Tersudut, Antara Adat dan Syariat


Pada tulisan kali ini, saya akan menceritakan pengalaman dari seorang teman saya, sebut saja “Rya”. Rya adalah seorang gadis yang usianya sudah matang namun hingga menjelang usia 40 tahun, dia belum juga menikah. Keinginan Rya untuk menikah sangat kuat tapi ternyata ALLAH memberikan ujian kepada dia untuk bersabar. Bersabar dalam menanti pertemuan dengan pendamping hidupnya, bersabar dalam menghadapi sikap orang-orang yang berniat menjadikannya istri ke 2, 3 ataupun 4, bersabar dalam menghadapi pertanyaaan yang dilontarkan “kapan kamu nikah”, bersabar dalam menjalankan ketentuan ALLAH, dan bersabar dalam segala hal. Bukankah sabar itu tidak ada batasnya, karena sabar adalah setengah dari iman.

“Mungkin pintu jodoh kamu ditutup oleh seseorang yang pernah suka dengan kamu tapi kamu tidak menerimannya ” kata-kata itu kembali teringat oleh Rya. Kata-kata yang pernah dilontarkan temannya. Hari ini kembali kata-kata tersebut diucapkan oleh seseorang yang sangat dekat, bahkan Rya tidak bisa dan tidak mau membantah selama tidak berkaitan dengan syariat agama. Iya..kata-kata itu keluar dari bibir orang yang dia hormati, dia sayangi dan dia kasihi..yaitu bapak nya sendiri. Malam itu ketika Rya sedang menonton teve dia dipanggil oleh bapaknya, dengan penuh pertanyaan Rya mendatangi Bapaknya yang sudah menunggu di kamarnya.

Setelah Rya duduk di sebelah bapaknya , mulailah bapaknya mengeluarkan kata-kata yang mungkin sudah dipersiapkan lebih dahulu, karena Rya tahu bahwa bapaknya tidak pandai berkata-kata, beliau adalah tipe bapak yang lebih banyak memperhatikan anaknya dengan sikap atau jika ingin menyampaikan sesuatu beliau lakukan dengan perantara anaknya yang lain.

“Kemarin malam Bapak tidak bisa tidur dan Bapak memikirkan kamu dan juga menyangkut sesuatu, kamu ingat siapa yang memberikan lukisan ke kamu dan namanya siapa? Kalau Bapak melihat, lukisan itu seperti ada sesuatu, mungkin yang memberikan lukisan itu suka kepada kamu tapi kamu tidak menyukainya dan menurut perasaan Bapak kalau dia memberikan lukisan itu untuk menutup pintu jodoh kamu, karena Bapak perhatikan sampai sekarang belum ada laki-laki yang mendekati kamu” itulah kata-kata yang keluar dari bibir Bapaknya.

Pikiran Rya kembali membuka file-file memori yang sudah lama tersimpan, yaitu pengalaman ketika dia masih di bangku kuliah. Memang pernah ada seniornya yang suka dengan Rya tapi Rya pada saat itu tidak menyukainya. Senior ini adalah anak band, sering nongkrong dengan teman-temannya. Sebenarnya bukan karena seniornya  itu anak band yang menjadi alasan tapi karena senior ini dilihat  ibadahnya kurang, itulah yang menjadi pertimbangannya. Meskipun saat ingin mendekati Rya, seniornya terlihat rajin shalat tapi walaupun begitu Rya tidak bisa menerimanya. Pada hari ultah Rya, seniornya ini datang ke rumahnya untuk mengantarkan kado berupa lukisan. Pada waktu seniornya datang, Rya pun heran dari mana dia mendapatkan alamat rumahnya.

Kembali pikiran Rya bergelanyut, dia bingung apa yang harus disampaikan kepada Bapaknya. Pikiran Rya menolak ucapan  bapaknya, dia tidak mau kondisinya yang belum menikah disangkut pautkan dengan lukisan atau penutup jodoh atau apalah yang berbau kepercayaan yang aneh. Karena dia ingin apa yang dia hadapi dikaitkan dengan hal-hal yang berbau syirik, karena hanya dosa syirik yang tidak diampuni ALLAH. Selain itu dia juga tidak mau berdebat dengan bapaknya, dia tidak ingin perdebatannya dahulu terulang, yang sempat membuat dia marah dan menangis. Rya sadar bahwa pemikiran bapaknya tidak bisa langsung disalahkan, pemikiran yang mungkin sudah mendarah daging di kepala bapaknya, sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk memberikan pengertian, seperti dia dulu memberi pengertian tentang pentingnya shalat untuk seorang muslim.

Setelah agak lama Rya berpikir, akhirnya dengan suara ditenangkan Rya mulai bicara “Pak, sebenarnya tidak ada yang menghalangi pintu jodoh saya, lukisan itu dulu diberikan sebagai hadiah ulang tahun saya”  Rya mulai memberikan penjelasan kepada Bapaknya. “ Saya masih ingat teman yang dulu kasih kado itu, tapi jodoh saya juga tidak ditutup oleh teman itu, karena sebenarnya ada orang yang pernah mendekati saya tapi hati saya belum merasa sreg “ itulah kata-kata yang keluar dari bibir kakunya, rasanya berat sekali untuk digerakkan. “Justru itu, karena anak itu menutupnya “ lanjut Bapak. “ Mungkin Bapak kepikiran karena Wati ( adenya Rya ) sekarang udah ada yang serius ke dia, sedangkan saya belum, jadi bikin Bapak tidak bisa tidur, ga usah dipikirin pak…” kembali Rya merangkai kata-kata untuk melunakkan hati Bapaknya. “Semua Bapak pikirin, kamu dan adik kamu, tiap malam Bapak berdo’a untuk semua anak-anak Bapak” jawab Bapak.

“Sekarang kalau kamu masih menjunjung nilai-nilai ketimuran, Bapak ingin membersihkan diri kamu, kamu keramas dan nanti pada bilasan terakhirnya kamu pakai air yang akan Bapak berikan ke kamu” lanjut Bapak. Bagaikan disambar petir mendengar permintaan bapaknya, Rya paling takut kalau sudah berhubungan dengan kepercayaan-kepercayaan seperti itu, apalagi yang menyuruh itu Bapaknya sendiri. Dia pun bingung bagaimana cara menjelaskan ke Bapaknya karena dia yakin Bapaknya tidak bisa menerima penjelasannya. “Ya ALLAH bagaimana ini” demikian dalam hati Rya. “Saya tidak ingin menduakanMU Ya ALLAH..dan saya pun tidak mau mengecewakan Bapak saya, karena saya tahu Beliau pasti resah memikirkan nasib jodoh anaknya” Rya lemas mendengar ucapan Bapaknya. ” Maaf pak, enggak usah pake keramas-keramasan, itu tidak sesuai dengan agama dan termasuk syirik” pinta Rya. “ Iya sudah kalau kamu tidak mau, kamu boleh belajar tentang agama sebanyak-banyaknya tapi kamu juga tidak boleh meninggalkan adat istiadat” ujar Bapak. “Ooooh…..adat istiadat lagi” lirih dalam hati Rya. Kenapa adat istiadat, bukankah ALLAH sudah menyatakan dalam firmanNYA bahwa “” Sesungguhnya Allah tidak mengampuni (dosa) karena mempersekutukkan Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsipa yang mempersekutukkan Allah, maka sungguh , dia telah berbuat dosa yang besar.” ( Qs. An – Nisa : 48 ) ”  dan juga dijelaskan oleh NYA bahwa apapun yang terjadi pada manusia atas KuasaNYA ” Dan jika Alloh menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikkan kepada mu, maka Dia Maha kuasa atas tiap-tiap sesuatu ( Qs. Al – An’am : 18 ).

Diakhir dialognya Bapak Rya berkata “Bapak hanya meminta kamu untuk keramas, supaya kamu bersih dari penutup itu” , dan Rya pun hanya diam, sedih dan bingung.

Dalam kebingungannya, Rya merasakan bisikan ke dalam hatinya, bisikan yang memberikan solusi untuk dia, bisikan yang seakan menjawab kebimbangannya, bisikan itu meminta Rya untuk menuruti permintaan Bapaknya, “niatkan keramas itu hanya untuk membersihkan diri saja, jangan diniatkan  untuk menghilangkan penutup jodoh” begitulah bisikan yang diterima Rya. Itulah kebimbangan yang dihadapi Rya yang disudutkan antara adat dan syariat.

By : Ryanti

One response to this post.

  1. Posted by akhmad on Mei 7, 2010 at 10:23 am

    assalamualaikum…
    tulisan yang bagus…..klu ibarat anak sekolah…setiap selesai belajar pasti ada ujian…akhir…berupa soal2…dll,,dan klu kita belajar agama pastinya juga ada ujian…yang tentunya bukan berupa soal…seperti anak sekolahan…tapi berupa masalah2 yang ada di masayarakat…seperti masalah pada artikel…diatas…nah itulah tugas kita menyiasati…masalah dengan tentunya tanpa mengindahkan syariat..tapi juga…tanpa melanggar adat….
    mohon maaf bila ada salah kata….
    wassalamualaikum

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: