Kasih Seorang Guru


Pada dasarnya. Dewasa ini, kita sering menganggap bahwa yang namanya orang tua itu, hanyalah Ibu dan Bapak kandung kita saja. Akan tetapi jika kita melihat kesimpulan tentang pembagian cinta oleh Ibnu Bathol, kita akan mengerti bahwasanya yang dinamakan orang tua bukan hanya kedua orang tua kandung kita saja. Ibnu Bathol membagi cinta menjadi 3 bagian. Yang pertama adalah cinta yang dikuhususkan kepada para ulama, guru dan kedua orang tua kandung, yang digolongkan kepada “محبة إجلال و اعظام” (cinta untuk mengagungkuan). Dari pengelompokan cinta yang pertama ini, pastilah kita sudah bisa menyimpulkan bahwa, yang dinamakan orang tua itu ada tiga yakni orang tua kandung, ulama’ dan guru.

Memang jika kita amati pengelompokan orang tua ini jarang terjadi di kalangan masyarakat. Sebagai contoh adalah di sekolah umum. Banyak dari wali murid, yang dengan seenaknya sendiri menjemput sang anak dari sekolah, dengan dalih yang tidak begitu penting, walau pun sang guru tidak mengidzinkan. Padahal ketika sang anak sudah dititipkan kepada sekolah, maka anak tersebut sudah sepenuhnya menjadi hak guru di sekolah tersebut. Jika di Pondok Pesantren, hal ini sangat diperhatikan sekali. Seperti contoh adalah kejadian yang pernah di alami oleh Ikhsan santri asal kota malang yang mondok di Pon-Pes Salafiyah Pasuruan.

Pernah diceritakan. Dahulu kala, Kiai Hamid mempunyai Khadam (orang yang membantu kebutuhan sehari-hari Kiai) yang berasal dari kota malang. Ihsan, itulah sapaan akrabnya. Mengikuti segala rutinitas pesantren, menjaga putra Kiai, dan sekolah. Itulah kebiasaan sehari-harinya.

Tahun demi tahun, Ia lewati masa-masa santrinya di pondok salafiyah dengan bahagia. Akan tetapi semua itu menjadi sirna ketika orang tua ikhsan, menjemputnya dengan maksud untuk memberhentikan sementara Ikhsan dari pesantren.

Ikhsan… Bapak wes orah duwe duwet nak, nyambot gawene Bapak orah hasil. awakmu sak iki boyong ae sementara, engko lek abah wes duwe duwet mondok maneh.” (Ikhsan… Bapak sudah tidak punya uang lagi, pekerjaan Bapak masih belum hasil. Sekarang kamu berhenti saja dulu dari pesantren, nanti jika Bapak sudah punya uang Ikhsan mondok lagi). Ujar Ayah Ikhsan. Mendengar ucapan tersebut Ikhsan pun tidak mampu berbuat apa-apa lagi, Ia juga tak kuasa menggerakkan bibirnya untuk menjawab penjelasan dari Ayahnya. Dengan pasrah Ikhsan pun mengangguk. “ayo nak saiki tak pametno nang Romo Kiai.” (ayo nak, sekarang saya pamitkan ke romo Kiai) ajak ayah Ikhsan.

Ketika berjalan menuju Ndalem (kediaman) Kiai Hamid. Kiai Hamid sudah berada di teras kediamannya. Ketika Ayah dan anak tersebut sudah mendekat ke ndalem Kiai Hamid langsung berkata. “Wes, saiki sampean mulio Ikhsan lek nang kene anakku, sampean nggak usah repot ngirim. Jarno Ikhsan nangkene ambek aku.” (Sudah, sekarang anda pulang saja, kalau di sini Ikhsan adalah anakku, anda tidak usah repot untuk mengirim bekal. Biarkan Ikhsan disini bersama saya) Ujar Kiai Hamid dengan nada yang agak tinggi. Subhanalloh… padahal Ayah Ikhsan masih belum mengucap sepetah kata pun. Akan tetapi Kiai Hamid sudah mengetahui maksud kedatangannya.

Mendengar ucapan Kiai Hamid yang seperti itu, Ayah Ikhsan tidak bisa berbuat apa-apa. Beliau pun hanya bisa menganggukkan kepala. Setelah Ayah Ikhsan meminta undur diri. Kiai hamid langsung mengajak iksan kedalam Ndalem San, awakmu nang kene melok aku. Lek Aku mangan, awakmu yo mangan. Lek Aku nggak mangan, awakmu yo orah mangan. Awakmu kan bagian ndulang Naseh. Lah, lek adang lebihono awakmu oleh ngampung” (San, Kamu di sini saja ikut denganku. Kalau Aku makan, kamu juga makan. Kalau Aku tidak makan, kamu juga tidak makan. Kamukan biasanya menyuapi Nashih (putra kedua Kiai Hamid). Lah, kalau menanak nasi, sekarang kamu lebihkan, kamu boleh ikut makan juga) ujar Kiai Hamid dengan nada yang lembut. Mendengar ucapan Kiai Hamid yang seperti itu, Ikhsan pun tak kuasa untuk menahan tangis harunya. Dan Ikhsan yang kini yang memangku pesantren Nurul Hikmah as-Salafiyah di desa ketintang, pajaran ponco kusumo Malang tersebut. Mengaku bahwa semenjak beliau tak lagi dikirim bekal oleh orang tuanya. Rezeki beliau di pesantren malah bertambah banyak, hingga dapat membeli 8 sarung sutra yang harganya kurang lebih Rp. 250.000 (uang sekarang). Wallohu a’lam… (Zen)

Sumber: KH. Ikhsan, Ketintang, Poncokusumo Pajaran, Malang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: