<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Sang Bidadari</title>
	<atom:link href="http://bidadari08.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bidadari08.wordpress.com</link>
	<description>Lakukanlah Setiap Hari Amalan Yang Diridoi ALLAH</description>
	<lastBuildDate>Fri, 20 Jan 2012 00:10:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='bidadari08.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Sang Bidadari</title>
		<link>http://bidadari08.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://bidadari08.wordpress.com/osd.xml" title="Sang Bidadari" />
	<atom:link rel='hub' href='http://bidadari08.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kau Tak Kenal Dirimu dan Tak Kenal Dirinya</title>
		<link>http://bidadari08.wordpress.com/2011/11/25/kau-tak-kenal-dirimu-dan-tak-kenal-dirinya/</link>
		<comments>http://bidadari08.wordpress.com/2011/11/25/kau-tak-kenal-dirimu-dan-tak-kenal-dirinya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 08:33:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bidadari</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel islami]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bidadari08.wordpress.com/?p=728</guid>
		<description><![CDATA[Saudaraku, semoga Allah mengokohkan imanku dan imanmu… perjalanan hidup ini acapkali kita lalui dengan ‘ketidaksadaran’. Bukan linglung, pingsan, atau hilang ingatan. Akan tetapi karena kita tidak sadar tentang hakekat diri dan kedudukan kita serta kita tidak sadar betapa agung hak Rabb yang telah menciptakan kita atas diri kita. Berangkat dari ‘ketidaksadaran’ itulah muncul ‘penyakit ganas’ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&amp;blog=3447897&amp;post=728&amp;subd=bidadari08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saudaraku, semoga Allah mengokohkan imanku dan imanmu… perjalanan hidup ini acapkali kita lalui dengan ‘ketidaksadaran’. Bukan linglung, pingsan, atau hilang ingatan. Akan tetapi karena kita tidak sadar tentang hakekat diri dan kedudukan kita serta kita tidak sadar betapa agung hak Rabb yang telah menciptakan kita atas diri kita. Berangkat dari ‘ketidaksadaran’ itulah muncul ‘penyakit ganas’ berikutnya yang bernama ketidaksabaran.</p>
<p>Tentang hakekat diri dan kedudukan kita, maka bacalah firman-Nya (yang artinya), “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56). Kita adalah hamba yang harus menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan apa saja. Adapun mengenai keagungan Rabb (Allah) yang telah menciptakan kita, maka bacalah firman-Nya (yang artinya), “Segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam.” (QS. al-Fatihah: 1). Allah lah sosok paling berjasa kepada kita dan yang paling layak untuk mendapatkan cinta.</p>
<p>Tatkala seorang hamba telah kehilangan dua buah ilmu ini -ilmu tentang hakekat dirinya dan ilmu tentang keagungan hak Rabbnya- maka pupuslah harapan untuk menggapai kebahagiaan yang sebenarnya. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Seorang hamba akan sampai pada tujuannya -dengan meniti jalan yang lurus- adalah dengan merealisasikan kedua macam ma’rifat ini baik dalam bentuk ilmu maupun keadaan/sikap hidup, sedangkan keterputusannya -untuk bisa menggapai tujuan- adalah karena dia kehilangan keduanya. Inilah kandungan makna ucapan mereka -sebagian orang bijak-, ‘Barangsiapa yang mengenal -hakekat- dirinya niscaya akan mengenali -keagungan- Rabbnya’…” (al-Fawa’id, hal. 133)</p>
<p>Nah, sadarkah dirimu bahwa Allah menciptakanmu untuk beribadah kepada-Nya? Sadarkah dirimu bahwa hidup di dunia ini tiada artinya jika tidak digunakan untuk menghamba kepada-Nya? Sadarkah dirimu, betapa besar anugerah dan nikmat yang Allah curahkan kepada kita -yang semestinya kita syukuri dengan hati, lisan dan segenap anggota badan kita- di sepanjang perjalanan hidup yang kita lalui, di setiap jengkal tanah yang kita pijak dan setiap bangunan rumah yang kita huni. Aduhai, betapa seringnya kita tak sadar, terlena oleh suasana, melupakan hakekat diri kita dan melalaikan hak Rabb kita atas diri kita. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh jika kalian bersyukur maka pasti akan Aku tambahkan nikmat kepada kalian, akan tetapi jika kalian kufur/ingkar maka sesungguhnya siksa-Ku sangatlah pedih.” (QS. Ibrahim: 7). Allah ta’ala berfirman pula (yang artinya), “Betapa sedikit hamba-hamba-Ku yang pandai bersyukur.” (QS. Saba’: 13)</p>
<p>Saudaraku, untuk apakah kau pergunakan waktu yang diberikan Allah kepadamu? Waktu yang begitu berharga ini kerapkali kita sia-siakan. Jangankan berpikir untuk melipatgandakan pahala amalan, bahkan sekedar untuk beramal yang ringan pun kita sering berat dan menganggapnya sebagai beban atau bahkan siksaan! Padahal Rabb kita jalla fi ‘ulaah telah memberikan janji luar biasa bagi hamba yang patuh kepada-Nya. Allah berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya sungguh dia akan mendapatkan keberuntungan yang sangat besar.” (QS. al-Ahzab: 71). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku niscaya dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Thaha: 123)</p>
<p>Ketidaksadaran itulah yang membuahkan ketidaksabaran. Tidak sabar dalam menjalani ketaatan. Tidak sabar dalam menjauhi kemaksiatan. Dan tidak sabar dalam menghadapi perihnya musibah yang menimpa hati maupun badan. Oleh sebab itu tidak ada yang beruntung kecuali orang-orang yang sabar. Bukankah Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Demi masa, sesungguhnya semua orang merugi, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam menetapi kesabaran.” (QS. al-’Ashr: 1-3)</p>
<p>Bagi banyak orang ketaatan terkadang dirasakan memberatkan dan tidak menyenangkan. Yaitu tatkala seorang hamba tidak lagi menyadari bahwa kesulitan yang dihadapinya di saat berjuang menegakkan ketaatan adalah ujian untuk membuktikan sejauh mana kualitas iman pada dirinya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Alif lam mim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja mengatakan, ‘Kami beriman’ lantas mereka pun tidak diuji?” (QS. al-Ankabut: 1-2). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga begitu saja sementara Allah belum mengetahui -menunjukkan- siapakah orang-orang yang bersungguh-sungguh di antara kalian, dan juga siapakah orang-orang yang bersabar.” (QS. Ali Imran: 142)</p>
<p>Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata ketika menafsirkan ayat dalam surat Ali Imran di atas, “Artinya, janganlah kalian mengira dan jangan pernah terbetik dalam benak kalian bahwa kalian akan masuk surga begitu saja tanpa menghadapi kesulitan dan menanggung berbagai hal yang tidak menyenangkan tatkala menapaki jalan Allah dan berjalan mencari keridhaan-Nya. Sesungguhnya surga itu adalah cita-cita tertinggi dan tujuan paling agung yang membuat orang-orang saling berlomba -dalam kebaikan-. Semakin besar cita-cita maka semakin besar pula sarana untuk meraihnya begitu pula upaya yang mengantarkan ke sana. Tidak mungkin sampai pada kenyamanan kecuali dengan meninggalkan sikap santai-santai. Tidak akan digapai kenikmatan -yang hakiki/surga- kecuali dengan meninggalkan (tidak memuja) kenikmatan -yang semu/dunia-. Hanya saja perkara-perkara yang tidak menyenangkan di dunia yang dialami seorang hamba di jalan Allah -tatkala nafsunya telah dia latih dan gembleng untuk menghadapinya serta dia sangat memahami akibat baik yang akan diperoleh sesudahnya- maka niscaya itu semua akan berubah menjadi karunia yang menggembirakan bagi orang-orang yang memiliki bashirah, mereka tidak peduli dengan itu semua. Itulah keutamaan dari Allah yang diberikan-Nya kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya.” (Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 150)</p>
<p>Sementara itu, kesabaran menerima cobaan dan kesungguhan dalam menjalani ketaatan hanya akan lahir dari keyakinan yang kokoh terhunjam. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah menimpa suatu musibah kecuali dengan izin Allah, barangsiapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan menunjuki hatinya.” (QS. at-Taghabun: 11). Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Dia adalah seorang hamba yang tertimpa musibah lalu dia mengetahui/meyakini bahwasanya musibah itu datang dari sisi Allah maka dia pun merasa ridha dan pasrah.” (HR. Said bin Manshur, lihat al-’Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 208).</p>
<p>Tatkala seorang hamba mampu menyempurnakan keyakinan di dalam jiwanya maka niscaya musibah yang menimpa akan berubah menjadi nikmat, dan cobaan yang dialami akan berubah menjadi anugerah (lihat al-’Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 208). Ibnul Qayyim rahimahullah menukil penjelasan para ulama bahwa ciri orang yang telah memiliki keyakinan yang kokoh terhunjam itu adalah; [1] dia senantiasa menengok/ingat kepada Allah pada setiap kejadian yang dialaminya, [2] dia selalu kembali kepada-Nya pada setiap urusan, [3] dia senantiasa memohon pertolongan kepada-Nya dalam setiap keadaan, dan [4] dia senantiasa mengharapkan wajah-Nya dalam setiap gerakan maupun diam (lihat al-’Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 208).</p>
<p>Itu artinya apabila seorang hamba ingin keluar dari ketidaksadaran ini, hendaknya dia betul-betul memahami kedua buah ilmu tersebut. Pertama; ilmu tentang hakekat dirinya beserta segala kekurangan, kelemahan dan keterbatasannya. Dan yang kedua; ilmu tentang hak dan keagungan Rabbnya beserta kesempurnaan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Kedua ilmu itulah yang akan mengokohkan akar keyakinan di dalam hatinya dan menegakkan pohon kesabaran di dalam hidupnya.</p>
<p>Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi</p>
<br />Filed under: <a href='http://bidadari08.wordpress.com/category/artikel-islami-2/'>artikel islami</a> Tagged: <a href='http://bidadari08.wordpress.com/tag/tauhid/'>Tauhid</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bidadari08.wordpress.com/728/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bidadari08.wordpress.com/728/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bidadari08.wordpress.com/728/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bidadari08.wordpress.com/728/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bidadari08.wordpress.com/728/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bidadari08.wordpress.com/728/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bidadari08.wordpress.com/728/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bidadari08.wordpress.com/728/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bidadari08.wordpress.com/728/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bidadari08.wordpress.com/728/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bidadari08.wordpress.com/728/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bidadari08.wordpress.com/728/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bidadari08.wordpress.com/728/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bidadari08.wordpress.com/728/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&amp;blog=3447897&amp;post=728&amp;subd=bidadari08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bidadari08.wordpress.com/2011/11/25/kau-tak-kenal-dirimu-dan-tak-kenal-dirinya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/042a78073904b6dd72c519fb96cf57a8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bidadari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tiga Pokok Kebahagiaan</title>
		<link>http://bidadari08.wordpress.com/2011/11/25/tiga-pokok-kebahagiaan/</link>
		<comments>http://bidadari08.wordpress.com/2011/11/25/tiga-pokok-kebahagiaan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 08:27:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bidadari</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel islami]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bidadari08.wordpress.com/?p=726</guid>
		<description><![CDATA[Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Ada tiga pokok yang menjadi pondasi kebahagiaan seorang hamba, dan masing-masingnya memiliki lawan. Barangsiapa yang kehilangan pokok tersebut maka dia akan terjerumus ke dalam lawannya. [1] Tauhid, lawannya syirik. [2] Sunnah, lawannya bid’ah. Dan [3] ketaatan, lawannya adalah maksiat. Sedangkan ketiga hal ini memiliki satu musuh yang sama yaitu kekosongan hati [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&amp;blog=3447897&amp;post=726&amp;subd=bidadari08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,</p>
<p>“Ada tiga pokok yang menjadi pondasi kebahagiaan seorang hamba, dan masing-masingnya memiliki lawan. Barangsiapa yang kehilangan pokok tersebut maka dia akan terjerumus ke dalam lawannya. [1] Tauhid, lawannya syirik. [2] Sunnah, lawannya bid’ah. Dan [3] ketaatan, lawannya adalah maksiat. Sedangkan ketiga hal ini memiliki satu musuh yang sama yaitu kekosongan hati dari rasa harap di jalan [ketaatan kepada] Allah dan keinginan untuk mencapai balasan yang ada di sisi-Nya serta ketiadaan rasa takut terhadap-Nya dan hukuman yang dijanjikan di sisi-Nya.” (al-Fawa’id, hal. 104)</p>
<p>Tauhid Mengantarkan Menuju Bahagia</p>
<p>Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri iman mereka dengan kezaliman/syirik, mereka itulah yang akan mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.” (QS. al-An’aam: 82). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka atas orang yang mengucapkan la ilaha illallah dengan ikhlas mengharapkan wajah Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Abdullah Ibnu Mubarak rahimahullah berkata, “Betapa banyak amalan kecil menjadi besar karena niat (yang ikhlas), dan betapa banyak amalan besar menjadi kecil karena niat (yang tidak ikhlas).”</p>
<p>Syirik Mengantarkan  Menuju Sengsara</p>
<p>Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka, dan tiada seorang penolongpun bagi orang-orang yang zalim itu.” (QS. al-Maa’idah: 72). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berjumpa dengan Allah dalam keadaan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun maka dia pasti masuk neraka.” (HR. Muslim).</p>
<p>Sunnah Mengantarkan Menuju Bahagia</p>
<p>Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah (Muhammad); Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (QS. Ali Imran: 31). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam itu datang dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana datangnya, maka beruntunglah orang-orang yang asing.” (HR. Muslim). Imam Malik rahimahullah berkata, “Sunnah adalah [laksana] bahtera Nabi Nuh, barangsiapa yang menaikinya akan selamat, dan barangsiapa yang tertinggal akan tenggelam.”</p>
<p>Bid’ah Mengantarkan Menuju Sengsara</p>
<p>Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang menentang rasul setelah jelas baginya petunjuk dan dia justru mengikuti selain jalan orang-orang beriman, niscaya akan Kami biarkan dia terombang-ambing dalam kesesatannya dan Kami pun akan memasukkannya ke dalam Jahannam, dan sesungguhnya Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. an-Nisaa’: 115). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sejelek-jelek urusan adalah yang diada-adakan -dalam agama-, [dan setiap yang diada-adakan itu adalah bid'ah] dan setiap bid’ah pasti sesat [dan setiap kesesatan di neraka].” (HR. Muslim, tambahan dalam kurung dalam riwayat Nasa’i)</p>
<p>Ketaatan Mengantarkan Menuju Bahagia</p>
<p>Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya sungguh dia akan mendapatkan keberuntungan yang sangat besar.” (QS. al-Ahzab: 71). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semua umatku pasti masuk surga, kecuali yang enggan.” Para sahabat pun bertanya, “Siapakah orang yang enggan itu wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Barangsiapa mentaatiku masuk surga dan barangsiapa yang mendurhakaiku maka dialah orang yang enggan itu.” (HR. Bukhari). Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata, “Allah menjamin bagi siapa saja yang membaca al-Qur’an dan mengamalkan ajaran yang ada di dalamnya bahwa dia tidak akan sesat di dunia dan tidak akan celaka di akherat.”</p>
<p>Kemaksiatan Mengantarkan Menuju Sengsara</p>
<p>Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan rasul-Nya sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat nyata.” (QS. al-Ahzab: 36). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Surga diliputi dengan perkara-perkara yang tidak disenangi nafsu (ketaatan) sedangkan neraka diliputi dengan perkara-perkara yang disenangi nafsu (kemaksiatan).” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Hilangnya Harapan dan Rasa Takut</p>
<p>Sementara ketiga hal di atas -tauhid, sunnah, dan ketaatan- memiliki satu musuh yang sama yaitu ketiadaan rasa harap dan rasa takut. Yaitu ketika seorang hamba tidak lagi menaruh harapan atas apa yang Allah janjikan dan tidak menyimpan rasa takut terhadap ancaman yang Allah berikan. Akibat ketiadaan harap dan takut ini maka timbul berbagai dampak yang membahayakan. Di antara dampaknya adalah; [1] terlena dengan curahan nikmat sehingga lalai dari mensyukurinya, [2] sibuk mengumpulkan ilmu namun lalai dari mengamalkannya, [3] cepat terseret dalam dosa namun lambat dalam bertaubat, [4] terlena dengan persahabatan dengan orang-orang saleh namun lalai dari meneladani mereka, [5] dunia pergi meninggalkan mereka namun mereka justru senantiasa mengejarnya, [6] akherat datang menghampiri mereka namun mereka justru tidak bersiap-siap untuk menyambutnya. Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan bahwa ketiadaan rasa harap dan takut ini bersumber dari lemahnya keyakinan. Lemahnya keyakinan itu timbul akibat lemahnya bashirah/pemahaman. Dan lemahnya bashirah itu sendiri timbul karena jiwa yang kerdil dan rendah (lihat al-Fawa’id, hal. 170).</p>
<p>Bersihkan Jiwamu!</p>
<p>Jiwa yang kerdil dan rendah akan merasa puas dengan perkara-perkara yang hina, sementara jiwa yang besar dan mulia tentu hanya akan puas dengan perkara-perkara yang mulia (lihat al-Fawa’id, hal. 170). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh berbahagia orang yang menyucikan jiwanya dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (QS. asy-Syams: 9-10). Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Yaitu orang yang menyucikan jiwanya dari dosa-dosa dan membersihkannya dari aib-aib, lalu dia meninggikannnya dengan ketaatan kepada Allah serta memuliakannya dengan ilmu yang bermanfaat dan amal saleh.” (Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 926). Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Yang dimaksud penyucian di sini ialah dia menyucikan dirinya dengan cara membebaskannya dari syirik dan noda-noda maksiat, sehingga jiwanya menjadi suci dan bersih.” (Tafsir Juz ‘Amma, hal. 165)</p>
<p>Dari sinilah, kita menyadari betapa besar peran ilmu yang diamalkan. Oleh sebab itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita untuk senantiasa berdoa seusai sholat Subuh dengan doa yang sangat indah, Allahumma inni as’aluka ‘ilman nafi’an wa rizqan thayyiban wa ‘amalan mutaqabbalan. Yang artinya; “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezki yang baik, dan amalan yang diterima.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah niscaya akan dipahamkan dalam urusan agamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Sedangkan ilmu dan pemahaman seorang hamba tentang agamanya diukur dengan rasa takutnya kepada Allah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya yang merasa takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.” (QS. Fathir: 28). Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Cukuplah rasa takut kepada Allah sebagai bukti ilmu -seseorang-.”</p>
<p>Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi</p>
<br />Filed under: <a href='http://bidadari08.wordpress.com/category/artikel-islami-2/'>artikel islami</a> Tagged: <a href='http://bidadari08.wordpress.com/tag/tauhid/'>Tauhid</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bidadari08.wordpress.com/726/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bidadari08.wordpress.com/726/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bidadari08.wordpress.com/726/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bidadari08.wordpress.com/726/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bidadari08.wordpress.com/726/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bidadari08.wordpress.com/726/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bidadari08.wordpress.com/726/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bidadari08.wordpress.com/726/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bidadari08.wordpress.com/726/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bidadari08.wordpress.com/726/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bidadari08.wordpress.com/726/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bidadari08.wordpress.com/726/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bidadari08.wordpress.com/726/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bidadari08.wordpress.com/726/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&amp;blog=3447897&amp;post=726&amp;subd=bidadari08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bidadari08.wordpress.com/2011/11/25/tiga-pokok-kebahagiaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/042a78073904b6dd72c519fb96cf57a8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bidadari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sunan Bonang / Syekh Maulana Makhdum Ibrahim</title>
		<link>http://bidadari08.wordpress.com/2011/11/09/sunan-bonang-syekh-maulana-makhdum-ibrahim/</link>
		<comments>http://bidadari08.wordpress.com/2011/11/09/sunan-bonang-syekh-maulana-makhdum-ibrahim/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Nov 2011 09:31:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bidadari</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Wali Songo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bidadari08.wordpress.com/?p=724</guid>
		<description><![CDATA[Dari berbagai sumber disebutkan bahwa Sunan Bonang itu nama aslinya adalah Syekh Maulana Makhdum Ibrahim. Putra Sunan Ampel dan Dewi Condrowati yang sering disebut Nyai Ageng Manila. Ada yang mengatakan Dewi Condrowati itu adalah putri Prabu Kertabumi ada pula yang berkata bahwa Dewi Condrowati adalah putri angkat Adipati Tuban yang sudah beragama Islam yaitu Ario [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&amp;blog=3447897&amp;post=724&amp;subd=bidadari08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari berbagai sumber disebutkan bahwa Sunan Bonang itu nama aslinya adalah Syekh Maulana Makhdum Ibrahim. Putra Sunan Ampel dan Dewi Condrowati yang sering disebut Nyai Ageng Manila. Ada yang mengatakan Dewi Condrowati itu adalah putri Prabu Kertabumi ada pula yang berkata bahwa Dewi Condrowati adalah putri angkat Adipati Tuban yang sudah beragama Islam yaitu Ario Tejo.</p>
<p>Sebagai seorang Wali yang disegani dan dianggap Mufti atau pemimpin agama se Tanah Jawa ,tentu saja Sunan Ampel mempunyai ilmu yang sangat tinggi.</p>
<p>Sejak kecil, Raden Makdum Ibrahim sudah diberi pelajaran agama Islam secara tekun dan disiplin . Sudah bukan rahasia lagi bahwa latihan atau riadha para Wali itu lebih berat dari pada orang awam. Raden Makdum Ibrahim adalah calon Wali yang besar , maka Sunan Ampel sejak dini juga mempersiapkan sebaik mungkin . Disebutkan dari berbagai literature bahwa Raden Makdum Ibrahim dan Raden Paku sewaktu masih remaja meneruskan pelajaran agama Islam hingga ke Tanah seberang ,yaitu Negeri Pasai . Keduanya menambah pengetahuan kepada Syekh Awwalul Islam atau ayah kandung dari Sunan Giri,juga belajar kepada para ulama besar yang banyak menetap di Negeri Pasai .Seperti ulama ahli tasawuf yang berasal dari Bagdad, Mesir , Arab dan Persi atau Iran. Sesudah belajar di Negeri Pasai, Raden Makdum Ibrahim dan Raden Paku pulang keJawa. Raden Paku kembali ke Gresik, mendirikan pesantren di Giri sehingga terkenal sebagai Sunan Giri .</p>
<p>Sedang Raden Makdum Ibrahim diperintahkan Sunan Ampel untuk berdakwah diTuban. Dalam berdakwa Raden Makdum Ibrahim ini sering mempergunakan kesenian rakyat untuk menarik simpati mereka, yaitu berupa seperangkat gamelan yang disebut Bonang.</p>
<p>Bonang adalah sejenis kuningan yang ditonjolkan dibagian tengahnya . Bila benjolan itu dipukul dengan kayu lunak maka timbullah suaranya yang merdu ditelinga penduduk setempat . Lebih –lebih bila Raden Makdum Ibrahim sendiri yang membunyikan alat musik itu, beliau adalah seorang Wali yang mempunyai cita rasa seni yang tinggi, sehingga beliau bunyikan pengaruhnya sangat hebat bagi para pendengarnya . Setiap Raden Makdum Ibrahim membunyikan Bonang, pasti banyak penduduk yang datang ingin mendengarkannya . Dan tidak sedikit dari mereka yang ingin belajar membunyikan Bonang sekaligus melagukan tembang – tembang ciptaan Raden Makdum Ibrahim.</p>
<p>Begitulah siasat Raden Makdum Ibrahim yang dijalankan penuh kesabaran.Setelah rakyat berhasil direbut simpatinya tinggal mengisikan saja ajaran Islam kepada mereka.</p>
<p>Tembang-tembang yang diajarkan Raden Makdum Ibrahim adalah tembang yang berisikan ajaran agama Islam.Sehingga tanpa terasa penduduk sudah mempelajari agama Islam dengan senang hati, bukan dengan paksaan.</p>
<p>Diantara tembang yang terkenal ialah :</p>
<p>“Tamba ati iku sak warnane,<br />
Maca Qur’an angen-angen sak maknane,<br />
Kaping pindho shalat sunah lakonona,<br />
Kaping telu wong kang saleh kancanana,<br />
Kaping papat kudu wetheng ingkang luwe,<br />
Kaping lima dzikir wengi ingkang suwe,<br />
Sopo wongé bisa ngelakoni, Insya Allah Gusti Allah nyemba dani.</p>
<p>Artinya :<br />
Obat sakit jiwa ( hati ) itu ada lima jenisnya.<br />
Pertama membaca Al-Qur’an dengan artinya,<br />
Kedua mengerjakan shalat malam ( sunnah Tahajjud ),<br />
Ketiga sering bersahabat dengan orang saleh ( berilmu ),<br />
Keempat harus sering berprihatin ( berpuasa ),<br />
Kelima sering berdzikir mengingat Allah di waktu malam,<br />
Siapa saja mampu mengerjakannya, Insya Allah Tuhan Allah mengabulkan.</p>
<p>Hingga sekarang lagi ini sering dilantunkan para santri ketika hendak shalat jama’ah, baik di pedesaan maupun dipesantren. Murid-murid Raden Makdum Ibrahim ini sangat banyak, baik yang berada di Tuban, Pulau Bawean, Jepara maupun Madura. Karena beliau sering mempergunakan Bonang dalam berdakwah maka masyarakat memberinya gelar Sunan Bonang. Beliau juga menciptakan karya sastra yang disebut Suluk .Hingga sekarang karya sastra Sunan Bonang itu dianggap sebagai karya yang sangat hebat, penuh keindahan dan makna kehidupan beragama. Suluk Sunan Bonang disimpan rapi di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda . (Nederland )</p>
<p>Pada masa hidupnya, Sunan Bonang termasuk penyokong kerajaan Islam Demak, dan ikut membantu mendirikan Masjid Agung Demak. Oleh masyarakat Demak ketika itu, ia dikenal sebagai pemimpin bala tentara Demak. Dialah yang memutuskan pengangkatan Sunan Ngudung sebagai panglima tentara Islam Demak.</p>
<p>Ketika Sunan Ngudung gugur, Sunan Bonang pula yang mengangkat Sunan Kudus sebagai panglima perang. Nasihat yang berharga diberikan pula pada Sunan Kudus tentang strategi perang menghadapi Majapahit. Selain itu, Sunan Bonang dipandang adil dalam membuat keputusan yang memuaskan banyak orang, melalui sidang-sidang ”pengadilan” yang dipimpinnya.</p>
<p>Misalnya dalam kisah pengadilan atas diri Syekh Siti Jenar, alias Syekh Lemah Abang. Lokasi ”pengadilan” itu sendiri punya dua versi. Satu versi mengatakan, sidang itu dilakukan di Masjid Agung Kasepuhan, Cirebon. Tapi, versi lain menyebutkan, sidang itu diselenggarakan di Masjid Agung Demak. Sunan Bonang juga berperan dalam pengangkatan Raden Patah.</p>
<p>Dalam menyiarkan ajaran Islam, Sunan Bonang mengandalkan sejumlah kitab, antara lain Ihya Ulumuddin dari al-Ghazali, dan Al-Anthaki dari Dawud al-Anthaki. Juga tulisan Abu Yzid Al-Busthami dan Syekh Abdul Qadir Jaelani. Ajaran Sunang Bonang, menurut disertasi JGH Gunning dan disertasi BJO Schrieke, memuat tiga tiang agama: tasawuf, ussuludin, dan fikih.</p>
<p>Ajaran tasawuf, misalnya, menurut versi Sunan Bonang menjadi penting karena menunjukkan bagaimana orang Islam menjalani kehidupan dengan kesungguhan dan kecintaannya kepada Allah. Para penganut Islam harus menjalankan, misalnya, salat, berpuasa, dan membayar zakat. Selain itu, manusia harus menjauhi tiga musuh utama: dunia, hawa nafsu, dan setan.</p>
<p>Untuk menghindari ketiga ”musuh” itu, manusia dianjurkan jangan banyak bicara, bersikap rendah hati, tidak mudah putus asa, dan bersyukur atas nikmat Allah. Sebaliknya, orang harus menjauhi sikap dengki, sombong, serakah, serta gila pangkat dan kehormatan. Menurut Gunning dan Schrieke, naskah ajaran Sunan Bonang merupakan naskah Wali Songo yang relatif lebih lengkap.</p>
<p>Ajaran wali yang lain tak ditemukan naskahnya, dan kalaupun ada, tak begitu lengkap. Di situ disebutkan pula bahwa ajaran Sunan Bonang berasal dari ajaran Syekh Jumadil Kubro, ayahanda Maulana Malik Ibrahim, yang menurunkan ajaran kepada Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, dan Sunan Muria.</p>
<p>Dikisahkan beliau pernah menaklukkan seorang pemimpin perampok dan anak buahnya hanya mempergunakan tambang dan gending. Dharma dan irama Mocopa,t Begitu gending ditabuh Kebondanu dan anak buahnya tidak mampu bergerak, seluruh persendian mereka seperti dilolosi dari tempatnya. Sehingga gagallah mereka melaksanakan niat jahatnya.</p>
<p>“Ampun ………. hentikanlah bunyi gamelan itu, kami tidak kuat !” Demikian rintih Kebondanu dan anak buahnya.</p>
<p>“Gending yang kami bunyikan sebenarnya tidak berpengaruh buruk terhadap kalian jika saja hati kalian tidak buruk dan jahat.”</p>
<p>“Ya, kami menyerah, kami tobat !Kami tidak akan melakukan perbuatan jahat lagi, tapi ………. “ Kebondanu ragu meneruskan ucapannya.</p>
<p>“Kenapa Kebondanu, teruskan ucapanmu !” ujar Sunan Bonang.</p>
<p>“Mungkinkah Tuhan mengampuni dosa-dosa kami yang sudah tak terhitung lagi banyaknya,” kata Kebondanu dengan ragu. “Kami sudah sering merampok, membunuh dan melakukan tindak kejahatan lainnya.”</p>
<p>“Pintu tobat selalu terbuka bagi siapa saja,” kata Sunan Bonang. “Allah adalah Tuhan Yang Maha Pengampun dan Penerima tobat.”</p>
<p>“Walau dosa kami setinggi gunung ?” Tanya Kebondanu.</p>
<p>“Ya, walau dosamu setinggi gunung dan sebanyak pasir dilaut.”</p>
<p>Akhirnya Kebondanu benar-benar bertobat dan menjadi murid Sunan Bonang yang setia. Demikian pula anak buahnya. Pada suatu ketika juga ada seorang Brahmana sakti dari India yang berlayar ke Tuban. Tujuannya hendak mengadu kesaktian dan berdebat tentang masalah keagamaan dengan Sunan Bonang. Namun ketika ia berlayar menuju Tuban, perahunya terbalik dihantam badai. Walaupun ia dan para pengikutnya berhasil menyelamatkan diri kitab-kitab referensi yang hendak dipergunakan untuk berdebat dengan Sunan Bonang telah tenggelam ke dasar laut. Di tepi pantai mereka melihat seorang lelaki berjubah putih sedang berjalan sembari membawa tongkat. Mereka menghentikan lelaki itu dan menyapanya. Lelaki berjubah putih itu menghentikan langkah dan menancapkan tongkatnya ke pasir.</p>
<p>“Saya datang dari India hendak mencari seorang ulama besar bernama Sunan Bonang.”kata sang Brahmana.</p>
<p>“Untuk apa Tuan mencari Sunan Bonang?” tanya lelaki itu .</p>
<p>“Akan saya ajak berdebat tentang masalah keagamaan ,kata sang Brahmana .”Tapi sayang kitab –kitab yang saya bawa telah tenggelam kedasar laut .”</p>
<p>Tanpa banyak bicara lelaki itu mencabut tongkatnya yang menancap dipasir ,mendadak tersemburlah air dari lubang tongkat itu, membawa keluar semua kitab yang dibawa sang Brahmana.</p>
<p>“Itukah kitab-kitab Tuan yang tenggelam kedasar laut?”Tanya lelaki itu.</p>
<p>Sang Brahmana dan pengikutnya memeriksa kitab-kitab itu. Ternyata benar miliknya sendiri. Berdebarlah hati sang Brahmana sembari menduga-duga siapa sebenarnya lelaki berjubah putih itu.</p>
<p>“Apakah nama daerah tempat saya terdampar ini?”tanya sang Brahmana</p>
<p>“Tuan berada dipantai Tuban !”jawab lelaki itu .Serta merta Brahmana dan para pengikutnya menjatuhkan diri berlutut dihadapan lelaki itu .Mereka sudah dapat mendiga pastilah lelaki berjubah putih itu adalah Sunan Bonang sendiri.</p>
<p>Siapalagi orang sakti berilmu tinggi yang berada dikota Tuban selain Sunan Bonang .Sang Brahmana tidak jadi melaksanakan niatnya menantang Sunan Bonang untuk adu kesaktian dan mendebat masalah keagamaan, malah kemudian ia berguru kepada Sunan Bonang dan menjadi pengikut Sunan Bonang yang setia.</p>
<p>Sunan Bonang wafat di Pulau Bawean, pada 1525. Saat akan dimakamkan, ada perebutan antara warga Bawean dan warga Bonang, Tuban. Warga Bawean ingin Sunan Bonang dimakamkan di pulau mereka, karena sang Sunan sempat berdakwah di pulau utara Jawa itu. Tetapi, warga Tuban tidak mau terima. Pada malam setelah kematiannya, sejumlah murid dari Bonang mengendap ke Bawean, ”mencuri” jenazah sang Sunan.</p>
<p>Esoknya, dilakukanlah pemakaman. Anehnya, jenazah Sunan Bonang tetap ada, baik di Bonang maupun di Bawean! Karena itu, sampai sekarang, makam Sunan Bonang ada di dua tempat. Satu di Pulau Bawean, dan satunya lagi di sebelah barat Masjid Agung Tuban, Desa Kutareja, Tuban. Kini kuburan itu dikitari tembok dengan tiga lapis halaman. Setiap halaman dibatasi tembok berpintu gerbang.</p>
<p>Adalagi legenda aneh tentang Sunan Bonang .</p>
<p>Sewaktu beliau wafat, jenasahnya hendak dibawa ke Surabaya untuk dimakamkan disamping Sunan Ampel yaitu ayahandanya .Tetapi kapal yang digunakan mengangkut jenazahnya tidak bisa bergerak sehingga terpaksa jenazahnya Sunan Bonang dimakamkan di Tuban yaitu disebelah barat Masjid Jami ’Tuban.</p>
<br />Filed under: <a href='http://bidadari08.wordpress.com/category/artikel/'>artikel</a> Tagged: <a href='http://bidadari08.wordpress.com/tag/wali-songo/'>Wali Songo</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bidadari08.wordpress.com/724/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bidadari08.wordpress.com/724/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bidadari08.wordpress.com/724/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bidadari08.wordpress.com/724/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bidadari08.wordpress.com/724/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bidadari08.wordpress.com/724/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bidadari08.wordpress.com/724/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bidadari08.wordpress.com/724/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bidadari08.wordpress.com/724/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bidadari08.wordpress.com/724/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bidadari08.wordpress.com/724/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bidadari08.wordpress.com/724/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bidadari08.wordpress.com/724/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bidadari08.wordpress.com/724/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&amp;blog=3447897&amp;post=724&amp;subd=bidadari08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bidadari08.wordpress.com/2011/11/09/sunan-bonang-syekh-maulana-makhdum-ibrahim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/042a78073904b6dd72c519fb96cf57a8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bidadari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sunan Ampel / Raden Rachmat</title>
		<link>http://bidadari08.wordpress.com/2011/11/09/sunan-ampel-raden-rachmat/</link>
		<comments>http://bidadari08.wordpress.com/2011/11/09/sunan-ampel-raden-rachmat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Nov 2011 06:04:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bidadari</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Wali Songo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bidadari08.wordpress.com/?p=722</guid>
		<description><![CDATA[PRABU Sri Kertawijaya tak kuasa memendam gundah. Raja Majapahit itu risau memikirkan pekerti warganya yang bubrah tanpa arah. Sepeninggal Prabu Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada, kejayaan Majapahit tinggal cerita pahit. Perang saudara berkecamuk di mana-mana. Panggung judi, main perempuan, dan mabuk-mabukan menjadi ”kesibukan” harian kaum bangsawan –pun rakyat kebanyakan. Melihat beban berat suaminya, Ratu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&amp;blog=3447897&amp;post=722&amp;subd=bidadari08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PRABU Sri Kertawijaya tak kuasa memendam gundah. Raja Majapahit itu risau memikirkan pekerti warganya yang bubrah tanpa arah. Sepeninggal Prabu Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada, kejayaan Majapahit tinggal cerita pahit. Perang saudara berkecamuk di mana-mana. Panggung judi, main perempuan, dan mabuk-mabukan menjadi ”kesibukan” harian kaum bangsawan –pun rakyat kebanyakan.</p>
<p>Melihat beban berat suaminya, Ratu Darawati merasa wajib urun rembuk. ”Saya punya keponakan yang ahli mendidik kemerosotan budi pekerti,” kata permaisuri yang juga putri Raja Campa itu. ”Namanya Sayyid Ali Rahmatullah, putra Kakanda Dewi Candrawulan,” Darawati menambahkan. Tanpa berpikir panjang, Kertawijaya mengirim utusan, menjemput Ali Rahmatullah ke Campa –kini wilayah Kamboja.</p>
<p>Ali Rahmatullah inilah yang kelak lebih dikenal sebagai Sunan Ampel. Cucu Raja Campa itu adalah putra kedua pasangan Syekh Ibrahim Asmarakandi dan Dewi Candrawulan. Ayahnya, Syekh Ibrahim, adalah seorang ulama asal Samarkand, Asia Tengah. Kawasan ini melahirkan beberapa ulama besar, antara lain perawi hadis Imam Bukhari.</p>
<p>Ibrahim berhasil mengislamkan Raja Campa. Ia kemudian diangkat sebagai menantu. Sejumlah sumber sejarah mencatat silsilah Ibrahim dan Rahmatullah, yang sampai pada Nabi Muhammad lewat jalur Imam Husein bin Ali. Tarikh Auliya karya KH Bisri Mustofa mencantumkan nama Rahmatullah sebagai keturunan Nabi ke-23.</p>
<p>Ia diperkirakan lahir pada 1420, karena ketika berada di Palembang, pada 1440, sebuah sumber sejarah menyebutnya berusia 20 tahun. Soalnya, para sejarawan lebih banyak mendiskusikan tahun kedatangan Rahmatullah di Pulau Jawa. Petualang Portugis, Tome Pires, menduga kedatangan itu pada 1443.</p>
<p>Hikayat Hasanuddin memperkirakannya pada sebelum 1446 –tahun kejatuhan Campa ke tangan Vietnam. De Hollander menulis, sebelum ke Jawa, Rahmatullah memperkenalkan Islam kepada Raja Palembang, Arya Damar, pada 1440. Perkiraan Tome Pires menjadi bertambah kuat. Dalam lawatan ke Jawa, Rahmatullah didampingi ayahnya, kakaknya (Sayid Ali Murtadho), dan sahabatnya (Abu Hurairah).</p>
<p>Rombongan mendarat di kota bandar Tuban, tempat mereka berdakwah beberapa lama, sampai Syekh Asmarakandi wafat. Makamnya kini masih terpelihara di Desa Gesikharjo, Palang, Tuban. Sisa rombongan melanjutkan perjalanan ke Trowulan, ibu kota Majapahit, menghadap Kertawijaya. Di sana, Rahmatullah menyanggupi permintaan raja untuk mendidik moral para bangsawan dan kawula Majapahit.</p>
<p>Sebagai hadiah, ia diberi tanah di Ampeldenta, Surabaya. Sejumlah 300 keluarga diserahkan untuk dididik dan mendirikan permukiman di Ampel. Meski raja menolak masuk Islam, Rahmatullah diberi kebebasan mengajarkan Islam pada warga Majapahit, asal tanpa paksaan. Selama tinggal di Majapahit, Rahmatullah dinikahkan dengan Nyai Ageng Manila, putri Tumenggung Arya Teja, Bupati Tuban.</p>
<p>Sejak itu, gelar pangeran dan raden melekat di depan namanya. Raden Rahmat diperlakukan sebagai keluarga keraton Majapahit. Ia pun makin disegani masyarakat. Pada hari yang ditentukan, berangkatlah rombongan Raden Rahmat ke Ampel. Dari Trowulan, melewati Desa Krian, Wonokromo, berlanjut ke Desa Kembang Kuning. Di sepanjang perjalanan, Raden Rahmat terus melakukan dakwah.</p>
<p>Ia membagi-bagikan kipas yang terbuat dari akar tumbuhan kepada penduduk. Mereka cukup mengimbali kipas itu dengan mengucapkan syahadat. Pengikutnya pun bertambah banyak. Sebelum tiba di Ampel, Raden Rahmat membangun langgar (musala) sederhana di Kembang Kuning, delapan kilometer dari Ampel.</p>
<p>Langgar ini kemudian menjadi besar, megah, dan bertahan sampai sekarang –dan diberi nama Masjid Rahmat. Setibanya di Ampel, langkah pertama Raden Rahmat adalah membangun masjid sebagai pusat ibadah dan dakwah. Kemudian ia membangun pesantren, mengikuti model Maulana Malik Ibrahim di Gresik. Format pesantrennya mirip konsep biara yang sudah dikenal masyarakat Jawa.</p>
<p>Raden Rahmat memang dikenal memiliki kepekaan adaptasi. Caranya menanamkan akidah dan syariat sangat memperhatikan kondisi masyarakat. Kata ”salat” diganti dengan ”sembahyang” (asalnya: sembah dan hyang). Tempat ibadah tidak dinamai musala, tapi ”langgar”, mirip kata sanggar. Penuntut ilmu disebut santri, berasal dari shastri –orang yang tahu buku suci agama Hindu.</p>
<p>Siapa pun, bangsawan atau rakyat jelata, bisa nyantri pada Raden Rahmat. Meski menganut mazhab Hanafi, Raden Rahmat sangat toleran pada penganut mazhab lain. Santrinya dibebaskan ikut mazhab apa saja. Dengan cara pandang netral itu, pendidikan di Ampel mendapat simpati kalangan luas. Dari sinilah sebutan ”Sunan Ampel” mulai populer.</p>
<p>Ajarannya yang terkenal adalah falsafah ”Moh Limo”. Artinya: tidak melakukan lima hal tercela. Yakni moh main (tidak mau judi), moh ngombe (tidak mau mabuk), moh maling (tidak mau mencuri), moh madat (tidak mau mengisap candu), dan moh madon (tidak mau berzina). Falsafah ini sejalan dengan problem kemerosotan moral warga yang dikeluhkan Sri Kertawijaya.</p>
<p>Sunan Ampel sangat memperhatikan kaderisasi. Buktinya, dari sekian putra dan santrinya, ada yang kemudian menjadi tokoh Islam terkemuka. Dari perkawinannya dengan Nyai Ageng Manila, menurut satu versi, Sunan Ampel dikaruniai enam anak. Dua di antaranya juga menjadi wali, yaitu Sunan Bonang (Makdum Ibrahim) dan Sunan Drajat (Raden Qosim).</p>
<p>Seorang putrinya, Asyikah, ia nikahkan dengan muridnya, Raden Patah, yang kelak menjadi sultan pertama Demak. Dua putrinya dari istri yang lain, Nyai Karimah, ia nikahkan dengan dua muridnya yang juga wali. Yakni Dewi Murtasiah, diperistri Sunan Giri, dan Dewi Mursimah, yang dinikahkan dengan Sunan Kalijaga.</p>
<p>Sunan Ampel biasa berbeda pendapat dengan putra dan murid-mantunya yang juga para wali. Dalam hal menyikapi adat, Sunan Ampel lebih puritan ketimbang Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga pernah menawarkan untuk mengislamkan adat sesaji, selamatan, wayang, dan gamelan. Sunan Ampel menolak halus.</p>
<p>”Apakah tidak khawatir kelak adat itu akan dianggap berasal dari Islam?” kata Sunan Ampel. ”Nanti bisa bidah, dan Islam tak murni lagi.” Pandangan Sunan Ampel didukung Sunan Giri dan Sunan Drajat. Sementara Sunan Kudus dan Sunan Bonang menyetujui Sunan Kalijaga. Sunan Kudus membuat dua kategori: adat yang bisa dimasuki Islam, dan yang sama sekali tidak.</p>
<p>Ini mirip dengan perdebatan dalam ushul fiqih: apakah adat bisa dijadikan sumber hukum Islam atau tidak. Meski demikian, perbedaan itu tidak mengganggu silaturahmi antarpara wali. Sunan Ampel memang dikenal bijak mengelola perbedaan pendapat. Karena itu, sepeninggal Maulana Malik Ibrahim, ia diangkat menjadi sesepuh Wali Songo dan mufti (juru fatwa) se-tanah Jawa.</p>
<p>Menurut satu versi, Sunan Ampel-lah yang memprakarsai pembentukan Dewan Wali Songo, sebagai strategi menyelamatkan dakwah Islam di tengah kemelut politik Majapahit. Namun, mengenai tanggal wafatnya, tak ada bukti sejarah yang pasti. Sumber-sumber tradisional memberi titimangsa yang berbeda.</p>
<p>Babad Gresik menyebutkan tahun 1481, dengan candrasengkala ”Ngulama Ampel Seda Masjid”. Cerita tutur menyebutkan, beliau wafat saat sujud di masjid. Serat Kanda edisi Brandes menyatakan tahun 1406. Sumber lain menunjuk tahun 1478, setahun setelah berdirinya Masjid Demak. Ia dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, di areal seluas 1.000 meter persegi, bersama ratusan santrinya.</p>
<p>Kompleks makam tersebut dikelilingi tembok besar setinggi 2,5 meter. Makam Sunan Ampel bersama istri dan lima kerabatnya dipagari baja tahan karat setinggi 1,5 meter, melingkar seluas 64 meter persegi. Khusus makam Sunan Ampel dikelilingi pasir putih. Setiap hari, penziarah ke makam Sunan Ampel rata-rata 1.000 orang, dari berbagai pelosok Tanah Air.</p>
<p>Jumlahnya bertambah pada acara ritual tertentu, seperti saat Haul Agung Sunan Ampel ke-552, awal November lalu. Pengunjungnya membludak sampai 10.000 orang. Kalau makam Maulana Malik Ibrahim sepi penziarah di bulan Ramadhan, makam Sunan Ampel justru makin ramai 24 jam pada bulan puasa</p>
<br />Filed under: <a href='http://bidadari08.wordpress.com/category/artikel/'>artikel</a> Tagged: <a href='http://bidadari08.wordpress.com/tag/wali-songo/'>Wali Songo</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bidadari08.wordpress.com/722/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bidadari08.wordpress.com/722/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bidadari08.wordpress.com/722/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bidadari08.wordpress.com/722/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bidadari08.wordpress.com/722/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bidadari08.wordpress.com/722/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bidadari08.wordpress.com/722/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bidadari08.wordpress.com/722/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bidadari08.wordpress.com/722/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bidadari08.wordpress.com/722/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bidadari08.wordpress.com/722/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bidadari08.wordpress.com/722/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bidadari08.wordpress.com/722/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bidadari08.wordpress.com/722/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&amp;blog=3447897&amp;post=722&amp;subd=bidadari08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bidadari08.wordpress.com/2011/11/09/sunan-ampel-raden-rachmat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/042a78073904b6dd72c519fb96cf57a8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bidadari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dendam Positif</title>
		<link>http://bidadari08.wordpress.com/2011/10/31/dendam-positif/</link>
		<comments>http://bidadari08.wordpress.com/2011/10/31/dendam-positif/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Oct 2011 09:08:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bidadari</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel islami]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Islami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bidadari08.wordpress.com/?p=720</guid>
		<description><![CDATA[“Di sebuah perusahaan pertambangan minyak di Arab Saudi, di akhir tahun40-an. Seorang pegawai rendahan, remaja lokal asli Saudi, kehausan dan bergegas mencari air untuk menyiram tenggorokannya yang kering. Ia begitu gembira ketika melihat air dingin yang tampak di depannya dan bersegera mengisi air dingin ke dalam gelas. Belum sempat ia minum, tangannya terhenti oleh sebuah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&amp;blog=3447897&amp;post=720&amp;subd=bidadari08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Di sebuah perusahaan pertambangan minyak di Arab Saudi, di akhir tahun40-an. Seorang pegawai rendahan, remaja lokal asli Saudi, kehausan dan bergegas mencari air untuk menyiram tenggorokannya yang kering. Ia begitu gembira ketika melihat air dingin yang tampak di depannya dan bersegera mengisi air dingin ke dalam gelas.</p>
<p>Belum sempat ia minum, tangannya terhenti oleh sebuah hardikan: “Hei, kamu tidak boleh minum air ini. Kamu cuma pekerja rendahan. Air ini hanya khusus untuk insinyur. “Suara itu berasal dari mulut seorangi insinyur Amerika yang bekerja di perusahaan tersebut.</p>
<p>Remaja itu akhirnya hanya terdiam menahan haus. Ia tahu ia hanya anak miskin lulusan sekolah dasar. Kalaupun ada pendidikan yang dibanggakan, ia lulusan lembaga Tahfidz Quran, tapi keahlian itu tidak ada harganya di perusahaan minyak yang saat itu masih dikendalikan oleh manajemen Amerika.</p>
<p>Hardikan itu selalu terngiang di kepalanya. Ia lalu bertanya-tanya:</p>
<p>Kenapa ini terjadi padaku? Kenapa segelas air saja dilarang untuk ku?</p>
<p>Apakah karena aku pekerja rendahan, sedangkan mereka insinyur ? Apakah kalau aku jadi insinyur aku bisa minum? Apakah aku bisa jadi insinyur seperti mereka?</p>
<p>Pertanyaan ini selalu tengiang-ngiang dalam dirinya. Kejadian ini akhirnya menjadi momentum bagitnya untuk membangkitkan “DENDAM POSITIF”.</p>
<p>Akhirnya muncul komitmen dalam dirinya.</p>
<p>Remaja miskin itu lalu bekerja keras siang hari dan melanjutkan sekolah malam hari. Hampir setiap hari ia kurang tidur untuk mengejar ketertinggalannya.</p>
<p>Tidak jarang olok-olok dari teman pun diterimanya. Buah kerja kerasnya menggapai hasil. Ia akhirnya bisa lulus SMA. Kerja kerasnya membuat perusahaan memberi kesempatan padanya untuk mendalami ilmu. Ia dikirim ke Amerika mengambil kuliah S1 bidang teknik dan master bidang geologi. Pemuda ini lulus dengan hasil memuaskan. Selanjutnya ia pulang ke negerinya dan bekerja sebagai insinyur.</p>
<p>Kini ia sudah menaklukkan dendamnya, kembali sebagai insinyur dan bisa minum air yang dulu dilarang baginya. Apakah sampai di situ saja?</p>
<p>Tidak, karirnya melesat terus. Ia sudah terlatih bekerja keras dan mengejar ketinggalan, dalam pekerjaan pun karirnya menyusul yang lain.</p>
<p>Karirnya melonjak dari kepala bagian, kepala cabang, manajer umum sampai akhirnya ia menjabat sebagai wakil direktur, sebuah jabatan tertinggi yang bisa dicapai oleh orang lokal saat itu.Ada kejadian menarik ketika ia menjabat wakil direktur. Insinyur Amerika yang dulu pernah mengusirnya, kini justru jadi bawahannya.</p>
<p>Suatu hari insinyur bule ini datang menghadap karena ingin minta izin libur dan berkata; “Aku ingin mengajukan izin liburan. Aku berharap Anda tidak mengaitkan kejadian air di masa lalu dengan pekerjaan resmi ini. Aku berharap Anda tidak membalas dendam, atas kekasaran dan keburukan perilakuku di masa lalu”</p>
<p>Apa jawab sang wakil direktur mantan pekerja rendahan ini: “Aku ingin berterimakasih padamu dari lubuk hatiku yang paling dalam karena kau melarang aku minum saat itu. Ya dulu aku benci padamu. Tapi, setelah izin Allah, kamu lah sebab kesuksesanku hingga aku meraih sukses ini”.</p>
<p>Kini dendam positif lainnya sudah tertaklukkan. Lalu apakah ceritanya sampai disini?</p>
<p>Tidak. Akhirnya mantan pegawai rendahan ini menempati jabatan tertinggi di perusahaan tersebut. Ia menjadi Presiden Direktur pertama yang berasal dari bangsa Arab. Tahukan Anda apa perusahaan yang dipimpinnya? Perusahaan itu adalah Aramco (Arabian American Oil Company) perusahaan minyak terbesar di dunia. Ditangannya perusahaan ini semakin membesar dan kepemilikan Arab Saudi semakin dominan.</p>
<p>Kini perusahaaan ini menghasilkan 3.4 juta barrels (540,000,000 m3) dan mengendalikan lebih dari 100 ladang migas di Saudi Arabia dengan total cadangan 264 miliar barrels (4.20×1010 m3) minyak dan 253 triliun cadangan gas.</p>
<p>Atas prestasinya Ia ditunjuk Raja Arab Saudi untuk menjabat sebagai Menteri Perminyakan dan Mineral yang mempunyai pengaruh sangat besar terhadap dunia.</p>
<p>Tahukah kisah siapa ini? Ini adalah kisah Ali bin Ibrahim Al-Naimi yang sejak tahun 1995 sampai saat ini (2011) menjabat Menteri Perminyakan dan Mineral Arab Saudi.</p>
<p>Terbayangkah, hanya dengan mengembangkan hinaan menjadi dendam positif, isu air segelas di masa lalu membentuknya menjadi salah seorang penguasa minyak yang paling berpengaruh di seluruh dunia.</p>
<p>Itulah kekuatan”DENDAM POSITIF” Kita tidak bisa mengatur bagaimana orang lain berperilaku terhadap kita.Kita tidak pernah tahu bagaimana keadaan akan menimpa kita.</p>
<p>Tapi kita sepenuhnya punya kendali bagaimana menyikapinya. Apakah ingin hancur karenanya? Atau bangkit dengan semangat “Dendam Positif.”</p>
<br />Filed under: <a href='http://bidadari08.wordpress.com/category/artikel-islami-2/'>artikel islami</a> Tagged: <a href='http://bidadari08.wordpress.com/tag/artikel-islami/'>Artikel Islami</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bidadari08.wordpress.com/720/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bidadari08.wordpress.com/720/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bidadari08.wordpress.com/720/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bidadari08.wordpress.com/720/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bidadari08.wordpress.com/720/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bidadari08.wordpress.com/720/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bidadari08.wordpress.com/720/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bidadari08.wordpress.com/720/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bidadari08.wordpress.com/720/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bidadari08.wordpress.com/720/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bidadari08.wordpress.com/720/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bidadari08.wordpress.com/720/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bidadari08.wordpress.com/720/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bidadari08.wordpress.com/720/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&amp;blog=3447897&amp;post=720&amp;subd=bidadari08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bidadari08.wordpress.com/2011/10/31/dendam-positif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/042a78073904b6dd72c519fb96cf57a8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bidadari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menemui ALLAH</title>
		<link>http://bidadari08.wordpress.com/2011/10/29/menemui-allah/</link>
		<comments>http://bidadari08.wordpress.com/2011/10/29/menemui-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Oct 2011 11:34:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bidadari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bidadari08.wordpress.com/?p=718</guid>
		<description><![CDATA[“Hai manusia, sesungguhnya engkau harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menemui Tuhan-mu, sampai engkau bertemu dengan-Nya” (QS Al Insyqaq 84 : 6) Berjumpa dengan Tuhan adalah dambaan setiap manusia dan itu merupakan impian tertinggi yang selalu dicita-citakan oleh semua orang. Ketika berbicara tentang “Berjumpa dengan Tuhan” maka yang terbayang pada semua orang adalah Kematian, Setelah manusia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&amp;blog=3447897&amp;post=718&amp;subd=bidadari08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Hai manusia, sesungguhnya engkau harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menemui Tuhan-mu, sampai engkau bertemu dengan-Nya” (QS Al Insyqaq 84 : 6)</p>
<p>Berjumpa dengan Tuhan adalah dambaan setiap manusia dan itu merupakan impian tertinggi yang selalu dicita-citakan oleh semua orang. Ketika berbicara tentang “Berjumpa dengan Tuhan” maka yang terbayang pada semua orang adalah Kematian, Setelah manusia meninggal dunia (nafas berhenti) barulah ada peluang berjumpa dengan Tuhannya. Berjumpa dengan Tuhan setelah kematian itu sifatnya spekulatif, (bisa ya bisa juga tidak) lalu bagaimana kalau setelah meninggal kita tidak pernah berjumpa dengan Tuhan?</p>
<p>Kenikmatan tertinggi bagi penduduk Surga adalah melihat wajah Tuhan, artinya ada kemungkinan orang yang di surga tidak bisa melihat Tuhan, tentu saja mustahil bagi orang yang tidak masuk surga bisa berjumpa dengan Allah.</p>
<p>Andai nanti kita tidak berjumpa dengan Tuhan di akhirat, lalu mau kemana kita? Mau balik ke dunia???</p>
<p>Ayat di atas memberikan gambaran kepada kita bahwa proses perjumpaan dengan Tuhan itu berlangsung di dunia dan proses situ harus kita selesaikan di dunia ini juga sehingga di akhirat kita tidak lagi mengalami kesulitan menemui Allah. Yang diperlukan adalah kesungguhan kita untuk semaksimal mungkin berusaha menemui-Nya.</p>
<p>“Apabila hamba-Ku ingin menemui-Ku, Akupun ingin menemui-nya dan bila ia enggan menemui-Ku, Akupun enggan menemui-nya” (HR Bukhari dari Abu Hurairah)</p>
<p>Firman Allah dalam hadist qudsi di atas memberi gambaran kepada kita bahwa Allah ingin sekali ditemui namun terkadang hamba-Nya yang lalai dengan kesibukannya sendiri.</p>
<p>Menemui Allah, ya berjumpa dan memandang wajah-Nya itulah kenikmatan yang paling tinggi yang dirasakan oleh para pecinta-Nya.</p>
<p>Kalau di dalam shalat anda tidak merasakan kehadiran-Nya berarti anda belum berjumpa dengan-Nya, maka anda harus belajar lagi sampai anda bermakrifat kepada-Nya.</p>
<p>Saya menutup tulisan singkat ini dengan mengutip dialog antara saya dengan seseorang 7 tahun lalu tentang berjumpa dengan Allah. Suatu hari saya bertanya kepada seorang yang baru menekuni Tarekat (baru 3 hari),</p>
<p>“Andai anda berjumpa dengan Allah, apa yang akan anda sampaikan kepada Allah?”</p>
<p>Dia sepertinya terkejut dengan pertanyaan saya yang tiba-tiba dan pertanyaan tersebut belum pernah ditanyakan se umur hidupnya, dia diam tidak bisa menjawab apa2. Kemudian saya membantu dia dengan pertanyaan berikut :</p>
<p>“Kalau anda selesai shalat apa doa anda kepada Allah?”</p>
<p>Dia jawab dengan cepat, “bla bla bla…”</p>
<p>Dengan senyum dan dengan suara pelan saya katakan pada dia, “Berarti selama ini dalam shalat anda tidak pernah berjumpa dengan Allah?”. Dia menganguk dengan malu.</p>
<p>Syukur Alhamdulillah berkat Syafaat Rasulullah dan bimbingan Guru Mursyid, sahabat saya tersebut akhirnya benar-benar mengenal Allah dengan sebenar kenal dan selalu merasakan perjumpaan dengan Allah.</p>
<p>Mudah-mudahan tulisan ini memberikan gairah kepada para pencari dan membangkitkan rindu kepada para pecinta-Nya, salam</p>
<br />Filed under: <a href='http://bidadari08.wordpress.com/category/tauhid/'>Tauhid</a> Tagged: <a href='http://bidadari08.wordpress.com/tag/tauhid/'>Tauhid</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bidadari08.wordpress.com/718/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bidadari08.wordpress.com/718/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bidadari08.wordpress.com/718/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bidadari08.wordpress.com/718/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bidadari08.wordpress.com/718/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bidadari08.wordpress.com/718/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bidadari08.wordpress.com/718/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bidadari08.wordpress.com/718/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bidadari08.wordpress.com/718/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bidadari08.wordpress.com/718/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bidadari08.wordpress.com/718/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bidadari08.wordpress.com/718/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bidadari08.wordpress.com/718/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bidadari08.wordpress.com/718/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&amp;blog=3447897&amp;post=718&amp;subd=bidadari08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bidadari08.wordpress.com/2011/10/29/menemui-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/042a78073904b6dd72c519fb96cf57a8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bidadari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>“Taubat dari maksiat bisa sekali selesai, tetapi taubat karena taat bisa seribu kali pertaubatan.”</title>
		<link>http://bidadari08.wordpress.com/2011/09/13/%e2%80%9ctaubat-dari-maksiat-bisa-sekali-selesai-tetapi-taubat-karena-taat-bisa-seribu-kali-pertaubatan-%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://bidadari08.wordpress.com/2011/09/13/%e2%80%9ctaubat-dari-maksiat-bisa-sekali-selesai-tetapi-taubat-karena-taat-bisa-seribu-kali-pertaubatan-%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Sep 2011 10:16:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bidadari</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel islami]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Islami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bidadari08.wordpress.com/?p=710</guid>
		<description><![CDATA[oleh Arifin Wahid pada 11 September 2011 jam 6:55  “Kalau bukan karena indahnya tutup Alloh swt, maka tak satu pun amal diterima.”Kenapa demikian? Sebab nafsu manusia senantiasa kontra dengan kebajikan, oleh sebab itu jika mempekerjakan nafsu, haruslah dikekang dari sifat atau karakter aslinya.  Dalam firmanNya: “Siapa yang yang menjaga nafsunya, maka mereka itulah orang-orang yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&amp;blog=3447897&amp;post=710&amp;subd=bidadari08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://alimmahdi.webs.com/Hikmah/Kuda_Dakwah.swf"></a>
<div>
<div style="text-align:justify;">oleh <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=100000538445900">Arifin Wahid</a> pada 11 September 2011 jam 6:55</div>
</div>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong>“Kalau bukan karena indahnya tutup Alloh swt, maka tak satu pun amal diterima.”Kenapa demikian? Sebab nafsu manusia senantiasa kontra dengan kebajikan, oleh sebab itu jika mempekerjakan nafsu, haruslah dikekang dari sifat atau karakter aslinya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-710"></span> Dalam firmanNya: “Siapa yang yang menjaga nafsunya, maka mereka itulah orang-orang yang menang dan bahagia.”(Al-Hasyr 9)</p>
<p style="text-align:justify;">Nafsu, ketika masuk dalam kinerja amaliah, sedangkan nafsu itu dasarnya adalah cacat, maka yang terproduksi nafsu dalam beramal senantiasa cacat pula. Kalau toh dinilai sempurna, nafsu masih terus meminta imbal balik, dan menginginkan tujuan tertentu, sedangkan amal itu inginnya malah ikhlas. Jadi seandainya sebuah amal diterima semata-mata bukan karena amal ansikh, tetapi karena karunia Allah Ta’ala pada hambaNya, bukan karena amalnya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Abu Abdullah al-Qurasyi ra mengatakan, “Seandainya Allah menuntu ikhlas, maka semua amal mereka sirna. Bila amal mereka sirna, rasa butuhnya kepada Allah Ta’ala semakin bertambah, lalu mereka pun melakukan pembebasan dari segala hal selain Allah swt, apakah berupa kepentingan mereka atau sesuatu yang diinginkan mereka.”</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Oleh sebab itu Ibnu Athaillah melanjutkan:</p>
<p style="text-align:justify;">“Anda lebih butuh belas kasihan Allah swt, ketika anda sedang melakukan taat, dibanding rasa butuh belas kasihNya ketika anda melakukan maksiat.” Kebanyakan manusia memohon belas kasihan kepada Allah Ta’ala justru ketika ia menghadapi maksiat, dan merasa aman ketika bisa melakukan taat ubudiyah. Padahal justru yang lebih dibutuhkan manusia adalah Belas Kasih Allah ketika sedang taat. Karena ketika sedang taat, para hamba sangat rawan “taat nafsu”, akhirnya seseorang terjebak dalam ghurur, atau tipudaya dibalik amaliyahnya sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Rasulullah saw, bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;">“Allah Ta’ala menurunkan wahyu kepada salah seorang Nabi dari para NabiNya: “Katakanlah kepada hamba-hambaKu yang tergolong shiddiqun, jangan sampai mereka tertimpa tipudaya. Sebab Aku, bila menegakkan keadilanKu dan kepastian hukumKu kepada mereka, Aku akan menyiksa mereka, tanpa sedikit pun aku menzalimi mereka. Dan katakanlah kepada hambaKu yang ahli dosa, janganlah mereka berputus asa, sebab tak ada dosa besar bagiKu manakala Aku mengampuninya.”</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Bahkan Abu Yazid al-busthami ra mengatakan: “Taubat dari maksiat bisa sekali selesai, tetapi taubat karena taat bisa seribu kali pertaubatan.”</p>
<p style="text-align:justify;">Mengapa kita harus lebih waspada munculnya dosa dibalik taat? Karena nafsu dibalik maksiat itu jelas arahnya, namun nafsu dibalik taat sangat lembut dan tersembunyi.</p>
<p style="text-align:justify;">Diantara nafsu dibalik taat yang menimbulkan dosa dan hijab antara lain:</p>
<p style="text-align:justify;">1. Mengandalkan amal ibadahnya, lupa kepada Sang Pencipta amal.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Bangga atas prestasi amalnya, lupa bahwa yang menggerakkan amal itu bukan dirinya, tetapi Allah swt.</p>
<p style="text-align:justify;">3. Selalu mengungkit ganti rugi, dan banyak tuntutan dibalik amalnya.</p>
<p style="text-align:justify;">4. Mencari keistemewaan amal, hikmah dibalik amal, lupa pada tujuan amalnya.</p>
<p style="text-align:justify;">5. Merasa lebih baik dan lebih hebat dibanding orang yang belum melakukan amaliyah seperti dirinya.</p>
<p style="text-align:justify;">6. Seseorang akan kehilangan kehambaannya, karena merasa paling banyak amalnya.</p>
<p style="text-align:justify;">7. Iblis La’natullah terjebak dalam tipudayanya sendiri, karena merasa paling hebat amal ibadahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">8. Menjadi sombong, karena ia berbeda dengan umunya orang.</p>
<p style="text-align:justify;">9. Yang diinginkan adalah karomah-karomah amal.</p>
<p style="text-align:justify;">10. Ketika amalnya ditolak ia merasa amalnya diterima.</p>
<br />Filed under: <a href='http://bidadari08.wordpress.com/category/artikel-islami-2/'>artikel islami</a> Tagged: <a href='http://bidadari08.wordpress.com/tag/artikel-islami/'>Artikel Islami</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bidadari08.wordpress.com/710/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bidadari08.wordpress.com/710/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bidadari08.wordpress.com/710/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bidadari08.wordpress.com/710/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bidadari08.wordpress.com/710/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bidadari08.wordpress.com/710/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bidadari08.wordpress.com/710/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bidadari08.wordpress.com/710/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bidadari08.wordpress.com/710/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bidadari08.wordpress.com/710/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bidadari08.wordpress.com/710/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bidadari08.wordpress.com/710/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bidadari08.wordpress.com/710/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bidadari08.wordpress.com/710/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&amp;blog=3447897&amp;post=710&amp;subd=bidadari08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bidadari08.wordpress.com/2011/09/13/%e2%80%9ctaubat-dari-maksiat-bisa-sekali-selesai-tetapi-taubat-karena-taat-bisa-seribu-kali-pertaubatan-%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/042a78073904b6dd72c519fb96cf57a8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bidadari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sabar di Atas Ketaatan dan dari Kemaksiatan</title>
		<link>http://bidadari08.wordpress.com/2011/09/13/sabar-di-atas-ketaatan-dan-dari-kemaksiatan/</link>
		<comments>http://bidadari08.wordpress.com/2011/09/13/sabar-di-atas-ketaatan-dan-dari-kemaksiatan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Sep 2011 10:12:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bidadari</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel islami]]></category>
		<category><![CDATA[Mahabatullah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bidadari08.wordpress.com/?p=707</guid>
		<description><![CDATA[Syeikh Abdulqadir Al-Jailani menyatakan, “Seorang hamba harus menghadapi perintah untuk dikerjakan, larangan untuk dijauhi dan takdir yang harus disabari.” Pernyataan beliau ini memiliki dua sisi; sisi pertama dari Allah dan sisi yang lainnya dari hamba. Allah Ta’ala memiliki dua hukum atas hamba-Nya yaitu hukum syar’i dan hukum kauniyah. Hukum syar’i berhubungan dengan perintah Allah dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&amp;blog=3447897&amp;post=707&amp;subd=bidadari08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Syeikh Abdulqadir Al-Jailani menyatakan<em>, “Seorang hamba harus menghadapi perintah untuk dikerjakan, larangan untuk dijauhi dan takdir yang harus disabari.”</em></p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-707"></span>Pernyataan beliau ini memiliki dua sisi; sisi pertama dari Allah dan sisi yang lainnya dari hamba. Allah <em>Ta’ala</em> memiliki dua hukum atas hamba-Nya yaitu hukum <em>syar’i</em> dan hukum <em>kauniyah</em>. Hukum <em>syar’i</em> berhubungan dengan perintah Allah dan hukum <em>kauniyah</em> berhubungan dengan penciptaan-Nya, sebab Allah-lah yang memiliki penciptaan dan perintah, sebagaimana firman-Nya,</p>
<p style="text-align:justify;">أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَاْلأَمْرُ تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ</p>
<p style="text-align:justify;"> <em>“Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam.” </em>(QS. Al-A’raf : 54).</p>
<p style="text-align:justify;"> Hukum <em>syar’i</em> yang menjadi hak Allah itu ditinjau dari yang dituntut ada dua. Pertama, yang dituntut itu dicintai Allah, maka harus dikerjakan ada kalanya hukumnya wajib atau sunnah dan ini tidak bisa dilakukan secara sempurna tanpa kesabaran. Apabila hal itu dibenci Allah maka yang harus dilakukan adalah meninggalkannya, baik hukumnya haram atau makruh. Ini juga harus dengan kesabaran.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun Hukum <em>kauniyah</em>-nya inilah yang dinamakan ketetapan dan takdir Allah, inipun butuh kesabaran.</p>
<p style="text-align:justify;">Sehingga agama kembali kepada tiga hal ini yaitu melaksanakan perintah, menjauhi larangan dan sabar menghadapi takdir Allah, ini dari sisi Allah.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan dari sisi hamba sendiri, mereka tidak akan lepas dari tiga perkara ini selama masih menjadi <em>mukallaf</em>. Tidak akan lepas dari tiga perkara diatas sampai hilang darinya beban <em>taklif</em> (tidak jadi <em>mukallaf</em> lagi). Padahal ketiga perkara diatas tidak akan dapat dihadapi seorang hamba kecuali dengan kesabaran, sehingga seorang hamba harus memiliki tiga kesabaran; sabar diatas ketaatan dan perintah Allah hingga menunaikannya, sabar dari maksiat dan larangan Allah sampai tidak terjerumus padanya, dan sabar menghadapi takdir dan ketetapan Allah hingga tidak murka dengannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketiga hal inilah yang diwasiatkan Luqman kepada anaknya dalam firman Allah,</p>
<p style="text-align:justify;">يَابُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاَةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَآأَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ اْلأُمُورِ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”</em> (QS. Luqman:17).</p>
<p style="text-align:justify;">Demikian juga Allah sampaikan tiga perkara ini dalam firmanNya,</p>
<p style="text-align:justify;">إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا اْلأَلْبَابِ {19} الَّذِينَ يُوفُونَ بِعَهْدِ اللهِ وَلاَيَنقُضُونَ الْمِيثَاقَ {20} وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَآأَمَرَ اللهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيَخشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ {21} وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَآءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلاَنِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُوْلَئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ .22}</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>“Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran,(yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian,dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk. Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Rabbnya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rejeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik).” (</em>QS. Ar-Ra’d: 19-22<em>).</em></p>
<p style="text-align:justify;"> Ibnul Qayim dalam kitab <em>Idatush Shabirin</em> menyatakan, “Yang dimaksud bahwa ayat-ayat ini mencakup seluruh kedudukan (<em>Maqam</em>) Islam dan iman. Ayat-ayat ini mencakup pelaksanaan perintah dan meninggalkan larangan dan sabar menghadapi takdir Allah. Allah juga sampaikan tiga perkara ini dalam firmanNya,</p>
<p style="text-align:justify;">وَإِن تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>“Jika kamu bersabar dan bertakwa.</em>” (QS. Ali Imran:186).<em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Dan,</p>
<p style="text-align:justify;">مَن يَتَّقِ وَيَصْبِرْ</p>
<p style="text-align:justify;"> <em>“Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar.” </em>(QS. Yusuf: 90).<em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Serta,</p>
<p style="text-align:justify;">يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ .200</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” </em>(QS. Ali Imran: 200).</p>
<p style="text-align:justify;">Maka seluruh ayat yang digabungkan ketakwaan dengan sabar mencakup tiga perkara ini, karena hakekat takwa adalah melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan.”</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Mengapa ketaatan butuh kesabaran?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Seseorang harus sabar diatas ketaatan, karena ketaatan itu berat bagi jiwa dan terkadang berat bagi badan, bahkan juga dari sisi harta. Semisal ibadah haji, ibadah ini memerlukan kesabaran menahan diri dari hal-hal yang dilarang, ini tentunya berat dan menyusahkan jiwa pelakunya. Juga dalam haji banyak amalan badan, dari melempar <em>jumrah</em>, <em>thawaf</em>, <em>sa’i</em> dan lain-lainnya yang menyebabkan kesulitan dan kelelahan badan. Ditambah lagi harus keluar uang dan harta yang tidak sedikit. Semua ini tentunya mengharuskan adanya kesabaran.</p>
<p style="text-align:justify;">Demikian juga meninggalkan larangan dan menahan diri dari kemaksiatan butuh sekali kepada kesabaran. Sebab hawa nafsu mendorong kita berbuat maksiat dan melanggar larangan Allah. Sehingga seseorang harus tabah dan sabar menahan dirinya untuk tidak melakukan perbuatan tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu Allah berfirman,</p>
<p style="text-align:justify;">يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوااللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ .200</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” </em>(QS. Ali-Imran: 200).</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Syeikh Ibnu Utsaimin menafsirkan ayat diatas yang intinya adalah, Allah (dalam ayat ini) memerintahkan kaum mukminin berbuat empat perkara:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Bersabar dari kemaksiatan. Kemaksiatan tidak terjadi kecuali ketika hawa nafsu mendorongnya.</li>
<li><em>Mushabarah</em>. Ini ada pada ketaatan, Karena ketaatan berisi dua perkara:</li>
</ul>
<blockquote><p>1. Beban perbuatan pada seseorang dan ia harus memaksakan diri</p>
<p>2. Berat bagi jiwa, karena beratnya melaksanakan ketaatan sama dengan beratnya meninggalkan maksiat bagi jiwa dan hawa nafsu.</p></blockquote>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em>Al-Murabathah</em> yang berarti kebaikan yang banyak dan sinambung diatasnya.</li>
<li>Takwa yang mencakup ketiga hal diatas.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Kemudian Allah menjelaskan bahwa pelaksanaan keempat perkara diatas adalah sebab-sebab timbulnya kesuksesan. (Diambil secara bebas dan perubahan dari kitab <em>Syarhu Riyadh shalihin,</em> 1/122-123).</p>
<p style="text-align:justify;">Siapa yang ingin sukses segera wujudkan keempat perkara diatas!</p>
<p style="text-align:justify;">Demikianlah, kesabaran harus tetap dilatih sekuat mungkin hingga dapat mewujudkan ketakwaan dalam diri kita masing-masing.</p>
<p style="text-align:justify;">Mudah-mudahan bermanfaat.</p>
<br />Filed under: <a href='http://bidadari08.wordpress.com/category/artikel-islami-2/'>artikel islami</a> Tagged: <a href='http://bidadari08.wordpress.com/tag/mahabatullah/'>Mahabatullah</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bidadari08.wordpress.com/707/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bidadari08.wordpress.com/707/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bidadari08.wordpress.com/707/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bidadari08.wordpress.com/707/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bidadari08.wordpress.com/707/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bidadari08.wordpress.com/707/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bidadari08.wordpress.com/707/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bidadari08.wordpress.com/707/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bidadari08.wordpress.com/707/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bidadari08.wordpress.com/707/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bidadari08.wordpress.com/707/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bidadari08.wordpress.com/707/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bidadari08.wordpress.com/707/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bidadari08.wordpress.com/707/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&amp;blog=3447897&amp;post=707&amp;subd=bidadari08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bidadari08.wordpress.com/2011/09/13/sabar-di-atas-ketaatan-dan-dari-kemaksiatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/042a78073904b6dd72c519fb96cf57a8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bidadari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KONSEP IBADAH DALAM ISLAM</title>
		<link>http://bidadari08.wordpress.com/2011/07/10/konsep-ibadah-dalam-islam/</link>
		<comments>http://bidadari08.wordpress.com/2011/07/10/konsep-ibadah-dalam-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Jul 2011 07:12:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bidadari</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel islami]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bidadari08.wordpress.com/?p=703</guid>
		<description><![CDATA[Mukaddimah Hidup manusia dibumi ini bukanlah suatu kehidupan yang tidak mempunyai tujuan dan matlamat dan bukanlah mereka boleh melakukan sesuatu mengikut kehendak perasaan dan keinginan tanpa ada batas dan tanggungjawab. Tetapi penciptaan makhluk manusia di bumi ini adalah mempunyai suatu tujuan dan tugas risalah yang telah ditentu dan ditetapkan oleh Allah Tuhan yang menciptanya. Tugas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&amp;blog=3447897&amp;post=703&amp;subd=bidadari08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Mukaddimah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Hidup manusia dibumi ini bukanlah suatu kehidupan yang tidak mempunyai tujuan dan matlamat dan bukanlah mereka boleh melakukan sesuatu mengikut kehendak perasaan dan keinginan tanpa ada batas dan tanggungjawab.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-703"></span>Tetapi penciptaan makhluk manusia di bumi ini adalah mempunyai suatu tujuan dan tugas risalah yang telah ditentu dan ditetapkan oleh Allah Tuhan yang menciptanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tugas dan tanggungjawab manusia sebenarnya telah nyata dan begitu jelas sebagaimana terkandung di dalam al-Quran iaitu tugas melaksanakan ibadah mengabdikan diri kepada Allah dan tugas sebagai khalifah-Nya dalam makna mentadbir dan mengurus bumi ini mengikut undang-undang Allah dan peraturan- Nya. Firman Allah swt. maksudnya:</p>
<blockquote><p>“Dan Aku Tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah (menyembah) kepada Ku”. (Az-Zaariyaat: 56)</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Firman Allah swt. bermaksud:</p>
<blockquote><p>“Dan Dialah yang menjadikan kamu khalifah (penguasa-penguasa) di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebaha-gian (yang lain) beberapa darjat untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu”. (al-An’aam: 165)</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Tugas sebagai khalifah Allah ialah memakmurkan bumi ini dengan mentadbir serta mengurusnya dengan peraturan dan undang-undang Allah. Tugas beribadah dan mengabdi diri kepada Allah dalam rangka melaksanakan segala aktiviti pengurusan bumi ini yang tidak terkeluar dari garis panduan yang datang dari Allah swt. dan dikerjakan segala kegiatan pengurusan itu dengan perasaan ikhlas kerana mencari kebahagian dunia dan akhirat serta keredaan Allah.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah swt. telah menyediakan garis panduan yang lurus dan tepat kepada manusia dalam rangka pengurusan ini. Allah dengan rasa kasih sayang yang bersangatan kepada manusia diturunkannya para rasul dan bersamanya garis panduan yang diwahyukan dengan tujuan supaya manusia itu boleh mengurus diri mereka dengan pengurusan yang lebih sempurna dan bertujuan supaya manusia itu dapat hidup sejahtera dunia dan akhirat.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pengertian Ibadah<br />
</strong><br />
Kalimat ibadah berasal daripada kalimat `abdun’. Ibadah dari segi bahasa bererti patuh, taat, setia, tunduk, menyembah dan memperhambakan diri kepada sesuatu.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari segi istilah agama Islam pula ialah tindakan, menurut, mengikut dan mengikat diri dengan sepenuhnya kepada segala perkara yang disyariatkan oleh Allah dan diserukan oleh para Rasul-Nya, sama ada ia berbentuk suruhan atau larangan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Taimiah pula memberi takrif Ibadah, iaitu nama bagi sesuatu yang disukai dan kasihi oleh Allah swt.</p>
<p style="text-align:justify;">Perintah Allah dan Rasul-Nya ini hendaklah ditunaikan dengan perasaan penuh sedar, kasih dan cinta kepada Allah, bukan kerana terpaksa atau kerana yang lain dari cintakan kepada-Nya.</p>
<p style="text-align:justify;">Para Nabi dan Rasul merupakan hamba Allah yang terbaik dan sentiasa melaksanakan ibadah dengan penuh kesempurnaan di mana setiap arahan Tuhannya, mereka patuhi dengan penuh perasaan cinta dan kasih serta mengharap keredaan dari Tuhannya. Mereka menjadi contoh teladan yang paling baik kepada kita semua dalam setiap pekerjaan dan amalan sebagaimana yang dianjurkan oleh al-Quran itu sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Firman Allah swt. maksudnya:</p>
<blockquote><p>“Sesungghnya bagi mu, apa yang ada pada diri Rasulullah itu contoh yang paling baik”. (al-Ahzab: 21)</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sesetengah ulama mengatakan bahawa perhambaan (ibadah) kepada Allah hendaklah disertai dengan perasaan cinta serta takut kepada Allah swt. dan hati yang sihat dan sejahtera tidak merasa sesuatu yang lebih manis, lebih lazat, lebih seronok dari kemanisan iman yang lahir dari pengabdian (ibadah) kepada Allah swt. Dengan ini maka akan bertautlah hatinya kepada Allah dalam keadaan gemar dan reda terhadap setiap perintah serta mengharapkan supaya Allah menerima amalan yang dikerjakan dan merasa bimbang serta takut kalau-kalau amalan tidak sempurna dan tidak diterima oleh Allah seperti yang ditegaskan dalam firman-Nya yang bermaksud:</p>
<blockquote><p>“(Ia itu) Oran yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat”. (Qaf: 33)</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Orang yang memperhambakan dirinya (beribadah) kepada Allah mereka akan sentiasa patuh dan tunduk kepada kehendak dan arahan Tuhannya, sama ada dalam perkara yang ia suka atau yang ia tidak suka dan mereka mencintai dan mengasihi Allah dan Rasul-Nya lebih dari yang lain-lainnya. Mereka mengasihi makhluk yang lain hanyalah kerana Allah semata-mata, tidak kerana yang lain Kasihkan kepada Rasulullah saw. pula kerana ia membawa Risalah Islam, cintakan kepada Rasulullah saw. hendaklah mengikuti sunahnya sebagaimana firman Allah swt. maksudnya:</p>
<blockquote><p>“Katakanlah (wahai Muhammad) sekiranya kamu kasihkan Allah maka ikutilah aku (pengajaranku) nescaya Allah akan mengasihi kamu dan mengampunkan dosa- dosa kamu”. (Al-Imran: 31)</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Dan andainya kecintaan kamu kepada selain Allah dan Rasul-Nya itu mengatasi dan melebihi dari kencintaan dan kasih kepada yang lain; Allah akan turunkan keseksaan-Nya kepada manusia yang telah meyimpang dari ketentuan-Nya. Firman Allah swt. maksudnya:</p>
<blockquote><p>“Katakanlah (Muhammad) jika ibu bapa kamu, anak-anak kamu, saudara mara kamu, suami isteri kamu, kaum keluarga kamu, harta benda yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu bimbangkan kerugiannya, dan rumahtangga yang kamu sukai itu lebih kamu kasihi daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad untuk agama Allah, maka tunggulah (kesiksaan yang akan didatangkan) oleh Allah. Dan Allah tidak memberi hidayah kepada orang-orang fasik”. (At-Taubah: 24)</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ruang lingkup Ibadah dan Hubunganya dengan kehidupan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sebgaimana yang dijelaskan di atas nyatalah ibadah itu itu bukanlah sesempit apa yang difahami oleh sebahagian dari kalangan manusia yang tidak dapat memahami kesempurnaan Islam itu sendiri di mana pada anggapan mereka Islam itu hanya suatu perbicaraan pasal akhirat (mati) dan melakukan beberapa jenis ibadah persendirian tidak lebih dari itu. Begitu juga bila disebut ibadah apa yang tergambar hanyalah masjid, tikar sembahyang, puasa, surau, tahlil, membaca al-Quran, doa, zikir dan sebagainya iaitu kefahaman sempit disekitar ibadah-ibadah khusus dan ritual sahaja tidak lebih dari itu. Kefahaman seperti ini adalah akibat dari serangan fahaman Sekular yang telah berakar umbi ke dalam jiwa sebahagian dari kalangan orang-orang Islam.</p>
<p style="text-align:justify;">Islam adalah suatu cara hidup yang lengkap dan sempurna, yang merangkumi semua bidang kehidupan dunia dan akhirat, di mana dunia merupakan tanaman atau ladang yang hasil serta keuntungannya akan dituai dan dinikmati pada hari akhirat kelak.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibadah dalam Islam meliputi semua urusan kehidupan yang mempunyai paduan yang erat dalam semua lapangan hidup dunia dan akhirat, tidak ada pemisahan antara kerja-kerja mencari kehidupan di muka bumi ini dan hubungannya dengan balasan akhirat. Islam mengajarkan kepada kita setiap apa juga amalan yang dilakukan oleh manusia ada nilai dan balasan sama ada pahala atau siksa. Inilah keindahan Islam yang disebut sebagai ad-Deen yang lengkap sebagai suatu sistem hidup yang boleh memberi kesejahteraan hidup penganutnya di dunia dan di akhirat.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan kata lain setiap amalan atau pekerjaan yang membawa manfaat kepada individu dan masyarakat selama ia tidak bercanggah dengan syarak jika sekiranya ia memenuhi syarat-syaratnya, seperti dikerjakan dengan ikhlas kerana Allah semata-mata bukan kerana mencari kepentingan dan mencari nama serta ada niat mengharapkan balasan dari manusia atau ingin mendapat pujian dan sanjungan dari manusia; maka amalan-amalan yang demikian akan mejadi ibadah yang diberi pahala di sisi Allah swt di akhirat kelak, insya’-Allah.</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan kepada konsep ibadah tersebut maka setiap perbuatan pertolongan baik kepada orang lain seperti membantu orang sakit, tolong merengankan beban dan kesukaran hidup orang lain, memenuhi keperluannya, menolong orang yang teraniaya, mengajar dan membimbing orang yang jahil adalah ibadah.</p>
<p style="text-align:justify;">Termasuk juga dalam makna ibadah ialah setiap perbuatan, perkataan manusia zahir dan batin yang disukai dan diredai oleh Allah swt. Bercakap benar, taat kepada ibu bapa, amanah, menepati janji, berakata benar, memenuhi hajat keperluan orang lain adalah iabadah.</p>
<p style="text-align:justify;">Menuntut ilmu, menyuruh perkara kebaikan dan mencegah segala kejahatan, berjihad, memberi pertolongan kepada sesama manusia, dan kepada binatang, berdoa, puasa, sembahyang, membaca al-Quran semuanya itu juga adalah sebahagian dari ibadah.</p>
<p style="text-align:justify;">Begitu juga termasuk dalam pengertian ibadah cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, melaksanakan hukum-hukum Allah, sabar menerima ujian, bersyukur menerima nikmat, reda terhadap qadha’ dan qadar-Nya dan banyak lagi kegiatan dan tindakan manusia yang termasuk dalam bidang ibadah.</p>
<p style="text-align:justify;">Kesimpulannya ruanglingkup ibadah dalam Islam adalah terlalu terlalu luas yang merangkumi semua jenis amalan dan syiar Islam dari perkara yang sekecil-kecilnya seperti cara makan, minum dan masuk ketandas hinggalah kerja-kerja menguruskan kewangan dan pentadbiran negara semuanya adalah dalam makna dan pengertian ibadah dalam ertikata yang luas apabila semuanya itu dikerjakan dengan sebaik-baiknya dengan menurut adab dan peraturan serta memenuhi syarat-syaratnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hubungan Iman dan Amal</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Iman bukanlah sekadar suatu keyakinan dan pembenaran dalam hati terhadap apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. tetapi iman yang hakiki dan sebenar ialah merangkumi pembenaran dan keyakinan di dalam hati, pengucapan di lidah serta melaksanakan amalan dengan anggota badan iaitu melakukan amalan soleh, maka dengan ini dapatlah difahami iman itu bukanlah sekadar ucapan lidah dan keyakinan dalam hati sahaja tetapi amalan merupakan sebagai bukti kesempurnaan, keteguhan dan kemantapan iman seseorang.</p>
<p style="text-align:justify;">Imam al-Ghazali menjelaskan dalam hubungan ini dengan katanya:</p>
<blockquote><p>“Iman itu ialah akidah, perkataan dan perbuatan”.</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Dengan makna akidah itu sebagai membenarkan dan mepercayai dengan hati kepada segala yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. (perkara yang mudah (dharuri) dari agama). Perkataan adalah sebagai ikrar dan pengakuan dengan lisan dan perbuatan adalah sebagai beramal melaksanakan segala perintah Allah dengan anggota (badan yang lahir).</p>
<p style="text-align:justify;">Hadis Rasulullah saw. menguatkan adanya hubungan yang sangat erat di antara iman dan amal. dengan sabdanya sebagai berikut: Sabda Rasulullah saw. maksudnya:</p>
<blockquote><p>“Iman itu lebih dari enam puluh cabang; yang paling tingginya La-Ilaaha-Illallaah dan dan yang paling rendahnya membuang sampah dari tengah jalan”. (H.R.Bukhari)</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Hadis ini menyatakan dengan jelas perbuatan membuang sampah sebagai sebahagian dari iman. Ini bermkna iman itu jelas bukan sekadar keyakinan dan kepercayaan dalam hati tetapi ia juga merangkumi amal atau perbuatan manusia.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pembahagian Ibadah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Untuk memudahkan bahasan dan perbincangan kita berhubung dengan ibadah ini, ulamak-ulamak Islam membahagikan ibadah kepada dua bahagian sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">1. Ibadah khusus</p>
<p style="text-align:justify;">2. Ibadah Umum</p>
<p style="text-align:justify;">Ibadah khusus ialah semua amalan yang tercantum dalam bab al-Ibadaat yang utamanya ialah sembahyang, puasa, zakat dan haji.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibadah Umum pula ialah segala amalan dan segala perbuatan manusia serta gerak-geri dalam kegiatan hidup mereka yang memenuhi syarat-syarat berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">1) Amalan yang dikerjakan itu di akui oleh syarak dan sesuai dengan Islam.</p>
<p style="text-align:justify;">2) Amalan tersebut tidak bercanggah dengan syariat, tidak zalim, khianat dan sebagainya</p>
<p style="text-align:justify;">3) Amalan tersebut dikerjakan dengan niat ikhlas semata-mata keranaAllah swt. tidak riak, ujub dan um’ah.</p>
<p style="text-align:justify;">4) Amalan itu hendaklah dikerjakan dengan sebaik-baiknya</p>
<p style="text-align:justify;">5) Ketika mengerjakan amalan tersebut tidak lalai atau mengabaikan kewajipan ibadah khusus seperti sembahyang dan sebagainya.</p>
<p style="text-align:justify;">Firman Allah swt. maksudnya:</p>
<blockquote><p>“Lelaki yang tidak dilalaikan mereka oleh perniagaan atau jual beli dari mengingati Allah, mendirikan sembahyang dan mengeluarkan zakat mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang”. (An-Nur: 37)</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong>Amalan-Amalan yang Tidak Menjadi Ibadah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dilihat dari syarat-syarat di atas, nampaklah kepada kita bahawa sesuatu amalan yang dikerjakan oleh seseorang begitu sukar sekali untuk mencapai kesempurnaan dalam makna ibadah dengan ertikata yang sebenar-benarnya mengikut syarat-syarat dan ketentuan tersebut di atas, oleh itu kita hendaklah bersungguh-sungguh dalam mengusahakan amalan kita supaya dapat mencapai matlamat ibadah yang sempurna dengan menyempurnakan segala syarat-syaratnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan kita hendaklah sentiasa meneliti dan memperhatikan dengan sungguh-sungguh agar kita tidak tertipu dengan amalan kita sendiri; dengan menyangka kita telah banyak melaksanakan amal ibadah dengan sempurna tetapi pada hakikatnya tidak demikian, kita takut akan tergolong ke dalam golongan manusia yang tertipu dan sia-sia amalan kita dan apa yang kita dapat hanyalah penat dan lelah. Ini kerana kita melakukan amalan dan kerja-kerja kebajikan itu tidak menepati dan tidak selari dengan ketentuan dan syarat-syarat ibadah dan amal soleh yang dikehandkki itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari itu disamping kita melaksanakan segala amalan zahir dengan sempurna mengikut petunjuk dari Rasulullah saw. apa yang lebih penting lagi ialah kita membetulkan amalan batin iaitu amalan hati supaya betul iaitu niat dengan ikhlas, amalan itu semata-mata kerana Allah tidak kerana yang lain dari-Nya. Dan kita juga hendaklah sentiasa menjaga keikhlasan hati kita ini dari penyakit-penyakit yang boleh merusakannya seperti riak, ujub, sum’ah, takabur dan sebagainya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kesimpulan secara mudah ialah seorang lelaki yang memakai pakaian untuk menutup aurat dari kain sutra, dan perempuan yang berpakaian meliputi badannya tetapi masih menampakan susuk badannya masih lagi tidak dinamakan ibadah, atau seorang menderma dengan tujuan supaya dipuji dan digelar sebagai dermawan atau seorang yang rajin bersembahyang dengan niat tujuan supaya digelar sebagai ahli ibadah oleh manusia; itu semua tidak termasuk dalam makna ibadah yang diterima oleh Allah swt.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian jelaslah kepada kita segala amalan yang tidak memenuhi syarat-syarat di atas itu tidak dikira sebagai ibadah. Niat dan tujuan serta manfaat adalah sangat penting dalam sesuatu amalan di samping amalan tersebut tidak bercanggah serta diakui sah oleh syariat Islam.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Manfaat dan Tujuan Ibadah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sebagaimana kita ketahui dan maklum bahawa pengutusan manusia ke dunia ini tidak lain melainkan untuk beribadah (memperhambakan diri) kepada al-Khaliq, Allah Yang Maha Pencipta dan juga kita telah mengetahui bahawa pengertian ibadah dalam Islam merangkumi semua bidang amalan dalam kehidupan manusia.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan di sini timbul pertanyaan kenapa kita mengabdi menyembah Allah dan apakah matlamat ibadah itu ? Apakah ada faedah untuk-Nya atau apa faedah yang boleh didapati oleh seseorang hamba yang menyembah-Nya ?</p>
<p style="text-align:justify;">Jawapannya ialah bahawa Allah swt. Yang Maha Suci dan Maha Tinggi tidak mendapat sebarang faedah dari ketaatan orang yang menyembah-Nya dan tidak memberi mudarat sedikitpun dari keengganan orang yang menentang dan engkar kepada perintah-Nya.</p>
<p style="text-align:justify;">Begitu juga tidak menambahkan kuasa keagungan pemerintahan-Nya oleh puji-pujian orang yang memuji-Nya dan tidak mengurangi keagungan kekuasaan-Nya oleh keengkaran orang-orang yang mengengkari perintah-Nya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ini kerana Allah Maha Kaya dan mempunyai segala-galanya kerana semua yang ada di alam ini menjadi milik-Nya belaka sedangkan kita manusia adalah satu dari makhluk Allah yang banyak itu, makhluk manusia ini terlalu kecil, hina dan miskin, serba kekurangan dan sentiasa berhajat dan memerlukan kepada-Nya.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah, Dialah Tuhan Maha Pemurah, Maha Mulia, Maha Penyayang serta bersifat Maha Memberi kepada semua makhuk-Nya dan Dia tidak menyuruh kita mengerjakan sesuatu melainkan perkara itu mendatangkan kebaikan bagi makhluk itu sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Firman Allah swt. maksudnya:</p>
<blockquote><p>“Sesungguhnya Kami telah kurniakan hikmat (ilmu pengetahuan) kepada Luqman supaya dia bersyukur kepada Allah dan sesiapa yang bersyukur, sebenarnya dia bersyukur dagi faedah dirinya sendiri dan sesiapa yang ingkar, sesungghnya Allah Maha Kaya lagi Terpuji”. (Luqman: 12)</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Dari itu kita wajiblah mensyukuri segala nikmat dan kurniaan Allah swt. kepada kita semua yang mana sekiranya kita hendak menghitugnya sudah tentu kita tidak mampu untuk berbuat demikian, begitulah besar dan banyaknya pemberian Allah kepada kita semua sebagai makhluk-Nya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kelezatan Bermunajat dan Mentaati Allah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kelezatan beribadah ini dapat digambarkan dari beberapa peristiwa yang berlaku kepada baginda Rasulullah saw. para sahabat, tabi’in dan para solihin, kelazatan ini akan timbul apabila adanya hubungan hamba dengan Tuhannya yang begitu erat dan di mana seorang hamba begitu gembira dan begitu senang memuji-muji kebesaran Allah swt. ini semua berlaku dari sebab makrifat-nya (kenalnya) seseorang hamba itu kepada</p>
<p style="text-align:justify;">Tuhannya sehingga hamba itu merasa rindu apabila ia tidak dapat menghadap Tuhannya, dan merasa gelisah kerana tidak dapat bertemu dengan yang dicintai dan dikasihinya. B begitu juga apabila seorang hamba mengalami sedikit kesusahan tentulah ia akan mengadu ketempat yang dapat menerima pengaduan dan boleh menyelesaikan masalah dan kesusahannya. Tiada tempat yang layak untuk berbuat demikian melainkan kepada Yang Maha Agung dan Maha Berkuasa.</p>
<p style="text-align:justify;">Firman Allah swt. maksudnya:</p>
<blockquote><p>“Demi sesungguhnya Kami mengetahui bahawa engkau (Muhammad) bersusah hati dengan apa yang mereka katakan maka hendaklah engkau bertasbih memuji Tuhanmu serta jadilah dari golongan orang-orang yang sujud beribadah dan sembahlah Tuhanmu sehingga tiba kepadmu perkara yang tetap (iaitu mati)”. (al-Hijr: 97-99)</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Begitu juga di waktu orang-orang mukmin mendapat kurnia ia bersyukur seterusnya memuji kepada Allah swt. Firman Allah swt. maksudnya:</p>
<blockquote><p>“Bila datang pertolongan Allah dan kemenangan (pembukaan Makkah) dan engkau lihat manusia berduyun-duyun masuk agama Allah swt. maka ucapkanlah tasbih dengan memuji Tuhanmu dan mintalah ampun kepada-Nya, sesungguhnya Dia suka menerima taubat”. (an-Nasr: 1-4)</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ibadah Hanya Untuk Allah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pada hakikatnya pengabdian terhadap Allah swt. merupakan suatu kebebasan yang hakiki, jalan bagi mencapai kepada ketuannan yang sejati, kerana Allahlah yang boleh membebaskan hati nurani manusia dari perhambaan kepada sebarang makhluk dan memerdekakannya dari perhambaan dan kehinaan serta tunduk kepada yang lain dari Allah seperti tunduk kepada Tuhan-Tuhan palsu, berhala, manusia yang selalunya memperhamba dan mengongkong keyakinan manusia dengan sekuat-kuatnya miskipun pada lahirnya mereka bertindak seperti tuan yang bebas dan merdeka.</p>
<p style="text-align:justify;">Perhambaan diri kepada Allah itu membebaskan manusia daripada perhambaan sesama makhluk kerana dalam hati manusia ada keperluan sejati kepada Allah, kepada Tuhan yang disembah yang mana dia bergantung kepadanya dan berusaha serta bekerja untuk mencapai keredaan-Nya. Jika yang disembah itu bukan Allah Yang Maha Esa tentulah manusia akan meraba-raba meyembah bermacam-macam Tuhan dari setiap objek benda dan khayalan yang ada dalam pemikiran dan yang berada di sekeliling mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak ada sesuatu pekerjaan yang paling mulia bagi manusia yang berakal selain dari beribadah menyembah Allah yang menciptanya dan menjadikan dirinya dengan sebaik-baiknya dan perkerjaan yang seburuk-buruknya kepada seorang manusia itu pula ialah menafi dan mendustakan Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka menyembah dan mengabdikan diri mereka kepada Tuhan yang lain dari Allah swt.</p>
<p style="text-align:justify;">Seorang hamba abdi yang taat kepada tuannya tentulah akan merasa senang dan gembira kerana ia tahu apa yang disukai oleh tuannya lalu disempurnakannya suruhan itu dengan segala senang hati dan disempurnakan dengan sebaik-baiknya. Manakala seorang hamba yang dimiliki oleh beberapa orang tuan selalu bertelingkah antara sesama mereka; yang satu menyuruh hamba itu melakukan sesuatu yang ditegah oleh yang lain, maka alangkah susah dan deritanya hamba tersebu itu untuk melakukan perintah-perintah Tuhan yang saling bertentangan perintahnya antara satu Tuhan dengan Tuhan yang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau orang yang menyembah selain dari Allah menjadi musyrik (kafir di- sebabkan ia melakukan perbuatan syirik), maka begitulah juga orang yang takabur menjadi musyrik (orang syirik), sebagaimana Firaun kerana kesombongan dan takaburnya, sebagaimana firman Allah swt. bermaksudnya:</p>
<blockquote><p>“Nabi Musa as. berkata: “Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhan kamu daripada perbuatan orang yang takabur yang tidak percaya hari Perhitungan”, demikianlah Allah meterikan setiap hati orang yang takabur lagi bermaharajalela”. (al-A’raf: 27)</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kajian menunjukan bahawa semakin besar keangkuhan seseorang yang enggan tunduk dan patuh beribadah (mengabdi diri) kepada Allah, semakin besar kesyirikannya dengan Allah, Kerana menurut kebiasaannya semakin banyak takabur tidak mahu menyembah Allah semakin bertambahlah pergantungan manusia itu terhadap makhluk yang dicintainya yang menjadi pujaan utama bagi hatinya; yang demikian mereka akan menjadi musyrik dengan sebab menjadikan dirinya hamba (menyembah) kepada selain dari Allah swt.</p>
<p style="text-align:justify;">Hati atau keyakinan manusia tidak akan terlepas dari perhambaan kepada makhluk kecuali mereka menjadikan Allah sebagai Tuhannya yang sebenar dan sejati, tiada Tuhan yang disembah melainkan Allah, tiada tempat bergantung dan meminta pertolongan melainkan dari-Nya, Tidak merasa gembira melainkan dengan apa yang disukai dan diredai-Nya, Tidak ia benci melainkan apa yang dibenci oleh Allah, tidak ia memusuhi kecuali orang yang Allah memusuhinya, tidak ia kasih melainkan kepada orang yang di kasihi oleh Allah, tidak ia memberi kecuali kerana Allah dan tidak ia melarang kecuali kerana Allah.</p>
<p style="text-align:justify;">Semakin tulus keikhlasan seseorang itu kepada Allah maka semakin sempurnalah ubudiyahnya (perhambaanya) kepada Allah dan terlepas dari pergantungannya kepada sesama makhluk, dengan sempurna ubudiyahnya kepada Allah maka sempurnalah kesuciannya dari sifat syirik.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Tidak Harus Kepentingan Dunia Dijadikan Tujuan Ibadah<br />
</strong><br />
Samasekali tidak sesuai dengan tujuan Islam yang suci di mana tujuan atau kepentingan dunia menjadi matlamat dalam amalan atau ibadah seseorang, ataupun kepentingan dunia atau faedah-faedah dunia menjadi pendorong seseorang untuk melakukan printah ibadah kepada Allah swt.</p>
<p style="text-align:justify;">Begitu juga kalau tujuan beramal dan beribadah kepada Allah swt. untuk mendapatkan kesucian jiwa dan dengan itu dapat mengembara ke alam arwah dan dapat melihat malaikat serta dapat melakukan sesuatu yang luar biasa, mendapat keramat (kemuliaan) dan ilmu ladunni.</p>
<p style="text-align:justify;">Semuanya ini disangkal oleh para ulamak dengan katanya: “Yang demikian adalah terkeluar daripada jalan ibadah, Ia merupakan ramalan kepada ilmu atau perkara ghaib, malah akan menjadi ibadah kepada Allah itu sebagai jalan menuju ke arah demikian yang mana pada akhirnya lebih hampir kepada meninggal ibadah.”Orang-orang yang beribadah dengan maksud yang demikian termasuk di bawah pengertian ayat al-Quran yang maksudnya:</p>
<blockquote><p>“Sebahagian daripada manusia yang menyembah Allah secara tidak tetap, bila mendapat kebaikan dia teruskan dan bila terkena kesusahan dia berpaling tadah. Rugilah dia di dunia dan di akhirat. Itulah kerugian yang amat nyata”. (al-Hajj: 11)</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Begitulah keadaan orang yang beribadah dengan tujuan mendapatkan faedah-faedah dunyawi jika sampai dan berhasil tujuan dan kehendaknya bergembiralah dia dan kuatlah tujuannya tetapi lemahlah ibadahnya jika tujuannya tidak berhasil dia meninggalkan ibadah itu.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sebagaimana yang telah kita faham sebelum ini runglingkup ibadah itu adalah terlalu luas sebagaimana yang telah dijelaskan iaitu ibadah merupakan semua kegiatan hidup manusia itu sendiri yang sesuai dengan syariat Islam yang suci dan murni itu, oleh itu bolehlah difaham ibadah dalam Islam bermula sejak dari adab-adab masuk ketandas mengerjakan qadha’ hajat hinggalah sampai kepada bagaimana cara mengurus kewangan dan mentadbir negara.</p>
<p style="text-align:justify;">Kegiatan hidup manusia ini akan termasuk ke dalam makna ibadah yang diberi ganjaran dan pembalasan pahala baik di akhirat apabila ia menepati dengan kehendak syarak, tidak menyeleweng dari kehendak dan ketentuan Allah swt. dikerjakan mengikut peraturan dan syarat-syaratnya, disertai pula dengan niat yang betul dan ikhlas semata-mata dilakukan kerana mencari keredaan Allah swt. tidak kerana yang lain dari-Nya, menghindarkan diri dari perasaan riak, (menunjuk-nunjuk), ingin dipuji dan terkenal sebagai orang yang rajin, tekun, orang baik dan ingin disebut-sebut sebagai ahli ibadah oleh orang ramai dan juga suka berbangga dengan memberi tahu kepada orang lain akan amal kebajikannya. Ia juga hendaklah menghindarkan diri dari merasa bangga kerana ia telah banyak berbuat kebajikan dan berbuat amal ibadah.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh itu ibadah dalam Islam bukanlah terhad kepada amalan-amalan ibadah yang ritual semata-mata seperti sembahyang, zikir, puasa, haji dan sebagainya yang disebut sebagai ibadah khusus, tetapi ibadah merangkumi, kerja-kerja kemasyarakatan dan sosial, mencari rezki, sahinggalah kepada mengurus dan mentadbir negara; semuanya itu akan menjadi ibadah sekiranya ia dilakukan menurut cara dan kehendak Islam serta niat dari hati yang ikhlas semata-mata kerana Allah swt.</p>
<p style="text-align:justify;">Wallahu a’lam.</p>
<br />Filed under: <a href='http://bidadari08.wordpress.com/category/artikel-islami-2/'>artikel islami</a> Tagged: <a href='http://bidadari08.wordpress.com/tag/ibadah/'>Ibadah</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bidadari08.wordpress.com/703/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bidadari08.wordpress.com/703/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bidadari08.wordpress.com/703/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bidadari08.wordpress.com/703/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bidadari08.wordpress.com/703/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bidadari08.wordpress.com/703/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bidadari08.wordpress.com/703/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bidadari08.wordpress.com/703/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bidadari08.wordpress.com/703/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bidadari08.wordpress.com/703/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bidadari08.wordpress.com/703/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bidadari08.wordpress.com/703/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bidadari08.wordpress.com/703/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bidadari08.wordpress.com/703/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&amp;blog=3447897&amp;post=703&amp;subd=bidadari08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bidadari08.wordpress.com/2011/07/10/konsep-ibadah-dalam-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/042a78073904b6dd72c519fb96cf57a8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bidadari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Saling Mencintai Karena Iman</title>
		<link>http://bidadari08.wordpress.com/2011/06/19/saling-mencintai-karena-iman/</link>
		<comments>http://bidadari08.wordpress.com/2011/06/19/saling-mencintai-karena-iman/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Jun 2011 15:08:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bidadari</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel islami]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Islami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bidadari08.wordpress.com/?p=697</guid>
		<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين, والصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد : Pada artikel sebelumnya saya pernah menuliskan tentang tidak ada cinta kecuali cinta yang satu, bahwa tidak ada cinta hakiki kecuali didasari atas cinta kepada Allah. kita mencintai orang tua atas dasar perintah Allah, kita menyayangi dan mencintai istri/suami kita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&amp;blog=3447897&amp;post=697&amp;subd=bidadari08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>بسم الله الرحمن الرحيم</p>
<p>الحمد لله رب العالمين, والصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد :</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://bidadari08.files.wordpress.com/2011/06/all-my-love-forever.jpg"><img src="http://bidadari08.files.wordpress.com/2011/06/all-my-love-forever.jpg?w=200" alt="Saling Mencintai Karena Iman" border="0" /></a>Pada <a title="Artikel Islami" href="http://www.artikelislami.com/">artikel</a> sebelumnya saya pernah menuliskan tentang <a title="tidak ada cinta kecuali cinta yang satu" href="http://www.artikelislami.com/2011/06/tidak-ada-cinta-kecuali-cinta-yang-satu.html">tidak ada cinta kecuali cinta yang satu</a>, bahwa tidak ada cinta hakiki kecuali didasari atas cinta kepada Allah. kita mencintai orang tua atas dasar perintah Allah, kita menyayangi dan mencintai istri/suami kita atas dasar perintah dari Allah, dan kita menyayangi sesama juga atas dasar perintah Allah. jika kita mencintai Allah terlebih dahulu, maka kita akan mengamalkan segala perintahnya, termasuk kepada siapa dan bagaimana kita mencintai.</p>
<p><span id="more-697"></span>Hubungan kekeluargaan dan kekerabatan maupun hubungan antar sesama tidak akan pernah lepas dari perasaan cinta dan kasih sayang. hanya saja cinta dan kasih sayang seperti apa yang dapat menuntun kita kepada keikhlasan, dan cinta kasih sayang model apa yang Allah ridhoi?</p>
<blockquote><p>&#8220;karena cinta dan kasih sayang bukanlah sekedar pengakuan dan ucapan, akan tetapi lebih kepada bukti dan tindakan.&#8221;</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">
Mencintai orang tua karena tuntutan status yang mana sebagai anak harus mencintai orang tua, maka cinta itu tidak akan dapat mengantarkan kita kepada keikhlasan dan akan selalu berkurang dengan perubahan status. lihat saja disekeliling! banyak anak terutama anak laki-laki, yang mencintai orang tuanya dan selalu memenuhi kebutuhan mereka. akan tetapi itu semua berkurang bahkan tidak lagi dilakukannya setelah dia menikah. pekerjaan dan keluarga &#8220;baru&#8221; telah menyibukkannya dari berbakti kepada orang tua. asal kita ketahui saja, setelah anak laki-laki menikah maka hak orang tuanya masih tetap besar atas dirinya. berbeda dengan anak perempuan, setelah dia menikah maka hak suami menjadi lebih besar dan utama dari pada hak orang tuanya.</p>
<p>Apakah berbakti kepada orang tua itu ada batas waktunya? apakah membantu dan memenuhi kebutuhan mereka hanya karena status kita sebagai anak? jika demikian, cinta kita bukanlah cinta yang didasari oleh iman kita kepada Allah. bukan atas dasar cinta yang satu, cinta Allah. jika cinta kita benar-benar dilandasi cinta kepada Allah, pastilah kita akan melakukan sesuai yang Dia perintahkan kepada kita dalam firman-Nya :</p>
<div style="text-align:justify;">وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا</div>
<p style="text-align:justify;">
Artinya : &#8220;Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: &#8220;Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.&#8221; (QS Al-Israa&#8217; : 24)</p>
<p>Apakah perintah Allah diatas terdapat pembatasan status? apakah Allah memerintahkan kita hanya untuk mendoakan orang tua saja? tidak. karena diawal ayat Allah memerintahkan kita untuk merendahkan diri dengan penuh kesayangan kepada mereka. bukankah itu tindakan dan bukan sekedar doa. karena cinta dan kasih sayang bukanlah sekedar pengakuan dan ucapan, akan tetapi lebih kepada bukti dan tindakan. Sikap kita kepada mereka adalah bukti kasih sayang kita kepada mereka.</p>
<p>Begitu juga cinta kepada suami/istri. jika kita menikah hanya bermodalkan kata &#8220;aku cinta kamu&#8221; maka jangan harap cinta itu akan tetap membekas pada kehidupan anda setelah menikah. banyak dari pasangan suami istri mengeluh bahwa cinta mereka tidak lagi sama sebagaimana cinta mereka pada awal-awal pernikahan. saya katakan, tidak ada cinta yang sama kecuali cinta yang didasari tanggung jawab, dan tidak ada cinta yang hakiki kecuali yang bermula dari cinta kepada Allah.</p>
<p>Pernikahan adalah titipan terbesar dari Allah kepada hamba-Nya. sebuah tanggung jawab terbesar selama hidup manusia. karena itu Allah menyebutnya sebagai &#8220;perjanjian yang kuat.&#8221; maka cinta kepada suami/istri harus didasari cinta kepada Allah terlebih dahulu. sadar akan posisi seorang suami sebagai pemegang tertinggi <a title="Menjaga Amanah Pernikahan" href="http://www.artikelislami.com/2010/10/menjaga-amanah-pernikahan.html">amanah pernikahan</a> dan sebagai orang yang bertanggung jawab atas ucapan akad ketika dia menikahi istrinya. sadar bahwa dia menerima pernikahan tersebut dengan nama Allah.</p>
<blockquote><p>&#8220;Pernikahan adalah titipan terbesar dari Allah kepada hamba-Nya. sebuah tanggung jawab terbesar selama hidup manusia.&#8221;</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">
Seorang istri pun harus demikian. sadar akan posisinya sebagai orang paling bertanggung jawab atas harta dan anak-anak suaminya. sadar bahwa dalam mengarungi samudra kehidupan ini dia mempunyai seorang nahkoda yang harus selalu didukung dan ditaati. jika istri membiarkan nahkodanya salah dalam mengarahkan kapalnya, maka dia akan tenggelam bersama nahkoda dan seisi kapalnya. istri harus sadar bahwa pernikahannya sah karena nama Allah telah diucapkan didalamnya.</p>
<p>Maka sebelum semuanya terlambat, ubahlah dasar cinta kita yang dahulu karena nafsu dan tuntutan status menjadi cinta yang didasari karena iman dan cinta kepada Allah. karena hanya cinta inilah yang tidak terikat dengan waktu dan abadi, dan tidak akan berkurang sedikitpun walau angka tahun selalu berganti. cinta yang akan menjadikan kita selalu bersama dengan orang-orang yang kita cintai baik didunia maupun diakherat.</p>
<p style="text-align:justify;">
<br />Filed under: <a href='http://bidadari08.wordpress.com/category/artikel-islami-2/'>artikel islami</a> Tagged: <a href='http://bidadari08.wordpress.com/tag/artikel-islami/'>Artikel Islami</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bidadari08.wordpress.com/697/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bidadari08.wordpress.com/697/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bidadari08.wordpress.com/697/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bidadari08.wordpress.com/697/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bidadari08.wordpress.com/697/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bidadari08.wordpress.com/697/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bidadari08.wordpress.com/697/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bidadari08.wordpress.com/697/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bidadari08.wordpress.com/697/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bidadari08.wordpress.com/697/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bidadari08.wordpress.com/697/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bidadari08.wordpress.com/697/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bidadari08.wordpress.com/697/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bidadari08.wordpress.com/697/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&amp;blog=3447897&amp;post=697&amp;subd=bidadari08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bidadari08.wordpress.com/2011/06/19/saling-mencintai-karena-iman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/042a78073904b6dd72c519fb96cf57a8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bidadari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bidadari08.files.wordpress.com/2011/06/all-my-love-forever.jpg?w=200" medium="image">
			<media:title type="html">Saling Mencintai Karena Iman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menata Hati Meraih Kedamaian Hati</title>
		<link>http://bidadari08.wordpress.com/2011/05/01/menata-hati-meraih-kedamaian-hati/</link>
		<comments>http://bidadari08.wordpress.com/2011/05/01/menata-hati-meraih-kedamaian-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 May 2011 07:42:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bidadari</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel islami]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Islami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bidadari08.wordpress.com/?p=694</guid>
		<description><![CDATA[Banyak sekali problematika dalam kehidupan yang menyangkut ketidakcocokan seseorang dengan yang lain, seperti dengan teman, saudara, bahkan dengan orantua sekalipun, dengan berbagai alasan yang dikemukakan. Bagaimana menyikapi ketidakcocokan ini? عَنْ زَرْبِيّ قَالَ: سَمِعْتُ اَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُوْلُ: جَاءَ شَيْخٌ يُرِيْدُ النَّبِيَّ ص فَاَبْطَأَ اْلقَوْمُ عَنْهُ اَنْ يُوَسّعُوْا لَهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ ص: لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&amp;blog=3447897&amp;post=694&amp;subd=bidadari08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div></div>
<p style="text-align:justify;">Banyak sekali problematika dalam kehidupan yang menyangkut ketidakcocokan seseorang dengan yang lain, seperti dengan teman, saudara, bahkan dengan orantua sekalipun, dengan berbagai alasan yang dikemukakan. <span id="more-694"></span>Bagaimana menyikapi ketidakcocokan ini?</p>
<h2 style="text-align:justify;">عَنْ زَرْبِيّ قَالَ: سَمِعْتُ اَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُوْلُ: جَاءَ شَيْخٌ يُرِيْدُ النَّبِيَّ ص فَاَبْطَأَ اْلقَوْمُ عَنْهُ اَنْ يُوَسّعُوْا لَهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ ص: لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَ لَمْ يُوَقّرْ كَبِيْرَنَا. الترمذى</h2>
<p style="text-align:justify;"><strong>Dari Zarbiy, ia berkata : Aku mendengar Anas bin Malik berkata : Ada seorang tua yang datang ingin menemui Rasulullah SAW, lalu orang-orang tidak segera memberi jalan kepadanya, maka Nabi SAW bersabda, &#8220;Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak kasih sayang kepada yang lebih muda, dan tidak menghormati kepada yang lebih tua&#8221;. (HR. Tirmidzi )</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sahabat ketidakcocokan kita dengan seseorang mungkin hal yang wajar, namun ketika ketidakcocokan itu menjadi suatu prahara dan membuat kita terjangkit penyakit hati, maka sahabat perlu mewaspadainya, sahabat mari kita simak sebuah kisah yang saya cuplik dari salah satu website Islam berikut ini:</p>
<p><strong>Dikisahkan</strong>, seorang wanita baru menikah dengan pria yang dicintai dan tinggal serumah dengan ibu mertuanya. Tidak lama setelah mereka berumah tangga, sangat terasa banyak ketidakcocokan di antara menantu dan sang mertua. Hampir setiap hari terdengar kritikan dan omelan dari ibu mertua. Percekcokan pun seringkali terjadi. Apalagi sang suami tidak mampu berbuat banyak atas sikap ibunya.</p>
<p>Saat sang menantu merasa tidak tahan lagi dengan dominasi ibu mertuanya, dia pun akhirnya memutuskan untuk melakukan sesuatu demi melampiaskan sakit hati dan kebenciannya. Pergilah si menantu menemui teman baik ayahnya, seorang penjual obat ramuan tradisional. Wanita itu menceritakan kisah sedih dan sakit hatinya dan memohon agar dapat diberikan bubuk beracun untuk membunuh ibu mertuanya.</p>
<p>Setelah berpikir sejenak, dengan senyumnya yang bijak, si paman menyatakan kesanggupannya untuk membantu, tetapi dengan syarat yang harus dipatuhi si menantu. Sambil memberi sekantong bubuk ramuan yang dibuatnya, sang paman berpesan, &#8220;Nak, untuk menyingkirkan mertuamu, jangan memberi racun yang bereaksi cepat, agar orang-orang tidak akan curiga. Karena itu, saya memberimu ramuan yang secara perlahan akan meracuni ibu mertuamu. Setiap hari campurkan sedikit ramuan ini ke dalam masakan kesukaan ibu mertuamu dari hasil masakanmu sendiri. Kamu harus bersikap baik, menghormati, dan tidak berdebat dengannya. Perlakukan dia layaknya ibumu sendiri, agar saat ibu mertuamu meninggal nanti, orang lain tidak akan menaruh curiga kepada kamu.&#8221;</p>
<p>Dengan perasaan lega dan senang, diturutinya semua petunjuk sang paman penjual obat. Dilayaninya sang ibu mertua dengan sangat baik dan penuh perhatian. Setiap hari, ia menyuguhkan aneka makanan kesukaan si ibu mertua. Tidak terasa, empat bulan telah berlalu dan terjadilah perubahan yang sangat besar. Dari hari ke hari, melihat sang menantu yang bersikap penuh perhatian kepadanya, ibu mertua pun merasa tersentuh. Ia berbalik mulai menyayangi si menantu bahkan memperlakukannya seperti anaknya sendiri. Dia juga memberitahu teman-teman dan kenalannya bahwa menantunya adalah seorang penuh kasih dan menyayanginya.</p>
<p>Menyadari perubahan positif ini, sang menantu cepat-cepat datang lagi menemui sang paman penjual obat, &#8220;Tolong berikan kepada saya obat pencegah racun pembunuh ibu mertua saya. Setelah saya patuhi nasihat paman, ibu mertua saya berubah sangat baik dan menyayangi saya seperti anaknya sendiri. Tolong paman, saya tidak ingin dia meninggal karena racun yang telah saya berikan.&#8221; Sang paman tersenyum puas dan berkata &#8220;Anakku, kamu tidak perlu khawatir. Bubuk yang saya berikan dulu bukanlah racun, tetapi ramuan untuk meningkatkan kesehatan. Racun yang sebenarnya ada di dalam pikiran dan sikapmu terhadap ibu mertua. Sekarang semua racun itu telah punah oleh kasih dan perhatian yang kamu berikan kepadanya.&#8221;</p>
<p>Sahabat, Rasulullah adalah suri tauladan yang baik, bak pohon yang dilempar batu, &#8220;dilempar batu tapi memberikan buah yang dapat mengenyangkan perut&#8221;.<strong> Apapun sikap yang kita dapatkan dari orang lain, seyogyanya kita harus tetap memberikan apa yang terbaik yang kita miliki, kasih sayang dan perhatian yang kita berikan kepada orang yang tidak menyukai kita sekalipun takKan pernah sia-sia terlebih di Mata Allah swt. </strong></p>
<p>Jadi jangan pernah berhenti atau lelah dalam berbuat baik kepada siapapun karena kasih dan perhatian mendatangkan kepedulian, ketulusan, dan kerelaan untuk berkorban. Kasih dan perhatian mampu melepaskan kita dari belenggu kesalahpahaman, meluluhkan ketidakpedulian, hati yang keras, dan pikiran yang penuh kebencian.</p>
<h2 style="text-align:justify;">عَنْ عَبِدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اَلرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمنُ، اِرْحَمُوْا مَنْ فِى اْلاَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَآءِ. الترمذى و قال هذا حديث حسن صحيح</h2>
<p style="text-align:justify;"><strong>Dari &#8216;Abdullah bin &#8216;Amr, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, &#8220;Orang-orang yang penyayang itu dikasihi oleh Tuhan Yang Maha Penyayang. Maka sayangilah yang di bumi, pasti yang di langit akan menyayangi kalian. (HR. Tirmidzi)</strong></p>
<p>Kasih dan perhatian juga mendatangkan kedamaian dan merekatkan perbedaan menjadi suatu kedekatan yang menyenangkan. Jika setiap hari kita mau memberikan kasih dan perhatian kepada orang di sekeliling kita, maka kehidupan kita pasti akan lebih bermakna dan berbahagia..</p>
<br />Filed under: <a href='http://bidadari08.wordpress.com/category/artikel-islami-2/'>artikel islami</a> Tagged: <a href='http://bidadari08.wordpress.com/tag/artikel-islami/'>Artikel Islami</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bidadari08.wordpress.com/694/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bidadari08.wordpress.com/694/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bidadari08.wordpress.com/694/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bidadari08.wordpress.com/694/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bidadari08.wordpress.com/694/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bidadari08.wordpress.com/694/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bidadari08.wordpress.com/694/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bidadari08.wordpress.com/694/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bidadari08.wordpress.com/694/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bidadari08.wordpress.com/694/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bidadari08.wordpress.com/694/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bidadari08.wordpress.com/694/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bidadari08.wordpress.com/694/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bidadari08.wordpress.com/694/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&amp;blog=3447897&amp;post=694&amp;subd=bidadari08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bidadari08.wordpress.com/2011/05/01/menata-hati-meraih-kedamaian-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/042a78073904b6dd72c519fb96cf57a8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bidadari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berkhidmat Pada Suami</title>
		<link>http://bidadari08.wordpress.com/2011/05/01/berkhidmat-pada-suami/</link>
		<comments>http://bidadari08.wordpress.com/2011/05/01/berkhidmat-pada-suami/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 May 2011 07:28:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bidadari</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel islami]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Islami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bidadari08.wordpress.com/?p=691</guid>
		<description><![CDATA[Pulang dari bekerja, semestinya adalah waktu untuk beristrirahat bagi suami selaku kepala rumah tangga. Namun banyak kita jumpai fenomena di mana mereka justru masih disibukkan dengan segala macam pekerjaan rumah tangga sementara sang istri malah ngerumpi di rumah tetangga. Bagaimana istri shalihah menyikapi hal ini? Salah satu sifat istri shalihah yang menandakan bagusnya interaksi kepada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&amp;blog=3447897&amp;post=691&amp;subd=bidadari08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;" align="left"><span style="font-family:Arial;">Pulang dari bekerja, semestinya adalah waktu untuk beristrirahat bagi suami selaku kepala rumah tangga. Namun banyak kita jumpai fenomena di mana mereka justru masih disibukkan dengan segala macam pekerjaan rumah tangga sementara sang istri malah ngerumpi di rumah tetangga. Bagaimana istri shalihah menyikapi hal ini?</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="left"><span style="font-family:Arial;"><span id="more-691"></span>Salah satu sifat istri shalihah yang menandakan bagusnya interaksi kepada suaminya adalah berkhidmat kepada sang suami dan membantu pekerjaannya sebatas yang ia mampu. Ia tidak akan membiarkan sang suami melayani dirinya sendiri sementara ia duduk berpangku tangan menyaksikan apa yang dilakukan suaminya. Ia merasa enggan bila suaminya sampai tersibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan rumah, memasak, mencuci, merapikan tempat tidur, dan semisalnya, sementara ia masih mampu untuk menanganinya. Sehingga tidak mengherankan bila kita mendapati seorang istri shalihah menyibukkan harinya dengan memberikan pelayanan kepada suaminya, mulai dari menyiapkan tempat tidurnya, makan dan minumnya, pakaiannya, dan kebutuhan suami lainnya. Semua dilakukan dengan penuh kerelaan dan kelapangan hati disertai niat ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan sungguh ini merupakan bentuk perbuatan ihsannya kepada suami, yang diharapkan darinya ia akan beroleh kebaikan.</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="left"><span style="font-family:Arial;">Berkhidmat kepada suami ini telah dilakukan oleh wanita-wanita utama lagi mulia dari kalangan shahabiyyah, seperti yang dilakukan Asma’ bintu Abi Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhuma yang berkhidmat kepada Az-Zubair ibnul Awwam radhiallahu ‘anhu, suaminya. Ia mengurusi hewan tunggangan suaminya, memberi makan dan minum kudanya, menjahit dan menambal embernya, serta mengadon tepung untuk membuat kue. Ia yang memikul biji-bijian dari tanah milik suaminya sementara jarak tempat tinggalnya dengan tanah tersebut sekitar 2/3 farsakh1.” (HR. Bukhari no. 5224 dan Muslim no. 2182)</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="left"><span style="font-family:Arial;">Demikian pula khidmatnya Fathimah bintu Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah suaminya, Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, sampai-sampai kedua tangannya lecet karena menggiling gandum. Ketika Fathimah datang ke tempat ayahnya untuk meminta seorang pembantu, sang ayah yang mulia memberikan bimbingan kepada yang lebih baik:</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="left"><span style="font-family:Arial;"><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="right"><span style="font-family:Arial;">أَلاَ أَدُلُّكُماَ عَلَى ماَ هُوَ خَيْرٌ لَكُماَ مِنْ خاَدِمٍ؟ إِذَا أَوَيْتُماَ إِلَى فِرَاشِكُماَ أَوْ أَخَذْتُماَ مَضاَجِعَكُماَ فَكَبَّرَا أًَرْبَعاً وَثَلاَثِيْنَ وَسَبَّحاَ ثَلاَثاً وَثَلاَثِيْنَ وَحَمِّدَا ثَلاَثاً وَثَلاثِيْنَ، فَهَذَا خَيْرٌ لَكُماَ مِنْ خاَدِمٍ</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="left"><span style="font-family:Arial;"><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="left"><span style="font-family:Arial;">“Maukah aku tunjukkan kepada kalian berdua apa yang lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu? Apabila kalian mendatangi tempat tidur kalian atau ingin berbaring, bacalah Allahu Akbar 34 kali, Subhanallah 33 kali, dan Alhamdulillah 33 kali. Ini lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu.” (HR. Al-Bukhari no. 6318 dan Muslim no. 2727)</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="left"><span style="font-family:Arial;">Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu, menikahi seorang janda untuk berkhidmat padanya dengan mengurusi saudara-saudara perempuannya yang masih kecil. Jabir berkisah: “Ayahku meninggal dan ia meninggalkan 7 atau 9 anak perempuan. Maka aku pun menikahi seorang janda. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya padaku:</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="left"><span style="font-family:Arial;"><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="right"><span style="font-family:Arial;">تَزَوَّجْتَ ياَ جاَبِر؟ فَقُلْتُ: نَعَمْ. فَقاَلَ: بِكْرًا أَمْ ثَيِّباً؟ قُلْتُ: بَلْ ثَيِّباً. قاَلَ: فَهَلاَّ جاَرِيَةً تُلاَعِبُهاَ وَتُلاَعِبُكَ، وَتُضاَحِكُهاَ وَتُضاَحِكُكَ؟ قاَلَ فَقُلْتُ لَهُ: إِنَّ عَبْدَ اللهِ هَلَكَ وَ تَرَكَ بَناَتٍ، وَإِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أَجِيْئَهُنَّ بِمِثْلِهِنَّ، فَتَزَوَّجْتُ امْرَأَةً تَقُوْمُ عَلَيْهِنَّ وَتُصْلِحُهُنَّ. فَقاَلَ: باَرَكَ اللهُ لَكَ، أَوْ قاَلَ: خَيْرًا</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="left"><span style="font-family:Arial;"><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="left"><span style="font-family:Arial;">“Apakah engkau sudah menikah, wahai Jabir?”</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="left"><span style="font-family:Arial;">“Sudah,” jawabku.</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="left"><span style="font-family:Arial;">“Dengan gadis atau janda?” tanya beliau.</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="left"><span style="font-family:Arial;">“Dengan janda,” jawabku.</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="left"><span style="font-family:Arial;">“Mengapa engkau tidak menikah dengan gadis, sehingga engkau bisa bermain-main dengannya dan ia bermain-main denganmu. Dan engkau bisa tertawa bersamanya dan ia bisa tertawa bersamamu?” tanya beliau.</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="left"><span style="font-family:Arial;">“Ayahku, Abdullah, meninggal dan ia meninggalkan anak-anak perempuan dan aku tidak suka mendatangkan di tengah-tengah mereka wanita yang sama dengan mereka. Maka aku pun menikahi seorang wanita yang bisa mengurusi dan merawat mereka,” jawabku.</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="left"><span style="font-family:Arial;">Beliau berkata: “Semoga Allah memberkahimu”, atau beliau berkata: “Semoga kebaikan bagimu.” (HR. Al-Bukhari no. 5367 dan Muslim no. 1466)</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="left"><span style="font-family:Arial;">Hushain bin Mihshan berkata: “Bibiku berkisah padaku, ia berkata: “Aku pernah mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena suatu kebutuhan, beliaupun bertanya:</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="left"><span style="font-family:Arial;"><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="right"><span style="font-family:Arial;">أَيْ هذِهِ! أَذَاتُ بَعْلٍ؟ قُلْتُ: نَعَم. قاَلَ: كَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟ قُلْتُ: ماَ آلُوْهُ إِلاَّ ماَ عَجَزْتُ عَنْهُ. قاَلَ: فَانْظُرِيْ أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإِنَّماَ هُوَ جَنَّتُكَ وَناَرُكَ</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="left"><span style="font-family:Arial;"><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="left"><span style="font-family:Arial;">“Wahai wanita, apakah engkau telah bersuami?”</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="left"><span style="font-family:Arial;">“Iya,” jawabku.</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="left"><span style="font-family:Arial;">“Bagaimana engkau terhadap suamimu?” tanya beliau.</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="left"><span style="font-family:Arial;">“Aku tidak mengurang-ngurangi dalam mentaatinya dan berkhidmat padanya, kecuali apa yang aku tidak mampu menunaikannya,” jawabku.</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="left"><span style="font-family:Arial;">“Lihatlah di mana keberadaanmu terhadap suamimu, karena dia adalah surga dan nerakamu,” sabda beliau. (HR. Ibnu Abi Syaibah dan selainnya, dishahihkan sanadnya oleh Asy-Syaikh Al- Albani rahimahullah dalam Adabuz Zifaf, hal. 179)</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="left"><span style="font-family:Arial;">Namun di sisi lain, suami yang baik tentunya tidak membebani istrinya dengan pekerjaan yang tidak mampu dipikulnya. Bahkan ia melihat dan memperhatikan keberadaan istrinya kapan sekiranya ia butuh bantuan.</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="left"><span style="font-family:Arial;">Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam gambaran suami yang terbaik. Di tengah kesibukan mengurusi umat dan dakwah di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, beliau menyempatkan membantu keluarganya dan mengerjakan apa yang bisa beliau kerjakan untuk dirinya sendiri tanpa membebankan kepada istrinya, sebagaimana diberitakan istri beliau, Aisyah radhiallahu ‘anha ketika Al-Aswad bin Yazid bertanya kepadanya:</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="left"><span style="font-family:Arial;"><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="right"><span style="font-family:Arial;">ماَ كاَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ فِي الْبَيْتِ؟ قاَلَتْ: كاَنَ يَكُوْنُ فِيْ مِهْنَةِ أَهْلِهِ –تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ- فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلاَةِ</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="left"><span style="font-family:Arial;"><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="left"><span style="font-family:Arial;">“Apa yang biasa dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam rumah?”</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="left"><span style="font-family:Arial;">Aisyah radhiallahu ‘anha menjawab: “Beliau biasa membantu pekerjaan istrinya. Bila tiba waktu shalat, beliau pun keluar untuk mengerjakan shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 676, 5363)</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="left"><span style="font-family:Arial;">Dalam riwayat lain, Aisyah radhiallahu ‘anha menyebutkan pekerjaan yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan di rumahnya:</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="left"><span style="font-family:Arial;"><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="right"><span style="font-family:Arial;">ماَ يَصْنَعُ أَحَدُكُمْ فِيْ بَيْتِهِ، يَخْصِفُ النَّعْلَ وَيَرْقَعُ الثَّوْبَ وَيُخِيْطُ</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="left"><span style="font-family:Arial;"><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="left"><span style="font-family:Arial;">“Beliau mengerjakan apa yang biasa dikerjakan salah seorang kalian di rumahnya. Beliau menambal sandalnya, menambal bajunya, dan menjahitnya.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 540, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 419 dan Al-Misykat no. 5822)</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="left"><span style="font-family:Arial;"><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="right"><span style="font-family:Arial;">كاَنَ بَشَرًا مِنَ الْبَشَرِ، يَفْلِي ثَوْبَهُ وَيَحْلُبُ شاَتَهُ</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="left"><span style="font-family:Arial;"><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="left"><span style="font-family:Arial;">“Beliau manusia biasa. Beliau menambal pakaiannya dan memeras susu kambingnya”. (HR. Al- Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 541, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 420 dan Ash-Shahihah 671)</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="left"><span style="font-family:Arial;">Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.</span></p>
<br />Filed under: <a href='http://bidadari08.wordpress.com/category/artikel-islami-2/'>artikel islami</a> Tagged: <a href='http://bidadari08.wordpress.com/tag/artikel-islami/'>Artikel Islami</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bidadari08.wordpress.com/691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bidadari08.wordpress.com/691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bidadari08.wordpress.com/691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bidadari08.wordpress.com/691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bidadari08.wordpress.com/691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bidadari08.wordpress.com/691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bidadari08.wordpress.com/691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bidadari08.wordpress.com/691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bidadari08.wordpress.com/691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bidadari08.wordpress.com/691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bidadari08.wordpress.com/691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bidadari08.wordpress.com/691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bidadari08.wordpress.com/691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bidadari08.wordpress.com/691/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&amp;blog=3447897&amp;post=691&amp;subd=bidadari08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bidadari08.wordpress.com/2011/05/01/berkhidmat-pada-suami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/042a78073904b6dd72c519fb96cf57a8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bidadari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rahasia Laki-laki Penghuni Surga</title>
		<link>http://bidadari08.wordpress.com/2011/04/22/rahasia-laki-laki-penghuni-surga/</link>
		<comments>http://bidadari08.wordpress.com/2011/04/22/rahasia-laki-laki-penghuni-surga/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Apr 2011 14:19:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bidadari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Islami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bidadari08.wordpress.com/?p=684</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu amalan yang harus diamalkan umat Islam adalah menjauhi sifat iri hati, dengki dan hasad. Menjauhi sifat-sifat yang bagaikan  virus itu, merupakan bagian dari sikap yang harus dilakukan umat Islam. Sebab hal itu bukan saja merugikan bagi yang menjadi sasaran dengki dan hasad, tetapi juga merugikan diri orang itu sendiri. Ada kisah tentang tingkah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&amp;blog=3447897&amp;post=684&amp;subd=bidadari08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Salah satu amalan yang harus diamalkan umat Islam adalah menjauhi sifat iri hati, dengki dan hasad. Menjauhi sifat-sifat yang bagaikan  virus itu, merupakan bagian dari sikap yang harus dilakukan umat Islam. Sebab hal itu bukan saja merugikan bagi yang menjadi sasaran dengki dan hasad, tetapi juga merugikan diri orang itu sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-684"></span>Ada kisah tentang tingkah laku seorang sahabat sahabat  yang oleh Nabi Muhammad saw dijamin bakal menjadi penghuni surga yang kekal. Kisahnya demikian.</p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah pada suatu ketika duduk bersama sahabat. Saat itu lewatlah sahabat lain. Sahabat itu tidak menonjol, biasa saja,. Tetapi kepada para sahabat yang lain, Nabi berkata tentang sahabat yang satu ini. “Dia adalah seorang lelaki calon penghuni surga,” kata beliau sambil menunjuk lelaki itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Mendengar itu, Abdullah bin Umar menjadi penasaran. Ia berupaya mengetahui rahasia kehidupan orang yang dipastikan oleh Nabi sebagai penghuni surga itu. “Apa amalan lelaki Anshar ini, dan apa pula kelebihannhya,” kata Abdulah dalam hati.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk menyelidiki orang tersebut, Abdullah bin Umar pun meminta diperbolehkan tinggal selama beberapa hari di rumah sahabat yang dikatakan Nabi calon penghuni surga itu. “Jika tidak keberatan, aku ingin tinggal bersamamu untuk beberapa hari saja,” katanya. “Ada apa dengan kamu?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Aku baru saja bertengkar dengan ayahku. Dan aku bersumpah tidak ingin bertemu dengannya selam tiga hari ini,” kata Abdullah berbohong. “Boleh, silahkan kapan saja dan berapa lama pun bisa,” kata sahabat itu dengan ramah.</p>
<p style="text-align:justify;">Selama tiga hari itu, diamatinya tingkah laku dan tindak tanduk sahabat itu dalam kehidupan sehari-harinya. Namun, setelah beberapa hari tinggal beberapa hari di rumah sahabat itu, Abdullah tidak menyaksikan kelebihan amalan atas sahabat itu. Ia menyaksikan kehidupan bakal penghuni surga itu biasa-biasa saja, amalan shalatnya pun biasa-biasa saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat hendak pamit, Abdullah terpaksa “membuka kartu” dan bertanya kepada tuan rumah bakal penghuni surga itu. “Saudaraku, sebenarnya aku tidak apa-apa dengan ayahku,” kata Abdullah. “Lalu ada apa kau tidur di rumahku?” tanya lelaki Anshar itu. “Beberapa hari yang lalu, ketika kami sedang berkumpul dengan Nabi di masjid, beliau mengatakan bahwa sebentar lagi akan ada orang Anshar calon penghuni surga masuk ke masjid itu. Dan laki-laki Anshar yang disebut-sebut Rasulullah itu adalah kamu.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ah, benarkah begitu?” kata lelaki Anshar itu merendahkan diri. “Benar, Nabi berkata begitu. Cuma kini kami ingin tahu, apa sebenarnya amalan tuan sehingga Rasulullah memastikan tuan akan masuk surga?” tanya Abdullah.</p>
<p style="text-align:justify;">“Oh, jadi selama ini kamu menyelidiki aku ya?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ya,” katanya terus terang.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tak ada amalan khusus yang aku amalkan. Beginililah kehidupan saya sehari-hari sebagaimana yang anda saksikan sendiri beberapa hari di sini.” Kata sahabat Anshar itu. Mendengar jawaban itu, Abdullah semakin penasaran. “Tetapi masih ada sesuatu yang anda rahasiakan kepadaku.”</p>
<p style="text-align:justify;">Pada akhirnya orang bakal penghuni surga itu juga ikut ”membuka kartu” dan mengungkapkan apa adanya. “Sesungguhnya yang aku amalkan dari ajaran Nabi adalah biasa saja. Aku berusaha sekuat tenaga tidak akan melakukan perbuatan yang merugikan sesama kaum Muslimin. Aku berusaha selalu berusaha membersihkan hatiku dengan tidak pernah memiliki sifat iri hati serta menaruh rasa dengki dan hasad kepada orang lain sepanjang hidupku. Apalagi hasad terhadap kenikmatan yang diterima orang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">“Hanya itu?” tanya Abdullah. “Ya,” jawabnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Mendengar pengakuan jujur lelaki itu, Abdullah bin Umar semakin takjub mendengarnya. Secara lahiriah, amalan lelaki Anshar itu tak terlalu istimewa. Tetai secara rohaniah, amalan itu sungguh luar biasa. Bukankah memang banyak orang yang mampu menunaikan shalat tetapi tak mampu menjaga hatinya dari rasairi, dengki, hasad dan prasangka buruk kepada orang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">“Subhanallah, rupanya inilah amalan utama yang telah menjadikan dirimu mendapat kemuliaan di surga,” kata Abdullah di dalam hati sambil berpamitan meninggalkan rumah lelaki itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Begitulah rahasia yang ditemukan Abdullah bin Umar pada sahabat itu, sehingga ia mendapat jaminan Rasulullah akan menjadi penghuni surga. Kuncinya tidak iri hati, hasad, dan dengki kepada orang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Amalan shalat sebanyak apapun tidak akan berguna jika di dalam hati orang itu masih terdapat sifat dengki dan iri hati. Orang yang terpuji di sisi Allah adalah orang yang menjalankan shalat dengan ikhlas dan menjauhi sifat dengki dan hasad seperti sahabat itu.**</p>
<br />Filed under: <a href='http://bidadari08.wordpress.com/category/kisah-islami/'>Kisah Islami</a> Tagged: <a href='http://bidadari08.wordpress.com/tag/kisah-islami/'>Kisah Islami</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bidadari08.wordpress.com/684/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bidadari08.wordpress.com/684/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bidadari08.wordpress.com/684/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bidadari08.wordpress.com/684/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bidadari08.wordpress.com/684/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bidadari08.wordpress.com/684/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bidadari08.wordpress.com/684/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bidadari08.wordpress.com/684/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bidadari08.wordpress.com/684/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bidadari08.wordpress.com/684/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bidadari08.wordpress.com/684/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bidadari08.wordpress.com/684/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bidadari08.wordpress.com/684/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bidadari08.wordpress.com/684/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&amp;blog=3447897&amp;post=684&amp;subd=bidadari08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bidadari08.wordpress.com/2011/04/22/rahasia-laki-laki-penghuni-surga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/042a78073904b6dd72c519fb96cf57a8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bidadari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penggembala Buta Huruf Yang Cerdik</title>
		<link>http://bidadari08.wordpress.com/2011/04/22/penggembala-buta-huruf-yang-cerdik/</link>
		<comments>http://bidadari08.wordpress.com/2011/04/22/penggembala-buta-huruf-yang-cerdik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Apr 2011 14:17:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bidadari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Islami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bidadari08.wordpress.com/?p=682</guid>
		<description><![CDATA[Seorang lelaki yang sedang sibuk menggembalakan domba-dombanya di padang rumput dihampiri seorang cendekiawan. Terjadilah perbincangan antara keduanya. Dari perbincangan itu, cendekiawan itu mengetahui bahwa penggembala itu buta huruf.             “Mengapa engkau tidak belajar?” Tanya cendekiawan.             “Aku telah mendapatkan sari semua ilmu. Karena itu, aku tidak perlu belajar lagi,” jawab penggembala mantap.             “Coba jelaskan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&amp;blog=3447897&amp;post=682&amp;subd=bidadari08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Seorang lelaki yang sedang sibuk menggembalakan domba-dombanya di padang rumput dihampiri seorang cendekiawan. Terjadilah perbincangan antara keduanya. Dari perbincangan itu, cendekiawan itu mengetahui bahwa penggembala itu buta huruf.</p>
<p style="text-align:justify;">   <span id="more-682"></span>         “Mengapa engkau tidak belajar?” Tanya cendekiawan.</p>
<p style="text-align:justify;">            “Aku telah mendapatkan sari semua ilmu. Karena itu, aku tidak perlu belajar lagi,” jawab penggembala mantap.</p>
<p style="text-align:justify;">            “Coba jelaskan pelajaran apa yang telah kamu peroleh!” pinta sang cendekiawan. Sambil menatap lelaki berpenampilan rapi itu, penggembala menjelaskan : “Sari semua ilmu pengetahuan ada lima. <em>Pertama, </em>selagi masih ada peluang untuk bersikap jujur, aku tidak akan pernah berbohong. <em>Kedua, </em>selama masih ada makanan halal, aku tidak akan pernah memakan makanan haram. <em>Ketiga, </em>jika masih ada cela (kekurangan) dalam diriku, aku tidak akan pernah mencari-cari (mempersalahkan) keburukan orang lain. <em>Keempat, </em>selagi rizki Allah masih ada di bumi, aku tidak akan memintanya kepada orang lain. <em>Kelima, </em>sebelum menginjakkan kaki di surga, aku tidak akan pernah melupakan tipu daya setan.”</p>
<p style="text-align:justify;">            Cendekiawan itu sangat kagum atas jawaban penggembal seraya berkata, “Kawan, semua ilmu telah terkumpul dalam dirimu. Siapapun yang mengetahui kelima hal yang kau sebutkan tadi dan dapat melaksanakanya, pasti dapat mencapai tujuan ilmu-ilmu Islam serta tidak memerlukan buku-buku ilmu dan filsafat.”</p>
<br />Filed under: <a href='http://bidadari08.wordpress.com/category/kisah-islami/'>Kisah Islami</a> Tagged: <a href='http://bidadari08.wordpress.com/tag/kisah-islami/'>Kisah Islami</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bidadari08.wordpress.com/682/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bidadari08.wordpress.com/682/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bidadari08.wordpress.com/682/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bidadari08.wordpress.com/682/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bidadari08.wordpress.com/682/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bidadari08.wordpress.com/682/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bidadari08.wordpress.com/682/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bidadari08.wordpress.com/682/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bidadari08.wordpress.com/682/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bidadari08.wordpress.com/682/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bidadari08.wordpress.com/682/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bidadari08.wordpress.com/682/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bidadari08.wordpress.com/682/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bidadari08.wordpress.com/682/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&amp;blog=3447897&amp;post=682&amp;subd=bidadari08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bidadari08.wordpress.com/2011/04/22/penggembala-buta-huruf-yang-cerdik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/042a78073904b6dd72c519fb96cf57a8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bidadari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sifat Rendah Hati</title>
		<link>http://bidadari08.wordpress.com/2011/04/03/sifat-rendah-hati/</link>
		<comments>http://bidadari08.wordpress.com/2011/04/03/sifat-rendah-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Apr 2011 02:35:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bidadari</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel islami]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Islami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bidadari08.wordpress.com/?p=677</guid>
		<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين, والصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد : Anggota dari kelompok orang-orang yang ingkar biasanya bersifat kasar, tidak peduli, dan buruk akhlaknya. Semua ini disebabkan keegoisan orang-orang yang ingkar. Mereka menyangka dapat hidup sendiri sehingga tidak memerlukan yang lainnya. Akan tetapi, kelompok orang beriman sangat berbeda dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&amp;blog=3447897&amp;post=677&amp;subd=bidadari08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>بسم الله الرحمن الرحيم</p>
<p>الحمد لله رب العالمين, والصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد :</p>
<div>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://bidadari08.files.wordpress.com/2011/04/rendah_hati.jpg"><img src="http://bidadari08.files.wordpress.com/2011/04/rendah_hati.jpg?w=230" border="0" alt="Sifat Rendah Hati" /></a>Anggota  dari kelompok orang-orang yang ingkar biasanya bersifat kasar, tidak  peduli, dan buruk akhlaknya. Semua ini disebabkan keegoisan orang-orang  yang ingkar. Mereka menyangka dapat hidup sendiri sehingga tidak  memerlukan yang lainnya. Akan tetapi, kelompok orang beriman sangat  berbeda dengan orang-orang tersebut karena salah satu karakter orang  beriman ialah menahan nafsu serakah.</p>
<p><span id="more-677"></span>Mereka yang dapat menahan  nafsu akan menjadi orang yang penuh perhatian terhadap sesama. Al-Qur`an  memberitakan jenis pengorbanan antara orang-orang Mekah yang hijrah  bersama Rasulullah -sholallahu &#8216;alaihi wasallam-. (Muhajirin) dan  orang-orang Madinah yang menolong mereka (Anshar),</p>
<div style="text-align:justify;">وَالَّذِينَ  تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ  هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا  أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ  وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ</div>
<p>“Dan  orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman  (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang  yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam  hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang  Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri  mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan  itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah  orang-orang yang beruntung.” (QS Al-Hasyr : 9)</p>
<p>Seperti yang  disebutkan dalam ayat tersebut, orang-orang beriman harus mendahulukan  kepentingan saudaranya di atas kepentingan pribadi. Itulah  sebenar-benarnya iman: kepatuhan dan persaudaraan.</p>
<p>Mendahulukan  kepentingan saudaranya tidak terbatas dalam berhubungan dengan hal-hal  fisik saja. Ukhuwah juga tidak terpisah dari pemikiran. Seseorang yang  beriman harus menyadari kebutuhan dan masalah saudaranya lebih dari  dirinya sendiri.</p>
<p>Sikap kasar dan berakhlak buruk menunjukkan  kelemahan iman seseorang. Seseorang yang tidak menyadari betapa  tindakannya akan memengaruhi orang lain dan berbuat menurut apa yang  “dikehendaki” saja, bukanlah contoh orang beriman yang digambarkan  Allah. Al-Qur`an menitikberatkan hal ini dengan beberapa contoh tindakan  yang berakhlak mulia maupun yang buruk. Dan yang terpenting adalah  dengan memuliakan dan menghormati Rasululah -sholallahu &#8216;alaihi  wasallam-.</p>
<div style="text-align:justify;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا  لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ  إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ</div>
<p>“Hai orang-orang yang beriman,  janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada  Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS  Al-Hujuraat : 1)</p>
<div style="text-align:justify;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ  آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلَّا أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ  إِلَى طَعَامٍ غَيْرَ نَاظِرِينَ إِنَاهُ وَلَكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ  فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوا وَلَا مُسْتَأْنِسِينَ  لِحَدِيثٍ إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيِي مِنْكُمْ  وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ  مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ  لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ وَمَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ  اللَّهِ وَلَا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَدًا إِنَّ  ذَلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمًا</div>
<p>“Hai orang-orang yang  beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu  diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak  (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu  selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan.  Sesungguhnya, yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu  kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu  (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan)  kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir.  Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak  boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini  istri-istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya, perbuatan  itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.” (QS Al-Ahzab : 53)</p>
<p>Orang  yang dibesarkan dengan ajaran Al-Qur`an akan menjadi mulia, sopan,  santun, dan berakhlak mulia. Inilah sifat alami orang beriman yang  mendahului kepentingan saudaranya di atas kepentingan pribadi dan yang  memberi makan orang-orang fakir, anak yatim, dan para tahanan karena  cinta kepada Allah. Berakhlak mulia menjadi sifat penghuni surga. Tidak  mengganggu saudaranya ketika mempunyai urusan penting, berdiam diri  ketika temannya sedang shalat, membuat saudaranya merasa aman,  menawarkan bantuan dan melayani mereka tanpa bertanya merupakan contoh  perbuatan baik. Akan tetapi, semua itu merupakan contoh yang menuntut  perubahan situasi dan kondisi.</p>
<p>semoga kita selalu mendapatkan  perlindungan Allah dalam segala perbuatan yang dapat mencerminkan rendah  hati yang dianjurkan Rasulullah -sholallahu &#8216;alaihi wasallam-, amin</p></div>
<br />Filed under: <a href='http://bidadari08.wordpress.com/category/artikel-islami-2/'>artikel islami</a> Tagged: <a href='http://bidadari08.wordpress.com/tag/artikel-islami/'>Artikel Islami</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bidadari08.wordpress.com/677/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bidadari08.wordpress.com/677/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bidadari08.wordpress.com/677/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bidadari08.wordpress.com/677/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bidadari08.wordpress.com/677/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bidadari08.wordpress.com/677/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bidadari08.wordpress.com/677/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bidadari08.wordpress.com/677/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bidadari08.wordpress.com/677/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bidadari08.wordpress.com/677/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bidadari08.wordpress.com/677/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bidadari08.wordpress.com/677/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bidadari08.wordpress.com/677/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bidadari08.wordpress.com/677/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&amp;blog=3447897&amp;post=677&amp;subd=bidadari08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bidadari08.wordpress.com/2011/04/03/sifat-rendah-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/042a78073904b6dd72c519fb96cf57a8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bidadari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bidadari08.files.wordpress.com/2011/04/rendah_hati.jpg?w=230" medium="image">
			<media:title type="html">Sifat Rendah Hati</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengertian Dan Waktu Shalat</title>
		<link>http://bidadari08.wordpress.com/2011/03/31/pengertian-dan-waktu-shalat/</link>
		<comments>http://bidadari08.wordpress.com/2011/03/31/pengertian-dan-waktu-shalat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Mar 2011 09:59:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bidadari</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel islami]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bidadari08.wordpress.com/?p=675</guid>
		<description><![CDATA[PENGERTIAN SHOLAT Sholat ( الصلاة ) secara bahasa mempunyai arti doa. Sedangkan menurut istilah syar&#8217;i sholat adalah ucapan dan perbuatan yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam dengan syarat-syarat tertentu. Keutamaan sholat Sholat adalah yang paling utama dari ibadah-ibadah badaniyah yang tampak, kemudian puasa, haji dan zakat, fardlu dan sunnah-sunnahnya sholat adalah utama-utamanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&amp;blog=3447897&amp;post=675&amp;subd=bidadari08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PENGERTIAN SHOLAT</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sholat ( الصلاة )  secara bahasa  mempunyai arti doa. Sedangkan menurut istilah syar&#8217;i  sholat adalah  ucapan dan perbuatan yang dimulai dengan takbiratul ihram  dan diakhiri  dengan salam dengan syarat-syarat tertentu.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span id="more-675"></span>Keutamaan sholat</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sholat  adalah yang paling utama dari ibadah-ibadah badaniyah yang  tampak,  kemudian puasa, haji dan zakat, fardlu dan sunnah-sunnahnya  sholat  adalah utama-utamanya fardlu dan sunnah. Sholat merupakan rukun  islam  yang ke dua, dan dia adalah tiangnya agama. Keutamaannya sangat  besar  sebagaimana yang dalam salah satu firman Allah SWT ;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya  : &#8220;Dan laksanakanlah sholat pada kedua ujung siang (pagi dan  petang)  dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu  menghapus  kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang  selalu  mengingat (Allah).&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">(QS ; Hud : 114)</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Dan hadits Nabi SAW :</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Sesungguhnya  seorang hamba ketika berdiri dalam sholat dibukakan  untuknya  surga-surga, dan disingkapkan untuknya penutup antara dia dan  tuhannya,  dan menghadap kepadanya para bidadari selama dia tidak  mengeluarkan  ingus  atau berdahak.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">(HR. Al-Thobroni, di dalam &#8220;Al-Kabir&#8221; dari haditsnya Abi Umamah)</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Dan hadits :</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Sesungguhnya  seorang hamba ketika berdiri sholat didatangkan  dosa-dosanya dan  diletakkan diatas kepalanya -atau diatas pundaknya- dan  ketika dia  ruku&#8217; atau sujud dosa-dosanya berguguran.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">(HR. Al-Thobroni didalam &#8220;Al-Ausath&#8221; (8:154) ).</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>WAKTU SHOLAT</strong></p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Sholat-sholat  maktubah (wajib) ada lima, yaitu ; Dhuhur, &#8216;Ashr, Magrib,  &#8216;Isya&#8217; dan  shubuh, yang ditetapkan dalam Al-Qur&#8217;an didalam dua ayat ;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya :</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Maka  bertasbihlah kepada Allah pada petang hari dan pada pagi hari  (waktu  shubuh) . Dan segala puji bagi-Nya baik di langit, di bumi, pada  malam  hari dan pada waktu dhuhur (tengah hari) .</p>
<p style="text-align:justify;">(Q.S Ar-Ruum :17-18)</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">[kata tasbih didalam ayat tersebut yang dimaksud adalah sholat. (Tafsir  Showi, juz:3, hal:301) ]</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Dan ayat :</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya :</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Laksanakanlah  sholat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam  dan  (laksanakan pula sholat) subuh. Sungguh, sholat shubuh itu  disaksikan  (oleh malaikat).&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">(Q.S Al-Isra&#8217; : 78)</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>PEMBAGIAN WAKTU SHOLAT</strong></p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Waktu setiap sholat terbagi menjadi enam bagian, yaitu ;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>1. Waktu Fadlilah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ketika  seseorang sholat pada waktu ini maka dia mendapatkan fadlilahnya  awal  waktu. Mendapatkannya fadlilah awal waktu ini dengan sebab  menyibukkan  diri dengan sebab-sebab sholat, mulai dari masuknya waktu  sholat,  kemudian segera mengerjakan sholat.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebab-sebab sholat seperti menjawab adzan, bersuci, menutup aurat,  menunggu jama&#8217;ah dan sebagainya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2. Waktu ikhtiyar</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Syari&#8217; memilih sholat dikerjakan pada waktu ini jika sholat tidak  dikerjakan pada waktu fadlilah.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3. Waktu jawaz</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sholat boleh diakhirkan sampai pada waktu ini, dan terkadang dengan  kemakruhan dan terkadang tidak makruh.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>4. Waktu hurmah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sholat haram diakhirkan sampai pada waktu ini, karena akan menjatuhkan  sebagian dari sholat diluar waktu.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>5. Waktu udzur</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sholat boleh dikerjakan pada waktu ini karena ada udzur, seperti saat  bepergian atau sakit.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>6. Waktu dloruroh</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Yaitu  akhir waktu ketika hilangnya penghalang sholat -seperti haidl dan   lainnya- dan waktu hanya tersisa sekadar takbiratul ihram saja atau   lebih.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>PERTAMA : SHOLAT DHUHUR</strong></p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Dinamakan  Dhuhur karena sholat ini dikerjakan pada waktu tengah hari.  Ada yang  mengatakan dinamakan Dhuhur karena sholat Dhuhur adalah sholat  yang  pertama kali muncul dalam islam.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Waktu sholat Dhuhur masuk  saat waktu zawal ( condongnya matahari ke arah  terbenamnya ). Dan  waktunya habis ketika bayangan sesuatu menyamai  panjangnya kecuali  bayangan istiwa&#8217; (matahari tepat diatas), bayangan  yang tampak ketika  waktu istiwa&#8217; tidak dihitung.</p>
<p style="text-align:justify;">Contohnya : Jika panjang bayangan  ketika istiwa&#8217; adalah empat jari dan  tingginya seseorang adalah 1,5 M,  maka waktu Dhuhur keluar ketika  panjang bayangan sudah sama dengan  tingginya orang itu selain bayangan  yang tampak ketika istiwa&#8217; ( 1,5 M +  4 jari ).</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">WAKTU SHOLAT DHUHUR :</p>
<p style="text-align:justify;">1. Waktu fadlilah :</p>
<p style="text-align:justify;">Dari awal waktu dengan kadar kesibukan menyiapkan sebab-sebab sholat.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Waktu ikhtiyar :</p>
<p style="text-align:justify;">Dari awal waktu sampai tersisa kadar waktu yang memuat untuk sholat.</p>
<p style="text-align:justify;">3. Waktu jawaz :</p>
<p style="text-align:justify;">Dari awal waktu sampai tersisa kadar waktu yang memuat untuk sholat.</p>
<p style="text-align:justify;">4. Waktu hurmah :</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika waktu sudah tidak cukup dibuat melakukan sholat.</p>
<p style="text-align:justify;">5. Waktu udzur :</p>
<p style="text-align:justify;">Seluruh waktu &#8216;Ashar</p>
<p style="text-align:justify;">6. Waktu dloruroh :</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi  wanita yang haid dan nifas dan yang lainnya ketika penghalang  sholat  sudah hilang dan waktu sholat tersisa hanya cukup digunakan untuk   takbiratul ihram.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>KE DUA : SHOLAT &#8216;ASHR</strong></p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8216;Ashr  dalam bahasa berarti masa, dia adalah utama-utamanya sholat lima  waktu  dan sholat wustho yang ditunjukkan dalam firman Allah SWT :</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya :</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;peliharalah semua sholat dan sholat wustho[1],  dan laksanakanlah (sholat) karena Allah dengan khusuk. &#8220;</p>
<p style="text-align:justify;">(Q.S Al-Baqarah : 238)</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">[1] = sholat wustho menurut hadits yang shohih  adalah sholat &#8216;Ashr.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">WAKTU SHOLAT &#8216;ASHR :</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Waktu  sholat &#8216;Ashr masuk ketika bayangan sesuatu sudah menyamai  panjangnya  selain bayangan istiwa&#8217; dan lebih sedikit. Dan waktunya  keluar ketika  matahari terbenam.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>1. Waktu fadlilah :</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dari awal waktu dengan kadar kesibukan dengan sebab-sebab sholat.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Waktu ikhtiyar :</p>
<p style="text-align:justify;">Dari berakhirnya waktu fadlilah sampai bayangan sesuatu panjangnya dua  kali lipat dari panjang sesuatu tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">3. Waktu jawaz tanpa ada kemakruhan :</p>
<p style="text-align:justify;">Dari berakhirnya waktu ikhtiyar sampai sinar matahari kekuning-kuningan.</p>
<p style="text-align:justify;">4. Waktu jawaz dengan kemakruhan :</p>
<p style="text-align:justify;">Dari sinar matahari kekuning-kuningan sampai tersisa waktu yang cukup  digunakan untuk sholat.</p>
<p style="text-align:justify;">5. Waktu hurmah :</p>
<p style="text-align:justify;">ketika tersisa waktu tidak cukup untuk sholat.</p>
<p style="text-align:justify;">6. Waktu udzur :</p>
<p style="text-align:justify;">Seluruh waktu dhuhur.</p>
<p style="text-align:justify;">7. Waktu dloruroh :</p>
<p style="text-align:justify;">ketika penghalang sholat sudah hilang dan tersisa waktu yang hanya cukup  untuk takbiratul ihram saja.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>KE TIGA : SHOLAT MAGHRIB</strong></p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Waktu sholat Maghrib masuk dari terbenamnya matahari, dan keluar dengan  terbenamnya / hilangnya mega merah di ufuk.</p>
<p style="text-align:justify;">Ini  adalah madzhabnya imam Syafi&#8217;i yang lama (madzhab qodim), sedangkan   dalam madzhabnya yang baru (madzhab jadid) bahwa waktu maghrib sangat   pendek, yaitu sekadar menjawab adzan, menutup aurat, bersuci, dan sholat   sekadar lima raka&#8217;at, ada yang mengatakan sekadar tujuh raka&#8217;at. Akan   tetapi sekelompok ulama&#8217; syafi&#8217;iyyah memilih madzhab qodim karena   kuatnya dalil pada madzhab qodim. Sekelompok ulama&#8217; itu diantaranya :   Ibnu Mundzir, Ibnu Khuzaimah, Al Khithobiy, As Suhailiy, Al Ghozali, Al   Baghowi, Ar Royyani, Ibnu Sholah, Ath Thobari dan An Nawawi didalam   semua kitab-kitab mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">1. Waktu fadlilah :</p>
<p style="text-align:justify;">Dari awal waktu dengan kadar kesibukan menyiapkan sabab-sabab sholat.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Waktu ikhtiyar :</p>
<p style="text-align:justify;">Waktu ikhtiyar dalam sholat maghrib adalah waktu fadhilah itu sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">3. Waktu jawaz tanpa ada kemakruhan :</p>
<p style="text-align:justify;">Sama dengan waktu ikhtiyar.</p>
<p style="text-align:justify;">4. Waktu jawaz dengan kemakruhan :</p>
<p style="text-align:justify;">Dari habisnya waktu fadlilah sampai tersisa waktu yang cukup digunakan  untuk sholat.</p>
<p style="text-align:justify;">5. Waktu hurmah :</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika tersisa waktu yang tidak cukup untuk mengerjakan sholat .</p>
<p style="text-align:justify;">6. Waktu udzur :</p>
<p style="text-align:justify;">Seluruh waktu sholat &#8216;isya .</p>
<p style="text-align:justify;">7. Waktu dloruroh :</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika penghalang sholat telah hilang (suci dari haid misalnya) dan  waktu sholat hanya tersisa untuk takbiratul ihram saja.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>KE EMPAT : SHOLAT &#8216;ISYA</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Waktu sholat &#8216;isya masuk dengan hilangnya mega yang berwarna merah. Dan  waktunya keluar dengan terbitnya fajar shodiq.</p>
<p style="text-align:justify;">1. Waktu fadlilah :</p>
<p style="text-align:justify;">Dari awal waktu dengan kadar kesibukan menyiapkan sebab-sebabnya sholat.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Waktu ikhtiyar :</p>
<p style="text-align:justify;">Dari selesainya waktu fadlilah sampai selesainya sepertiga malam yang  pertama. (ada yang mengatakan sampai tengah malam).</p>
<p style="text-align:justify;">3. Waktu jawaz tanpa ada kemakruhan :</p>
<p style="text-align:justify;">Dari habisnya sepertiga malam yang pertama sampai terbitnya fajar  kadzib.</p>
<p style="text-align:justify;">4. Waktu jawaz dengan kemakruhan :</p>
<p style="text-align:justify;">Dari terbitnya fajar kadzib sampai tersisa waktu yang cukup digunakan  untuk sholat.</p>
<p style="text-align:justify;">5. Waktu hurmah :</p>
<p style="text-align:justify;">Jika tersisa waktu yang tidak cukup digunakan untuk sholat.</p>
<p style="text-align:justify;">6. Waktu udzur :</p>
<p style="text-align:justify;">Seluruh waktu maghrib.</p>
<p style="text-align:justify;">7. Waktu dloruroh :</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika penghalang sholat telah hilang dan masih tersisa waktu yang cukup  digunakan untuk takbiratul ihram.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>KE LIMA : SHOLAT SHUBUH</strong></p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Secara bahasa shubuh adalah nama dari permulaan hari.</p>
<p style="text-align:justify;">Sholat shubuh disebut juga dengan sholat fajr dan jama&#8217;ahnya sholat  shubuh adalah sebaik-baiknya jama&#8217;ah.</p>
<p style="text-align:justify;">Waktu sholat shubuh masuk dengan terbitnya fajar shodiq, dan keluar  dengan terbitnya sebagian dari sinar matahari.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">1. Waktu fadlilah :</p>
<p style="text-align:justify;">Dari awal waktu dengan kadar menyiapkan sebab-sebabnya sholat.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Waktu ikhtiyar :</p>
<p style="text-align:justify;">Dari awal waktu sampai isfar (terang).</p>
<p style="text-align:justify;">3. Waktu jawaz tanpa ada kemakruhan :</p>
<p style="text-align:justify;">Dari awal waktu sampai terbitnya sinar kemerah-merahan.</p>
<p style="text-align:justify;">4. Waktu jawaz dengan kemakruhan :</p>
<p style="text-align:justify;">Dari terbitnya sinar kemerah-merahan sampai tersisa waktu yang cukup  digunakan untuk sholat.</p>
<p style="text-align:justify;">5. Waktu hurmah :</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika tersisa waktu yang tidak cukup digunakan untuk sholat.</p>
<p style="text-align:justify;">6. Waktu dloruroh :</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika penghalang sholat telah hilang dan tersisa waktu yang cukup  digunakan untuk takbiratul ihram.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>PERBEDAAN FAJAR SHODIQ DAN FAJAR KADZIB</strong></p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">A. FAJAR SHODIQ</p>
<p style="text-align:justify;">1. Sinarnya menyebar dan terus bertambah.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Memanjang dari utara ke selatan.</p>
<p style="text-align:justify;">3. Menandakan masuknya waktu sholat dan puasa.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">B. FAJAR KADZIB</p>
<p style="text-align:justify;">1. Cahayanya bersifat sementara kemudian gelap lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Memanjang dari timur ke barat.</p>
<p style="text-align:justify;">3. Tidak berhubungan dengan hukum.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Permasalahan-permasalahan Dari Waktu-Waktu Sholat</strong></p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">1. Makruh menamakan Maghrib dengan nama &#8216;Isya, dan menamakan &#8216;Isya  dengan nama &#8216;Atamah, karena ada larangan atas keduanya.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya :</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Janganlah  orang-orang a&#8217;rab (badui) mengalahkanmu atas penamaan shalat  maghrib  kalian, orang-orang a&#8217;rab itu menyebut shalat maghrib dengan  isya&#8217;.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">(HR Bukhori)</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya :</p>
<p style="text-align:justify;">“  Jangan sekali-kali orang-orang A&#8217;rab (Badui) mengalahkan kalian dalam   penamaan shalat isya kalian ini, karena shalat ini dalam kitabullah   disebut isya5 dan ia diakhirkan saat diperahnya unta. ”</p>
<p style="text-align:justify;">(HR. Muslim no. 1454)</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Dan  dimakruhkan juga tidur sebelum sholat &#8216;Isya dan setelah sholat  Shubuh  dan &#8216;Ashr, dan makruh juga ngobrol-ngobrol setelah &#8216;Isya kecuali  dalam  hal yang baik.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">“ Adalah Rasulullah Shallallahu  ‘alaihi wa sallam menyenangi  mengakhirkan shalat isya. Dan beliau  membenci tidur sebelum shalat isya  dan berbincang-bincang setelahnya. ”</p>
<p style="text-align:justify;">(HR. Ibnu Majah no. 701, dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu  dalam Shahih Sunan Ibni Majah)</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">“ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan kami dari  berbincang-bincang setelah isya. ”</p>
<p style="text-align:justify;">(HR. Ahmad 1/388-389, 410, Ibnu Majah no. 703, dishahihkan Al-Imam  Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 2435)</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">2. Hukum memanjangkan sholat sehingga sebagian dari sholat tersebut  jatuh di luar waktunya.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam permasalahan ini ada beberapa penafsilan :</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">A.  Adakalanya waktu cukup digunakan mengerjakan sholat beserta   sunnah-sunnahnya sholat : maka memanjangkan sholat disunnahkan agar bisa   mengerjakan sunnah-sunnahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">B. Adakalanya waktu hanya  cukup untuk digunakan mengerjakan  fardlu-fardlunya sholat saja : maka  memanjangkan sholat hukumnya  khilaful aula.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">C. Adakalanya waktu tidak cukup digunakan mengerjakan fardlu-fardlunya  sholat : maka memanjangkan sholat hukumnya haram.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">3.  Sholat bisa dikatakan Ada&#8217; ketika menemukan satu raka&#8217;at di dalam   waktu, baik karena ada udzur maupun tidak, sedangkan jika tidak   menjumpai satu raka&#8217;at di dalam waktu maka shalatnya dihukumi qodlo.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">4.  Sebaik-baiknya (afdlol) pekerjaan adalah sholat di awal waktu.   Ke-afdlol-annya ini bisa didapatkan dengan menyibukkan diri dengan   sabab-sabab sholat (seperti menjawab adzan, wudlu, menunggu jama&#8217;ah dan   sebagainya) sejak masuknya waktu sholat.</p>
<p style="text-align:justify;">Nabi SAW ditanya tentang  amal yang paling disukai Allah SWT, kemudian  Nabi menjawab : الصلاة في  أول وقتها &#8220;Sholat di awal waktunya. &#8221; (HR. Ibnu hibban dan Al-Baihaqi.)</p>
<p style="text-align:justify;">Di dalam hadits lain juga di sebutkan ;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Awal waktu adalah kerelaan Allah, dan tengahnya adalah rahmat Allah,  dan akhirnya adalah pengampunan Allah.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">(Hadits dikeluarkan oleh Ad-Daaru Quthni di dalam &#8220;As-Sunan&#8221; 1:246.)</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;keutamaan awal waktu diatas (dibanding) akhir waktu itu seperti  keutamaan akhirat dibanding dunia&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">(Hadits dikeluarkan oleh Ad-Dailami di dalam &#8220;Musnad Al-Firdaus&#8221; 3:154  dari Ibnu &#8216;Umar.).</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Dan disunnahkan juga untuk mengakhirkan / menunda shalat dari awal  waktunya hanya dalam 27 kondisi.</p>
<p style="text-align:justify;">Definisinya  adalah : Jika mengakhirkannya sholat itu termasuk dari  kemaslahatan  sholat maka disunnahkan mengakhirkan, diantaranya adalah :</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>menanti shalat dhuhur sampai dingin ( الإبراد ‏بالظهر )</strong></p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Dari  Abu Hurairah, dari Rasulullah. Beliau SAW bersabda : &#8220;Apabila hari   sangat terik, maka dirikanlah shalat zhuhur sewaktu (matahari) agak   dingin sedikit. Karena, teriknya panas adalah berasal dari uap api   neraka.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">(HR. Bukhori dalam &#8220;waktu-waktu sholat&#8221;, bab &#8220;Al-Ibrad&#8221;  (533), dan  Muslim dalam &#8220;kitab Al-Masaajid&#8221;, bab &#8220;Istihbab Al-Ibrad Bi  Adh-dhurhri&#8221;  (615). )</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">SYARAT-SYARAT KESUNNAHANNYA IBRAD :</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">1. Shalat yang dikerjakan adalah shalat dhuhur.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Di dalam musim panas (Kemarau).</p>
<p style="text-align:justify;">3. Di daerah yang beriklim panas.</p>
<p style="text-align:justify;">4. Shalat dikerjakan dengan berjama&#8217;ah.</p>
<p style="text-align:justify;">5. Tempat shalat / masjid berada jauh.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>UDZUR-UDZUR SHALAT</strong></p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Makna  dari udzur-udzur shalat adalah bahwasannya orang tidak berdosa  jika  mengakhirkan shalat keluar dari waktunya dengan udzur apapun dari   udzur-udzur ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Udzur-udzur yang dimaksud ada empat, yaitu : tidur, lupa, jama&#8217;, dan  karena di paksa.</p>
<p style="text-align:justify;">(  Sebagian ulama&#8217; ada yang menambahkan dua lagi, yaitu ; bagi orang yang   takut ketinggalan wuquf di &#8216;Arafah dan bagi orang yang menyelamatkan   orang lain yang mendekati kehancuran / kematian. )</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">1. TIDUR</p>
<p style="text-align:justify;">Tidur  ini dianggap sebagai udzur jika tidurnya tersebut sebelum masuknya   waktu shalat. Adapun jika tidurnya tersebut setelah masuknya waktu   shalat maka tidak dianggap sebagai udzur, kecuali jika sudah menjadi   kebiasaannya dia bisa bangun dari tidurnya sebelum keluar waktu shalat,   atau dia telah berpesan kepada orang yang bisa dipercaya untuk   membangunkannya sebelum waktu shalat keluar.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Dan  disunnahkan membangunkan orang yang tidur sebelum masuknya waktu   shalat, dan wajib hukumnya membangunkan orang yang tidur setelah   masuknya waktu shalat.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">2. LUPA</p>
<p style="text-align:justify;">Lupa bisa dianggapkan  sebagai udzur jika lupanya tersebut disebabkan  oleh perkara yang  mubah, adapun jika lupanya disebabkan oleh perkara  yang makruh atau  haram maka lupanya tersebut tidak bisa dianggap sebagai  udzur.</p>
<p style="text-align:justify;">3. JAMA&#8217; DUA SHALAT</p>
<p style="text-align:justify;">Mendahulukan  shalat dari waktunya, atau meng-akhir-kan_nya, dikarenakan  men-jama&#8217; /  mengumpulkan antara shalat satu dengan shalat yang lain yang   disebabkan safar / bepergian atau sakit atau hujan.</p>
<p style="text-align:justify;">4. DI PAKSA</p>
<p style="text-align:justify;">Sekiranya  orang yang hendak shalat di paksa mengeluarkan shalat dari  waktunya,  maka keadaan tersebut bisa dianggap sebagai udzur jika  memenuhi  syarat-syaratnya paksaan / ikroh ( الإكراه ).</p>
<p style="text-align:justify;">Empat syaratnya paksaan ;</p>
<p style="text-align:justify;">1. Mampunya orang yang memaksa ( mukrih ) untuk melaksanakan ancamannya  dengan kekuasaan atau kekuatannya.</p>
<p style="text-align:justify;">2.  Lemah / tidak mampunya orang yang dipaksa ( mukrah ) untuk menolak /   menghindar dari yang dipaksakan dengan melarikan diri atau meminta   pertolongan.</p>
<p style="text-align:justify;">3. Si mukrah berprasangka jika dia menolak maka si mukrih akan  benar-benar melaksanakan apa yang diancamkannya.</p>
<p style="text-align:justify;">4. Tidak ada tanda-tanda pilihan lain.</p>
<p style="text-align:justify;">WAKTU-WAKTU YANG DIHARAMKAN SHALAT DIDALAMNYA.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagian  &#8216;ulama ada yang me-redaksi-kan dengan &#8220;Waktu-Waktu Yang  Dimakruhkan  Shalat Didalamnya&#8221;, maksudnya adalah Makruh Tahrim.</p>
<p style="text-align:justify;">Perbedaan antara Haram dan Makruh Tahrim;</p>
<p style="text-align:justify;">1. Haram</p>
<p style="text-align:justify;">Sesuatu yang keharamannya telah ditetapkan dengan dalil qoth&#8217;i yang  tidak ada kemungkinan ta&#8217;wil. Seperti keharamannya khomer.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Makruh Tahrim</p>
<p style="text-align:justify;">Sesuatu  yang keharamannya telah ditetapkan dengan dalil yang ada  kemungkinan  ta&#8217;wil. Seperti keharamannya shalat dalam waktu yang lima.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Perbedaan antara Makruh Tahrim dan Makruh Tanzih ;</p>
<p style="text-align:justify;">1. Makruh Tahrim</p>
<p style="text-align:justify;">Menyebabkan dosa.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti shalat dalam waktu yang lima.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Makruh Tanzih</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak menyebabkan dosa.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti shalat sunnah antara adzan shubuh dan iqomah selain shalat  sunnah qobliyah.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Waktu-waktu  yang diharamkan shalat ada lima, tiga diantaranya  berhubungan dengan  zaman / waktu, dan dua diantaranya berhubungan dengan  pekerjaan.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">YANG BERHUBUNGAN DENGAN ZAMAN</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">1. Dari terbitnya matahari hingga matahari setinggi tombak.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">2. Dari istiwa&#8217; hingga zawal.</p>
<p style="text-align:justify;">Waktunya sangat singkat sekali, maka haram menjatuhkan shalat pada waktu  tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">ISTIWA&#8217; = Matahari tepat ditengah langit.</p>
<p style="text-align:justify;">ZAWAL = Matahari condong dari tengah langit.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">3. Mulai dari matahari menguning hendak tenggelam sampai matahari  benar-benar tenggelam.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu berkata :</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">“  Ada tiga waktu di mana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang   kami untuk melaksanakan shalat di tiga waktu tersebut atau menguburkan   jenazah kami, yaitu ketika matahari terbit sampai tinggi, ketika   seseorang berdiri di tengah hari saat matahari berada tinggi di tengah   langit (tidak ada bayangan di timur dan di barat) sampai matahari   tergelincir dan ketika matahari miring hendak tenggelam sampai   benar-benar tenggelam. ”</p>
<p style="text-align:justify;">(HR. Muslim no.1926)</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEKERJAAN</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">1. Setelah shalat shubuh sampai terbitnya matahari.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Setelah shalat &#8216;Ashar sampai terbenamnya matahari.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">“ Tidak ada shalat setelah subuh sampai matahari tinggi dan tidak ada  shalat setelah ashar sampai matahari tenggelam. ”</p>
<p style="text-align:justify;">(HR. Al-Bukhari no. 586 dan Muslim no.1920)</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">MACAM-MACAM SHALAT YANG HARAM DIKERJAKAN DALAM LIMA WAKTU</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Shalat-shalat yang haram dikerjakan dalam lima waktu yang telah  disebutkan diatas terdiri dua macam ;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>1. Shalat Sunnah Yang Sebabnya Datang Belakangan.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Shalat sunnah dimaksudkan ada enam, yaitu ;</p>
<p style="text-align:justify;">1. Shalat sunnah ihram.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Shalat sunnah safar (shalat sunnah ketika bepergian jauh).</p>
<p style="text-align:justify;">3. Shalat sunnah istikharah.</p>
<p style="text-align:justify;">4. Shalat sunnah Qotl</p>
<p style="text-align:justify;">5. Shalat sunnah ketika keluar rumah.</p>
<p style="text-align:justify;">6. Shalat sunnah hajat.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2. Shalat Sunnah Muthlaq</strong></p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Yaitu shalat sunnah yang dikerjakan tanpa ada sebab atau waktu.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti shalat Tasbih dan sebagainya dari shalat-shalat sunnah yang  tidak mempunyai sebab dan waktu tertentu.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Dan dari yang telah disebutkan diatas (haram shalat baik yang  berhubungan dengan waktu maupun tempat) ada yang dikecualikan ;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">1. Berdasarkan Tempat :</p>
<p style="text-align:justify;">Tanah haram makkah ( حرام مكة‎ )‎= ‏masjid dan lainnya dari batas-batas  tanah haram.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka diperbolehkan shalat di tanah haram ini setiap saat.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">“  Wahai Bani Abdi Manaf, janganlah kalian menghalangi seorangpun untuk   thowaf  di rumah ini (Baitullah) dan sholat di waktu kapanpun ia mau   baik malam maupun siang. ”</p>
<p style="text-align:justify;">(Shahih, HR. Ibnu Majah, Tirmidzi, dan Nasa’i)</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">2. Berdasarkan Waktu :</p>
<p style="text-align:justify;">Dari istiwa&#8217; sampai zawal nya hari Jum&#8217;at.</p>
<p style="text-align:justify;">Di  dalam lima waktu yang diharamkan shalat tersebut (baik yang   berhubungan dengan zaman maupun pekerjaan), tidak diharamkan melakukan   qodlo sholat. Begitu juga sholat-shalat sunnah yang sebabnya datang   terlebih dahulu, seperti shalat sunnah wudlu, tahiyyatal masjid, qodlo   shalat (baik fardlu maupun sunnah), atau shalat sunnah yang sebabnya   datang bersamaan dengan waktu shalat, seperti shalat sunnah khusuf dan   kusuf (gerhana matahari dan bulan), kecuali jika memang sengaja   menjatuhkan shalat pada waktu yang diharamkan tersebut, maka hukumnya   tetap haram.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">HUKUM SHALAT KETIKA KHOTIB SEDANG KHOTBAH JUM&#8217;AT</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Telah  menjadi kesepakatan &#8216;ulama, ketika khotib Jum&#8217;at sudah naik di  atas  mimbar maka diharamkan shalat, shalat apapun itu, meskipun shalat  yang  dikerjakan adalah shalat qodlo yang wajib dikerjakan dengan segera,   kecuali shalat sunnah tahiyyatal masjid, dan shalat tahiyyatal masjid   itu wajib dikerjakan dengan takhfif (ringan / sekedar memenuhi rukun dan   fardlunya saja tanpa melakukan sunnah-sunnahnya shalat) dan tidak  boleh  lebih dari dua raka&#8217;at.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Dari Abu  sufyan, dari Jabir ibn &#8216;Abdullah, jabir berkata ; &#8220;Sulaik  Al-Ghothofan  datang pada hari jum&#8217;at saat Rosulullah sedang khotbah  kemudian ia  duduk. Lalu Rosullah berkata pada Sulaik ; &#8220;Wahai Sulaik !  Berdiri dan  shalat lah dua raka&#8217;at dan kerjakan dengan ringan.&#8221; Kemudian  Rosulullah  SAW bersabda ; &#8220;Jika salah seorang dari kalian datang pada  hari  Jum&#8217;at, sedangkan Imam sedang berkhutbah, maka hendaklah ia shalat  dua  raka&#8217;at dengan ringan.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">(HR. Muslim)</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<br />Filed under: <a href='http://bidadari08.wordpress.com/category/artikel-islami-2/'>artikel islami</a> Tagged: <a href='http://bidadari08.wordpress.com/tag/shalat/'>Shalat</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bidadari08.wordpress.com/675/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bidadari08.wordpress.com/675/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bidadari08.wordpress.com/675/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bidadari08.wordpress.com/675/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bidadari08.wordpress.com/675/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bidadari08.wordpress.com/675/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bidadari08.wordpress.com/675/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bidadari08.wordpress.com/675/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bidadari08.wordpress.com/675/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bidadari08.wordpress.com/675/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bidadari08.wordpress.com/675/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bidadari08.wordpress.com/675/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bidadari08.wordpress.com/675/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bidadari08.wordpress.com/675/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&amp;blog=3447897&amp;post=675&amp;subd=bidadari08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bidadari08.wordpress.com/2011/03/31/pengertian-dan-waktu-shalat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/042a78073904b6dd72c519fb96cf57a8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bidadari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Malunya ALLAH Jika Menolak Do&#8217;a HambaNYA</title>
		<link>http://bidadari08.wordpress.com/2011/03/24/malunya-allah-jika-menolak-doa-hambanya/</link>
		<comments>http://bidadari08.wordpress.com/2011/03/24/malunya-allah-jika-menolak-doa-hambanya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Mar 2011 10:41:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bidadari</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel islami]]></category>
		<category><![CDATA[Do'a]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bidadari08.wordpress.com/?p=672</guid>
		<description><![CDATA[Nama Allah Ta’ala yang maha indah ini disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam dua hadits yang shahih: 1- Dari Salman al-Farisi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: « إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا » “Sesungguhnya Rabb-mu (Allah) Ta’ala adalah maha pemalu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&amp;blog=3447897&amp;post=672&amp;subd=bidadari08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Nama Allah Ta’ala yang maha indah ini disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam dua hadits yang shahih:</p>
<p style="text-align:justify;">1- Dari Salman al-Farisi bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-672"></span>« إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ  وَتَعَالَى  حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ  يَدَيْهِ إِلَيْهِ  أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا »</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Sesungguhnya Rabb-mu (Allah) Ta’ala adalah maha pemalu lagi maha   mulia, Dia malu terhadap hamba-Nya (yang berdoa dengan) mengangkat   kedua tangannya kepada-Nya kemudian Dia menolaknya dengan hampa</em>“<a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftn1">[1]</a>.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Dari Ya’la bin Umayyah bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melihat seorang laki-laki yang mandi di tanah lapang terbuka tanpa kain penutup, maka Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> naik ke atas mimbar, lalu beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;">« إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَيِىٌّ سِتِّيرٌ يُحِبُّ الْحَيَاءَ وَالسَّتْرَ، فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ »</p>
<p style="text-align:justify;">“S<em>esungguhnya Allah Ta’ala maha pemalu lagi maha menutupi, Dia   mencintai (sifat) malu dan menutup (aib/aurat), maka jika seseorang di   antara kalian mandi, hendaklah dia menutup (auratnya)</em>“<a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftn2">[2]</a>.</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan hadits-hadits ini, para ulama menetapkan nama <strong><em>al-Hayiyyu</em> </strong>(Yang Maha Pemalu) sebagai salah satu dari nama-nama Allah <em>Ta’ala</em> yang maha indah, seperti Imam Ibnul Qayyim<a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftn3">[3]</a>, syaikh Abdurrahman as-Sa’di<a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftn4">[4]</a>, syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin<a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftn5">[5]</a>, syaikh ‘Abdur Razzak al-Badr<a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftn6">[6]</a> dan lain-lain.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Makna <em>al-Hayiyyu</em></strong> <strong>secara bahasa</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Faris menjelaskan bahwa asal kata nama ini menunjukkan dua makna, salah satunya adalah lawan dari sifat <em>al-waqaahah</em> (tebal muka/tidak tahu malu)<a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftn7">[7]</a>.</p>
<p style="text-align:justify;">al-Fairuz Abadi menjelaskan di antara makna asal kata nama ini adalah <em>al-hisymah</em> (kesopanan yang tinggi)<a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftn8">[8]</a>.</p>
<p style="text-align:justify;">Ar-Ragib al-Ashfahani menjelaskan bahwa arti nama Allah ini adalah:   Yang meninggalkan semua keburukan dan melakukan semua kebaikan<a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftn9">[9]</a>.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Penjabaran makna nama Allah <em>al-Hayiyyu</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Imam Ibnul Qayyim berkata dalam <em>qashiidah</em> (syair) “<em>an-Nuuniyyah</em>” tulisan beliau yang terkenal:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Dialah <strong>al-Hayiyyu</strong> (Maha Pemalu) maka Dia tidak akan mempermalukan hamba-Nya</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> (di dunia) ketika hamba-Nya itu berbuat maksiat terang-terangan</em></p>
<p style="text-align:justify;">Syaikh Muhammad Khalil Harras ketika menjelaskan makna bait syair ini, beliau berkata: “(Sifat) malu Allah <em>Ta’ala</em> adalah sifat yang sesuai dengan (kebesaran dan keagungan)-Nya, tidak   sama dengan (sifat) malu (pada) makhluk-Nya yang berarti perubahan   (sikap) dan (sifat) berkecil hati yang terjadi pada seseorang ketika dia   mengkhawatirkan sesuatu aib atau celaan (pada dirinya). Adapun arti   sifat malu (pada Allah <em>Ta’ala</em>) adalah meninggalkan   sifat/perbuatan yang tidak selaras dengan kemahaluasan rahmat-Nya serta   kemahasempurnaan kebaikan dan kemuliaan-Nya”<a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftn10">[10]</a>.</p>
<p style="text-align:justify;">Nama Allah <em>Ta’ala</em> yang agung ini menunjukkan bahwa Dia memiliki sifat <em>haya’</em> (malu) yang sesuai dengan kemahabesaran dan kemahasempurnaan-Nya, tidak   sama dengan sifat malu yang ada pada makhluk-Nya, sebagaimana keadaan   sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan Allah Ta’ala lainnya. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman:</p>
<p style="text-align:justify;">{لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ}</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat</em>” (QS asy-Syuura:11).</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam ayat lain Dia berfirman:</p>
<p style="text-align:justify;">{فَلا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الْأَمْثَالَ إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ}</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Maka janganlah kamu mengadakan penyerupaan-penyerupaan bagi Allah. Sesungguhnya Dia mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui</em>” (QS an-Nahl:74)<a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftn11">[11]</a>.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam al-Qur’an dan hadits Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> disebutkan sifat malu yang dinisbatkan kepada Allah <em>Ta’ala</em>, sebagaimana dalam firman-Nya:</p>
<p style="text-align:justify;">{إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا}</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Sesungguhnya Allah tidak malu untuk membuat perumpamaan berupa nyamuk atau sesuatu yang lebih rendah daripada itu</em>” (QS al-Baqarah: 26).</p>
<p style="text-align:justify;">Juga dalam hadits yang shahih dari Abu Waqid al-Laitsi, bahwa suatu hari ketika Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sedang duduk di mesjid bersama para shahabat, datanglah tiga orang   laki-laki. Lalu yang dua orang datang menuju (majelis) Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, sedangkan yang satu orang pergi. Kemudian kedua orang tersebut berdiri di hadapan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, lalu salah seorang dari keduanya melihat ada tempat yang kosong pada <em>halaqah</em> tersebut maka dia pun duduk di tempat tersebut, sedangkan temannya duduk di belakang <em>halaqah</em>, sementara yang ketiga pergi meninggalkan (majelis tersebut). Lalu setelah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> selesai (menyampaikan nasehat kepada para shahabat) beliau bersabda:   “Maukah kalian aku sampaikan tentang keadaan ketiga orang ini? Orang   yang pertama berlindung kepada Allah (dengan bergabung ke dalam majelis   Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>) maka Allahpun menerimanya (merahmatinya), orang yang kedua merasa malu kepada Allah maka <strong>Allahpun malu kepadanya</strong>, sedangkan orang yang ketiga berpaling (meninggalkan majelis Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>) maka Allahpun berpaling darinya”<a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftn12">[12]</a>.</p>
<p style="text-align:justify;">Imam Ibnul Qayyim menjelaskan makna sifat Allah <em>Ta’ala</em> yang agung ini dalam ucapan beliau: “Adapun (sifat) malu Allah <em>Ta’ala</em> terhadap hamba-Nya, maka ini adalah jenis (sifat) lain (berbeda dengan   sifat makhluk), yang tidak bisa diketahui (hakikatnya) oleh pemahaman   manusia dan tidak mampu digambarkan (keadaannya) oleh akal-akal mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Sesungguhnya (sifat) malu Allah adalah (sifat) malu (yang disertai)   kemuliaan, kebaikan, kepemurahan dan keagungan. Maka sungguh Allah <em>Ta’ala</em> maha pemalu lagi maha mulia, Dia malu terhadap hamba-Nya (yang berdoa   dengan) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya kemudian Dia menolaknya   dengan hampa, dan Dia malu untuk menyiksa seorang tua yang telah beruban   dalam Islam<a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftn13">[13]</a>.</p>
<p style="text-align:justify;">Yahya bin Mu’adz berkata: “Maha suci (Allah) Zat yang (ketika) hamba-Nya berbuat dosa maka Dia merasa malu”. Dan dalam sebuah <em>atsar</em>: Barangsiapa yang malu kepada Allah maka Allahpun malu kepadanya”<a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftn14">[14]</a>.</p>
<p style="text-align:justify;">Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di menjelaskan lebih terperinci makna   sifat yang mulia ini dalam ucapan beliau: “Sifat (malu Allah Ta’ala) ini   adalah dari rahmat-Nya, kemuliaan-Nya, dan kesempurnaan serta (sifat)   penyantun-Nya. Seorang hamba yang berbuat maksiat (kepada-Nya) secara   terang-terangan padahal hamba tersebut sangat membutuhkan (rahmat)-Nya,   bahkan dia tidak mungkin bisa berbuat maksiat kecuali dengan   nikmat-nikmat (yang dilimpahkan) Allah (kepadanya) sehingga dia   mempunyai kekuatan untuk (melakukan) perbuatan maksiat tersebut. Allah   Ta’ala yang maha sempurna kekayaan/ketidakbutuhan-Nya terhadap semua   makhluk-Nya, karena kemuliaan/kemurahan-Nya Dia merasa malu untuk   membuka aib dan mempermalukan hamba tersebut, serta menimpakan sikasaan   kepadanya (di dunia). Bahkan Dia menutupi (aib) hamba-Nya itu dengan   berbagai sebab tertutupnya aib yang dimudahkan-Nya baginya, serta   memaafkan dan mengampuni (kesalahan) hamba tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka Allah senantiasa berbuat baik kepada hamba-hamba-Nya dengan   (melimpahkan) berbagai nikmat (kepada mereka), sementara mereka (justru)   berbuat buruk dengan bermaksiat kepada-Nya. Karunia-Nya (turun) kepada   mereka (secara terus-menerus) seperti jumlah kerdipan mata manusia,   sedangkan keburukan (yang) mereka (lakukan) selalu naik (kepada-Nya).</p>
<p style="text-align:justify;">(Allah) Yang maha kuasa dan pemurah senantiasa naik kepada-Nya semua   perbuatan maksiat dan keburukan dari hamba-hamba-Nya, (tapi bersamaan   dengan itu) Dia malu untuk menyiksa seseorang yang telah beruban dalam   Islam, Dia malu terhadap hamba-Nya (yang berdoa dengan) mengangkat kedua   tangannya kepada-Nya kemudian Dia menolaknya dengan hampa, dan Dia   menyeru hamba-hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya serta menjanjikan   pengabulan doa bagi mereka”<a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftn15">[15]</a>.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pengaruh positif dan manfaat mengimani nama Allah <em>al-Hayiyyu</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sesungguhnya Allah <em>Ta’ala</em> mencintai nama-nama dan   sifat-sifat-Nya sendiri, serta mencintai tampaknya pengaruh positif   nama-nama dan sifat-sifat tersebut pada makhluk-Nya, karena itu termasuk   konsekwensi kesempurnaan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Maka Dia maha   pemalu dan mencintai orang-orang yang pemalu, maha pemurah dan  mencintai  orang-orang yang pemurah, maha baik dan mencintai orang-orang  yang  berbuat baik, maha pemaaf dan mencintai orang-orang yang suka  memaafkan,  maha penyantun dan menyukai orang-orang yang penyantun.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu, Allah <em>Ta’ala</em> memerintahkan kepada   hamba-hamba-Nya untuk mengamalkan kandungan dan konsekwensi dari   nama-nama dan sifat-sifat-Nya, maka Dia memerintahkan kepada mereka   untuk memilki sifat malu, suka berbuat baik, penyayang, pemurah dan   pemaaf, sehingga hamba yang paling dicintai-Nya adalah yang memiliki   sifat-sifat yang diridhai-Nya, sedangkan hamba yang paling dibenci-Nya   adalah yang memiliki sifat-sifat yang tidak diridhai-Nya. Dalam hal ini   dikecualikan beberapa sifat tertentu yang tidak pantas dimiliki oleh   makhluk, seperti sifat merasa besar dan mengagungkan diri, karena   sifat-sifat ini tidak sesuai dengan keadaan seorang hamba yang   seharusnya selalu merendahkan dan menghambakan diri dihadapan-Nya,   sehingga memiliki sifat-sifat tersebut di atas berarti menganiaya diri   sendiri<a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftn16">[16]</a>.</p>
<p style="text-align:justify;">Perlu disampaikan di sini bahwa sifat malu yang Allah Ta’ala cintai   pada hamba-Nya adalah sifat terpuji dan mulia yang selalu membawa kepada   kebaikan, dan bukanlah seperti yang dipahami oleh orang-orang awam  yang  bodoh, bahwa keengganan untuk berbuat baik dan meninggalkan  keburukan  adalah sifat malu.</p>
<p style="text-align:justify;">Anggapan mereka ini jelas keliru dan bertentangan dengan sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>: “S<em>esungguhnya   termasuk hal yang diketahui oleh manusia dari ucapan kenabian yang   terdahulu: jika kamu tidak merasa malu maka berbuatlah (keburukan)   sekehendakmu</em>“<a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftn17">[17]</a>.</p>
<p style="text-align:justify;">Imam an-Nawawi berkata: “Para ulama menjelaskan bahwa (sifat) malu   yang sebenarnya adalah suatu perangai yang selalu memotivasi (seorang   hamba) untuk meninggalkan (perbuatan) yang buruk dan mencegahnya dari   (sifat) kurang dalam (menunaikan) hak orang-orang yang memiliki hak   (terhadapnya)”<a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftn18">[18]</a>.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian, pengaruh positif dan manfaat mengimani nama Allah yang maha   agung ini dapat kita ambil dari penjelasan makna hadits di atas. Allah   Ta’ala maha pemalu dan Dia mencintai orang-orang yang memiliki sifat   malu.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu, hamba Allah Ta’ala yang paling dicintai-Nya, Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah orang yang paling pemalu. Sebagaimana ucapan shahabat yang mulia, Abu Sa’id al-Khudri: “<em>Rasulullah   shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang sangat pemalu   (melebihi) gadis perawan dalam kamar pingitannya, sehingga jika beliau </em><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat sesuatu yang tidak beliau r sukai maka kami (bisa) mengetahui hal itu pada wajah beliau </em>“<a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftn19">[19]</a>.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam banyak hadits yang shahih terdapat penjelasan tentang kautamaan   sifat malu, anjuran untuk memilikinya dan pengaruh positifnya dalam   memotivasi kebaikan bagi seorang hamba.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari Abu Hurairah  bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda: “Iman itu (terdiri dari) lebih 70 cabang, yang paling tinggi adalah ucapan (persaksian): <em>Laa ilaaha illallahu</em> (tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah), dan yang paling rendah   adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan (sifat) malu adalah salah   satu cabang dar iman”<a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftn20">[20]</a>.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari ‘Imran bin Hushain  bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda: “(Sifat) malu itu tidak mendatangkan (sesuatu) selain   kebaikan”, dalam riwayat lain: “(Sifat) malu itu semuanya adalah   kebaikan”<a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftn21">[21]</a>.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan sifat malu yang paling agung dan paling wajib untuk dilakukan adalah malu terhadap Allah <em>Ta’ala</em><a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftn22">[22]</a>. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda: “Malulah kalian terhadap Allah dengan malu yang sebenarnya”. Para sahabat berkata: Wahai Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, sungguh kami merasa malu kepada-Nya, <em>alhamdulillah</em>. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda: “Bukan itu (maksudnya), akan tetapi merasa malu kepada Allah   dengan malu yang sebenarnya adalah dengan menjaga kepala dan (anggota   badan) yang ada padanya (dari perbuatan maksiat), menjaga perut dan   (anggota badan) yang berhubungan dengannya (dari perkara yang haram),   dan (selalu) mengingat kematian dan kehancuran tubuh (dalam kubur),   barangsiapa yang menginginkan (balasan kebaikan di) akhirat maka dia   akan meninggalkan perhiasan dunia, maka siapa yang melakukan itu semua   berarti dia telah merasa malu kepada Allah dengan malu yang sebenarnya”<a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftn23">[23]</a>.</p>
<p style="text-align:justify;">Di samping itu, ada beberapa perbuatan baik yang termasuk konsekwensi   sifat malu terhadap Allah Ta’ala, akan tetapi perbuatan-perbuatan   tersebut tidak wajib hukumnya, seperti menutupi aurat meskipun di saat   sendirian. Dari Mu’awiyah bin Haidah t bahwa Rasulullah r ditanya: Wahai   Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, jika salah seorang dari kami sedang sendirian, (apakah dia boleh bertelanjang)? Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda: “Allah lebih berhak untuk (seorang hamba) malu terhadap-Nya dibandingkan manusia”.</p>
<p style="text-align:justify;">Para ulama memahami perbuatan dalam hadits sebagai anjuran   (keutamaan) dan bukan kewajiban, karena mereka beralasan bahwa   sesungguhnya Allah Ta’ala tidak ada sesuatupun dari makhluk-Nya yang   tersembunyi dari-Nya, baik ketika mereka telanjang ataupun ketika   berpakaian<a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftn24">[24]</a>.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Penutup</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Demikianlah, dan kami akhiri tulisan ini dengan memohon kepada Allah   dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha   sempurna, agar Dia melimpahkan taufik dan kemudahan dari-Nya kepada kita   untuk memiliki sifat malu yang dicintai-Nya serta semua sifat-sifat   baik dan mulia lainnya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha   Mengabulkan doa.</p>
<p style="text-align:justify;">وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين</p>
<p style="text-align:justify;">Kota Kendari, 12 Shafar 1432 H</p>
<p style="text-align:justify;">Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, MA</p>
<p style="text-align:justify;">(muslim.or.id)</p>
<hr size="1" />
<p style="text-align:justify;"><a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftnref1">[1]</a> HR Abu Dawud (no. 1488), at-Tirmidzi (no. 3556), Ibnu Majah (no. 3865)   dan Ibnu Hibban (no. 876). Dalam sanadnya ada perawi yang bernama  Ja’far  bin Maimun, ada kelemahan pada riwayatnya, akan tetapi hadits  ini  memiliki banyak jalur yang saling menguatkan. Hadits ini dinyatakan   shahih oleh Ibnu Hibban, Ibnu Hajar dalam “Fathul Baari” (11/147),  Ibnul  Qayyim dan al-Albani (Mukhtasharul ‘uluw, hal. 75).</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftnref2">[2]</a> HR Abu Dawud (no. 4012), an-Nasa-i  (no. 406) dan Ahmad (4/224) dengan   sanad yang hasan dan dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftnref3">[3]</a> Dalam kitab “ash-Shawaa’iqul mursalah” (4/1499).</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftnref4">[4]</a> Dalam kitab “Tafsiirul asma-illahil husna” (hal. 40).</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftnref5">[5]</a> Dalam kitab “al-Qawaa-idul mutsla” (hal. 42).</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftnref6">[6]</a> Dalam kitab “Fiqhul asma-il husna” (hal. 302).</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftnref7">[7]</a> Mu’jamu maqaayiisil lughah (2/97).</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftnref8">[8]</a> Kitab “al-Qamus al-muhith” (hal. 8361).</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftnref9">[9]</a> Kitab “Mufraadaatu alfaazhil Qur-an” (1/282).</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftnref10">[10]</a> Kitab “Syarhul qashiidatin nuuniyyah” (2/80).</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftnref11">[11]</a> Lihat kitab “Fiqhul asma-il husna” (hal. 302).</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftnref12">[12]</a> HSR al-Bukhari (no. 66) dan Muslim (no. 2176).</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftnref13">[13]</a> Ini disebutkan dalam sebuah hadits yang lemah riwayat Ibnu ‘Asakir dalam “Tarikh Dimasyq” (64/91).</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftnref14">[14]</a> Kitab “Madaarijus saalikiin” (2/261).</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftnref15">[15]</a> Kitab “Tafsiiru asma-illahil husna” (hal. 41).</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftnref16">[16]</a> Lihat kitab “Fiqhul asma-il husna” (hal. 304).</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftnref17">[17]</a> HSR al-Bukhari (no. 5769).</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftnref18">[18]</a> Kitab “Riyaadhush shaalihiin” (hal. 850).</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftnref19">[19]</a> HSR al-Bukhari (no. 5751) dan Muslim (no. 2320).</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftnref20">[20]</a> HSR al-Bukhari (no. 9) dan Muslim (no. 35).</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftnref21">[21]</a> HSR al-Bukhari (no. 5766) dan Muslim (no. 37).</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftnref22">[22]</a> Lihat kitab “Fiqhul asma-il husna” (hal. 305).</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftnref23">[23]</a> HR at-Tirmidzi (no. 2458), Ahmad (1/387) dan al-Hakim (no. 7915), dalam   sanadnya ada perawi yang bernama ash-Shabaah bin Muhammad dan dia  lemah  (Taqriibut tahdziib, hal. 274), tapi dikuatkan dari jalur lain  riwat  ath-Thabrani dalam “al-Mu’jamul kabiir” (no. 3192), sehingga  syaikh  al-Albani menyatakan hadits ini hasan dengan penguatnya  (Shahiihut  targiibi wat tarhiib, no. 3337). Hadits ini dishahihkan oleh  al-Hakim  dan disepakati oleh adz-Dzahabi.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://muslim.or.id/aqidah/nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html#_ftnref24">[24]</a> Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (1/195).</p>
<br />Filed under: <a href='http://bidadari08.wordpress.com/category/artikel-islami-2/'>artikel islami</a> Tagged: <a href='http://bidadari08.wordpress.com/tag/doa/'>Do'a</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bidadari08.wordpress.com/672/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bidadari08.wordpress.com/672/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bidadari08.wordpress.com/672/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bidadari08.wordpress.com/672/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bidadari08.wordpress.com/672/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bidadari08.wordpress.com/672/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bidadari08.wordpress.com/672/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bidadari08.wordpress.com/672/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bidadari08.wordpress.com/672/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bidadari08.wordpress.com/672/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bidadari08.wordpress.com/672/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bidadari08.wordpress.com/672/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bidadari08.wordpress.com/672/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bidadari08.wordpress.com/672/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&amp;blog=3447897&amp;post=672&amp;subd=bidadari08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bidadari08.wordpress.com/2011/03/24/malunya-allah-jika-menolak-doa-hambanya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/042a78073904b6dd72c519fb96cf57a8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bidadari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Batasan Aurat Di Hadapan Mahram</title>
		<link>http://bidadari08.wordpress.com/2011/02/17/batasan-aurat-di-hadapan-mahram/</link>
		<comments>http://bidadari08.wordpress.com/2011/02/17/batasan-aurat-di-hadapan-mahram/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Feb 2011 05:01:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bidadari</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel islami]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Islami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bidadari08.wordpress.com/?p=669</guid>
		<description><![CDATA[Aurat adalah kemaluan dan semua hal yang dapat menimbulkan rasa malu apabila terlihat. Aurat merupakan perhiasan yang wajib ditutupi dari orang-orang yang tidak berhak untuk melihatnya dan atau menikmatinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengingatkan kepada kita bahwa, الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ، وَبِأَنَّهَا إِذَا خَرَجَتْ مِنْ بَيْتِـهَا اسْتَشْـرَ فَهَا الشَّيْـطَانُ “Wanita itu adalah aurat, jika ia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&amp;blog=3447897&amp;post=669&amp;subd=bidadari08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Aurat adalah kemaluan  dan semua hal yang dapat menimbulkan rasa malu    apabila terlihat. Aurat merupakan perhiasan yang wajib ditutupi dari    orang-orang yang tidak berhak untuk melihatnya dan atau menikmatinya.    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengingatkan kepada kita   bahwa,</p>
<p style="text-align:justify;">الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ، وَبِأَنَّهَا إِذَا خَرَجَتْ مِنْ بَيْتِـهَا اسْتَشْـرَ فَهَا الشَّيْـطَانُ<span id="more-669"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Wanita itu adalah  aurat, jika ia keluar rumah, maka syaithan akan menghiasinya.”</em> (Hadits shahih.  Riwayat Tirmidzi no. 1173, Ibnu Khuzaimah III/95 dan ath-Thabrani dalam <em>Mu’jamul  Kabiir</em> no. 10115, dari Ibnu Mas’ud <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">Imam al-Mubarakfuri <em>rahimahullah</em> berkata ketika mengomentari   hadits di atas,  “Dijadikan diri wanita sebagai aurat karena jika   wanita muncul maka ia akan  merasa malu, sebagaimana ia merasa malu   melihat aurat manakala terbuka.  Sehingga dikatakan bahwa maknanya   wanita itu memiliki aurat.” (Lihat <em>Tuhfatul  Ahwadzi</em> III/237 dan <em>Syarah al-Arba’un al-Uswah</em> no. 32)</p>
<p style="text-align:justify;">Karena itu, kita  sebagai kaum wanita haruslah menaruh perhatian yang besar terhadap masalah ini.  Hanya saja, Allah <em>ta’ala</em> telah memberikan pengecualian mengenai larangan  menampakkan aurat   kepada beberapa orang yang menjadi mahram kita. Sebagaimana  disebutkan   dalam firman-Nya,</p>
<p style="text-align:justify;">وَلاَ يُبْـدِيْنَ زِيْنَتَـهُـنَّ  إِلاَّ لِبُعُو  لَتِهِنَّ أَو ءَابَآ ئِهِنَّ أَو ءَابَآءِ بُعُو  لَتِهِنَّ أَو  أَبْنَآئِهِنَّ أَو أَبْنَآءِ بُعُو لَتِهِنَّ أَو  إِخْوَنِهِنَّ أَو بَنِى  إِخْوِنِهِنَّ أَو بَنِى أَخَوَتِهِنَّ أَو  نِسَآئِهِنَّ أَو مَا مَلَكَتْ  أَيْمَنُهُنَّ أَوِ التَّبِعِيْنَ غَيْرِ  أُولِى الْإِرْبَةِ مِنَ  الرِّجَالِ أَو الطِّـفْـلِ الَّذِينَ لَمْ  يَظْهَرُوْا عَلَى عَوْرَتِ  النِّسَآءِ ۖ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“… dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka, <strong>kecuali</strong> kepada  suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau   putra-putra  mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara   mereka, atau  putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra   saudara perempuan  mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak   yang mereka miliki atau  pelayan-pelayan laki-laki yang tidak memiliki   keinginan (terhadap wanita) atau  anak-anak yang belum mengerti tentang   aurat wanita…” </em>(Qs. An-Nuur: 31)</p>
<p style="text-align:justify;">Kita telah memahami maksud larangan menampakkan perhiasan wanitat a  di  depan  yang bukan mahramnya, lalu bagaimana maksud dan aplikasi   pengecualian ini  terhadap orang-orang yang menjadi mahram kita? Adakah   batasan aurat yang boleh  ditampakkan di depan mahram?</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Batasan Aurat  (Perhiasan) Wanita yang Boleh Tampak di Depan Mahram</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam surat an-Nuur ayat 31,  Allah <em>ta’ala</em> membolehkan  mahram melihat bagian-bagian dari perhiasan  seorang wanita  yang tidak  boleh ditampakkan pada laki-laki yang bukan mahram.  Hal ini   dikarenakan keadaan darurat yang mendorong terjadinya percampur-bauran    di antara mereka mengingat adanya hubungan kekerabatan dan amannya   mereka (para  mahram) dari fitnah. [Lihat <em>Ensiklopedi Fiqh Wanita</em> (II/157)]</p>
<p style="text-align:justify;">Secara garis besar, ada dua pendapat ulama yang <em>masyhur</em> (populer) tentang batasan yang boleh dilihat oleh mahram, yaitu:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pendapat pertama:</strong> Mahram boleh melihat seluruh tubuh   wanita, kecuali bagian di antara pusar  dan lutut, dan inilah pendapat   kebanyakan ulama. [Lihat al-Mabsuuth (X/149),  al-Majmuu' Fataawaa Ibn   Taimiyah (XVI/140), Ensiklopedi Fiqh Wanita (II/158)]</p>
<p style="text-align:justify;">Pendapat tersebut didasarkan pada sabda Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p style="text-align:justify;">وَإِذَا أَنْكَحَ أَحَدُكُمْ عَبْدَهُ  أَو أَجِيرَهُ   فَلاَ يَنْظُرَنَّ إِلَى شَيْءٍ مِنْ عَورَتِهِ، فَإِنَّ  مَا أَسْفَلَ مِنْ  سُرَّتِهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ مِنْ عَوْرَتِهِ .</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Jika salah seorang di antara kalian menikahkan hamba  sahaya   atau pembantunya, maka jangan sekali-kali ia melihat sedikit pun dari    auratnya. Karena apa yang ada di bawah pusar hingga lutut adalah aurat.”</em> [Hadits hasan. Riwayat Ahmad (II/187) dan Abu Dawud (no.  495)]</p>
<p style="text-align:justify;">Meskipun jika dilihat dari <em>matan </em>(redaksi) nya, hadits   tersebut  ditujukan kepada kaum lelaki, namun hadits tersebut berlaku   juga bagi kaum  wanita karena kaum wanita adalah saudara   sekandung/belahan bagi kaum lelaki. Wanita belahan laki-laki maksudnya   adalah masing-masing  memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama dalam   syariat, termasuk diantaranya  adalah batasan aurat, menurut pendapat   dia atas.</p>
<p style="text-align:justify;">Diriwayatkan pula dari Abu Salamah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>,</p>
<p style="text-align:justify;">ذَخَلْتُ أَنَا وَأَخُو عَائِشَةَ  عَلَى عَائِشَةَ  فَسَأَلَهَا أَخُوهَا عَنْ غُسْلِ النَّبِيِّ صلى الله  عليه وسلم فَدَعَتْ  بِإِنَاءٍ نَحْوًا مِنْ صَاعٍ فَاغْتَسَلَتْ  وَأَفَاضَتْ عَلَى رَأْ سِهَا  وَبَيْنَنَا وَبَيْنَهَا حِجَابٌ .</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Aku dan saudara ‘Aisyah datang kepada ‘Aisyah, lalu  saudaranya   itu bertanya kepadanya tentang mandi yang dilakukan oleh Nabi   shallallahu  ‘alaihi wa sallam. Lantas ‘Aisyah meminta wadah yang berisi   satu sha’ (air),  kemudian ia mandi dan mengucurkan air di atas   kepalanya. Sementara antara kami dan beliau ada tabir.”</em> [Hadits shahih. Riwayat Bukhari (no. 251) dan Muslim  (no. 320)]</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Qadhi ‘Iyadh <em>rahimahullah</em> berkata, “Yang nampak  dari   hadits tersebut adalah bahwa keduanya (yakni Abu Salamah dan saudara    ‘Aisyah) melihat apa yang dilakukan oleh ‘Aisyah pada kepala dan bagian   atas  tubuhnya, dimana itu adalah bagian yang boleh dilihat oleh  seorang  mahram, dan  ‘Aisyah adalah bibinya Abu Salamah karena  persusuan,  sementara ‘Aisyah  meletakkan tabir untuk menutupi bagian  bawah  tubuhnya, karena bagian tersebut adalah  bagian yang tidak boleh  dilihat  oleh mahram.” [Lihat <em>Fat-hul Baari</em> (I/465)]</p>
<p style="text-align:justify;">Sehingga, kesimpulan dari pendapat pertama adalah mahram  boleh melihat seluruh tubuh wanita, <strong>kecuali </strong>bagian antara pusar hingga  lutut.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pendapat kedua:</strong> Seorang  mahram hanya boleh melihat   anggota tubuh wanita yang biasa nampak, seperti  anggota-anggota tubuh   yang terkena air wudhu’. [Lihat <em>Sunan al-Baihaqi</em> (no. 9417), <em>al-Inshaaf</em> (VIII/20), <em>al-Mughni</em> (VI/554), <em>al-Majmuu'  Fataawaa Ibn Taimiyah </em>(XVI/140) dan <em>Ensiklopedi Fiqh Wanita</em> (II/159)]</p>
<p style="text-align:justify;">Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, “Dahulu kaum lelaki dan wanita pada zaman Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa  sallam</em> melakukan wudhu’ secara bersamaan.” [Hadits shahih. Riwayat Bukhari    (no. 193), Abu Dawud (no. 79), an-Nasa'i (I/57) dan Ibnu Majah (no.   381)]</p>
<p style="text-align:justify;">Hadits di atas difahami sebagai suatu keadaan yang terjadi khusus   bagi para  istri dan mahram, di mana mahram boleh melihat anggota wudhu’   para wanita. [Lihat <em>Fat-hul  Baari</em> (I/465), <em>'Aunul Ma'bud</em> (I/147) dan <em>Jaami' Ahkaamin Nisaa'</em> (IV/195)]</p>
<p style="text-align:justify;">Kesimpulan dari  pendapat kedua adalah bahwa mahram hanya diperbolehkan untuk melihat <strong>anggota  wudhu’</strong> seorang wanita.</p>
<p style="text-align:justify;">***<br />
(muslimah.or.id)</p>
<br />Filed under: <a href='http://bidadari08.wordpress.com/category/artikel-islami-2/'>artikel islami</a> Tagged: <a href='http://bidadari08.wordpress.com/tag/artikel-islami/'>Artikel Islami</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bidadari08.wordpress.com/669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bidadari08.wordpress.com/669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bidadari08.wordpress.com/669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bidadari08.wordpress.com/669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bidadari08.wordpress.com/669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bidadari08.wordpress.com/669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bidadari08.wordpress.com/669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bidadari08.wordpress.com/669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bidadari08.wordpress.com/669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bidadari08.wordpress.com/669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bidadari08.wordpress.com/669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bidadari08.wordpress.com/669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bidadari08.wordpress.com/669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bidadari08.wordpress.com/669/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&amp;blog=3447897&amp;post=669&amp;subd=bidadari08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bidadari08.wordpress.com/2011/02/17/batasan-aurat-di-hadapan-mahram/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/042a78073904b6dd72c519fb96cf57a8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bidadari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Khadijah Binti Khuwalid Dan Kehidupannya Bersama Rasulullah</title>
		<link>http://bidadari08.wordpress.com/2011/02/17/kisah-khadijah-binti-khuwalid-dan-kehidupannya-bersama-rasulullah/</link>
		<comments>http://bidadari08.wordpress.com/2011/02/17/kisah-khadijah-binti-khuwalid-dan-kehidupannya-bersama-rasulullah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Feb 2011 04:13:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bidadari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Islami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bidadari08.wordpress.com/?p=666</guid>
		<description><![CDATA[Beliau adalah seorang sayyidah wanita sedunia pada zamannya. Dia adalah putri dari Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab al-Qurasyiyah al-Asadiyah. Dijuluki ath-Thahirah yakni yang bersih dan suci. Sayyidah Quraisy ini dilahirkan di rumah yang mulia dan terhormat kira-kira 15 tahun sebelum tahun fill (tahun gajah). Beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&amp;blog=3447897&amp;post=666&amp;subd=bidadari08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Beliau adalah seorang sayyidah wanita sedunia pada zamannya. Dia adalah  putri dari Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab  al-Qurasyiyah al-Asadiyah. Dijuluki ath-Thahirah yakni yang bersih dan  suci.</p>
<p style="text-align:justify;">Sayyidah Quraisy ini dilahirkan di rumah yang mulia dan terhormat  kira-kira 15 tahun sebelum tahun fill (tahun gajah). Beliau tumbuh dalam  lingkungan keluarga yang mulia dan pada gilirannya beliau menjadi  seorang wanita yang cerdas dan agung.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-666"></span>Beliau dikenal sebagai seorang yang teguh dan cerdik dan memiliki  perangai yang luhur. Karena itulah banyak laki-laki dari kaumnya menaruh  simpati kepadanya.</p>
<p>Pada mulanya beliau dinikahi oleh Abu Halah bin Zurarah at-Tamimi yang membuahkan dua orang anak yang bernama Halah dan Hindun.</p>
<p style="text-align:justify;">Tatkala Abu Halah wafat, beliau dinikahi oleh Atiq bin ‘A’id bin  Abdullah al-Makhzumi hingga beberapa waktu lamanya namun akhirnya mereka  cerai.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah itu banyak dari para pemuka-pemuka Quraisy yang menginginkan  beliau tetapi beliau memprioritaskan perhatiannya dalam mendidik  putra-putrinya, juga sibuk mengurusi perniagaan yang mana beliau menjadi  seorang yang kaya raya.</p>
<p style="text-align:justify;">Suatu ketika, beliau mencari orang yang dapat menjual dagangannya,  maka tatkala beliau mendengar tentang Muhammad sebelum bi’tsah (diangkat  menjadi Nabi), yang memiliki sifat jujur, amanah dan berakhlak mulia,  maka beliau meminta kepada Muhammad untuk menjualkan dagangannya bersama  seorang pembantunya yang bernama Maisarah. Beliau memberikan barang  dagangan kepada Muhammad melebihi dari apa yang dibawa oleh selainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Muhammad al-Amin pun menyetujuinya dan berangkatlah beliau bersama  Maisarah dan Allah menjadikan perdagangannya tersebut menghasilkan laba  yang banyak. Khadijah merasa gembira dengan hasil yang banyak tersebut  karena usaha dari Muhammad, akan tetapi ketakjubannya terhadap  kepribadian Muhammad lebih besar dan lebih mendalam dari semua itu. Maka  mulailah muncul perasaan-perasaan aneh yang berbaur dibenaknya, yang  belum pernah beliau rasakan sebelumnya. Pemuda ini tidak sebagamana  kebanyakan laki-laki lain dan perasaan-perasaan yang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Akan tetapi dia merasa pesimis; mungkinkah pemuda tersebut mau  menikahinya, mengingat umurnya sudah mencapai 40 tahun? Apa nanti kata  orang karena ia telah menutup pintu bagi para pemuka Quraisy yang  melamarnya?</p>
<p style="text-align:justify;">Maka disaat dia bingung dan gelisah karena masalah yang menggelayuti  pikirannya, tiba-tiba muncullah seorang temannya yang bernama Nafisah  binti Munabbih, selanjutnya dia ikut duduk dan berdialog hingga  kecerdikan Nafisah mampu menyibak rahasia yang disembuyikan oleh  Khodijah tentang masalah yang dihadapi dalam kehidupannya. Nafisah  membesarkan hati Khadijah dan menenangkan perasaannya dengan mengatakan  bahwa Khadijah adalah seorang wanita yang memiliki martabat, keturunan  orang terhormat, memiliki harta dan berparas cantik.Terbukti dengan  banyaknya para pemuka Quraisy yang melamarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Selanjutnya, tatkala Nafisah keluar dari rumah Khadijah, dia langsung  menemui Muhammad al-Amin hingga terjadilah dialog yang menunjukan  kelihaian dan kecerdikannya:</p>
<p style="text-align:justify;">Nafisah : Apakah yang menghalangimu untuk menikah wahai Muhammad?</p>
<p style="text-align:justify;">Muhammad : Aku tidak memiliki apa-apa untuk menikah .</p>
<p style="text-align:justify;">Nafisah : (Dengan tersenyum berkata) Jika aku pilihkan untukmu  seorang wanita yang kaya raya, cantik dan berkecukupan, maka apakah kamu  mau menerimanya?</p>
<p style="text-align:justify;">Muhammad : Siapa dia ?</p>
<p style="text-align:justify;">Nafisah : (Dengan cepat dia menjawab) Dia adalah Khadijah binti Khuwailid</p>
<p style="text-align:justify;">Muhammad : Jika dia setuju maka akupun setuju.</p>
<p style="text-align:justify;">Nafisah pergi menemui Khadijah untuk menyampaikan kabar gembira  tersebut, sedangkan Muhammad al-Amin memberitahukan kepada paman-paman  beliau tentang keinginannya untuk menikahi sayyidah Khadijah. Kemudian  berangkatlah Abu Tholib, Hamzah dan yang lain menemui paman Khadijah  yang bernama Amru bin Asad untuk melamar Khadijah bagi putra saudaranya,  dan selanjutnya menyerahkan mahar.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah usai akad nikah, disembelihlah beberapa ekor hewan kemudian  dibagikan kepada orang-orang fakir. Khadijah membuka pintu bagi keluarga  dan handai taulan dan diantara mereka terdapat Halimah as-Sa’diyah yang  datang untuk menyaksikan pernikahan anak susuannya. Setelah itu dia  kembali ke kampungnya dengan membawa 40 ekor kambing sebagai hadiah  perkawinan yang mulia dari Khadijah, karena dahulu dia telah menyusui  Muhammad yang sekarang menjadi suami tercinta.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka jadilah Sayyidah Quraisy sebagai istri dari Muhammad al-Amin dan  jadilah dirinya sebagai contoh yang paling utama dan paling baik dalam  hal mencintai suami dan mengutamakan kepentingan suami dari pada  kepentingan sendiri. Manakala Muhammad mengharapkan Zaid bin Haritsah,  maka dihadiahkanlah oleh Khadijah kepada Muhammad. Demikian juga tatkala  Muhammad ingin mengembil salah seorang dari putra pamannya, Abu Tholib,  maka Khadijah menyediakan suatu ruangan bagi Ali bin Abi Tholib  radhiallâhu ‘anhu agar dia dapat mencontoh akhlak suaminya, Muhammad  Shallallahu ‘alaihi wasallam .</p>
<p style="text-align:justify;">Allah memberikan karunia pada rumah tangga tersebut berupa  kebehagaian dan nikmat yang berlimpah, dan mengkaruniakan pada keduanya  putra-putri yang bernama al-Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqqayah, Ummi  Kalsum dan Fatimah.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian Allah Ta’ala menjadikan Muhammad al-Amin ash-Shiddiq  menyukai Khalwat (menyendiri), bahkan tiada suatu aktifitas yang lebih  ia sukai dari pada menyendiri. Beliau menggunakan waktunya untuk  beribadah kepada Allah di Gua Hira’ sebulan penuh pada setiap tahunnya.  Beliau tinggal didalamnya beberapa malam dengan bekal yang sedikit jauh  dari perbuatan sia-sia yang dilakukan oleh orang-orang Makkah yakni  menyembah berhala dan lain –lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Sayyidah ath-Thahirah tidak merasa tertekan dengan tindakan Muhammad  yang terkadang harus berpisah jauh darinya, tidak pula beliau mengusir  kegalauannya dengan banyak pertanyaan maupun mengobrol yang tidak  berguna, bahkan beliau mencurahkan segala kemampuannya untuk membantu  suaminya dengan cara menjaga dan menyelesaikan tugas yang harus dia  kerjakan dirumah. Apabila dia melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam  pergi ke gua, kedua matanya senantiasa mengikuti suaminya terkasih dari  jauh. Bahkan dia juga menyuruh orang-orang untuk menjaga beliau tanpa  mengganggu suaminya yang sedang menyendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal di dalam gua tersebut  hingga batas waktu yang Allah kehendaki, kemudian datanglah Jibril  dengan membawa kemuliaan dari Allah sedangkan beliau di dalam gua Hira’  pada bulan Ramadhan. Jibril datang dengan membawa wahyu.Selanjutnya  beliay Nabi Saw keluar dari gua menuju rumah beliau dalam kegelapan  fajar dalam keadaaan takut, khawatir dan menggigil seraya berkata:  “Selimutilah aku ….selimutilah aku …”.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah Khadijah meminta keterangan perihal peristiwa yang menimpa  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau menjawab:”Wahai Khadijah  sesungguhnya aku khawatir terhadap diriku”.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka Istri yang dicintainya dan yang cerdas itu menghiburnya dengan  percaya diri dan penuh keyakinan berkata: “Allah akan menjaga kita wahai  Abu Qasim, bergembiralah wahai putra pamanku dan teguhkanlah hatimu.  Demi yang jiwaku ada ditangan-Nya, sugguh aku berharap agar anda menjadi  Nabi bagi umat ini. Demi Allah, Dia tidak akan menghinakanmu selamanya,  sesungguhnya anda telah menyambung silaturahmi, memikul beban orang  yang memerlukan, memuliakan tamu dan menolong para pelaku kebenaran.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka menjadi tentramlah hati Nabi berkat dukungan ini dan kembalilah  ketenangan beliau karena pembenaran dari istrinya dan keimanannya  terhadap apa yang beliau bawa.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun hal itu belum cukup bagi seorang istri yang cerdas dan  bijaksana, bahkan beliau dengan segera pergi menemui putra pamannya yang  bernama waraqah bin Naufal, kemudian beliau ceritakan perihal yang  terjadi pada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam . Maka tiada ucapan  yang keluar dari mulutnya selain perkataan: “Qudus….Qudus…..Demi yang  jiwa Waraqah ada ditangan-Nya, jika apa yang engkau ceritakan kepadaku  benar,maka sungguh telah datang kepadanya Namus Al-Kubra sebagaimana  yang telah datang kepada Musa dan Isa, dan Nuh alaihi sallam secara  langsung.Tatkala melihat kedatangan Nabi, sekonyong-konyong Waraqah  berkata: “Demi yang jiwaku ada ditangan-Nya, Sesungguhnya engkau adalah  seorang Nabi bagi umat ini, pastilah mereka akan mendustakan dirimu,  menyakiti dirimu, mengusir dirimu dan akan memerangimu. Seandainya aku  masih menemui hari itu sungguh aku akan menolong dien Allah “. Kemudian  ia mendekat kepada Nabi dan mencium ubun-ubunnya. Maka Nabi Shallallahu  ‘alaihi wasallam bersabda: ” Apakah mereka akan mengusirku?”. Waraqah  menjawab: “Betul, tiada seorang pun yang membawa sebagaimana yang engkau  bawa melainkan pasti ada yang menentangnya. Kalau saja aku masih  mendapatkan masa itu …kalau saja aku masih hidup…”. Tidak beberapa lama  kemudian Waraqah wafat.</p>
<p style="text-align:justify;">Menjadi tenanglah jiwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala  mendengar penuturan Waraqah, dan beliau mengetahui bahwa akan ada  kendala-kendala di saat permulaan berdakwah, banyak rintangan dan beban.  Beliau juga menyadari bahwa itu adalah sunnatullah bagi para Nabi dan  orang-orang yang mendakwahkan dien Allah. Maka beliau menapaki jalan  dakwah dengan ikhlas semata-mata karena Allah Rabbul Alamin, dan beliau  mendapatkan banyak gangguan dan intimidasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun Khadijah adalah seorang yang pertama kali beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan yang pertama kali masuk Islam.</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau adalah seorang istri Nabi yang mencintai suaminya dan juga  beriman, berdiri mendampingi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang  dicintainya untuk menolong, menguatkan dan membantunya serta menolong  beliau dalam menghadapi kerasnya gangguan dan ancaman sehingga dengan  hal itulah Allah meringankan beban Nabi-Nya.Tidaklah beliau mendapatkan  sesuatu yang tidak disukai, baik penolakan maupun pendustaan yang  menyedihkan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali Allah  melapangkannya melalui istrinya bila beliau kembali ke rumahnya. Beliau  (Khadijah) meneguhkan pendiriannya, menghiburnya, membenarkannya dan  mengingatkan tidak berartinya celaan manusia pada beliau Shallallahu  ‘alaihi wasallam. Dan ayat-ayat Al-Qur’an juga mengikuti (meneguhkan  Rasulullah), Firman-Nya:</p>
<p style="text-align:justify;">“Hai orang-orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah  peringatan! Dan Rabb-Mu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan  perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud)  memperoleh (belasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah)  Rabb-Mu, bersabarlah!”(Al-Muddatstsir:1-7).</p>
<p style="text-align:justify;">Sehingga sejak saat itu Rasulullah yang mulia memulai lembaran hidup  baru yang penuh barakah dan bersusah payah. Beliau katakan kepada sang  istri yang beriman bahwa masa untuk tidur dan bersenang-senang sudah  habis. Khadijah radhiallâhu ‘anha turut mendakwahkan Islam disamping  suaminya -semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada beliau. Diantara  buah yang pertama adalah Islamnya Zaid bin Haritsah dan juga keempat  putrinya semoga Allah meridhai mereka seluruhnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Mulailah ujian yang keras menimpa kaum muslimin dengan berbagai macam  bentuknya,akan tetapi Khadijah berdiri kokoh bak sebuah gunung yang  tegar kokoh dan kuat. Beliau wujudkan Firman Allah Ta’ala:</p>
<p style="text-align:justify;">“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:  ‘Kami telah beriman’ , sedangkan mereka tidak diuji lagi?” .  (Al-’Ankabut:1-2).</p>
<p style="text-align:justify;">Allah memilih kedua putranya yang pertama Abdullah dan al-Qasim untuk  menghadap Allah tatkala keduanya masih kanak-kanak, sedangkan Khadijah  tetap bersabar. Beliau juga melihat dengan mata kepalanya bagaimana  syahidah pertama dalam Islam yang bernama Sumayyah tatkala menghadapi  sakaratul maut karena siksaan para thaghut hingga jiwanya menghadap sang  pencipta dengan penuh kemuliaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau juga harus berpisah dengan putri dan buah hatinya yang bernama  Ruqayyah istri dari Utsman bin Affan radhiallâhu ‘anhu karena putrinya  hijrah ke negeri Habsyah untuk menyelamatkan diennya dari gangguan  orang-orang musyrik. Beliau saksikan dari waktu ke waktu yang penuh  dengan kejadian besar dan permusuhan. Akan tetapi tidak ada kata putus  asa bagi seorang Mujahidah. Beliau laksanakan setiap saat apa yang  difirmankan Allah Ta’ala :</p>
<p style="text-align:justify;">“Kamu sungguh-sungguh akan duji terhadap hartamu dan dirimu. Dan  (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang  diberikan kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan  Allah, ganguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan  bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang di  utamakan “. (Ali Imran:186).</p>
<p style="text-align:justify;">Sebelumnya, beliau juga telah menyaksikan seluruh kejadian yang  menimpa suaminya al-Amin ash-Shiddiq yang mana beliau berdakwah di jalan  Allah, namun beliau menghadapi segala musibah dengan kesabaran. Semakin  bertambah berat ujian semakin bertambahlah kesabaran dan kekuatannya.  Beliau campakkan seluruh bujukan kesanangan dunia yang menipu yang  hendak ditawarkan dengan aqidahnya. Dan pada saat-saat itu beliau  bersumpah dengan sumpah yang menunjukkan keteguhan dalam memantapkan  kebenaran yang belum pernah dikenal orang sebelumnya dan tidak bergeming  dari prinsipnya walau selangkah semut. Beliau bersabda: “Demi Allah  wahai paman! seandainya mereka mampu meletakkan matahari di tangan  kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan dakwah  ini, maka sekali-kali aku tidak akan meninggalkannya hingga Allah  memenangkannya atau aku yang binasa karenannya”.</p>
<p style="text-align:justify;">Begitulah Sayyidah mujahidah tersebut telah mengambil suaminya  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai contoh yang paling agung  dan tanda yang paling nyata tentang keteguhan diatas iman. Oleh karena  itu, kita mendapatkan tatkala orang-orang Quraisy mengumumkan  pemboikotan mereka terhadap kaum muslimin untuk menekan dalam bidang  politik, ekonomi dan kemasyarakatan dan mereka tulis naskah pemboikotan  tersebut kemudian mereka tempel pada dinding ka’bah; Khadijah tidak ragu  untuk bergabung dengan kaum muslimin bersama kaum Abu Thalib dan beliau  tinggalkan kampung halamannya untuk menempa kesabaran selama tiga tahun  bersama Rasul dan orang-orang yang menyertai beliau menghadapi beratnya  pemboikotan yang penuh dengan kesusahan dan menghadapi  kesewenang-wenangan para penyembah berhala. Hingga berakhirlah  pemboikotan yang telah beliau hadapi dengan iman, tulus dan tekad baja  tak kenal lelah. Sungguh Sayyidah Khadijah telah mencurahkan segala  kemampuannya untuk menghadapi ujian tersebut di usia 65 tahun. Selang  enam bulan setelah berakhirnya pemboikotan itu wafatlah Abu Thalib,  kemudian menyusul seorang mujahidah yang sabar -semoga Allah meridhai  beliau- tiga tahun sebelum hijrah.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan wafatnya Khadijah maka meningkatlah musibah yang Rasul hadapi.  Karena bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Khadijah adalah  teman yang tulus dalam memperjuangkan Islam.</p>
<p style="text-align:justify;">Begitulah Nafsul Muthmainnah telah pergi menghadap Rabbnya setelah  sampai pada waktu yang telah ditetapkan, setelah beliau berhasil menjadi  teladan terbaik dan paling tulus dalam berdakwah di jalan Allah dan  berjihad dijalan-Nya. Dalalm hubungannya, beliau menjadi seorang istri  yang bijaksana, maka beliau mampu meletakkan urusan sesuai dengan  tempatnya dan mencurahkan segala kemamapuan untuk mendatangkan keridhaan  Allah dan Rasul-Nya. Karena itulah beliau berhak mendapat salam dari  Rabb-nya dan mendapat kabar gembira dengan rumah di surga yang terbuat  dari emas, tidak ada kesusahan didalamnya dan tidak ada pula keributan  didalamnya. Karena itu pula Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik wanita  adalah Maryam binti Imran, sebaik-baik wanita adalah Khadijah binti  Khuwailid”.</p>
<p style="text-align:justify;">Ya Allah ridhailah Khadijah binti Khuwailid, As-Sayyidah  Ath-Thahirah. Seorang istri yang setia dan tulus, mukminah mujahidah di  jalan diennya dengan seluruh apa yang dimilikinya dari perbendaharaan  dunia. Semoga Allah memberikan balasan yang paling baik karena  jasa-jasanya terhadap Islam dan kaum muslimin. (ar/kisah) <a href="http://www.suaramedia.com/">www.suaramedia.com</a></p>
<br />Filed under: <a href='http://bidadari08.wordpress.com/category/kisah-islami/'>Kisah Islami</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bidadari08.wordpress.com/666/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bidadari08.wordpress.com/666/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bidadari08.wordpress.com/666/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bidadari08.wordpress.com/666/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bidadari08.wordpress.com/666/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bidadari08.wordpress.com/666/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bidadari08.wordpress.com/666/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bidadari08.wordpress.com/666/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bidadari08.wordpress.com/666/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bidadari08.wordpress.com/666/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bidadari08.wordpress.com/666/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bidadari08.wordpress.com/666/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bidadari08.wordpress.com/666/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bidadari08.wordpress.com/666/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&amp;blog=3447897&amp;post=666&amp;subd=bidadari08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bidadari08.wordpress.com/2011/02/17/kisah-khadijah-binti-khuwalid-dan-kehidupannya-bersama-rasulullah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/042a78073904b6dd72c519fb96cf57a8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bidadari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tiga Kriteria Manusia Terbaik</title>
		<link>http://bidadari08.wordpress.com/2011/02/04/tiga-kriteria-manusia-terbaik/</link>
		<comments>http://bidadari08.wordpress.com/2011/02/04/tiga-kriteria-manusia-terbaik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Feb 2011 16:19:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bidadari</dc:creator>
				<category><![CDATA[ma'rifatullah]]></category>
		<category><![CDATA[Mahabatullah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bidadari08.wordpress.com/?p=662</guid>
		<description><![CDATA[Manusia merupakan makhluk yang paling mulia yang Allah SWT ciptakan di antara seluruh makhluk lain di dunia ini, demikian Allah SWT tegaskan dalam QS  Al-Israa ayat 70; “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkat mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&amp;blog=3447897&amp;post=662&amp;subd=bidadari08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Manusia merupakan makhluk yang paling mulia yang Allah SWT ciptakan  di  antara seluruh makhluk lain di dunia ini, demikian Allah SWT tegaskan   dalam QS  Al-Israa ayat 70; “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak   cucu Adam, dan Kami angkat mereka di darat dan di laut, dan Kami beri   mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas   banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.”</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-662"></span>Kemuliaan  yang Allah berikan disertai dengan segala potensi manusia,  baik akal,  alat indera, fisik, hati, dan sebagainya. Potensi-potensi  tersebut harus  diaktualisasikan selain sebagai alat untuk memenuhi  kebutuhan  kehidupannya juga sebagai bentuk ekspresi syukur kepada sang  Khaliq.  Di antara sekian banyak umat manusia, mereka ada yang bersyukur  (orang  beriman) dan ada yang kufur (musyrik). Orang yang bersyukur  inilah yang  sesuai dengan harapan Allah untuk senantiasa beribadah  kepada-Nya  sebagaimana Allah nyatakan dalam QS. Al-Dzariyat ayat 56:  “Dan tidaklah  Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya  beribadah kepadaku.”</p>
<p>Menjadi  seorang mu’min tentulah harus  menjadi seorang yang terbaik di antara  mu’min yang lainnya. Predikat  ini lah yang Rasulullah SAW harapkan agar  menjadi mu’min yang  berkualitas. Dalam beberapa haditsnya, Rasul SAW  telah memberikan  kriteria mu’min yang terbaik. Saking banyaknya  kriteria tersebut,  sampai ada seorang Ulama yang menulis sebuah kitab  berjudul Khairunnas  (manusia yang terbaik). Dalam tulisan ini akan  dicoba diulas mengenai  tiga kriteria manusia terbaik yang didasarkan  pada hadits Rasulullah  SAW.</p>
<p>Pertama, <em>khairukum man ta’allamal Qur’aan wa ‘Allamahu</em> (orang yang terbaik di antara kalian adalah orang yang belajar Alquran   dan mengajarkannya (pada orang lain). Mempelajari Alquran adalah   kewajiban individu (fardhu ‘ain) bagi setiap muslim karena merupakan   sumber utama petunjuk hidup manusia bahkan lebih khususnya lagi orang   Islam. Keselamatan hidup di dunia ini tentu akan dirasakan jika manusia   itu sendiri berpegang teguh pada petunjuk tersebut sebagaimana telah   dijaminkan oleh Rasul SAW.</p>
<p>Seorang ulama bernama Abdullah Darraz   mengatakan, “Alquran bagaikan mutiara yang indah berkilau. Dari sudut   manapun orang melihat mutiara tersebut, pasti akan mendapatkan pancaran   keindahan.” Begitu pun Alquran, siapapun orang yang membacanya pasti   akan mendapatkan hidayah darinya, dari mulai orang awam sekalipun sampai   tingkat ulama atau intelektual.</p>
<p>Kedua, <em>manyuridillaahu khairan yufaqqihhu fid diin</em> (siapa orang yang Allah kehendaki menjadi orang terbaik, Dia akan   memahamkannya dalam urusan agama). Menjadi orang yang faham dalam urusan   agama merupakan suatu keharusan bagi umat Islam karena pemahaman   terhadap agama akan sangat berpengaruh pada pengamalan ajaran agamanya.   Rasulullah SAW sendiri sempat memberikan isyarat betapa urgennya   memahami ajaran agama dan Allah SWT pun menegaskan dalam QS Al-Taubah   ayat122; “….dan hendaklah segolongan di antara kalian ada orang-orang   yang mau mendalami ajaran agama (liyatafaqqohuu fiddiin ) dan memberikan   peringatan kaum yang lainnya…”</p>
<p>Mendalami ajaran agama bersifat   abadi, tidak mengenal waktu, usia, tempat. Selama hayat masih dikandung   badan, selama napas masih berhembus, selama kita masih diberikan   kesempatan oleh Allah SWT. Hadits Rasul SAW mengatakan “Uthlubul ‘ilma   minal mahdi ilal lahdi” (carilah ilmu dari mulai dibuai sampai   meninggal). Kefahaman seseorang dalam agama akan memberikan cahaya   penerang bagi umat yang lainnya. Memberikan bimbingan bagi yang   tersesat, memberikan peringatan bagi yang terlalaikan.</p>
<p>Selain   alasan di atas, kelangkaan orang yang faqih dalam agama bisa menjadi   kekhawatiran bagi umat Islam. Hilangnya seorang pemimpin di pemerintahan   atau perusahaan tidak perlu dikhawatirkan karena sudah banyak orang   yang siap menggantinya. Berbeda halnya jika seorang ulama meninggal,   maka akan sangat sulit mencari siapa penggantinya.</p>
<p>Sebuah adagium   bahasa Arab yang menyatakan,” Jadilah engkau orang yang berilmu, atau   orang yang menuntut ilmu, atau orang yang mendengarkan ilmu, atau orang   yang mencintai ilmu. Tapi jangan menjadi orang yang kelima, maka  engkau  akan hancur/rusak.”</p>
<p>Ketiga, <em>khairunnaas anfa’uhum linnaas</em> (sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat untuk manusia   yang lainnya). Menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain merupakan   perkara yang sangat dianjurkan oleh agama. Hal ini menjadi indikator   berfungsinya nilai kemanusiaan yang sebenarnya. Eksistensi manusia   sebenarnya ditentukan oleh kemanfataannya pada yang lain. Adakah dia   berguna bagi orang lain, atau malah sebaliknya menjadi parasit buat yang   lainnya. Permisalan umum yang sering diungkapkan adalah “hiduplah  bagai  seekor lebah, jangan seperti lalat.”</p>
<p>Seekor lebah dia  hidup  selalu dari yang indah/ bersih, dia hinggap di tangkai bunga  tanpa  mematahkannya, dia mengeluarkan sesuatu dzat yang sangat berguna  atau  menyehatkan yaitu madu. Sedangkan lalat, dia hidup selalu di  lingkungan  yang kotor, memberikan atau menyebarkan penyakit ke  mana-mana.</p>
<p>Kalau  kita coba menginstrospeksi diri kita, maka  lihatlah keluarga kita,  tetangga kita, saudara, kerabat, dan umat  secara keseluruhan. Apakah  mereka semua merasa senang ketika kita ada  atau malah sebaliknya?  Secara filosofis keberadaan kita itu harus  berimbas kemaslahatan buat  yang lain bukan hanya sekedar diri kita  saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari uraian di atas,  kita harus bertekad untuk menjadi manusia yang  terbaik (khairunnaas)  versi Allah SWT dan Rasul-Nya. Hal itu akan  terasa bahagia dunia dan  akhirat, tidak hanya bahagia dunia saja  seperti halnya penghargaan antar  manusia (award-award) dunia. Kata  kuncinya adalah memberi manfaat bagi  sesama. Semoga.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Ihsan Faisal MAg/ Republika.co.id</p>
<br />Filed under: <a href='http://bidadari08.wordpress.com/category/marifatullah-2/'>ma'rifatullah</a> Tagged: <a href='http://bidadari08.wordpress.com/tag/mahabatullah/'>Mahabatullah</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bidadari08.wordpress.com/662/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bidadari08.wordpress.com/662/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bidadari08.wordpress.com/662/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bidadari08.wordpress.com/662/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bidadari08.wordpress.com/662/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bidadari08.wordpress.com/662/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bidadari08.wordpress.com/662/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bidadari08.wordpress.com/662/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bidadari08.wordpress.com/662/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bidadari08.wordpress.com/662/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bidadari08.wordpress.com/662/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bidadari08.wordpress.com/662/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bidadari08.wordpress.com/662/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bidadari08.wordpress.com/662/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bidadari08.wordpress.com&amp;blog=3447897&amp;post=662&amp;subd=bidadari08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bidadari08.wordpress.com/2011/02/04/tiga-kriteria-manusia-terbaik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/042a78073904b6dd72c519fb96cf57a8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bidadari</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
