Sedekah Itu Baik, Tapi Lihat Dulu “Sikon”nya


Kiai Hamid! tokoh tersebut mungkin sudah tidak asing lagi ditelinga para khalayak. Apalagi sejumlah orang yang sangat mengidolakan beliau atau yang biasanya disebut dengan muhibbin. Kiai yang sangat kondang di kota Pasuruan ini memang terkenal dari berbagai aspek. mulai dari kealimannya, kewara’annya, kezuhudannya, bahkan sampai kewaliannya yang sangat masyhur. Orang-orang yang hidup semasa beliau, semuanya mengakui bahwa kiai kelahiran kota Lasem ini memang sangat berbeda. Beliau terkenal sangat halus dalam menyampaikan pesan, dan ketika menegur seseorang, sampai terhadap binatang pun, beliau tidak pernah berbuat kasar. mungkin, karena saking halusnya cara penyampaian beliau. sampai-sampai banyak orang bingung, apakah yang disampaikan kiai Hamid itu sebuah teguran atau nasihat. sebagai contoh, dahulu pernah diceritakan. Bahwa, ada seorang CEO (chairman), dari perusahaan mobil terkemuka di kota Jakarta yang tahu bahwa ada ulama’ dari kota Pasaruan yang sangat terkenal akan kewaliannya. Ya, siapa lagi kalau bukan sosok yang kerap dipanggil KH. Hamid atau nama lengkapnya KH. Abdul Hamid bin Abdullah bin Umar. Namun, CEO tersebut bingung dengan keadaan kiai Hamid. Bagaimana mungkin, ulama’ sekaliber kiai Hamid memiliki pesantren yang terbilang relatife kecil. Akhirnya pengusaha ternama itu pun berkeinginan untuk berkunjung ke rumah kiai Hamid. Selang beberapa bulan, keinginan pengusaha itu pun terkabulkan. Bos dari perusahaan mobil terkemuka itu akhirnya, datang di kediaman kiai Hamid. Setibanya di kediaman kiai Hamid, kiai Hamid menyambut kedatangan sang tamu dengan senang. Berkali-kali kiai Hamid menebar senyum tatkala si tamu tadi memandangnya. Selain terkenal dengan ketawadlu’annya, kiai Hamid juga terkenal sangat ahli melegakan atau menyenangkan hati seseorang dan salah satunya cara yang beliau gunakan adalah menebar senyum kepada siapa pun. Wah, ini ada tamu datang dari jauh. Ada keperluan apa?” Tanya kiai Hamid membuka percakapan. “Begini kiai, maksud kedatangan saya yang pertama adalah untuk menyambung tali silaturrahim dengan anda, dan yang kedua adalah, sekedar ingin melihat-lihat pesantren anda.” Dari sinilah timbul percakapan panjang lebar antara kedua belah pihak. Lama sudah mereka berdua berbicara, akhirnya tamu tersebut mengutarakan inti dari tujuan datang jauh-jauh dari Jakarta. “Begini kiai tujuan saya kemari, sebenarnya adalah ingin menyumbang uang tunai untuk pesantren ini, agar kiai dapat melebarkan dan membesarkan pondok ini.” Mendengar ucapan tersebut, kiai Hamid kembali melontarkan senyum kepada tamu tersebut. “Maksud anda itu sudah baik, akan tetapi lebih baik lagi jika menyalurkan uang tunai tersebut tepat kepada orang yang lebih membutuhkan. Ya sudah, kalu begitu tunggu. Sebentar lagi ada orangnya datang.” Jawab kiai Hamid. Dari sini sangat terlihat aneh sekali. Pada perkataan terakhir, di situ beliau menuturkan bahwa ada seseorang yang hendak dating, akan tetapi siapa? Tak lama kemudian, akhirnya orang yang dimaksud oleh kiai Hamid datang. Subhanalloh….! Orang yang beliau maksud adalah KH. Ahmad Dahlan dari desa Lebak- Pasuruan. “Assalamu’alaikum…eh, enten tamu, nggeh kiai sepuntene kulo ganggu.” (Assalamu’alaikum… eh, ada tamu, ma’af kiai ganggu). Ucap kiai Dahlan. “Wa’aliakum salam… orah popo” (Wa’alaikum salam, tidak apa-apa) Jawab kiai Hamid. “ini yang barusan saya bilang ada tamu yang akan datang.” Kiai Hamid menunjukkan kiai Dahlan kepada tamu yang datang dari Jakarta tadi. “Dahlan koe jare arep mbangun madrasah. Iki ono uwong seng siap mbantu. Ageh jak’en moleh nang omahmu. Opo seng koe karepi insya Allah iso dituruti” (Dahlan, katanya kamu mau bangun madrasah, ini ada orang yang mau bantu. Cepat kamu ajak pulang ke rumahmu. Insya Allah semua yang kamu inginkan bisa Ia penuhi). Kiai Hamid akhirnya mempersilahkan kiai Dahlan pulang dengan pengusaha tersebut. Singkat cerita, sepulang dari rumah kiai Dahlan pengusaha dari Jakarta tersebut kembali ke kediaman kiai Hamid. Pengusaha tersebut masih merasa belum puas jika belum bisa memberikan bantuan uang tunai kepada kiai Hamid. “loh, anda lagi, ada apa?” Tanya kiai Hamid. “begini kiai terus terang saja, saya masih belum lega kalau masih belum menyampaikan hajat saya yang utama tadi.” Jawab pengusaha itu. “Oh, itu lagi… begini, niat kamu itu sudah baik dari awal. Tapi saya berpikir lain. Kalau seumpama uang yang anda berikan saya terima. Maka saya berkewajiban untuk membesarkan pondok ini. Lah, kalau sudah seperti itu yang akan jadi korban adalah penduduk di sepanjang gang ini. Apalagi mereka yang biasanya shalat jama’ah di musholla ini. Apakah mereka tidak merasa terganggu dengan pembangunan tersebut?” jelas kiai Hamid. Mendengar penjelasan seperti itu, akhirnya pengusaha itu merasa lega dan menerima keputusan kiai Hamid. Dan ketika pulang dari Pasuruan, sempat pengusaha tersebut berguman “Oh, iya, walaupun saya jauh-jauh ke Pasuruan, toh, tujuan saya sudah terlaksanakan. Meskipun bukan kepada kiai Hamid. Jadi saya tidak perlu menyesal.” Begitulah jika sifat halus sudah menyelimuti seseorang. Dengan penjelasan yang lembut maka hati orang yang awalnya menyimpan rasa kekecewaan, akhirnya sirna dengan sendirinya. (zen)
Sumber: Ust. H. Syamsul Huda

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: