BELAJAR DARI TANAMAN


1. Belajar dari Daun

Perhatikanlah hikmah daun! Anda jumpai dalam satu daun terdapat sejumlah serat memanjang yang amat mengagumkan bagi yang melihat. Ada yang besar-besar, panjang, dan lebar. Ada yang kecil-kecil, terselempit di antara yang besar-besar tersebut, tersusun dengan rapi dan menakjubkan. Kalau yang membuatnya manusia, setahun penuh satu daun tidak selesai. Tentu mereka memerlukan alat-alat dan proses pengolahan yang kapasitas mereka tidak mampu menghasilkannya. Tapi Allah ta’ala , Sang Maha Pencipta dan Maha Tahu, dalam beberapa hari saja menebarkan daun-daun yang memenuhi bumi, dataran rendah dan pegunungan, tanpa alat atau pembantu. Yang berlaku hanya kehendak-Nya yang pasti terlaksana dalam sagala hal, dan kekuasaan-Nya yang tak terhalangi.
“Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, ‘jadilah!’ maka terjadilah a.” (Yaasiin: 82)
Sekarang perhatikan hikmah serat-serat yang ada di daun. Mereka menyirami daun dan menyuplai bahan makanan ke sana sehingga mempertahankan hidup dan kesegarannya seperti urat-urat yang tersebar di badan yang mengantarkan makanan ke setiap bagian tubuh. Perhatikanlah kemampuan serat-serat yang besar dan keras yang menjaga daun agar tidak robek dan lapuk. la berfungsi seperti otot dan urat bagi badan hewan.
* * *
Kemudian perhatikan hikmah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Tahu dalam menjadikan daun itu sebagai hiasan bagi pohon, penutup dan baju bagi buah, serta melindunginya dari hama yang menghalangi kesempurnaannya. Karena itu, apabila pohon ditebas daunnya, maka buahnya rusak, tidak dapat dimanfaatkan. Lihat bagaimana daun dijadikan sebagai pelindung bagi tunas tumbuhnya buah yang lemah dari kekeringan. Apabila buah telah jatuh, daun tetap ada di sana sebagai pelindung dahan dari panas (matahari). Hingga apabila bara itu telah padam dan tidak membahayakan dahan-dahan, daunnya berguguran agar setelah itu mengenakan baju baru yang lebih indah. Maha Besar Allah yang mengetahui tempat dan waktu jatuh dan tumbuhnya daun-daun itu. Tidak ada daun yang tumbuh kecuali dengan izin-Nya, dan tidak ada yang jatuh kecuali sepengetahuan-Nya.
Di samping itu, kalau saja manusia menyaksikan sedemikian banyak daun itu bertasbih kepada Tuhannya bersama buah-buahan, dahan-dahan, dan pohon-pohon, tentu mereka menyaksikan hal lain dari keindahannya itu. Mereka tentu akan melihat penciptaannya dengan pandangan lain, dan pasti mereka tahu bahwa itu semua diciptakan untuk manfaat yang besar, tidak diciptakan dengan sia-sia. Allah ta’ala berfirman,
“Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada-Nya.” (ar-Rahmaan: 6)
An-najm adalah tanaman yang tidak berbatang, sedang asy-syajar adalah yang punya batang. Semuanya sujud dan bertasbih kepada tuhan.
“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan, tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (al-lsraa”: 44)
Mungkin Anda termasuk orang yang terlalu tebal hijabnya sehingga berpendapat, arti ‘tasbiih’ dalam ayat di atas adalah mereka jadi bukti atas pencipta. Ketahuilah, pendapat ini tampak kesalahannya dilihat dari tiga puluh aspek yang sebagian besar telah kami sebutkan di tempat lain. Tidak ada di dalam logat bahasa mana pun bukti atas pencipta dinamakan dengan tasbiih, sujud, shalat, ta’ wiib, dan hubuth min khasyyatihi seperti disebutkan Allah ta’ala dalam kitab-Nya. Kadang Allah ta’ala menyebutnya tasbiih, kadang sujud, kadang dengan shalat. Seperti firman-Nya,
”Dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) shalat dan tasbihnya.” (an-Nuur: 41)
Apakah akalmu menerima kalau ayat itu diartikan, “Allah telah mengetahui bahwa mereka adalah bukti atas diri-Nya”, padahal Dia menyebut bukti itu dengan shalat dan tasbiih, membedakan keduanya dan menyambung shalatf dan tasbih dengan kata sambung ‘dan’.
Kadang Allah ta’ala menyebutnya dengan ta ‘wib seperti dalam firman-Nya,
“Hai gunung-gunung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud.” (Sabaa’: 10)
Kadangkala Allah menyebutnya dengan tasbiih yang khusus pada waktu tertentu, seperti senja dan waktu terbit matahari. Apakah mungkin mereka jadi bukti atas Sang Pencipta hanya pada dua waktu ini saja? Tentu tidak!
Intinya, kesalahan pendapat seperti ini bagi para pemilik bashirah sangat jelas. Saking jelasnya, mereka tidak perlu menguras tenaga mencari dalil atas kesalahannya. Alhamdulillah.
* * *
2. Belajar dari Biji
Perhatikanlah hikmah Allah ta’ala meletakkan isi/biji di dalam buah! Di antara faedahnya, dia berfungsi seperti tulang untuk badan hewan. Dengan kekerasannya, dia menahan kelunakan buah. Kalau tidak ada biji, buah akan pecah dan cepat rusak. la seperti tulang, dan buah itu seperti daging yang dibungkuskan oleh Allah ta’ala pada tulang.
Di antara manfaatnya juga, melestarikan jenis pohon. Sebab, mungkin pohon akan mati. Maka, diciptakanlah apa yang menggantikannya, yaitu biji yang ditanam sehingga menumbuhkan seperti pohon induknya.
Manfaat selanjutnya, kandungan yang terdapat dalam biji-bijian itu seperti bahan makanan, minyak, obat, dan berbagai kegunaan lain yang dipelajari manusia. Tapi, yang tak mereka ketahui lebih banyak. Perhatikanlah hikmah Allah ta’ala mengeluarkan biji-bijian itu untuk manfaat-manfaat tersebut dan membungkusnya dengan daging yang lezat untuk konsumsi anak Adam.
Perhatikan pula hikmah yang menakjubkan ini. Allah ta’ala  menciptakan buah yang lunak yang dapat rusak oleh udara dan matahari mempunyai kulit penutup yang menjaganya. Contohnya. delima, buah pala, buah badam, dan sebagainya. Sedang buah yang tidak rusak apabila tampak, Allah ta’ala   memberinya penutup pada saat pertama kali keluar. Penutup ini melindunginya karena ia masih lemah dan kurang tahan terhadap panas. Apabila telah mengeras dan kuat, kulit penutup itu terbelah sehingga ia terkena sinar matahari dan udara. Contohnya, mayang kurma dan sebagainya.
* * *
Sekarang perhatikan pertumbuhan yang diberikan Allah ta’ala pada tanaman pertanian, sampai-sampai satu biji saja mungkin menghasilkan tujuh ratus biji. Kalau satu biji hanya membuahkan satu biji juga, tentu hasil panen tidak cukup jadi benih untuk ditanam lagi dan untuk bahan makanan manusia. Maka, tanaman pertanian punya pertumbuhan seperti itu untuk memenuhi kebutuhan pangan sekaligus bibit perkembangbiakan. Begitu pula buah pepohonan dan kurma.
Demikian juga cabang-cabangnya yang keluar dari satu batang sehingga dapat menggantikan batang yang telah ditebang dan dipakai manusia hingga tanaman itu tidak punah dan berkurang. Kalau pemimpin sebuah daerah ingin memakmurkan daerahnya, ia pasti memberi penduduk daerah itu benih tanaman dan juga memberikan bahan makanan sampai masa panen. Maka dari itu, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Tahu mengeluarkan banyak biji dari satu biji agar hasilnya dipakai untuk makanan manusia dan disimpan untuk ditanam lagi.
* * *
Kemudian perhatikanlah hikmah biji-bijian seperti gandum dan sejenisnya. Bagaimana biji gandum itu berada di dalam kulit, dan ujungnya berbentuk seperti mata tombak sehingga burung-burung tidak dapat merusaknya. Kalau kebetulan biji itu berada di luar tanpa kulit penutup yang melindunginya dari burung, tentu dia dapat berbuat sesukanya, merusak dan menyantap semaunya, dan para petani tidak dapat mengusirnya.
Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Tahu menciptakan pelindung-pelindung itu untuk menjaganya sehingga burung hanya dapat mengambil sekedar kebutuhan pangannya. Kebanyakan sisanya untuk manusia karena manusia lebih berhak mendapatkannya karena dialah yang bekerja keras mengeluarkan keringat menanamnya. Juga karena kebutuhan manusia terhadap biji-bijian jauh melebihi kebutuhan burung.
* * *
3. Hikmah Pohon
Perhatikan pula hikmah pohon-pohon! Anda lihat dalam setiap tahun mereka hamil dan melahirkan. Mereka selalu menjalani peristiwa kehamilan dan kelahiran ini. Apabila Tuhan mengizinkannya hamil, panas alami tersimpan di dalamnya agar terjadi kehamilan pada masa yang telah ditakdirkan. Masa ini seperti masa terbentuknya sperma. Sel-sel melakukan proses di dalamnya, menyiapkannya untuk kehamilan. Sehingga, apabila waktu kehamilan telah tiba, air mengalirinya hingga sisi-sisinya menjadi lentur. Air mengaliri dahan-dahannya; panas dan kelembaban menyebar di seluruh bagiannya. Apabila waktu melahirkan telah tiba, pohon-pohon itu mengenakan baju-baju baru. Yakni, bunga dan daun yang indah-indah yang dibanggakannya di hadapan pohon yang mandul.
Apabila anak-anaknya telah muncul dan kehamilannya tampak, saat itulah diketahui mana pohon yang baik dan mana yang tidak. Dan, yang memberi makanan kepada kandungan itu adalah Tuhan yang memberi makanan kepada janin di dalam perut ibunya. Dia menutupinya dengan dedaunan, melindunginya dari panas dan dingin.
Apabila kehamilan telah sempurna dan tiba saat penyapihan serta dahan-dahannya menjuntai ke bawah, seakan-akan dia menyerahkan buahnya kepadamu. Apabila Anda mendatanginya, Anda melihat seakan-akan dahan-dahannya menyongsong kedatanganmu dengan anak-anaknya, menyalamimu, dan memuliakanmu dengan mereka; menyerahkan kepadamu seperti anugerah. Dia tidak menyerahkan dengan tangannya, apalagi buah-buah surga yang rendah-rendah yang dapat digapai oleh orang mukmin baik dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring.
Begitu pula Anda lihat pohon Raihan (tumbuhan yang berbau harum), seakan-akan menyapa kamu dengan nafasnya yang segar dan menyongsong kehadiranmu dengan baunya yang harum. Semua itu untuk menghormatimu, mengingat kebutuhanmu, dan mengutamakan kamu atas hewan-hewan. Apakah karunia ini membuatmu lupa terhadap sang pemberi nikmat? Pantaskah kalau kamu menggunakannya dalam kemaksiatan dan hal-hal yang dimurkai-Nya? Bagaimana jika kamu mengingkarinya dan mengatakan itu bukan dari Dia? Sebagaimana Allah berfirman,
“Kamu (mengganti) rezeki (yang Allah berikan) dengan mendustakan (Allah)/’ (al-Waaqi’ah: 82)
Sudah sepantasnya orang yang berakal berkelana dengan pikirannya, merenungkan nikmat dan karunia itu, berulang-ulang menyebutnya. Barangkali dengan begitu dia dapat mengerti tujuannya: apa hakikatnya, untuk apa diciptakan, kenapa disediakan, dan apa yang dituntut darinya terhadap nikmat-nikmat ini. Allah ta’ala berfirman,
“Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (al-A’raaf: 69)
Jadi, mengingat-ingat karunia dan nikmat Allah ta’ala atas hamba-hamba-Nya adalah sebab kebahagiaan dan keberuntungan. Karena hal itu makin menambah cinta, syukur, taat, dan kesadaran akan kurangnya melaksanakan kewajiban kepada Allah ta’ala.
* * *
4. Belajar dari Semangka
Kemudian perhatikanlah hikmahnya buah labu, semangka, dan sejenisnya. Ketika hikmah Allah ta’ala menuntut buahnya besar, Dia menjadikan tumbuhnya menjalar, merambat di atas tanah. Kalau tegak berdiri seperti tanaman lain, kekuatannya tidak cukup untuk membawa buah-buah yang berat itu.
Maka, dengan hikmah-Nya Allah ta’ala menjadikannya menjalar di atas tanah. Pohon itu bisa meletakkan buahnya di sana, sehingga bumilah yang membawa buah itu. Anda lihat batang-batang yang kurus dan lemah itu memanjang di tanah sedang buahnya berserakan di sekitarnya seperti hewan yang dikelilingi anak-anaknya, ia menyusui mereka. Karena pohon kacang kapri, terong, dan sejenisnya termasuk pohon yang mampu membawa buahnya, maka Allah ta’ala menumbuhkannya berdiri tegak di atas batangnya karena dia tidak berat membawa buahnya.
* * *
5. Pohon pun Berbuah Sesuai Musimnya
Sekarang perhatikan hikmah Allah ta’ala menyesuaikan antara jenis-jenis buah dengan musim keluarnya. Buah-buah itu pas benar dengan kebutuhan manusia seperti adanya air bagi orang yang sedang kehausan. Sehingga, nafsu menerimanya dengan gembira, rindu, dan menunggu-nunggu kedatangannya seperti menunggu kedatangan orang yang lama pergi. Kalau saja tanaman musim panas keluar pada musim dingin, tentu manusia merasa tidak suka, dan di samping itu menimbulkan mudarat bagi badan. Begitu pula kalau tumbuhan musim semi keluar pada musim gugur, atau sebaliknya, tentu tidak disenangi jiwa manusia dan tidak dirasakan kenikmatannya secara utuh. Oleh karena itu, Anda menjumpai buah yang keluarnya di akhir-akhir musim terasa menjemukan dan tidak enak. Jangan disangka itu karena semata-mata kebiasaan yang telah berjalan demikian. Kebiasaan hanya berjalan seperti itu sebab sesuai dengan hikmah dan maslahat yang telah diatur oleh Tuhan Yang Maha Bijaksana.
* * *
6. Belajar dari Kurma
Perhatikanlah pohon kurma itu, yang merupakan salah satu ayat Allah ta’ala, Anda pasti akan mendapati ayat dan keajaiban yang mencengangkan. Ketika menakdirkan pohon kurma ada yang betina yang membutuhkan pembuahan, Allah ta’ala menciptakan pejantan yang membuahi betina tersebut seperti jantan dan betina hewan. Oleh karena itu, ia amat mirip dengan manusia, khususnya orang beriman, jika dibanding pohon-pohon lain seperti diperumpamakan oleh Nabi shollallahu alaihi wassalam.. Persamaan itu dapat dilihat dari beberapa hal.
Pertama: kekokohan akarnya di tanah. Ia tidak seperti pohon yang tercerabut dengan akar-akarnya dari tanah, tidak dapat tegak sedikit pun.
Kedua: buahnya yang enak, manis, dan banyak manfaatnya. Seperti itulah orang mukmin; perkataannya baik, amalannya baik, dan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.
Ketiga: hiasan dan bajunya terus dipakai tidak gugur baik pada musim panas maupun dingin. Begitu pula orang mukmin, pakaian takwa tidak pernah lepas darinya sampai bertemu Rabbnya.
Keempat: buahnya mudah dijangkau. Orang tidak perlu memanjat pohon kurma yang pendek. Sedang pohon kurma yang tinggi mudah dipanjat dibanding memanjat pohon-pohon tinggi yang lain. Anda lihat di pohon itu telah tersedia tangga-tangga untuk mendaki ke atas. Mukmin juga seperti itu. Kebaikannya mudah didapat oleh orang yang menginginkannya, tidak perlu dirampas dengan tipu muslihat dan cara tak terpuji.
Kelima: buahnya termasuk buah yang paling bermanfaat di seantero dunia. Yang masih basah dimakan sebagai buah atau manisan. Yang sudah kering menjadi quut (makanan pokok), juga sebagai buah. Juga bisa dibuat menjadi cuka, manisan, campuran obat, dan minuman. Manfaatnya dan manfaat anggur amat banyak melebihi buah-buah lain.
Orang-orang berbeda pendapat soal mana yang lebih bermanfaat dan lebih utama. apakah kurma atau anggur. Dalam membandingkan keduanya, al-Jahizh menyusun sebuah buku. Di sana ia menjelaskan panjang lebar kelebihan masing-masing. Kesimpulan perselisihan itu sebagai berikut, pohon kurma di daerah tumbuhnya (seperti: Madinah, Hijaz, dan Irak) lebih bermanfaat dan lebih utama bagi penghuni daerah itu daripada anggur. Dan di daerah tumbuhnya, anggur lebih utama dan bermanfaat bagi penduduk daerah itu; seperti Syam, daerah pegunungan dan berhawa dingin yang tidak bisa ditumbuhi pohon kurma.
Pernah aku menghadiri suatu majelis di Mekah yang dihadiri oleh para pemuka daerah situ. Masalah ini diungkapkan. Salah seorang hadirin mulai berbicara panjang lebar tentang faedah dan keutamaan pohon kurma. Katanya, “Untuk menunjukkan keutamaan kurma cukup dengan bukti berikut. Kita dapat membeli anggur dengan biji kurma. Jadi, tidak mungkin buah yang dapat dibeli dengan biji buah lain dilebihkan dari buah tersebut.”
Ada yang lain menambah. Katanya, “Nabi telah memutuskan perselisihan dalam masalah ini. Beliau melarang menamai pohon anggur dengan nama ‘karam’ (mulia). Beliau bersabda, ‘Karam adalah hati orang mukmin.’ Tidak ada dalil yang lebih jelas dari ini.” Selanjutnya, secara berlebihan mereka menjelaskan arti hadits tersebut.
Aku berkata kepada orang pertama, “Yang kamu sebutkan, yaitu biji kurma seharga dengan anggur, tidak dapat dijadikan dalil, karena itu ada sebab-sebabnya. Pertama: kebutuhan kalian kepada biji kurma untuk makanan hewan. Pemilik anggur mau menukarnya dengan anggur untuk memberi makanan binatang peliharaannya. Kedua: biji anggur tidak ada faedahnya, dan tidak dikumpulkan. Ketiga: anggur di daerah kalian amat sedikit, dan kurma adalah buah yang paling banyak sehingga bijinya juga banyak. Karenanya, dapat digunakan untuk membeli sedikti anggur. Tapi di negeri-negeri yang banyak anggurnya, biji kurma tidak dapat dipakai untuk membeli apa pun juga. Biji kurma tidak ada nilainya di daerah-daerah tersebut.”
Aku kemudian menjelaskan kepada orang kedua yang berargumen dengan hadits di atas, “Di antara alasan keutamaan anggur: mereka menamai anggur dengan syajaratul-karam (pohon mulia) sebab banyak manfaat dan gunanya. Ia dapat dimakan masih segar, sudah kering, manis maupun masam; dibuat bermacam minuman, manisan, sirup, dan sebagainya. Oleh karena itu, mereka menamainya karam karena banyak faedahnya.
Nabi saw. memberitahu mereka bahwa hati orang beriman lebih berhak mendapat penamaan ini daripada pohon anggur sebab banyak sifat mulia yang diletakkan Allah ta’ala di dalamnya; seperti santun, lembut, adil, ihsan, ikhlas, dan sebagainya. Nabi tidak bermaksud menyangkal adanya manfaat dan faedah pada pohon anggur. Penamaan karam itu bohong belaka. Itu adalah kata yang tidak punya arti di baliknya seperti menamai orang bodoh dengan ‘alim’, orang jahat dengan ’saleh’, dan orang kikir dengan ‘dermawan’. Beliau tidak menyangkal adanya faedah dalam pohon anggur. Beliau hanya memberitahu bahwa hati orang beriman itu lebih banyak dan berlimpah kebaikan serta manfaatnya daripada pohon anggur.”
Omongan seperti ini telah berlangsung di majelis itu. Apabila Anda perhatikan sabda Nabi shollallahu alaihi wassalam., “Karam adalah hati orang mukmin”, Anda mendapatinya sama dengan sabda beliau tentang kurma, “Perumpamaan pohon kurma seperti orang muslim.” Dalam hadits Ibnu Umar ini, beliau mengumpamakan pohon kurma dengan muslim. Dalam hadits di atas beliau mengumpamakan muslim dengan pohon anggur, dan melarang mereka menamai pohon anggur dengan nama karam.
Sebagian orang mengatakan, “Dalam hal ini ada makna lain. Yaitu, Rasulullah saw. melarang mereka menamai pohon anggur dengan karam karena dari buah anggur itu orang membuat induk kejahatan (ummul-khabaa^its), yaitu arak. Beliau tidak suka pohon itu diberi nama dengan nama yang membuat orang senang dan tertarik kepadanya. Larangan ini tergolongsaddudz-dzaraaH’%’.”
Penafsiran ini sah-sah saja seandainya sabda beliau, “Karena karam adalah hati orangberiman” bukan sebagai ta’lil (alasan) dari larangan ini dan isyarat bahwa hati orang mukmin lebih berhak disebut dengan nama ini daripada pohon anggur. Rasulullah lebih tahu maksud sabda beliau. Dan, yang beliau maksud itulah yang benar.
Intinya di sini, Allah ta’ala menghitung bahwa di antara nikmat-nikmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya adalah buah kurma dan anggur.
Makna pertama insya Allah lebih dekat kepada kebenaran daripada makna kedua. Karena arak dibuat dari segala jenis buah, termasuk buah kurma, sebagaimana firman Allah ta’ala,
“Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan yang baik.” (an-Nahl: 67)
Anas berkata, “Pada saat larangan arak turun, di Madinah tidak ada arak yang terbuat dari anggur, yang ada hanya yang terbuat dari kurma.” Kalau larangan Rasulullah shollallahu alaihi wassalam, menamai pohon anggur dengan karam karena dia memabukkan, tentu beliau tidak mengumpamakan pohon kurma dengan orang mukmin karena dari kurma juga dibuat arak yang memabukkan. Wallahu a’lam.
Sisi persamaan” yang keenam: kurma adalah pohon yang paling tabah dan tahan menghadapi serangan angin dan cuaca yang ganas. Pohon dan bangunan lain yang tinggi besar kadang dibuat condong oleh angin, kadang malah tumbang dan dahan-dahannya patah-patah, dan kebanyakan mereka tidak tahan haus seperti pohon kurma. Begitulah, orang mukmin selalu sabar dan tabah menghadapi cobaan. Badai tidak bisa menggoyahkannya.
Ketujuh: seluruh bagian pohon kurma punya manfaat, tidak ada bagian yang tiada faedahnya. Buahnya bermanfaat. Batangnya juga bermanfaat untuk bangunan dan atap, dan sebagainya. Pelepahnya dipakai sebagai atap rumah sebagai ganti dari bambu dan untuk menutup lubang-lubang dan celah-celah. Daunnya dibuat keranjang, tikar, daan Iain-lain. Serabutnya juga sudah kita tahu manfaatnya.
Sebagian orang mencocokkan manfaat-manfaat ini dengan sifat-sifat orang mukmin. Setiap manfaat dari pohon kurma itu dia letakkan padanannya dari sifat orang mukmin. Hingga ketika tiba pada duri kurma, dia menjadikan padanannya dari sifat orang mukmin sifat ‘keras terhadap musuh-musuh Allah ta’ala’. Orang mukmin itu keras terhadap mereka seperti duri, dan kepada sesama mukmin dia seperti buah kurma yang manis dan enak.
“Keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (al-Fath: 29)
Kedelapan: makin tambah usianya, makin banyak manfaatnya dan makin baik buahnya. Begitu juga orang mukmin, apabila usianya panjang, kebaikannya bertambah dan amalannya meningkat.
Kesembilan: jantungnya paling baik dan manis. Ini adalah keistimewaan yang khusus dimiliki pohon kurma, tak ada pada pohon-pohon lain. Dan, hati orang beriman seperti itu, paling baik.
Kesepuluh: manfaatnya tidak pernah berhenti secara total. Kalau salah satu manfaatnya terhalang, masih ada manfaat-manfaatnya yang lain. Apabila buahnya tidak keluar selama satu tahun, manusia masih dapat mengambil manfaat dari daun, pelepah, atau serabutnya. Begitu pula orang mukmin tidak pernah kosong dari salah satu sifat dan perangai baik. Bila salah satu perbuatan baik tak dapat dia kerjakan, masih ada kebaikan lain yang bisa diharap darinya. Kebaikannya selalu dapat diharapkan, dan kejahatannya tak perlu dikhawatirkan. Dalam Sunan Tirmidzi disebutkan hadits yang marfu’ dari Nabi shallallohu alaihi wassalam.,
“Orang terbaik di antara kalian adalah orang yang kebaikannya diharap dan kejahatannya tak dikhawatirkan; dan yang paling jelek adalah yang kebaikannya tak diharapkan dan kejahatannya dicemaskan.”(HR Tirmidzi)
Masalah ini kami bicarakan untuk melengkapi pembicaraan mengenai hikmah pohon kurma. Sekarang mari kita kembali.
Perhatikanlah bentuk batang kurma itu. Anda mendapatinya seperti terpintal dari benang-benang yang memanjang dan yang lain melintang, persis seperti pintalan tangan. Hikmahnya: agar keras dan erat, tidak putus-putus ketika membawa bawaan yang berat dan tahan terhadap tiupan angin kencang, tahan lama di atap, jembatan, perabot, dan sebagainya yang terbuat darinya. Begitu pula kayu-kayu yang lain; jika kamu perhatikan seperti tenunan. la tidak seperti batu cadas yang tidak berlubang. Anda lihat sebagiannya seakan-akan masuk pada bagian yang lain, memanjang dan melintang seperti susunan daging. Susunan seperti itu sangat kuat dan cocok dengan kebutuhan manusia terhadapnya. Karena kalau tidak berlubang seperti batu, tentu tidak mungkin dipakai untuk alat-alat, pintu, perabot, ranjang, keranda mayat, dan sebagainya. Di antara hikmah kayu: ia ditakdirkan terapung di atas air. Ini mengandung hikmah yang luar biasa. Kalau tidak terapung, kapal-kapal itu tidak dapat membawa muatan yang segunung dan tidak dapat bergerak maju dan mundur; juga jalur transportasi yang ada tidak dapat dipergunakan untuk membawa dagangan yang besar dan barang-barang yang banyak, memindahkannya dari satu daerah ke daerah lain. Sebab, jika dipindahkan melalui darat, memakan tenaga dan biaya yang besar, dan mengganggu kepentingan manusia.
* * *

Dikutip dari; KUNCI KEBAHAGIAAN, Ibnul Qoyyim Al Jauziyah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: