Mata Air Bening Nilai-nilai Syahadat


Syahadat adalah kesaksian tentang keesaan Allah SWT dan pengakuan Allah sebagai Tuhan. Kesaksian ini ada konsekuensinya yang harus dibuktikan dalam kehidupan. Setiap Muslim akan diminta pertangungjawabannya di akhirat kelak tentang pengakuan syahadatnya. Banyak Muslim tidak menyadari bahwa dalam sikap dan tindakannya sehari-hari banyak yang tidak sesuai dengan syahadatnya, tidak sesuai dengan kesaksian tauhidnya. Keimanannya terkotori oleh sifat-sifat riya, ujub dan kesombongan fikirannya. Berikut ini adalah rumus nasihat dalam rangka bersyahadat yang benar, bertauhid yang lurus, sebagai refleksi dari pengakuan keimanan kita kepada Allah.
1. Karena-Nya
“Karena-Nya” adalah melakukan segala sesuatu karena Allah SWT, tidak karena yang lain. Ini adalah basis dalam melakukan segala amal ibadah, dasar dalam bertauhid. Apa pun yang dilakukan oleh seorang Muslim harus selalu dalam rangka karena Allah. Hidup diniatkan karena Allah, usaha karena Allah, berbuat sesuatu karena Allah, mencinta dan membenci karena Allah, mencari ilmu karena Allah, amal dan ibadah karena Allah, menolong dan membantu orang karena Allah. Misalnya tentang shalat, harus karena Allah: “Peliharalah segala shalat (mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk” (Al-Baqarah : 328). Menegakkan kebenaran karena Allah: “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al-Maidah: 8). Tawakkal harus karena Allah : “Ketika dua golongan dari padamu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu hendaklah karena Allah saja orang-orang mukmin bertawakal” (Ali Imran: 122). Karena segala sesuatu dilakukan karena Allah, maka bila kita berbuat baik misalnya dan kebaikan kita tidak mendapatkan respon yang simpatik dari orang yang bersangkutan, tidak berbalas kebaikan, kita tidak perduli, tidak ambil pusing, tidak dipikirkan, biarkan saja, karena apa yang kita lakukan bukan karena dia tapi karena Allah. Inilah sikap bersyahadat yang benar. Tauhid yang lurus. Segalanya karena Allah.

2. Untuk-Nya
Setelah “karena-Nya” sebagai basis atau dasar, kemudian harus dilanjutkan dengan “untuk-Nya” dalam melakukan segala sesuatu. Sebagai Muslim, segala sesuatu dilakukan dan dipersembahkan hanya untuk Allah. “Untuk-Nya” adalah menyangkut hasil kerja atau penilaian. Dalam melakukan segala sesuatu, lakukanlah dengan niat yang benar dan lurus, dengan sungguh-sungguh, dengan sebaik-baiknya dan maksimal. Hasilnya, serahkan kepada Allah SWT sepenuhnya, tawakkal, diterima atau tidak, terserah Allah SWT. Itu hak Allah SWT untuk menilainya. Kita beramal dan berbuat baik untuk Allah bukan untuk yang lain-lain. Tentang untuk Allah ini, jelas sekali Allah menegaskan bahwa segala ibadah adalah untuk Allah: ”Katakanlah: ‘Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam’” (Al-An’am: 162). Ketaatan kita hanya untuk Allah: “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang dzalim” (Al-Baqarah : 193).

3. Didalam-Nya
“Didalam-Nya” adalah mengerjakan segala sesuatu di harus dalam aturan, kehendak dan ridha Allah, karena kita sudah bersaksi mengakui Allah sebagai Tuhan kita dan itu berarti kita akan taat kepada-Nya. Inilah makna syahadat dalam kehidupan. Melakukan sesuatu tidak boleh bertentangan dengan kehendak Allah atau syariat agama. Jadi harus “didalam-Nya” (proses yang dikehendaki Allah). Misalnya, mencari rezeki, mendapatkan uang, mendapatkan barang, mendapatkan jabatan dan lain-lain harus didapatkan dengan cara yang benar menurut ajaran agama, yang sesuai dengan syariat Islam. Mendapatkan rizki dan uang dengan cara tidak halal, berarti tidak “didalam-Nya,” berarti syahadatnya belum benar, berarti melanggar syahadatnya sendiri. Mendapatkan jabatan dengan cara kasak-kusuk, berjanji palsu, bagi-bagi jabatan pada pendukung (sementara yang lebih berkualitas, yang tepat dan proporsional diabaikan karena bukan kelompok), membagikan uang untuk dukungan (money politics), memobilisasi masa agar dirinya terpilih, memprovokasi dan sebagainya, adalah sikap bukan “didalam-Nya.” Orang seperti ini syahadatnya belum benar. Ia melanggar syahadat, melanggar kesaksiannya sendiri di hadapan Allah SWT. Tauhidnya hanya dimulut, tidak dibuktikan dalam tindakan nyata. Mau menipu Allah? Adalah tidak logis, kita bertauhid, mengakui Allah sebagai Tuhan kita, kita iman kepada-Nya dan itu berarti kita akan taat, tapi melanggar aturan-Nya, melanggar syari’at agama. Ini sebuah penipuan di hadapan Allah. Berani mempertanggungjawabkannya di hadapan-Nya kelak?
Tidak “didalam-Nya” juga adalah melakukan satu kewajiban agama dengan menghapus kewajiban yang lain. Jika kita melakukan itu, kita tidak berada di dalam kehendak Allah. Allah tidak menghendaki melakukan sebuah kewajiban dengan menghapus kewajiban yang lain. Seluruh kewajiban agama harus dilakukan satu persatu tanpa menggugurkan yang lain. Misalnya, mencari ilmu tapi meninggalkan shalat, kerja mencari nafkah tapi tidak puasa di bulan ramadhan, berbuat baik pada orang, bersikap ramah, tapi tidak menjalankan ibadah pokok, memberi nafkah kepada istri tapi sambil menyakitinya, dan seterusnya.

4. Segala-Nya
“Segala-Nya” adalah melakukan amal perbuatan, sejak dari niat, proses, cara dan hasil segalanya dalam aturan dan keridhaan Allah. Semuanya berdasar kepada Allah. Banyak orang beramal hanya sebagian-sebagian misalnya hanya “untuk-Nya” saja, atau “didalam-Nya” saja, “karena-Nya” saja. Ini tidak benar karena dasar atau keyakinan menjadi tidak sesuai dengan perbuatannya. Atau perbuatan atau sikap tidak nyambung dengan keyakinannya. Akibatnya, jadi masuk ke dalam kategori munafik, sebuah sikap yang dikutuk dalam agama.

5. Kepada-Nya
“Kepada-Nya” adalah menyangkut arah yaitu kepada Allah kita mengarahkan amal ibadah kita. Misalnya shalat. Keyakinan dan niatnya harus karena Allah SWT, cara dan proses harus sesuai dengan syariat Islam, dan arahnya juga harus menghadap kiblat. Menghadap kiblat ini adalah makna dari “kepada-Nya.” Shalat yang niat dan caranya benar tapi tidak menghadap kiblat, berarti hanya “karena-Nya” dan “didalam-Nya” tapi tidak “kepada-Nya.” Tauhidnya tidak lengkap, tidak utuh. Contoh lain, kita mau beramal sosial atau menyumbang sesuatu ke sebuah yayasan yatim piatu. Bila kita tidak memperdulikan yayasannya, misalnya apakah yayasannya Islam atau bukan, dianggap tidak penting karena kita berfikir sama saja, berarti amal kita tidak “kepada-Nya,” hanya “karena-Nya” saja. Ini adalah gambaran dari sikap tauhid tidak lurus, tidak utuh, keberpihakannya yang mengarah kepada Allah SWT kurang. Simbol-simbol agama disini dipertimbangkan dalam rangka yang lebih dekat mengarah kepada Allah. Shalat esensinya memang bisa mengarah kemana saja, Allah toh tidak mengenal ruang, tapi kalau kita tahu arah kiblat, apalagi shalat di masjid, apa-apaan kita sengaja menghadap ke arah lain? Bukan itu sebuah kebodohan yang tidak bisa dimengerti? Allah jelas-jelas memerintahkan agar kita bersujud ke arah kiblat di Masjidil Haram: “… Palingkanlah mukamu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidilharam itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan” (Al-Baqarah : 144). “Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya… “ (Al-Baqarah : 148).
Menyumbang dan berbuat kebajikan yang lain juga sama. Sebagai seorang Muslim, menyumbang ke yayasan sosial mana saja sama, amal-amal juga, tapi bila ada yayasan Islam, mengapa harus ke yang lain? Membantu fakir miskin, siapa saja, adalah amal mulia. Tapi bila ada fakir miskin yang disiplin shalatnya, rajin ibadahnya, kenapa tidak kita utamakan? Ibadah seperti akan lebih mengundang keridhaan Allah SWT. Sikap “kepada-Nya” adalah setelah kita memiliki niat baik, niat itu harus diwujudkan dalam proses, jalur, obyek, cara dan sebagainya yang lebih mengarah kepada Allah SWT.

Sumber : email dr teman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: