Sikap Kita Kepada Allah SWT


Assalaamu’alaikum wr. wb.

Seorang teman saya dahulu pernah menegur saya karena tidak segera
melaksanakan shalat ketika adzan berkumandang.  Ketika itu, pembenaran yang saya ajukan adalah karena saya tengah mengerjakan sesuatu yang hampir selesai.  Paling-paling sepuluh atau lima belas
menit lagi tuntas, dan saya bisa melaksanakan shalat dengan tenang.  Sepuluh atau
lima belas menit, tidak terlalu terlambat, bukan?  Lagipula, shalat yang dimaksud adalah shalat Zhuhur, yang waktunya cukup panjang.

Di luar dugaan, teman saya itu menanggapi sikap saya tadi secara sangat serius.  Menurutnya, kalau saya menunda-nunda shalat, maka bisa jadi kelak Allah pun akan menunda-nunda urusan dengan
kita di akhirat. Manusia biasanya memperlakukan orang lain sebagaimana orang itu bersikap kepadanya.  Orang baik biasanya akan diperlakukan baik oleh teman-temannya, dan orang brengsek akan selalu dibenci oleh lingkungannya.  Allah memang tidak sama dengan manusia.  Tapi jika
manusia pun bisa cemburu, maka Allah pun lebih berhak untuk cemburu.

Istri atau suami saja bisa cemberut kalau urusannya dinomorduakan setelah pekerjaan.  Padahal urusan pekerjaan itu adalah demi kepentingan keluarga juga.  Bagaimana dengan Allah?
Pantaskah kita menomorduakan Allah dari urusan-urusan yang sama sekali tidak memberi
keuntungan pada-Nya?  Pekerjaan kita tidak memberi manfaat apa-apa pada-Nya.  Bahkan sebaliknya, kemampuan kita untuk melaksanakan pekerjaan kita sehari-hari adalah rahmat dari-Nya.
Lantas mengapa kita bisa mendahulukan pekerjaan daripada shalat?

Beginilah sebuah gambaran sikap kita terhadap Allah SWT.  Kita seringkali menomorduakan Allah, padahal tidak mungkin ada sesuatu pun di dunia ini yang lebih utama daripada Dia.  Kita sering
`menyuruh-Nya’ menunggu, padahal Allah tidak pernah lalai dalam menebar rahmat-Nya.  Setiap pagi Allah tidak pernah lupa melimpahi kita dengan rahmat berupa udara segar dan perasaan yang nyaman.
Mengapa kita berlambat-lambat dalam melaksanakan perintah-Nya yang cuma lima kali dalam sehari?

Teguran teman saya itu memang terbatas pada konteks shalat, namun dasar pemikirannya jauh lebih dalam.  Sangat filosofis.  Jika ingin dijadikan `hamba kelas satu’ oleh Allah, tentu tidak cukup bagi kita jika hanya melakukan amal-amal yang `standar’.  Ini adalah sebuah masalah logika yang sudah sangat jelas.  Manusia itu berbeda-beda dalam hal ketaqwaannya, dan itulah ukuran yang paling
pantas untuk kita gunakan.  Seberapa besarkah usaha kita dalam bertaqwa kepada  Allah?

Kalau kita malas mengingat Allah, maka jangan heran kalau kelak Allah pun tidak begitu berminat memandang kita dengan penuh kasih sayang. Kalau kita tidak rindu pada-Nya, jangan protes kalau
ternyata Allah pun tidak merasa rindu pada kita.  Kalau hati kita tidak bahagia mendengar nama-Nya disebut, jangan bingung kalau kelak Allah tidak menyambut kita dengan sambutan hangat : “Hai jiwa-jiwa yang tenang…”

Kita pun sering malas bersusah payah demi melaksanakan perintah-Nya.  Ketika rapat, kadang kita merasa malu untuk sekedar meminta waktu istirahat sepuluh menit untuk melaksanakan shalat.
Dalam keadaan begini, apa memang kita bisa berharap Allah akan membukakan jalan bagi
kita ketika kita menghadapi kesulitan yang besar?  Sekedar angkat bicara demi perintah Allah saja kita tidak mau, lantas bagaimana mungkin kita berharap Allah akan sudi `turun tangan’ untuk melepaskan
kita dari jerat-jerat masalah?

Sekedar membuka lembaran-lembaran mushaf Al-Qur’an saja kita enggan. Padahal Al-Qur’an penuh dengan ayat-ayat penuh cinta yang Allah buat khusus bagi hamba-hamba-Nya yang selalu merindu.  Jika melihat ayat-ayat cinta dari-Nya saja sudah susah, mengapa engkau merasa yakin bahwa Allah akan mendengar doa-doamu?  Jika engkau tidak merindukan-Nya, mengapa engkau yakin bahwa Dia
benar-benar  mencintai-Mu?

Sesuai Q.S. Ar-Ra’dan [13] : 28, memang hanya dengan mengingat Allah-lah hati bisa menjadi tentram.  Begitulah keadaan hati orang-orang yang beriman jika mengingat Allah.  Namun
jika kita mengingat-ingat cara kita memperlakukan Allah, maka besar kemungkinan
kita akan merasa sedih.  Sedih bukan main.

Bagaimana dengan Anda?  Anda tentu tahu persis bagaimana sikap Anda sehari-hari kepada Allah.  Sekarang Anda sudah bisa memperkirakan bagaimana sikap Allah kepada Anda ketika bertemu di
akhirat kelak,  bukan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: