Menghidupkan Ruh Islam


Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai…

(Q.S At Taubah [9]: 32)

Apakah yang menyebabkan umat Islam tidak bisa bangkit kembali sebagai ‘penguasa bumi’ sampai abad ini? Mengapa, umat Islam yang didesain Allah sebagai khairu ummah, umat terbaik, tidak lagi memberikan contoh keteladanannya. Mari kita mencoba untuk bercermin ke segala penjuru untuk memahami ’wajah’ kita dewasa ini. Untuk apa? Untuk mencari tahu, kenapa wajah kita yang seharusnya memesona tidak lagi menarik seperti yang seharusnya. Dan jika kita menemukan banyak noda di wajah, janganlah cermin itu yang kita pecah. Marilah bersama-sama kita obati diri dan wajah ini. Daripada menyalahkan sejarah dan umat diluar Islam sebagai penanggung jawab kemunduran, akan lebih baik kalau kita berintrospeksi melihat kesalahan sendiri. Allah menyukai orang-orang yang rendah hati dan membenci orang yang sombong. Introspeksi akan lebih bermanfaat buat umat Islam untuk bangkit kembali, daripada sibuk menyalahkan umat lain, dan lupa bahwa kualitas kita sendirilah yang menjadi penyebab kemunduran Islam

Kondisi dunia Internasional di era modern menjadi sangat berbeda di abad-abad sebelumnya. Masihkah umat Islam bisa membangun kekhalifahan kembali seperti dulu? Pertanyaan ini terus bergema di jantung umat Islam seluruh dunia. Apalagi ketika melihat umat ini teraniaya di berbagai belahan bumi. Dari tragedi perang yang masih berkelanjutan di Afganistan hingga kekejaman Israel di Gaza Palestina, yang telah merenggut nyawa 1.300 warganya sebagai syuhada.

Di Indonesia, pertengkaran umat Islam terjadi terus menerus antar berbagai kelompok dan golongan yang mengklaim dirinya paling benar. Sehingga salah satu pihak merasa dirinya paling berhak untuk mengadili dan memusnahkan saudaranya yang lain, tanpa proses hukum. Bagaimana mungkin kita menegakkan khilafah dalam suasana yang demikian egoistik dan emosional seperti ini.

Kehidupan harmonis hanya akan kita temukan, jika masing-masing manusia menjalankan peranannya dengan sebaik-baiknya. Tak ubahnya seperti sejumlah organ-organ tubuh manusia, kerjanya hanya saling berkoordinasi belaka, tidak memerintah ataupun menguasai. Sistem kinerja limpa, liver, ginjal hingga jantung pun bukan atas perintah otak sadar. Semua bekerja atas kodrat yang dikoordinasi otak. Masing-masing berjalan menjalankan peranannya. Sedangkan sel yang kerjanya menindas atau membunuh sel lainnya, itu namanya sel kanker. Ada yang berperan sebagai parasit, yang menyerap sari-sari makanan dari organisme yang hidup. Itulah kapitalis. Dalam ilmu Biologi dinamakan simbiosis parasitisme.

Dalam kehidupan masyarakat hingga bernegara pun demikian. Orang-orang yang kerjanya hanya menindas, merugikan, menguasai dan membunuh orang atau kelompok lain yang menjalankan fungsinya dengan benar; mereka itulah sel-sel kanker di dalam kehidupan. Lihat saja fenomena sekarang ini. Dari terkurasnya sumber daya alam di Indonesia oleh sejumlah perusahaan asing sampai konflik Palestina, yang dibombardir Israel dengan dalih balas dendam terhadap pejuang Hamas palestina yang telah meluncurkan beberapa roket di negerinya.

Di sisi lain, hingga kini, pesona kekuasaan politik masih menjadi daya tarik yang luar biasa besar untuk memicu terjadinya pertengkaran dan pertumpahan darah di kalangan umat Islam. Semua itu masih terus terjadi sampai kini. Baik di Timur Tengah, maupun di Indonesia. Betapa kita telah melihat terjadinya perebutan kekuasaan politik di berbagai negara-negara Islam, seperti Iran, Irak, Mesir, Kuwait, Pakistan, Afganistan, Aljazair dan sebagainya. Baik yang bersifat internal maupun antar negara, sehingga mengorbankan jutaan umat Islam. Kejayaan Islam bukan tergantung kepada para khalifah yang mementingkan diri sendiri. Bukan pula tergantung pada kekuatan militer dan politik. Sungguh, kekuatan militer boleh jadi akan memenangkan peperangan. Tetapi, mereka tak akan pernah mengalahkan hati nurani orang-orang yang memilki martabat dan kehormatan diri. Demikian pula dalam politik, penulis sependapat dengan kesatuan the religious dan the political, tapi bukan dalam bentuk Islamic State. Bukan penerapan syariatnya secara formal, akan tetapi – yang lebih penting – adalah aktualisasinya. Keterlibatan Islam dalam politik harus ditujukan untuk menegakkan keadilan, menentang tirani, membela kaum lemah, memajukan perdamaian dan kesejahteraan umat manusia seluruhnya. Islam bukanlah sebatas simbol dan atribut Islam itu sendiri, melainkan menerapkan perilaku dan akhlak yang Islami. Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.. (Q.S Ali Imran [3]: 110).

