Meniti Kemuliaan di Sisi Allah


Penulis : KH Abdullah Gymnastiar

Sesungguhnya yang termahal dalam hidup ini adalah kuatnya keyakinan kepada Allah. Kian kuat keyakinan seseorang kepada Allah, makin tinggi kedudukan di sisi-Nya. Kian gigih perjuangan seseorang mendekat kepada Allah, makin ringan mendapatkan kemuliaan-Nya.

Kemuliaan dapat diukur dari seberapa besar hati terpaut kepada Allah. Baginya, apa artinya dikenal orang tapi hati tidak mengenal Allah; apa artinya Allah memberikan banyak rezeki tapi hati miskin
dari memberi; apa artinya oranglain merindukan kita tapi hati tidak merindukan Allah; dan apa artinya kita ditolong Allah tapi kita jarang menolong hamba Allah. Sehingga, harta, rupa dan popularitas
terlalu murah untuk dijadikan tolok ukur kemuliaan. Lalu, bagaimana cara menggapai kemuliaan itu?

Hal pertama yang bisa kita lakukan dengan bertanya pada diri, seberapa banyak dalam sehari semalam hati kita mengingat Allah. Saat kita bangun, makan, berjalan, tidur, apakah yang diingat Allah? Saat
ditimpa kesenangan dan kesulitan, apakah yang diingat Allah?

Dalam hal ini, hati menjadi sarana mulia hinanya kedudukan manusia di sisi Allah. Seperti halnya sabda Rasulullah, “Siapa yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi-Nya, maka hendaknya memerhatikan bagaimana kedudukan Allah dalam hatinya. Sesungguhnya Allah menempatkan hamba-Nya, sebagaimana hamba itu menempatkan Allah dalam hatinya.”

Kedua, muncul dalam diri kesenangan untuk `menyenangkan’ Allah. Saat mendengar adzan, segera menyambutnya dan bergegas pergi ke `rumah-Nya’. Allah menyenangi hamba-Nya yang senang shalat berjamaah di masjid. Begitu juga dengan shalat tahajud yang dilakukan.

Walaupun sedang tidur nyenyakr, tapi saat itu, saat yang disenangi Allah, maka segera bergegas menunaikannya. Kesenangan kita `menyenangkan’ Allah itu merupakan indikasi mendapatkan
kedudukan disisi-Nya. Ketiga, kegigihan dalam menjalankannya dan kegigihan dalam menghindar dari maksiat. Kita meyakini adanya makhluk yang senantiasa mengganggu, menghalangi berbuat baik. Baik yang berwujud maupun yang ghaib, yang menyebabkan niat menjadi tidak lurus. Untuk itu, kegigihan diperlukan untuk menangkalnya.

Ciri lain seseorang yang mendapatkan kedudukan di sisi Allah adalah dirasakan manfaatnya di mata manusia. Kedudukan di mata Allah dan di mata manusia tidak ada bedanya.

Sama-sama dimuliakan. Saudaraku, Allah memberikan keleluasaan bagi hamba-Nya untuk memperoleh kemuliaan hidup tinggal tujuannya, apakah yang diharapkan kemuliaan dari Allah SWT atau kemuliaan dari manusia?

Wallahu a’lam bishshawwab.

Sumber : Majalah Swadaya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: