MEMAHAMI PERBEDAAN DENGAN ‘ARIF DAN BIJAKSANA


Alkisah, Imam Syafi’i atau Imam Madzahibul Arba’ yang terkenal cerdas dan paling banyak pengikutnya, bisa dibilang diatara hujjah-hujjahnya terkadang tidak sama dengan para muridnya dan juga dengan gurunya. Imam Hanafi, salah satu murid beliau yang paling cerdas, terkadang dalam berhujjah tidak sama dengan gurunya. Begitu juga dengan Imam Abu Hanifah, meskipun Imam Syafi’i tidak sezaman dengan beliau, Imam Abu Hanafi bagi Imam Syafi’i telah dianggap sebagai guru rohani beliau yang paling dihormati dan disegani. Hal ini terbukti dikala ada satu perbedaan mengenai kaifiyatu atau cara berdo’a. Imam Abu Hanafi dalam berdo’a, beliau tidak menyuruh para pengikutnya untuk menengadahkan atau mengangkat ke dua tangan. Sedangkan Imam Syafi’i, beliau selalu menganjurkan kepada para pengikutnya untuk mengangkat ke dua tangan. Nah, pada satu ketika di mana Imam Syafi’i saat itu berziarah ke makam Imam Abu Hanifah, sesampainya di sana, beliau ketika berdo’a tidak mengangkat ke dua tangannya. Sepintas hal ini terlihat aneh, Imam Syafi’i yang mengajarkan kepada para pengikutnya supaya mengangkat tangan ketikan berdo’a, beliau sendiri ternyata ketika berdo’a di depan makam Imam Abu Hanafi tidak mengangkat ke dua tangan. Mengapa Imam Syafi’i melakukan demikian? Hal ini tidak lain, tindakan beliau itu dalam rangka menghormati hujjah atau ajaran gurunya Imam Hanifah yang mengajarkan bahwa ketika berdo’a tidak usah mengangkat ke dua tangan. Kisah serupa juga pernah diungkap, bahwa suatu hari KH. Hasyim As’ari hendak silaturrahmi kepada KH. Sholeh Mas Kumambang-Gresik. Mendengar berita bahwa pendidri NU ini akan datang, maka seminggu sebelum kedatangan KH. Hasyim As’ari, beliau Kyai Sholeh menginstruksikan kepada semua warga sekitar agar tidak menabuh kentongan atau jedor baik yang ada di mushollah ataupun yang ada di masjid. Hal ini dilakukan tidak lain, karena beliau sangat menghormati KH. Hasyim As’ari yang salah satu hujjahnya, beliau tidak menganjurkan menabuh kentongan atau jedor di masjid atau di mushollah ketika hendak sholat. Sedangkan KH. Sholeh Mas Kumambang sendiri termasuk salah satu ulama’ yang menganjurkan para pengikutnya untuk menabuh jedor atau kentongan ketika hendak sholat. Subhanallah….! Inilah yang dikatakan memahami perbedaan dengan sikap ‘arif dan bijaksana. Dan juga termasuk cerminan bagi generasi ulama’ berikutnya untuk tidak saling gontok-gontokan, saling ngotot hanya karena berbeda pendapat dalam urusan agama. Asalkan bukan masalah syariat dan ‘aqidah, mengapa kita harus saling menonjolkan sikap egoisme, bahkan lebih-lebih kyai sana dengan kyai situ, ustadz sana dengan ustadz situ saling bermusuhan hanya karena beda pemahaman saja. Jika kita bandingkan, lebih hebat mana anda yang bergelar seorang kyai ataupun tokoh masyarakat dengan Imam Syafi’i, Imam Abu Hanifah, KH. Hasyim As’ari dan KH. Sholeh? Hanya karena masalah sepeleh saja, anda sudah melahirkan image ketidakharmonisan dalam menjalankan perintah Allah dan rosulnya. Mereka yang sangat ‘alim dan ‘arif seperti itu tidak pernah ribut apalagi tawur dalam masalah-masalah agama yang sebenarnya tidak pantas untuk diperdebatkan, mereka justru saling menghormati dan selalu bersikap ‘arif dan bijaksana menanggapi perbedaan tersebut. Diakui atau tidak, image ketidakharmonisan seperti di atas kerap kita jumpai di kalangan tokoh masyarakat kita. Meskipun tidak mayoritas, setidaknya pandangan kurang sedap tersebut akan mendapat penilaian yang sangat sensitif dari masyarakat atau orang-orang awam yang ada di bawahnya. Maka jangan heran, jika ada ungkapan-ungkapan kata seperti; “kyai kok malah ribot lan carok karepe dewe”, “kyaine ae wes ribot,opomane pengikute?” Ya, kata-kata inilah yang sering kita dengar dari obrolan dan cangkruan masyarakat. Jika kondisi seperti ini terus terjadi, bukan tidak mungkin masyarakat justru menjauhi para pemuka agama dalam kehidupan mereka. Jika sudah demikian, pantaskah jika kita menyalahkan sikap mereka yang memilih ‘anti kyai’ atau lain sebagainya. Tulisan ini dibuat bukan berarti ingin menggurui mereka para tokoh masyarakat yang sedang menjalankan misi dakwahnya. Tanpa mengurangi rasa ta’dim dan hormat, penulis hanya menggambarkan satu kondisi hidup yang dinilai kurang pantas untuk dilakukan apalagi di budidayakan. Lewat tulisan sederhana ini, setidaknya ada muatan atau kandungan nilai yang mungkin bisa kita ambil, atau setidaknya kita segera instropeksi diri dan berbenah diri dari ‘kebiasaan’ yang kurang pantas dilakukan bagi seorang pemuka agama (khususnya). Sebagaimana kita tahu, bahwa perbedaan (khususnya dalam ideologi) merupakan hal yang sangat wajar dan sah-sah saja. Justru di sinilah letak kekuasaan Allah SWT. Meskipun Allah membekali kita dengan akal dan pikiran, toh, dalam menghadapi persoalan hidup, kita pun memiliki cara yang berbeda dalam mengatasinya. Yang ada justru dengan perbedaan ideologi inilah kita bisa saling melengkapi satu sama lain, dan bisa tukar pendapat. Dari sinilah, kita seharusnya juga saling bahu-membahu dan menciptakan suasana kondusif, serta yang terpenting dari itu semua adalah, kita bisa sadar bahwa sehebat dan sepintar apapun kita dalam mengarungi roda kehidupan, kita tetap masih membutuhkan bantuan orang lain, baik bantuan berupa fisik, ataupun bantuan pemikiran. Hal ini tidak lain, karena kita pada dasarnya adalah mahluk yang lemah dan tak kuasa. Dengan terciptanya suatu pemikiran atau pemahaman yang berbeda-beda antara ulama’ A dan ulama’ B, kyai A dengan kyai B, seharusnya harus saling menghargai dan bisa menerima perbedaan tersebut. Bukan malah memperkeruh satu permasalahan yang terjadi karena bedanya pemahaman. Lihat kembali bagaimana sejarah Imam Syafi’i, Imam Abu Hanafi, KH. Hasyim As’ari, dan KH. Sholeh, serta ulama yang lain dalam merespon dan menyikapi permasalahan beda pendapat tersebut. Tidak pernah terdengar di antara mereka saling mengunggulkan pendapatnya masing-masing, apalagi menyikapi perbedaan tersebut dengan letupan emosi dan bersikap apriori. Ulama’ adalah jembatan di tengah-tengah permasalahan yang sedang bergulat di masyarakat, sekaligus ‘tongkat’ bagi umat dalam menjalani kehidupan. Jika diatara mereka saja sudah tidak lagi terjadi keharmonisan, saling mengunggulkan diri, tidak mau menerima pendapat ulama’ lain, serta saling mendahulukan ego masing-masing, apakah dengan kondisi seperti ini estafet kepemimpinan rosul bisa terus berjalan? Serta bagaimana reaksi masyarakat yang ia bina ketika melihat para tokoh idamannya sudah tidak lagi mencerminkan kesahajaan, dan tidak lagi menampakkan keharmonisan diantara sesamanya? Sekali lagi penulis sampaikan, bahwa dengan segala bentuk perbedaan (terutama masalah pemikiran), ulama’ ataupun tokoh masyarakat harus tetap menjaga ukhuwah islamiyah, tetap menjaga image baik di depan masyarakat, dan menerima perbedaan tersebut dengan sikap terbuka serta menyikapinya dengan ‘arif dan bijaksana. Jika hal ini bisa tercipta, maka perbedaan tetap menjadi satu hal yang indah, dan semakin memberikan kesan, bahwa perbedaan tersebut adalah salah satu seni kehidupan, hasil kreasi pemikiran manusia, serta karya seseorang yang harus diabadikan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: