Menteladani Metode Pendidikan Rasulullah SAW


Rasulullah Muhammad SAW adalah sosok pemimpin dengan multi talenta. Baginda Rasul bukan hanya seorang pemimpin (kepala negara), tetapi juga seorang panglima perang, pedagang (ekonom), Psikolog, dan seorang pendidik (guru). Selaku seorang pendidik Rasulullah SAW telah membuktikan keprofesionalan-nya dalam mendidik para sahabat dan generasi Muslim. Kesungguhan Rasulullah SAW dalam mendidik para sahabat, terurai dalam salah satu sunnahnya, yaitu pada hadits berikut ini: “Tidaklah dikatakan kuat atau gagah orang yang cepat naik darah ketika marah, tapi yang dikatakan kuat adalah orang yang dapat mengendalikan nafsunya ketika marah.”

Di kalangan bangsa Arab pernyataan ini benar-benar merupakan sesuatu yang baru, karena ‘cepat naik darah’ ketika marah justru merupakan slogan mereka, seperti terungkap dalam syair Amr bin Kaltsum berikut ini:

“Ingatlah…,janganlah sekali-kali menganggap remeh kepada kami,
Maka kami akan menganggapnya remeh melebihi orang-orang Jahiliyah.”

Selaku pendidik muslim sudah sepatutnya dan semestinya kita menteladani metode-metode pendidikan yang diterapkan Rasulullah SAW.

Pada dasarnya tidak ada metode mengajar yang sempurna. Setiap metode memiliki nilai plus dan minus sendiri-sendiri. Oleh sebab itu guru yang professional dan kreatif ia akan memilah dan memilih metode mengajar yang paling tepat setelah menentukan tujuan pembelajaran dan indikator dari kompetensi yang akan dicapai.

Ada beberapa metode mengajar yang dipandang representatif dan dominan yang digunakan oleh Rasulullah untuk meningkatkan potensi anak didik. Metode-metode tersebut antara lain:

1. Membawakan Kisah yang Mengandung Pelajaran

Kisah dapat memainkan peran penting dalam menarik perhatian, kesadaran pikiran dan akal anak (menanamkan motivasi). Rasul biasa membawakan kisah di hadapan para sahabat, yang muda maupun yang tua. Tujuannya adalah untuk mengambil pelajaran oleh orang-orang sekarang dan yang akan datang.

Yang patut dicatat adalah bahwa kisah-kisah yang disampaikan oleh Nabi itu bersandar pada fakta riil yang pernah terjadi di masa lalu. Jauh dari kurafat dan mitos dongeng.

Firman Allah:

“Semua kisah tentang Rasul-Rasul itu, Kami ceritakan kepadamu untuk meneguhkan hatimu dengannya. Dan dalam surah ini telah datang kepadamu kebenaran dan pengajaran serta peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S 11:120)

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (Q.S 12:111)

Sebuah cerita memiliki pengaruh terhadap pendidikan, sosiologi dan keilmuan secara mendalam pada diri (jiwa) pendengarnya dan penontonnya. Pengaruh ini berkolerasi dengan berbagai elemen maupun sumber secara terpadu dan terpisah dalam tiga sumber dasar yang signifikan, yaitu sumber psikologi, sumber imajinasi dan sumber rasio kedewasaan.

2. Memberi Bimbingan dan Uraian Langsung (Ceramah)

Berbicara langsung kepada anak tanpa basa-basi, menjelaskan hakikat-hakikat kepadanya dan menyampaikan informasi-informasi pengetahuan dan pemikiran, akan menjadikan anak mudah sekali menerima pesan yang disampaikan kepadanya. Rasulullah selalu menanamkan kaidah-kaidah ideologis yang mendasar kepada anak. Perhatikan kata-kata yang diajarkan Rasul berikut ini:

“Jagalah Allah niscaya Ia juga akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya engkau akan mendapati-Nya ada di hadapanmu. Apabila engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, andaikan saja umat seluruhnya berkumpul untuk memberikan kemanfaatan kepadamu, mereka tidak akan bisa memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan, andaikan saja mereka bersatu untuk menimpakan kemudaratan terhadapmu, mereka tidak akan bisa memberikan kemudaratan itu terhadapmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembar catatan telah kering.”

Rasul selalu mengawali pembicaraan dengan anak dengan kata “Nak!” atau ya bunayya (wahai anakku sayang). Hal ini membangkitkan perhatian dan membuat anak merasa mendapat perhatian dari orang lain.

3. Berkomunikasi Sesuai Kemampuan Rasio Anak.

Setiap manusia memiliki keterbatasan yang tidak bisa dilampauinya. Begitu juga dengan seorang anak. Akal dan pikirannya masih dalam tahap perkembangan dan perluasan. Pengetahuan kedua orang tua dan para pendidik mengenai tingkat perkembangan anak-anak akan memudahkan bagi mereka untuk memecahkan berbagai masalah yang dihadapi anak. Sebab mereka mengetahui kata-kata seperti apa yang digunakan, dan gagasan yang bagaimana yang mesti mereka sampaikan.

4. Dialog (Hiwar) Qurani dan Nabawi

Dialog (hiwar) adalah percakapan silih berganti antara dua pihak atau lebih mengenai suatu topic, dan dengan sengaja diarahkan kepada satu tujuan yang dikehendaki (dalam hal ini oleh guru). Metode ini pada jaman sekarang disebut Metode Diskusi.

5. Metode Pengalaman Praktik Langsung (Metode Demonstrasi)

Melatih indra anak akan menghasilkan pengetahuan dan ilmu. Ketika ia mulai tumbuh dan bisa memfungsikan kedua tangannya untuk melakukan suatu pekerjaan, maka ketika itu pula akalnya mulai berfungsi sebagaimana mestinya. Setelah itu, ia akan melihat bagaimana ia akan melatih indranya serta menyiapkan dirinya untuk melakukan sesuatu. Demikianlah ia menekuni suatu pekerjaan dan akan melakukannya secara baik setahap demi setahap.

Rasulullah pernah melihat seorang anak yang sedang menguliti kambing namun salah dalam mengerjakannya. Lalu Rasulullah menyingsingkan lengan bajunya dan mulai menguliti kambing dihadapannya. Ia pun memperhatikan bagaimana Rasulullah menguliti kambing. Ia memfungsikan akal dan memusatkan perhatiannya pada pengajaran yang diberikan Rasulullah.
Melalui pengalaman nyata dan praktis seperti ini, wawasan dan pengetahuan anak akan terbuka luas. Jangan harap anak menjadi kreatif jika dirinya tidak pernah bersosialisasi dengan orang lain. Berinteraksi dengan lingkungan memudahkan anak mendapatkan gambaran tentang bagaimana seharusnya dirinya berbuat dan bersikap.

Inilah kaidah-kaidah yang termuat dalam Contextual Teaching and Learning (CTL)

Memberikan Hadiah Untuk Meningkatkan Motivasi

Setiap orang tentu akan merasa berarti dan melonjak semangatnya jika segala upayanya dihargai. Begitu juga dengan anak didik. Tentu belum hilang dibenak kita ketika kita masih berstatus murid. Bagaimana berbunganya hati ketika mendapat penghargaan dari Bapak/Ibu guru kita. Jangankan penghargaan, dipuji saja sudah sumringah. Tanpa kita pernah mengkaji-kaji harganya. Bagi kita pemberian/penghargaan itu lebih berharga dari apapun.

Para pendidik muslim hendaknya memberikan imbalan/penghargaan kepada siswa yang bersungguh-sungguh dan berprestasi dengan berbagai hadiah dan pemberian yang islami. Tentu saja pemberian tersebut dapat bermanfaat bagi mereka dengan seijin Allah (manfaat dunia akhirat)

Selain sebagai hadiah, pemberian itu juga dapat berdampak positif, misalnya hubungan menjadi lebih erat karena ada rasa saling menyayangi dan mengasihi karena Allah, serta dapat menghilangkan penyakit-penyakit hati.

Dalam sebuah hadits-nya yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Rasulullah telah bersabda:

“Salinglah memberikan hadiah di antara sesama kalian sebab hadiah dapat menghilangkan kedengkian dan dendamnya hati”.

Jika seorang guru melihat ada siswanya yang komitmen terhadap Islam dan ia juga seorang siswa yang tekun belajar, maka tidak ada salahnya untuk memuji dan memberinya hadiah di depan teman-temannya. Hal ini bertujuan agar teman-temannya yang lain terdorong ingin mengikuti langkah siswa tersebut (Fastabiqul Khairat)

Allah SWT berfirman:

“…Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.”
(Q.S 83; 26)

Nilai-nilai Pembelajaran dari Sejarah Rasulullah SAW

A. Menggembalakan Kambing

Pada usia lima tahun, Rasulullah mempunyai tugas untuk menggembala kambing. Menggembala kambing adalah profesi para Nabi dan Rasul. Nabi Ibrahim a.s, Nabi Musa, a.s dan Nabi Muhammad SAW adalah penggembala kambing.
Menggembala kambing yang dilakukan para Nabi sebelum diberi tugas risalah bukanlah suatu kebetulan, melainkan sebuah scenario Allah yang harus dilakoni para Nabi. Kendati profesi tersebut tidak membutuhkan kecerdasan dan ketrampilan memimpin seperti layaknya memimpin umat atau bangsa, profesi tersebut menjadi keharusan dalam sejarah perjalanan hidup para Nabi karena beberapa hikmah Illahiah berikut:

1. Menggembala kambing adalah suatu fase pendidikan kejiwaan yang harus dilalui oleh para Nabi, agar dapat menyampaikan dakwahnya kepada seluruh manusia dengan santun.

2. Ketika calon Nabi keluar menggembalakan kambingnya di padang rumput, ia berhadapan langsung dengan alam raya yang luas. Ia dengan leluasa dapat memperhatikan langit dan bintang, menyaksikan pergantian siang dan malam, merenungi gerak alam, kehidupan dan manusia. Dari proses perenungan ini terbentuklah aqidah di dalam dirinya. Secara psikis ia siap menerima risalah Ilahiyah.

Dengan demikian, menggembalakan kambing adalah suatu fase pendidikan ideology, disamping pendidikan psikologi bagi para Nabi sebelum menerima risalah Ilahiyah

B. Berdagang ke Bushra.

Momen ini merupakan tarbiyah Ilahiyah yang menuntun beliau memahami wawasan dan cakrawala luas tentang kondisi masyarakat yang serba plural. Saat itu kota Bushra adalah pusat perdagangan di bawah kekuasaan kekaisaran Romawi. Pelajaran yang Beliau dapatkan adalah Allah memberikan pengalaman hidup di Negara asing. Pengalaman hidup ini dapat dibandingkan dengan adat, tradisi, dan keadaan social dengan lingkungan tanah airnya sendiri. Beliau dapat mengetahui ilmu berdagang dan berbisnis yang menguntungkan, mempelajari watak dan prilaku masyarakat Negara asing beserta adat istiadatnya. Tarbiyah Ilahiyah inilah yang mewujudkan sikap afektif beliau dalam memahami sikap sosial positif dengan orang lain.

Yang terpenting dari pengalaman tersebut adalah ketika beliau diangkat menjadi Nabi, maka Beliau mengetahui kondisi masyarakat yang harus digarap sebagai sasaran dakwahnya. Dengan pengalaman tersebut seakan-akan Allah menunjukkan beginilah kondisi masyarakat dunia yang sebenarnya, pelajari mereka, dan carilah cara yang tepat untuk mengajak mereka pada Islam kelak. Oleh karena itu, ketika diutus menjadi Nabi, beliau sudah mengetahui kondisi masyarakat, terutama akidahnya. Apalagi Bushra pada waktu itu menjadi daerah jajahan Romawi yang beragama Nasrani. Hal ini bisa menjadi PR Beliau saat itu, bagaimana seharusnya Beliau menghadapi orang Nasrani, Yahudi dan para penyembah berhala.

C. Ikut Perang Fijar Pada Usia 14 Tahun

Perang Fijar adalah peperangan antara Suku Quraish dan Suku Qais ‘Ailan. Beliau ikut membantu mempersiapkan alat-alat perang kawan-kawannya. Perang ini merupakan upaya untuk mempertahankan kesucian bulan-bulan haram (Dzulqa’idah, Dzulhijah, Muharram dan Rajab) dan Tanah Suci Makkah yang berlangsung selama empat tahun.
Tarbiyah Ilahiyah yang Beliau peroleh adalah tentang pentingnya pendidikan psikomotorik, yaitu kemampuan menggunakan potensi fisik, tenaga, ketangkasan dan keberanian dalam menghadapi kondisi yang keras dan penuh tantangan. Dalam perang ini Allah mengajari Beliau bagaimana menggunakan fisiknya untuk bisa lepas dari kondisi yang mendesak dan berbahaya. Ketrampilan dan ketangkasan Beliau diuji dalam menghadapi musuh. Seakan-akan Allah mengajarkan untuk selalu menjadi seorang yang pemberani dalam menghadapi manusia, jangan berputus asa, selalu berjuang dan tabah dan menggunakan potensi fisik untuk hal-hal yang positif.

6 responses to this post.

  1. Assalamu’alaikum alhamdulillah dgn masukan metode pembelajaran yg seharusnya memang aku pelajari.saya ucapkan banyak terima kasih kepada penulisnya .Wassalam

    Balas

  2. Posted by Hazmy on Juni 11, 2011 at 5:44 pm

    mantap sekali , izin copas ya

    Balas

  3. Posted by abu on Oktober 3, 2012 at 5:25 am

    minta izn untk copy yach……….

    Balas

  4. Posted by bengs on Desember 20, 2012 at 10:30 pm

    keren banget masbro.
    Subhanallah kompleks banget Islam mengajarkan tentang aspek kehidupan
    tetap berkarya om!!!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: