Ikhlas Berbuah KeTANGGUHan


Oleh :Ust.Tate Qomaruddin,Lc.

Dari Amirul Mu’minin Abu Hafsh Umar bin al-Khattabr.a. ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Amal-amal itu bergantung pada niatnya. Setiap orang hanya akan memperoleh apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya maka hijrahnya itu (dinilai sebagai hijrah) kepada Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa hijrahnya untuk memperoleh dunia atau menikahi wanita maka hijrahnya itu dinilai sesuai dengan yang ia tuju.’” (H.R. Bukhari dan Muslim)

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِامْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ)

Hadis ini diriwayatkan oleh dua Imam muhadditsin, yakni Imam Bukhari dan Imam Muslim. Para ulama sepakat atas kesahihan hadis ini. Ada pun sababul wurud hadis ini, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari Abdullah Bin Mas’ud, “Ada seorang laki-laki yang melamar seorang perempuan bernama Ummu Qais. Namun perempuan itu menolak dinikahi kecuali jika si laki-laki itu berhijrah. Maka ia pun berhijrah dan lalu menikahinya. Maka kami menyebutknya Muhajir Ummu Qais.”

Begitu pentingnya nilai keikhlasan dalam beribadah, berkarya, dan berjuang. Bahkan Al Quran pun menegaskan hal itu. Firman-Nya:

وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين حنفاء ويقيموا الصلاة ويؤتوا الزكاة وذلك دين القيمة (البينة 5)

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Q.S. Al Bayyinah … : 5)

لن ينال الله لحومها ولا دماؤها ولكن يناله التقوى منكم كذلك سخرها لكم لتكبروا الله على ما هداكم وبشر المحسنين (الحج 37)

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridoan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al Hajj … : 37)

Keikhlasan merupakan syarat diterimanya amal. Suatu amal yang tidak disertai dengan keikhlasan bukan saja tidak akan mendatangkan pahala tapi malah akan menyebabkan pelakunya mendapatkan kesengsaraan di hari akhirat. Sebuah hadis sahih menjelaskan tiga kelompok manusia yang celaka bukan karena malas beramal namun karena amalnya dilakukan dengan riya, alias kehilangan keikhlasan. Mereka adalah orang yang berinfak hingga habis hartanya, yang berjihad hingga mati di medan perang, dan orang yang menuntut ilmu lalu mengajarkannya serta membaca Quran. Ternyata nasib mereka sama: dicampakkan ke dalam neraka. Mengapa? Karena amal mereka disertai riya dan bukan semata-mata mencari rido Allah swt.

Namun, urusan ada dan tidak adanya keikhlasan dalam beramal ini bukan hanya urusan ada atau tidak adanya pahala dari Allah swt. di hari akhirat. Lebih dari itu, keikhlasan adalah kekuatan jiwa yang buahnya dapat dirasakan sejak di dunia. Banyak sukses dalam kehidupan di dunia berangkat dari keikhlasan. Keikhlasan adalah enerji bagi seseorang untuk tetap tangguh di dalam beramal, berdakwah, dan komitmen memegang prinsip-prinsip perjuangan. Bagaimana itu terjadi?

Pertama, orang yang ikhlas dalam beramal, berdakwah, dan berjuang akan selalu menyadari betapa besar pahala dan kenikmatan yang Allah janjikan. Tidak ada perbuatan yang sia-sia manakala dilakukan dengan keikhlasan. Firman Allah swt.,

ما كان لأهل المدينة ومن حولهم من الأعراب أن يتخلفوا عن رسول الله ولا يرغبوا بأنفسهم عن نفسه ذلك بأنهم لا يصيبهم ظمأ ولا نصب ولا مخمصة في سبيل الله ولا يطؤون موطئا يغيظ الكفار ولا ينالون من عدو نيلا إلا كتب لهم به عمل صالح إن الله لا يضيع أجر المحسنين

“Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Badwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan, dan kelaparan pada jalan Allah. Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. At-Taubah 9:120)

Ayat itu menjelaskan, jangankan harta atau nyawa yang dikorbankan, bahkan sekadar rasa lapar, dahaga, penat, letih, dan apa pun yang dirasakan saat melakukan dakwah dan jihad fi sabilillah, itu semua merupakan amal saleh dan dicatat oleh Allah swt. sebagai kebaikan. Subhanallah!

Rasulullah saw. bersabda:

تَكَفَّلَ اللهُ لِمَنْ جَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِهِ لاَ يُخْرِجُهُ مِنْ بَيْتِهِ إِلاَّ جِهَادٌ فِيْ سَبِيْلِهِ وَتَصْدِيْقُ كَلِمَتِهِ بِأَنْ يُدْخِلُهُ الْجَنَّةَ أَوْ يُرْجِعُهُ إِلَى مَسْكَنِهِ الَّذِيْ خَرَجَ مِنْهُ مَعَ مَا نَالَ مِنَ أَجْرٍ أَوْ غَنِيْمَةٍ (رواه البخاري ومسلم)

“Allah telah menjamin bagi orang yang berjihad di jalan Allah, tidak ada yang mendorongnya keluar dari rumah selain jihad di jalan-Nya dan membenarkan kalimat-kalimat-Nya untuk memasukkannya ke surga atau mengembalikannya ke tempat tinggal semula dengan membawa pahala atau ghanimah.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Kedua, kekuatan keyakinan akan indahnya pahala di sisi Allah swt. bagi orang yang beramal dan berjuang secara ikhlas itu, membuahkan sikap mental: segala beban dan penderitaan yang didapat saat berjuang dirasakan ringan, bahkan dirasakan sebagai sesuatu yang nikmat, menyenangkan, dan membahagiakan. Ia menjalaninya tanpa keluh kesah.

Itulah yang dirasakan Abu Dzar al-Gifari r.a. Saat terjadi perang Tabuk, Abu Dzar tertinggal rombongan mujahidin yang dimimpin langsung oleh Rasulullah saw. Itu terjadi karena kendaraan yang dinaikinya berjalan lambat. Akhirnya beliau turun dari kendaraannya itu dan memanggul barang-barang bawaaannya di atas pundaknya. Tidak ada keluh kesah dan tidak ada perasaan berat saat beliau harus menempuh perjalanan dari kota Madinah ke Tabuk, yang jaraknya kurang lebih 900 km. Padahal perjalanan itu ditempuh sendirian dan berjalan kaki pula. Perjalanan yang bagi orang-orang munafiq dirasakan amat berat. Karena Abu Dzar tahu bahwa dalam perjalan jihad itu ada pahala dan ganjaran dari Allah swt. beliau benar-benar dapat menikmati kepenatan-kepenatan dakwah.

Ketiga, siap bekerja dan berjuang secara berkesinambungan. Orang yang ikhlas dalam beramal, berdakwah, dan melakukan perjuangan apa pun tidak mudah terjebak dan tergoda oleh kondisi-kondisi sesaat. Tidak ada yang dapat menghentikan orang yang ikhlas dari amal dan perjuangannya selain kematian. Ia benar-benar mempraktikkan pesan Allah swt.:

فمن كان يرجو لقاء ربه فليعمل عملا صالحا ولا يشرك بعبادة ربه أحدا

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-nya.” (Q.S. 18:110)

Karenanya, setan sekalipun tidak mempunyai daya untuk menggoda orang yang ikhlas. Tentang itu Allah swt. menjelaskan:

قال رب بما أغويتني لأزينن لهم في الأرض ولأغوينهم أجمعين إلا عبادك منهم المخلصين

“Iblis berkata, ‘Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya; kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis (ikhlas) di antara mereka.” (Q.S. 15: 39-40)

Keempat, mampu mempertahankan, memelihara, dan meperkuat ukhuwwah islamiyyah. Karena potensi konflik mudah diredam. Imam al-Ghazali mengatakan, “Tidak akan terjadi saling dengki di kalangan para ulama. Sebab yang mereka tuju adalah ma’rifatullah (mengenal Allah). Dan tujuan seperti itu bagaikan samudera luas yang tidak bertepi. Dan yang mereka cari adalah kedudukan di sisi Allah. Dan itu pun merupakan tujuan yang tidak terbatas. Karena kenikmatan paling tinggi yang ada pada sisi Allah adalah memandang-Nya. Dan dalam hal itu tidak akan ada saling dorong dan berdesak-desakan. Orang-orang yang melihat Allah tidak akan merasa sempit dengan adanya orang lain yang juga melihat-Nya.

Bahkan, semakin banyak yang melihat semakin nikmatlah mereka. Memang, bila para ulama, dengan ilmunya itu menginginkan harta dan wibawa mereka pasti saling dengki. Sebab harta merupakan materi. Jika ia ada pada tangan seseorang pasti hilang dari tangan orang lain. Dan wibawa adalah penguasaan hati. Jika hati seseorang mengagungkan seorang ulama pasti orang itu tidak mengagungkan ulama lainnya.” (Ihya-u ‘Ulumid-Din, Imam al-Ghazali, juz III hal. 191.)

Rido Allah itu amat luas, tak berbatas. Dan yang mereka inginkan adalah surga Allah. Sedangkan rido Allah itu juga luas seluas langit dan bumi. Terjadilah saling sikut dan iri manakala orientasi mereka sudah berubah menuju dunia. Karena memang dunia ini sempit, tidak dapat menampung banyak orang.

Keikhlasan dalam perjuangan bukanlah tuntutan masa kini saja. Karena ia merupakan tuntutan perjuangan kapan pun. Lihatlah bagaimana para sahabat memupuk keikhlasan. Melalui interaksi dengan Kitabullah dan Nabi Muhammad saw., mereka memahami betul bahwa memurnikan (mengikhlaskan) orientasi dan amal hanya untuk Allah adalah suatu keniscayaan yang tidak dapat ditawa-tawar lagi, untuk memperoleh pertolongan dan dukungan Allah dalam setiap perjuangan yang mereka terjuni.

Para sahabat memahami hal itu dan mengaplikasikannya dalam diri mereka. Maka dampaknya pun terlihat dalam perilaku mereka. Syaddad bin al-Hadi mengatakan, “Seorang Arab gunung datang kepada Rasulullah saw. lalu beriman dan mengikutinya. Orang itu mengatakan, ‘Aku akan berhijrah bersamamu.’ Maka Rasulullah saw. menitipkan orang itu kepada para sahabatnya. Saat terjadi perang Khaibar, Rasulullah saw. memperoleh ghanimah (rampasan perang). Lalu beliau membagi-bagikannya dan menyisihkan bagian untuk orang itu seraya menyerahkannya kepada para sahabat. Orang itu biasa menggembalakan binatang ternak mereka. Ketika ia datang maka para sahabat menyerahkan jatahnya itu. Orang itu mengatakan, ‘Apa ini?’ Mereka menjawab, ‘Ini adalah bagianmu yang dijatahkan oleh Rasulullah saw.’ Orang itu mengatakan lagi, ‘Aku mengikutimu bukan karena ingin mendapatkan bagian seperti ini. Aku mengikutimu semata-mata karena aku ingin tertusuk dengan anak panah di sini (sambil menunjuk tenggorokannya), lalu aku mati lalu masuk surga.’ Rasulullah saw. mengatakan, ‘Jika kamu jujur kepada Allah maka Dia akan meluluskan keinginanmu.’

Lalu mereka berangkat untuk memerangi musuh. Para sahabat datang dengan membopong orang itu dalam keadaan tertusuk panah di bagian tubuh yang ditunjuknya. Rasulullah saw. mengatakan, ‘Inikah orang itu?’ Mereka menjawab, ‘Ya.’ Rasulullah saw. berujar, ‘Ia telah jujur kepada Allah maka Allah meluluskan keinginannya.’ Lalu Rasulullah saw. mengafaninya dengan jubah beliau kemudian menshalatinya. Dan di antara doa yang terdengar dalam shalatnya itu adalah, “Allaahumma haadza ‘abduka kharaja muhaajiran fii sabiilika faqutila syahiidan wa ana syahidun ‘alaihi” (Ya Allah, ini adalah hamba-Mu. Dia keluar dalam rangka berhijrah di jalan-Mu, lalu ia terbunuh sebagai syahid dan aku menjadi saksi atasnya).” (H.R. An-Nasai)

Segala tujuan yang bukan mencari rido Allah swt. dalam berdakwah adalah tujuan yang harus dikikis. Apalagi bila tujuan mencari selain rido Allah itu dengan membuat Allah murka, hal itu lebih buruk lagi. Sabda Rasulullah saw.,

مَنِ الْتَمَسَ رِضَى اللهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَأَرْضَى النَّاسَ عَنْهُ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطَ اللهِ سَخِطَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسَ (رواه ابن حبان)

“Siapa yang mencari rido Allah dengan (risiko) kebencian manusia maka Allah akan rido padanya dan membuat orang-orang rido padanya. Dan siapa yang mencari rido manusia dengan membuat Allah murka maka Allah akan murka padanya dan membuat orang-orang benci pula padanya.” (H.R. Ibnu Hibban). Wallahu A’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: