Mengukur Rasa Cinta Kepada Allah SWT


Cinta ditilik dari sudut mana pun selalu menarik untuk dibahas. Sejarah mencatat bahwa sejumlah seniman, teolog, sampai filosof membicarakan cinta dari berbagai perspektifnya, baik dalam bentuk roman, puisi, syair, bahkan sampai dalam bentuk tulisan ilmiah yang bernuansa teologis, fenomenologis, psikologis, ataupun sosiologis.

Filsuf sekaliber Plato bahkan pernah mengatakan siapa yang tidak terharu oleh cinta, berarti berjalan dalam gelap gulita.” Pernyataan ini menggambarkan betapa besar perhatian Plato pada masalah cinta, sampai-sampai dia menyebut orang yang tidak tertarik untuk membicarakannya sebagai orang yang berjalan dalam kegelapan.

Ericf Fromm, murid kesayangannya Sigmund Freud, menyebutkan empat unsur yang harus ada dalam cinta, yaitu: care (perhatian), responsibility (tanggung jawab), respect (rasa hormat), dan knowledge (pengetahuan).

Nah, sekarang bagaimana cara mengukur rasa cinta seorang hamba kepada Khalik-Nya. Ada beberapa indikator yang bisa dijadikan pegangan, yaitu:

1. Rindu bertemu dengan Allah

“Barangsiapa yang merindukan bertemu dengan Allah, maka Allah pun merindukan bertemu dengannya.” (H.R. Ahmad, Tirmudzi, Nasa’i)

2. Merasa nikmat berkhalwat (munajat/komunikasi dengan Allah)

Shalat itu menjadi penyejuk hati.” (H.R. Ahmad, Nasa’i, Hakim)
Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” Q.S. As-Sajdah 16-17

3. Selalu sabar dalam mengarungi kehidupan (tangisan-ujian-kefanaan)
Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” Q.S. An-Nahl 16: 96

· Sabar menghadapi nafsu syahwat, seperti Nabi Yusuf a.s.
· Sabar menghadapi istri, seperti Nabi Nuh a.s.
· Sabar menghadapi suami seperti Asyiah istri Fir’aun
· Sabar menghadapi penyakit, seperti Nabi Ayyub a.s.
· Sabar menghadapi penguasa zalim, seperti Nabi Ibrahim a.s. menghadapi Namrudz
· Sabar menghadapi anak-anak yang tidak saleh, seperti Nabi Ya’qub a.s.
· Sabar menghadapi umat yang neko-neko, seperti seperti Nabi Musa a.s.
· Sabar menghadapi fitnah, seperti Maryam
· Sabar menghadapi tantangan dakwah, seperti Nabi Muhammad saw.

Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Q.S. An-Nahl 16: 127-128)

4. Mengutamakan apa yang dicintai Allah dari segala sesuatu yang dicintainya

“Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (Q.S. At-Taubah 9: 24)

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat dzalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (Q.S. Al Baqarah 2: 165)

5. Selalu mengingatnya/selalu hadir dalam setiap aktivitas kita bahwa hanya Allah segala-galanya

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (Q.S. Al Anfal 8: 45)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (Q.S. Al Anfal 8: 2-3)

6. Mengikuti apa yang dicontohkan nabi/rasul

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Q.S. Ali Imran 3: 31

7. Semangat untuk membaca ayat-ayat-Nya

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal.” Q.S. Al Anfal 8: 2

8. Gemar bertaubat/minta ampun karena takut ditinggalkan

“Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertobat, masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan. Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya.” Q.S. Qaaf 50: 31-35

Sumber : email

15 responses to this post.

  1. Posted by ahhh..ah..ah on Maret 10, 2010 at 2:09 am

    saya mahu rindu kpdNYA..tapi sukar….mungkin hati belum bersih

    Balas

  2. mengetahui hati qt blum bersih itu sudah nilai positif…yg terpenting ada niat utk lebih baik n dekat pd NYA….saya juga msh hrs banyak belajar….saling menasehati dlm kebaikan n kesabaran….

    Balas

  3. Posted by Budak Lebai on Maret 11, 2010 at 11:31 pm

    ya….terima kasih ats nasihat enti…
    tapi iman tu boleh berkurang dn boleh bertambah…
    sy jadi tramat lemah saat iman brkurang…

    Balas

  4. kadar iman itu bisa berkurang n bertambah. Ketika iman kita berkurang kita tidak boleh larut, kita harus segera menambahnya lagi..kalau kita terlena maka kita yang akan rugi…Makasih kunjungannya ke blog ini..

    Balas

    • Posted by Budak Lebai on Maret 25, 2010 at 9:02 pm

      Sama-sama…InsyAllah akn sy gunakan kata2 tue sebaiknya…
      cuma ad pertanyaan lg..
      Adakah Allah tidak sayang pada kita saat dia takdirkan iman kita berkurang atau saat Dia takdirkan kita banyak buat maksiat?
      Andai sy ada buat kesilapan..saya jadi lemah bile fikir kenapa Allah takdirkan sy buat kesilapan tu….

      Balas

  5. Posted by akhmad on Maret 29, 2010 at 8:23 pm

    Sebagian ulama’ menyebutkan bahwa yang layak untuk beralasan dengan Qadar adalah orang yang bertaubat dari dosa. Kalau ada yang mencela terhadap dosa dan dia telah bertaubat, maka layak dia beralasan dengan Qadar. Kalau dikatakan kepada salah satu orang yang bertaubat : “ Kenapa engkau lakukan ini dan itu ? “. Kemudian dia menjawab : “ Ini adalah karena Qadha’ dan ketentuan Allah, dan saya telah bertaubat dan beristighfar. Maka akan diterima alasannya, karena dosa baginya bagaikan musibah. Dia tidak beralasan karena kekurangannya terhadap Qadar akan tetapi dia beralasan karena musibah yang menimpahnya yaitu berbuat kemaksiatan kepada Allah. Tidak diragukan lagi bahwa kemaksiatan termasuk dari musibah. Sebagaimana alasan ini dia kemukakan setelah terjadi dan selesai. Pelakunya mengakui akan perbuatannya dan mengakui dosanya. Maka tidak patut bagi seorangpun untuk mencela orang yang bertaubat dari dosa. Karena ‘Ibroh ( pelajaran ) itu pada kesempurnaan akhir bukan pada kekurangan pertama ( didepan ). Wallahu’alam.

    Balas

  6. Posted by Salsa on September 1, 2010 at 10:36 am

    Mencintai dan merindukan Allah sangat indah dan membuat diri menjadi tenang. Jika kita selalu menghadirkan hati dimanapun kita berada. Mengingat disaat duduk, berjalan atau tidur. Disaat ramai ataupun sepi. Mencintai Allah memang tanpa batas dan selalu merasakan kebahagiaan. Jadi lakukan ibadah jangan karena ingin mendapatkan pahala, tetapi karena kerinduan dan kecintaan kita pada Allah.
    Wallahu’alam.

    Balas

    • Setuju ukhti….nilai ibadah yg tertinggi adalah jika qt beribadah hanya mengharap Ridho ALLAH…Allahu’alam…Terima kasih atas kunjungannya ya…

      Balas

  7. Posted by Budak Lebai on September 6, 2010 at 11:28 am

    Alhamdulillah…terima kasih atas nasihat semuanya…

    Balas

    • Alhamdulillah…Saling menasehati dlm kebaikan adalah jati diri seorang Muslim, semoga qt bisa menjalan kebaikan2 yg diperintahkan olehNYA…AMin…

      Balas

  8. Posted by bakar on September 22, 2010 at 9:32 pm

    alhamdulillah,tambah meningkatkan iman dlm hati aq,setelah kunjungi blog ini….amin ya 4jjl

    Balas

  9. Posted by Ahsan Jihadan on Agustus 6, 2011 at 8:30 am

    materi yg bagus… mksh ya…

    Balas

  10. Posted by Ahsan Jihadan on Agustus 6, 2011 at 8:31 am

    ditunggu materi2 yang baru

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: