mu&#8217;minun 23 : 12 – 14 )</strong></p>
<p><em>&#8220;Kemudian Ia menyempurnakan penciptaan-Nya dan Ia tiupkan padanya sebagian dari Roh-Nya dan Ia jadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan rasa, tetapi sedikit sekali kamu bersyukur&#8221;.</em> <strong>(QS As Sajadah 32 : 9)</strong></p>
<p>Berdasarkan firman Allah tersebut dapat diambil suatu kesimpulan bahwa setiap manusia lahir atau diciptakan pasti akan melalui proses kejadian bayi dalam kandungan yang telah mendapat tiupan Roh dari Allah (Roh-Ku).</p>
<p>Berdasarkan penyelidikan para ahli <em>embriologi</em>, dapat diketahui fase-fase perkembangan seorang bayi dalam kandungan dan juga keadaan dan ciri-ciri dari bayi tersebut yaitu :</p>
<p>Seorang bayi dalam kandungan selalu dibungkus oleh lapisan <em>Amnion</em> yang berisi air ketuban (<em>amnion water</em> atau <em>kakang kawah</em>). Karena seorang bayi berada didalam air ketuban, maka sembilan lubang yang ada pada jasmaninya secara otomatis tertutup atau belum berfungsi secara sempurna. Kesembilan lubang itu adalah : <em>dua lubang telinga, dua lubang mata, dua lubang hidung, satu lubang mulut, satu lubang kemaluan dan satu lubang anus</em>. Tetapi ada satu lubang yang kesepuluh yang justru terbuka yaitu <em>lubang pusar</em> yang dihubungkan oleh tali plasenta ke rahim ibu. Tali plasenta ini berfungsi sebagai alat untuk menyalurkan zat-zat makanan dan oksigen dari rahim ibu kepada bayi tersebut. Dalam falsafah orang Jawa tali plasenta tersebut dinamakan <em>Adik Ari-ari</em>.</p>
<p>Dengan tertutupnya sembilan lubang yang terdapat pada jasmani seorang bayi dalam kandungan rahim ibu, maka secara otomatis seluruh indera bayi belum berfungsi secara sempurna, dengan kata lain, bayi tersebut pada saat itu belum bisa melihat, mendengar, bernafas, berkata-kata secara sempurna, dan juga belum bisa buang air besar maupun buang air kecil. Tetapi Rohani bayi tersebut pada saat itu sudah berfungsi sifat ma&#8217;aninya. Apa yang dirasakan oleh bayi pada saat berada dalam rahim ibu, tidak seorangpun mengetahuinya, kecuali oleh bayi itu sendiri. Sayangnya setiap bayi yang telah tumbuh dewasa tidak dapat mengingat apa yang telah ia rasakan pada waktu ia berada dalam kandungan rahim ibunya.<br />
<strong>IDUL FITHRI SEBAGAI PROSES KEMBALI KE PENCIPTAAN YANG AWAL</strong></p>
<p>Dalam pengertian ini, semua segi kehidupan seperti makan, minum, tidur, dan apa saja yang wajar, tanpa berlebihan, pada manusia dan kemanusiaan adalah fitrah. Semuanya itu bernilai kebaikan dan kesucian, karena semuanya berasal dari design penciptaan oleh Tuhan. Karena itu berbuka puasa atau &#8220;kembali makan dan minum&#8221; disebut ifthar, yang secara harfiah dapat dimaknakan &#8220;memenuhi fitrah&#8221; yang suci dan baik. Dengan perkataan lain, makan dan minum adalah baik dan wajar pada manusia, merupakan bagian dari fithrahnya yang suci. Dari sudut pandang ini kita mengerti mengapa Islam tidak membenarkan usaha menempuh hidup suci dengan meninggalkan hal-hal yang wajar pada manusia seperti makan, minum, tidur, berumah tangga, dan seterusnya. Berkenaan dengan ini Nabi Saw pernah memberi peringatan keras kepada salah seorang sahabat beliau, bernama `Utsman ibn Mazh&#8217;um&#8217;, yang ingin menempuh hidup suci dengan tindakan semacam pertapaan. Nabi juga dengan keras menolak pikiran sementara sahabat beliau yang ingin menempuh hidup tanpa kawin. Semua tindakan meninggalkan kewajaran hidup manusia adalah tindakan melawan fithrah, jadi juga tidak sejalan dengan sunnah.</p>
<p>Berdasarkan penjelasan tersebut, dalam hari raya Idul Fithri terkandung makna kembali kepada hakikat yang wajar dari manusia dan kemanusiaan. Kewajaran itu adalah pemenuhan keperluan untuk makan dan minum sehingga makna sederhana Idul Fithri dapat diartikan &#8220;Hari Raya Makan dan Minum&#8221; setelah berpuasa sebulan.</p>
<p><strong>IDUL FITHRI SEBAGAI PROSES KEMBALI KE SANG MAHA PENCIPTA</strong></p>
<p>Jika kita telusuri ke belakang, pangkal mula pengertian Idul Fithri ialah ajaran dasar agama bahwa manusia diciptakan Allah dalam fitrah kesucian dengan adanya ikatan perjanjian antara Allah dan manusia sebelum manusia itu lahir ke bumi. Perjanjian primordial itu berbentuk kesediaan manusia dalam alam ruhani untuk mengakui dan menerima Allah, (Tuhan Yang Maha Esa), sebagai &#8220;Pangeran&#8221; atau &#8220;Tuan&#8221; baginya yang harus dihormati dengan penuh ketaatan dan sikap berserah diri yang sempurna (Islam). Hal ini digambarkan dalam al-Qur&#8217;an, demikian :</p>
<p><em>“Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengambil dari anak-cucu Adam, yaitu dari pungung-punggung mereka, keturunan mereka dan dia mempersaksikan atas diri mereka sendiri, &#8220;Bukankah Aku ini </em></p>
<p><em>Tuhan kamu? ‘ Mereka semua menjawab :” Benar, kami bersaksi”. Demikianlah, supaya kamu tidak berkata kelak pada hari kiamat : &#8220;sesungguhnya kami lalai tentang hal ini”</em> <strong>(QS Al A &#8216;raf 7 : 127)</strong></p>
<p>Karena setiap jiwa manusia menerima perjanjian persaksian itu, maka setiap orang dilahirkan dengan pembawaan alami untuk &#8220;menemukan&#8221; kembali Tuhan dengan hasrat berbakti dan berserah diri kepada-Nya (&#8220;ber-islam&#8221;). Melalui wahyu kepada Rasulnya, Allah mengingatkan akan adanya perjanjian itu, akan kelak di hari kiamat, ketika setiap jiwa menyaksikan akibat amal perbuatannya sendiri yang tidak menyenangkan, dikarenakan tidak mengenal Tuhannya, janganlah mengajukan gugatan kepada Tuhan dengan alasan tidak menyadari akan adanya perjanjian itu. Sebab, terkias dengan dunia bawah sadar dalam susunan kejiwaan kita, perjanjian primordial tersebut tidak dapat kita ketahui dan rasakan dalam alam kesadaran, tetapi tertanam dalam bagian diri kita yang paling dalam, yaitu ruhani kita. Maka kita semua sangat rawan untuk lupa dan lalai kepada kenyataan ruhani.</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya merugilah orang-orang yang mendustakan akan menemui Allah sehingga apabila datang Hari Berbangkit dengan tiba-tiba mereka berkata : &#8220;Aduhai penyesalan kami atas kelengahan kami (karena tidak mau menemui Allah ketika masih hidup) di dunia&#8221; Sungguh mereka memikul dosa, amat berat apa yang mereka pikul itu &#8220;.</em> <strong>(QS Al An &#8216;am 6 : 31)</strong></p>
<p>Biarpun jauh sekali berada dalam bagian-bagian dasar kedirian kita, yang berhubungan dengan alam kejiwaan bawah sadar, namun karena adanya perjanjian primordial itu maka kesadaran kita tetap mempengaruhi seluruh hidup kita. Adanya perjanjian primordial itu, yang sama dengan alam bawah sadar, merupakan asal muasal pengalaman tentang kebahagiaan dan kesengsaraan. Kita dapat periksa secara analitis kedirian kita yang terdiri dari paling tidak tiga jenjang kewujudan : pertama, wujud kebendaan atau jasmani (jimani, fisiologis); kedua, wujud kejiwaan atau nafsani (nafsani, psikologis); dan ketiga, wujud kesukmaan atau ruhani (ruhani, spiritual). Pengalaman bahagia atau sengsara yang berpangkal dari keberhasilan atau kegagalan memenuhi perjanjian dengan Tuhan adalah merupakan pengalaman ruhani.</p>
<p>Keutuhan atau keterpecahan psikologis merupakan pangkal pengalaman senang atau susah yang lebih tinggi dan mengatasi perasaan nyaman dan tidak nyaman oleh keadaan badan yang sehat atau sakit. Dan pengalaman bahagia atau sengsara dalam dimensi ruhani mengatasi dan lebih tinggi dari pada pengalaman manapun, psikologis, apalagi fisiologis, hidup manusia. Jadi juga lebih hakiki, lebih abadi, dan lebih wujud dari pada lain-lainnya itu.</p>
<p>Semua pengalaman fisiologis nyaman atau tidak nyaman, pengalaman psikologis senang atau tidak senang, dan pengalaman spiritual bahagia atau tidak bahagia selalu terkait dengan terpenuhi atau tidak terpenuhi hasrat untuk kembali kepada asal. Sejak dari bayi yang merindukan ibunya dan merasa tenteram setelah berkumpul dengan ibunya itu, sampai kepada kerinduan setiap orang untuk berkumpul dengan keluarganya dan kembali ke kampung halaman tempat ia dilahirkan atau dibesarkan (yang merupakan dasar kejiwaan dorongan &#8220;mudik&#8221;, baik saat lebaran di Indonesia maupun saat Thanks Giving Day di Amerika), hasrat untuk kembali ke asal itu langsung berkaitan dengan pengalaman-pengalaman mendalam pada masing-masing diri manusia.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Hasrat untuk kembali yang paling hakiki ialah hasrat untuk kembali menemui Tuhan</span>, asal segala asal hidup manusia. Terkias dengan hasrat seorang anak untuk kembali kepada orang tuanya yang diwujudkan dalam keinginan naluriah untuk berbakti kepada keduannya, hasrat untuk kembali kepada Tuhan juga disertai dengan keinginan naluriah untuk berbakti atau menghambakan diri (&#8216;abda, ber-ibadah) dan berserah diri (aslama, ber-Islam) kepada-Nya. Tidak ada bakat atau pembawaan manusia yang lebih asli dan alami dari pada hasrat untuk menyembah dan berbakti. Karena itu semua, maka ada ungkapan suci, <em>&#8220;Kita semua berasal dari Allah dan kita semua kembali kepada-Nya&#8221;</em> <strong>(QS 2:156)</strong>. Karena itu wajar sekali bahwa seruan dalam Kitab Suci agar semua manusia kembali (ber-inabah) kepada Tuhan sekaligus dibarengi dengan seruan untuk berserah diri (ber-islam) kepada-Nya.</p>
Posted in artikel  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bidadari08.wordpress.com/231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bidadari08.wordpress.com/231/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bidadari08.wordpress.com/231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bidadari08.wordpress.com/231/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bidadari08.wordpress.com/231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bidadari08.wordpress.com/231/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bidadari08.wordpress.com/231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bidadari08.wordpress.com/231/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bidadari08.wordpress.com/231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bidadari08.wordpress.com/231/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&blog=3447897&post=231&subd=bidadari08&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bidadari08.wordpress.com/2009/09/16/231/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/042a78073904b6dd72c519fb96cf57a8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bidadari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dirikanlah Shalat!</title>
		<link>http://bidadari08.wordpress.com/2009/06/05/dirikanlah-shalat/</link>
		<comments>http://bidadari08.wordpress.com/2009/06/05/dirikanlah-shalat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Jun 2009 04:56:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bidadari</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bidadari08.wordpress.com/?p=226</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Tim dakwatuna.com 

Sujud Ketika Shalat, dan Tunduk di Luar Shalat
dakwatuna.com - Setiap kewajiban yang telah dibebankan Islam kepada umatnya senantiasa memuat hikmah dan maslahat bagi mereka. Islam menginginkan terbentuknya akhlak Islami dalam diri Muslim ketika ia mengimplementasikan setiap ibadah yang telah digariskan oleh Allah swt. dalam Kitab dan Sunnah rasul-Nya. Pada akhirnya nilai-nilai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&blog=3447897&post=226&subd=bidadari08&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span>Oleh : <a title="Profil dari Tim dakwatuna.com" href="http://www.dakwatuna.com/author/admin/">Tim dakwatuna.com</a> </span></p>
<hr size="1" noshade="noshade" />
<div>Sujud Ketika Shalat, dan Tunduk di Luar Shalat</div>
<p><!-- / Bagian Judul Naskah Nih --><strong>dakwatuna.com -</strong> Setiap kewajiban yang telah dibebankan Islam kepada umatnya senantiasa memuat hikmah dan maslahat bagi mereka. Islam menginginkan terbentuknya akhlak Islami dalam diri Muslim ketika ia mengimplementasikan setiap ibadah yang telah digariskan oleh Allah swt. dalam Kitab dan Sunnah rasul-Nya. Pada akhirnya nilai-nilai keagungan Islam senantiasa mewarnai ruang kehidupan Muslim. Tidak hanya terbatas pada ruang kepribadian individu Muslim, namun nilai-nilai itu dapat ditemukan pula dalam ruang kehidupan keluarga dan komunitas masyarakat Muslim.</p>
<p>Kita bisa merenungkan kembali ayat-ayat Allah yang berkaitan dengan hal ini, sebagaimana salah satu firman-Nya:</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”</em> (Al-Baqarah: 183)</p>
<p>Melalui ibadah puasa, Allah swt. menginginkan terbentuknya pribadi-pribadi Muslim yang bertakwa. Pribadi yang tidak pernah mengenal slogan hidup kecuali slogan yang agung ini yaitu: <strong>sami’naa wa atha’na</strong>. Pribadi yang senantiasa melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya dalam situasi dan kondisi apapun. Oleh karenanya, Rasulullah Muhammad saw. telah bersabda:</p>
<p><em>“Takutlah kamu kepada Allah di manapun kamu berada, ikuti keburukan (sayyiah) dengan kebaikan, niscaya ia akan menghapuskannya. Dan pergauli manusia dengan akhlak yang baik.” </em></p>
<p>Dalam sabda beliau yang lain:</p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa faridlah (kewajiban), maka jangan sekali-kali kamu menyia-nyiakannya. Dia telah menetapkan batasan-batasan, maka jangan sekali-kali kamu melampui batas. Dia telah mengharamkan banyak hal, maka jangan sekali-kali melanggarnya….”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Tentang zakat Allah swt berfirman:</p>
<p><em>“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”</em> (At-Taubah: 103)</p>
<p>Dengan ibadah zakat, Islam mengharapkan tumbuh subur sifat-sifat kebaikan dalam jiwa seorang Muslim dan mampu memberangus kekikiran dan cinta yang berlebihan kepada harta benda.</p>
<p>Begitu juga ibadah shalat yakni ibadah yang jika seorang hamba melaksanakan dengan memelihara syarat-syarat, rukun-rukun, wajibat, adab-adab, dan kekhusyu’an di dalamnya, niscaya ibadah ini akan  menjauhkannya dari perbuatan keji dan kemunkaran. Sebaliknya, ibadah ini akan mendekatkan seorang hamba yang melaksanakannya dengan sebenarnya kepada Sang Khalik dan mendekatkannya kepada kebaikan-kebaikan serta cahaya hidup.</p>
<p>Perhatikan ayat berikut ini:</p>
<p><em>“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”</em> (Al-Ankabut: 45)</p>
<p>Muslim yang selalu menunaikan ibadah ini akan selalu aktif dalam kegiatan-kegiatan kebaikan dan mampu menjadi cahaya di tengah-tengah masyarakatnya. Muslim yang memiliki <em>hamasah</em> -semangat- yang menggelora dalam memperjuangkan kebenaran dan memberangus nilai-nilai kemunkaran, kelaliman, dan perbuatan keji lainnya. Hatinya terasa tersayat di saat menyaksikan pornografi dan porno aksi mewabah di tengah-tengah masyarakatnya. Jiwanya akan terus gelisah ketika melihat kelaliman yang dipermainkan para budak kekuasaan. Memang, ia harus menjadi cahaya yang berjalan di tengah-tengah kegelapan zaman ini.</p>
<p>Allah berfirman:</p>
<p><em>“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.”</em> (Al-An’am: 122)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Ibadah shalat adalah awal kewajiban yang diperintahkan Allah swt. kepada umat ini pada peristiwa Isra dan Mi’raj. Ibadah yang merupakan simbol dan tiang agama. Rasulullah saw. bersabda:</p>
<p><em>“Pokok urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah.”</em> (H.R. Muslim)</p>
<p>Ibadah yang dijadikan Allah sebagai barometer hisab amal hamba-hamba-Nya di akhirat, <em>“Awal hisab seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya baik maka seluruh amalnya baik, dan apabila buruk maka seluruh amalnya buruk.”</em> (H.R. At-Thabrani)</p>
<p>Ibadah shalat merupakan wasiat Nabi yang terakhir kepada umat ini dan yang paling terakhir dari urwatul islam (ikatan Islam) yang akan dihapus oleh Allah swt.</p>
<p>Selain itu, shalat juga penyejuk mata, waktu rehatnya sang jiwa, saat kebahagiaan hati, kedamaian jiwa dan merupakan media komunikasi antara hamba dan Rabbnya.</p>
<p>Ibadah yang memiliki kedudukan atau manzilah yang agung ini tidak akan hadir maknanya dalam kehidupan kita, tatkala kita lalai menjaga <em>arkan</em>, <em>wajibat</em> dan sunah-sunnahnya yang inheren dengan ibadah ini. Tatkala kita tidak mampu menghadirkan hati, merajut benang kekhusukan dan keikhlasan dalam melaksanakan ibadah ini, maka kita tidak akan mampu menangkap untaian makna yang terkandung di dalamnya. Kita tidak akan mampu memahami sinyal-sinyal rahasia yang ada di balik ibadah ini.</p>
<p>Tidakkah banyak di antara manusia Muslim yang ahli ibadah namun masih jauh dari nilai-nilai Islam. Ahli shalat, namun masih suka melakukan kemaksiatan. Hal ini disebabkan nilai-nilai agung yang terkandung dalam ibadah sama sekali tidak mampu memberikan pesan-pesan <em>Ilahiah</em> di luar shalat. Takbir yang dikumandangkan di saat beribadah tidak mampu melahirkan keagungan di luar shalat. Do’a iftitah <em>“Inna shalaatii wa nusukii….”</em> yang dilafazkan dalam shalat tidak mampu mengingatkan tujuan hidupnya. Ibadah ini seolah-olah hanya menjadi gerakan-gerakan ritual yang maknanya tidak pernah membumi dalam kehidupan orang yang melaksanakannya.</p>
<p>Oleh karena itu, ibadah shalat yang mampu melahirkan hikmah pencegahan dari perbuatan keji dan kemungkaran, hikmah pensucian jiwa dan ketentraman, apabila dilakukan dengan penuh kekhusyukan, mentadabburkan gerakan dan ucapan yang terkandung di dalamnya, penuh ketenangan dan dengan tafakkur yang sesungguhnya. Maka ia akan keluar dari ibadah dengan merasakan kenikmatannya, terwarnai dengan nilai-nilai keta’atan dan mendapatkan cahaya ma’rifatullah. Rasulullah saw. bersabda: <em>“Tidak seorangpun yang melaksanakan shalat maktubah (fardlu), lalu ia memperbaiki wudlunya, khusyuknya dan rukuknya kecuali shalat ini akan menjadi pelebur dosa-dosa sebelumnya selama tidak melakukan dosa besar. Dan ini berlaku sepanjang tahun.”</em> (H.R. Muslim)</p>
<p>Inilah yang pernah dilakukan oleh salafusshalih termasuk di dalamnya Ibnu Zubair ra. Mereka laksana tiang yang berdiri tegak karena kekhusyukannya. Mereka terbius dengan kerinduannya akan Rabbnya dan mereka asyik berkomunikasi dengan Sang Khalik tanpa terganggu dengan suara makhluk-Nya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan di saat melaksanakan ibadah shalat agar hikmah di dalamnya selalu terjaga:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, menjaga arkan, wajibat dan sunah. Rasulullah saw. bersabda: <em>“Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihatku shalat.” </em></p>
<p><strong>Kedua</strong>, ikhlas, khusyuk dan menghadirkan hati. <em>“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”</em> (Al-Bayyinah:5)</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, memahami dan mentadabburi ayat, doa dan makna shalat. “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (Al-Maa’uun: :4-5)</p>
<p><strong>Keempat</strong>, mengagungkan Allah swt. dan merasakan haibatullah. Rasulullah saw. bersabda: <em>“…Kamu mengabdi kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya dan apabila kamu tidak melihat-Nya, maka (yakinlah) bahwasanya Allah melihat kamu…” </em>(H.R. Muslim)</p>
<p>Semoga kita semua mampu merenungkan kembali arti shalat dalam kehidupan keseharian dan berusaha terus-menerus untuk memperbaikinya agar kita benar-benar <em>mi’raj</em> kepada Allah swt. Wallahu A’lam Bish-shawwab</p>
Posted in artikel  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bidadari08.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bidadari08.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bidadari08.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bidadari08.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bidadari08.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bidadari08.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bidadari08.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bidadari08.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bidadari08.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bidadari08.wordpress.com/226/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&blog=3447897&post=226&subd=bidadari08&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bidadari08.wordpress.com/2009/06/05/dirikanlah-shalat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/042a78073904b6dd72c519fb96cf57a8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bidadari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ikhlas Tempat Persinggahan Iyyaka Na&#8217;budu Wa Iyyaka Nasta&#8217;in</title>
		<link>http://bidadari08.wordpress.com/2009/05/29/khlas-tempat-persinggahan-iyyaka-nabudu-wa-iyyaka-nastain/</link>
		<comments>http://bidadari08.wordpress.com/2009/05/29/khlas-tempat-persinggahan-iyyaka-nabudu-wa-iyyaka-nastain/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 May 2009 06:43:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bidadari</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bidadari08.wordpress.com/?p=223</guid>
		<description><![CDATA[Sehubungan dengan tempat persinggahan ikhlas ini Allah telah berfirman di dalam Al-Qur&#8217;an, (artinya): &#8220;Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.&#8221; (Al-Bayyinah: 5) &#8220;Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur&#8217;an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&blog=3447897&post=223&subd=bidadari08&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Sehubungan dengan tempat persinggahan ikhlas ini Allah telah berfirman di dalam Al-Qur&#8217;an, (artinya): &#8220;Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.&#8221; (Al-Bayyinah: 5) &#8220;Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur&#8217;an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).&#8221; (Az-Zumar: 2-3) &#8220;Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya.&#8221; (Al-Mulk: 2)  Al-Fudhail berkata, &#8220;Maksud yang lebih baik amalnya dalam ayat ini adalah yang paling ikhlas dan paling benar.&#8221; Orang-orang bertanya, &#8220;Wahai Abu Ali, apakah amal yang paling ikhlas dan paling benar itu ?&#8221; Dia menjawab, &#8220;Sesungguhnya jika amal itu ikhlas namun tidak benar, maka ia tidak diterima. Jika amal itu benar namun tidak ikhlas maka ia tidak akan diterima, hingga amal itu ikhlas dan benar. Yang ikhlas ialah yang dikerjakan karena Allah, dan yang benar ialah yang dikerjakan menurut As-Sunnah.&#8221; Kemudian ia membaca ayat, (artinya): &#8220;Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.&#8221; (Al-Kahfi: 110)  Allah juga berfirman, (artinya): &#8220;Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan?&#8221; (An-Nisa&#8217;: 125) Menyerahkan diri kepada Allah artinya memurnikan tujuan dan amal karena Allah. Sedangkan mengerjakan kebaikan ialah mengikuti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Sunnah beliau.  Allah juga berfirman, (artinya): &#8220;Dan, Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.&#8221; (Al-Furqan: 23) Amal yang seperti debu itu adalah amal-amal yang dilandaskan bukan kepada As-Sunnah atau dimaksudkan bukan karena Allah. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda kepada Sa&#8217;ad bin Abi Waqqash, &#8220;Sesungguhnya sekali-kali engkau tidak akan dibiarkan, hingga engkau mengerjakan suatu amal untuk mencari Wajah Allah, melainkan engkau telah menambah kebaikan, derajad dan ketinggian karenanya.&#8221;  Di dalam Ash-Shahih disebutkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, dia berkata, &#8220;Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, (artinya): &#8220;Tiga perkara, yang hati orang mukmin tidak akan berkhianat jika ada padanya: Amal yang ikhlas karena Allah, menyampaikan nasihat kepada para waliyul-amri dan mengikuti jama&#8217;ah orang-orang Muslim karena doa mereka meliputi dari arah belakang mereka.&#8221; (HR. At-Thirmidzi dan Ahmad)  Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah ditanya tentang berperang karena riya&#8217;, berperang karena keberanian dan berperang karena kesetiaan, manakah diantaranya yang ada di jalan Allah? Maka beliau menjawab, &#8220;Orang yang berperang agar kalimat Allah lah yang paling tinggi, maka dia berada di jalan Allah. Beliau juga mengabarkan tiga golongan orang yang pertama-tama diperintahkan untuk merasakan api neraka, yaitu qari&#8217; Al-Qur&#8217;an, mujahid dan orang yang menshadaqahkan hartanya; mereka melakukannya agar dikatakan, &#8220;Fulan adalah qari&#8217;, fulan adalah pemberani, Fulan adalah orang yang bershadaqah&#8221;, yang amal-amal mereka tidak ikhlas karena Allah.  Di dalam hadits qudsi yang shahih disebutkan; &#8220;Allah berfirman, &#8216;Aku adalah yang paling tidak membutuhkan persekutuan dari sekutu-sekutu yang ada. Barangsiapa mengerjakan suatu amal, yang di dalamnya ia menyekutukan selain-Ku, maka dia menjadi milik yang dia sekutukan, dan Aku terbebas darinya&#8217;.&#8221; (HR. Muslim) Di dalam hadits lain disebutkan; &#8220;Allah berfirman pada hari kiamat, &#8216;Pergilah lalu ambillah pahalamu dari orang yang amalanmu kamu tujukan. Kamu tidak mempunyai pahala di sisi Kami&#8217;.&#8221;  Di dalam Ash-Shahih disebutkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda: &#8220;Sesungguhnya Allah tidak melihat tubuh kalian dan tidak pula rupa kalian, tetapi Dia melihat hati kalian.&#8221; (HR. Muslim)  Banyak difinisi yang diberikan kepada kata ikhlas dan shidq, namun tujuannya sama. Ada yang berpendapat, ikhlas artinya menyendirikan Allah sebagai tujuan dalam ketaatan. Ada yang berpendapat, ikhlas artinya membersihkan perbuatan dari perhatian manusia, termasuk pula diri sendiri. Sedangkan shidq artinya menjaga amal dari perhatian diri sendiri saja. Orang yang ikhlas tidak riya&#8217; dan orang yang shidq tidak ujub. Ikhlas tidak bisa sempurna kecuali shidq, dan shidq tidak bisa sempurna kecuali dengan ikhlas, dan keduanya tidak sempurna kecuali dengan sabar.  Al-Fudhail berkata, &#8220;Meninggalkan amal karena manusia adalah riya&#8217;, Mengerjakan amal karena manusia adalah syirik. Sedangkan ikhlas ialah jika Allah memberikan anugerah kepadamu untuk meninggalkan keduanya.&#8221; Al-Junaid berkata, &#8220;Ikhlas merupakan rahasia antara Allah dan hamba, yang tidak diketahui kecuali oleh malaikat sehingga dia menulis-nya, tidak diketahui syetan sehingga dia merusaknya dan tidak pula diketahui hawa nafsu sehingga dia mencondongkannya.&#8221; Yusuf bin Al-Husain berkata. &#8220;Sesuatu yang paling mulia di dunia adalah ikhlas. Berapa banyak aku mengenyahkan riya&#8217; dari hatiku, tapi seakan-akan ia tumbuh dalam rupa yang lain.&#8221;  Pengarang Manazilus-Sa&#8217;irin berkata, &#8220;Ikhlas artinya membersihkan amal dari segala campuran.&#8221; Dengan kata lain, amal itu tidak dicampuri sesuatu yang mengotorinya karena kehendak-kehendak nafsu, entah karena ingin memperlihatkan amal itu tampak indah di mata orang-orang, mencari pujian, tidak ingin dicela, mencari pengagungan dan sanjungan, karena ingin mendapatkan harta dari mereka atau pun alasan-alasan lain yang berupa cela dan cacat, yang secara keseluruhan dapat disatukan sebagai kehendak untuk selain Allah, apa pun dan siapa pun.&#8221;</p>
<p>Dipetik dari: Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, &#8220;Madarijus-Salikin Manazili Iyyaka Na&#8217;budu wa Iyyaka Nasta&#8217;in, Edisi Indonesia: Madarijus Salikin Pendakian Menuju Allah.&#8221; Penerjemah Kathur Suhardi, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta Timur, Cet. I, 1998, hal. 175 &#8211; 178</p>
Posted in artikel  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bidadari08.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bidadari08.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bidadari08.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bidadari08.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bidadari08.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bidadari08.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bidadari08.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bidadari08.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bidadari08.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bidadari08.wordpress.com/223/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&blog=3447897&post=223&subd=bidadari08&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bidadari08.wordpress.com/2009/05/29/khlas-tempat-persinggahan-iyyaka-nabudu-wa-iyyaka-nastain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/042a78073904b6dd72c519fb96cf57a8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bidadari</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>