Perlu kita ketahui, sejak akhir masa pemerintahan khulafaurrasyidun, umat Islam sudah mulai terpecah yang disebabkan oleh perebutan kekuasaan. Meskipun beberapa sejarawan mengaitkan dengan munculnya pihak ’ketiga’, yang mengompori situasi ini. Sedangkan selebihnya, para khalifah di zaman bani Umayyah maupun Abassiyah justru mempertontonkan perebutan kekuasaan politiknya. Pada masa itu, para khalifah dipilih bukan dilihat dari kapasitas kemampuannya, melainkan berdasarkan keluarga dan keturunannya (monarki). Akibatnya, terjadilah pro-kontra politik dimana-mana yang mengakibatkan jutaan umat Islam menjadi korban perang saudara. Hingga cucu Rasulullah saw, Husein bin Ali, menjadi korban pembantaian oleh pasukan Daulah Bani Umayyah, di Karbala. Dengan sangat sadis, Husein dipenggal kepalanya dan dipersembahkan kepada Yazid bin Muawiyah, khalifah Daulah Umayyah yang kedua.

Kita harus jernih melihat persoalan semacam ini. Benarkah kita telah mencapai keteladanan selama masa kekhalifahan? Jika iya, kapankah itu terjadi? Pada zaman siapa? Dalam bentuk apa? Dan, apakah kekhalifahan yang selama ini yang kita banggakan dan kita harapkan terbentuk kembali itu, merupakan sebuah kesuksesan puncak umat Islam? Maka, jawabannya harus kita telaah dan klarifikasi kembali secara kritis. Sebab dari catatan sejarah, banyak di antara para khalifah yang justru tidak menunjukkan kehidupan yang islami. Adanya hanya perebutan kekuasaan, dan peperangan sesama saudara. Hal ini karena mereka meninggalkan sistem ”demokrasi” yang telah diterapkan oleh Rasulullah. Padahal Rasulullah SAW sangatlah demokratis dan sangat menghargai pendapat para sahabatnya. Beliau lebih menyukai cara diplomasi dan musyawarah daripada perang. Bukan mengirim pasukan ke negeri tetangga. Kendati demikian, tentu saja kita tidak melupakan sejumlah khalifah yang berhasil membawa umat Islam pada kemuliaannya. Diantaranya adalah Umar bin Abdul Azis dari Bani Umayyah dan Harun al Rasyid dari Bani Abassiyah. Tapi, kalau kita kritisi kembali rasa-rasanya kehidupan teladan itu terjadi secara ideal hanya pada zaman Rasulullah SAW. Dan kemudian yang dilanjutkan oleh khulafaurrasyiddin, dengan beberapa kelebihan dan kelemahannya.

Kini, Islam sedang dikerdilkan. Oleh siapa? Oleh orang-orang di luar Islam dan oleh orang-orang Islam sendiri. Oleh mereka yang tidak suka kepada Islam, sekaligus oleh pemeluknya sendiri yang tidak paham bahwa Islam adalah agama yang besar dan sempurna. Jika kebesaran agama ini dikerdilkan oleh mereka yang tidak suka kepada Islam, memang begitulah sejak dulu. Tidak ada hal yang baru. Yang justru memprihatinkan adalah jika umat Islam sendirilah yang mengerdilkan kebesaran agamanya. Akhirnya, umat Islam menjadi bulan-bulanan di dunia. Celakanya, di melenium ketiga ini cap teroris disandang oleh umat Islam.

Rasulullah SAW pernah memberikan wasiat kepada umatnya, balighu ’anni walau ayat – ”sampaikanlah dariku walau sepotong ayat.” Umat Islam saat ini sudah mencapai 1.3 milyar jiwa lebih. Jika setiap orang menyampaikan satu ayat, maka sudah ada 1.3 milyar ayat yang tersampaikan dalam syiar kebesaran Islam. Apalagi yang dimaksud dengan menyampaikan itu, bukan hanya omongan belaka, melainkan sebuah keteladanan. Berarti sudah ada 1.3 milyar keteladanan yang mestinya telah kita lakukan. Apalagi, Rasulullah SAW juga memerintahkan untuk melakukan amar ma’ruf nahyi munkar. Mestinya, sudah ada 1.3 milyar perbuatan yang mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Bahkan, beliau juga mengatakan agar kita menuntut ilmu setinggi-tingginya. Jika ini dilakukan oleh 1.3 milyar orang, betapa dahsyatnya. Tapi, kenapa belum terjadi juga? Sungguh, tak ada jawaban kecuali jika kita bertanya pada diri kita sendiri dengan pikiran terbuka. Dengan demikian, kita akan kembali menemukan kembali ruh Islam yang sebenarnya dalam diri kita, yang pernah hidup pada masa lalu, sehingga Islam mampu menjadi penguasa dan mampu memberikan sumbangan pada peradaban.

Wallahu’alam.

Iklan

2 responses to this post.

  1. Posted by M Zainal Arifin on September 29, 2009 at 8:49 pm

    Sungguh
    kekuatan ruh Islam harus ada disetiap jiwa muslim
    ruh dengan penyerahan diri kepada Allah seraya mengharap ridhaNya
    ruh dengan semangat untuk selalu menegakkan kalimah Allah
    ruh yang akan kembali menerangi dunia dengan cahaya Ilahi

    Balas

  2. Indah sekali klo 1,3 M umat Islam di dunia menjadi teladan utk yg lain….utk itu mulailah dr yg terkecil yaitu diri kita sendiri….

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: