Saling Mencintai Karena Iman


بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين, والصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد :

Saling Mencintai Karena ImanPada artikel sebelumnya saya pernah menuliskan tentang tidak ada cinta kecuali cinta yang satu, bahwa tidak ada cinta hakiki kecuali didasari atas cinta kepada Allah. kita mencintai orang tua atas dasar perintah Allah, kita menyayangi dan mencintai istri/suami kita atas dasar perintah dari Allah, dan kita menyayangi sesama juga atas dasar perintah Allah. jika kita mencintai Allah terlebih dahulu, maka kita akan mengamalkan segala perintahnya, termasuk kepada siapa dan bagaimana kita mencintai.

Hubungan kekeluargaan dan kekerabatan maupun hubungan antar sesama tidak akan pernah lepas dari perasaan cinta dan kasih sayang. hanya saja cinta dan kasih sayang seperti apa yang dapat menuntun kita kepada keikhlasan, dan cinta kasih sayang model apa yang Allah ridhoi?

“karena cinta dan kasih sayang bukanlah sekedar pengakuan dan ucapan, akan tetapi lebih kepada bukti dan tindakan.”

Mencintai orang tua karena tuntutan status yang mana sebagai anak harus mencintai orang tua, maka cinta itu tidak akan dapat mengantarkan kita kepada keikhlasan dan akan selalu berkurang dengan perubahan status. lihat saja disekeliling! banyak anak terutama anak laki-laki, yang mencintai orang tuanya dan selalu memenuhi kebutuhan mereka. akan tetapi itu semua berkurang bahkan tidak lagi dilakukannya setelah dia menikah. pekerjaan dan keluarga “baru” telah menyibukkannya dari berbakti kepada orang tua. asal kita ketahui saja, setelah anak laki-laki menikah maka hak orang tuanya masih tetap besar atas dirinya. berbeda dengan anak perempuan, setelah dia menikah maka hak suami menjadi lebih besar dan utama dari pada hak orang tuanya.

Apakah berbakti kepada orang tua itu ada batas waktunya? apakah membantu dan memenuhi kebutuhan mereka hanya karena status kita sebagai anak? jika demikian, cinta kita bukanlah cinta yang didasari oleh iman kita kepada Allah. bukan atas dasar cinta yang satu, cinta Allah. jika cinta kita benar-benar dilandasi cinta kepada Allah, pastilah kita akan melakukan sesuai yang Dia perintahkan kepada kita dalam firman-Nya :

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Artinya : “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS Al-Israa’ : 24)

Apakah perintah Allah diatas terdapat pembatasan status? apakah Allah memerintahkan kita hanya untuk mendoakan orang tua saja? tidak. karena diawal ayat Allah memerintahkan kita untuk merendahkan diri dengan penuh kesayangan kepada mereka. bukankah itu tindakan dan bukan sekedar doa. karena cinta dan kasih sayang bukanlah sekedar pengakuan dan ucapan, akan tetapi lebih kepada bukti dan tindakan. Sikap kita kepada mereka adalah bukti kasih sayang kita kepada mereka.

Begitu juga cinta kepada suami/istri. jika kita menikah hanya bermodalkan kata “aku cinta kamu” maka jangan harap cinta itu akan tetap membekas pada kehidupan anda setelah menikah. banyak dari pasangan suami istri mengeluh bahwa cinta mereka tidak lagi sama sebagaimana cinta mereka pada awal-awal pernikahan. saya katakan, tidak ada cinta yang sama kecuali cinta yang didasari tanggung jawab, dan tidak ada cinta yang hakiki kecuali yang bermula dari cinta kepada Allah.

Pernikahan adalah titipan terbesar dari Allah kepada hamba-Nya. sebuah tanggung jawab terbesar selama hidup manusia. karena itu Allah menyebutnya sebagai “perjanjian yang kuat.” maka cinta kepada suami/istri harus didasari cinta kepada Allah terlebih dahulu. sadar akan posisi seorang suami sebagai pemegang tertinggi amanah pernikahan dan sebagai orang yang bertanggung jawab atas ucapan akad ketika dia menikahi istrinya. sadar bahwa dia menerima pernikahan tersebut dengan nama Allah.

“Pernikahan adalah titipan terbesar dari Allah kepada hamba-Nya. sebuah tanggung jawab terbesar selama hidup manusia.”

Seorang istri pun harus demikian. sadar akan posisinya sebagai orang paling bertanggung jawab atas harta dan anak-anak suaminya. sadar bahwa dalam mengarungi samudra kehidupan ini dia mempunyai seorang nahkoda yang harus selalu didukung dan ditaati. jika istri membiarkan nahkodanya salah dalam mengarahkan kapalnya, maka dia akan tenggelam bersama nahkoda dan seisi kapalnya. istri harus sadar bahwa pernikahannya sah karena nama Allah telah diucapkan didalamnya.

Maka sebelum semuanya terlambat, ubahlah dasar cinta kita yang dahulu karena nafsu dan tuntutan status menjadi cinta yang didasari karena iman dan cinta kepada Allah. karena hanya cinta inilah yang tidak terikat dengan waktu dan abadi, dan tidak akan berkurang sedikitpun walau angka tahun selalu berganti. cinta yang akan menjadikan kita selalu bersama dengan orang-orang yang kita cintai baik didunia maupun diakherat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: