Archive for the ‘Kitab Tauhid 1’ Category

Sikap Pasif Kaum Muslimin Dan Problematikanya

oleh: Dr.Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al fauzan

Di antara sikap wala’ dan mahabbah karena Allah antar-umat Islam adalah seorang muslim harus mempedulikan urusan masyarakatnya secara umum dan mempedulikan urusan saudaranya sesama muslim secara khusus.

Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kecintaan, kasih sa-yang dan kelembutannya adalah bagaikan satu jasad. Manakala suatu anggota tubuhnya mengadu kesakitan, maka sekujur tubuhnya itu menanggungnya, tidak tidur malam dan demam.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Baca lebih lanjut

Bentuk-Bentuk Taqlid Kepada Kuffar Yang Buruk

oleh: Dr.Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al fauzan

Yaitu melampaui batas dalam menyenangi dan menggandrungi perkara-perkara sepele yang tidak banyak artinya, dan menggelutinya sampai lupa kepada Allah, lalai dari ketaatan kepadaNya serta lalai dan meninggalkan amal usaha yang berguna bagi dunia dan agama-nya.

Mereka melakukan hal ini sebagai akibat dari kekosongan hidup yang dialaminya; hidup tanpa aqidah, tanpa ibadah dan tanpa kebajikan yang ditabungkan untuk akhirat. Mereka melakukan karena terpedaya dan terkecoh oleh bangsa-bangsa lain yang terus-menerus mengupayakan untuk menjauhkan mereka dari agama dan akhirat mereka.

Baca lebih lanjut

Hukum Meniru Kaum Kuffar, Macam-Macam Dan Dampaknya

oleh: Dr.Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al fauzan

A. Hukumnya
Meniru kaum kuffar dalam hal-hal yang menjadi kekhasan mereka atau adat mereka adalah haram dan diancam dengan ancaman yang keras, karena itu merupakan bentuk wala’ kepada mereka. Padahal Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa bertasyabbuh (menyerupai) dengan suatu kaum maka ia termasuk dari mereka.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan di-shahih-kan oleh Ibnu Hibban)

Kemudian keharamannya berbeda-beda menurut mafsadah (kerusakan) yang ditimbulkannya serta dampak-dampak yang disebabkan olehnya.

Baca lebih lanjut

Mengutamakan Tinggal Dan Bekerja Di Negara Kafir

oleh: Dr.Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al fauzan

Bekerjanya seorang muslim untuk mengabdi atau melayani orang kafir adalah haram, karena hal itu berarti penguasaan orang kafir atas orang muslim serta penghinaannya. Iqamah atau bertempat tinggal terus-menerus di antara orang-orang kafir juga diharamkan.

Karena itu Allah mewajibkan hijrah dari negara kafir menuju negara muslim dan mengancam yang tidak mau berhijrah tanpa uzdur syar’i. Juga mengharamkan seorang muslim bepergian ke negara kafir kecuali karena alasan syar’i dan mampu menunjukkan ke-Islamannya, kemudian jika selesai tujuannya maka ia harus segera kembali ke negara Islam.

Baca lebih lanjut

Hukum Meminta Bantuan Kepada Orang-Orang Kafir

oleh: Dr.Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al fauzan

A. Dalam bidang bisnis atau pekerjaan
Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disem-bunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi.” (Ali Imran: 118)

Baca lebih lanjut

Menyambut Dan Ikut Rayakan Hari Raya Atau Pesta Orang Kafir Serta Berbelasungkawa Dalam Hari Duka Mereka

oleh: Dr.Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al fauzan

A. Hukum Menyambut dan Bergembira dengan Hari Raya Mereka
Sesungguhnya di antara konsekuensi terpenting dari sikap membenci orang-orang kafir ialah menjauhi syi’ar dan ibadah mereka. Sedangkan syi’ar mereka yang paling besar adalah hari raya mereka, baik yang berkaitan dengan tempat maupun waktu. Maka orang Islam berkewajiban menjauhi dan meninggalkannya.

Baca lebih lanjut

Menyayangi Dan Memusuhi Para Ahli Maksiat

oleh: Dr.Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al fauzan

Menyayangi Dan Memusuhi Para Ahli Maksiat
Penjelasan di atas adalah tentang pemberian wala’ kepada sesama mukmin sejati dan permusuhan kepada kafir sejati. Adapun golongan ketiga yaitu orang mukmin yang banyak melakukan dosa besar, pada dirinya terdapat iman dan kefasikan, atau iman dan kufur kecil yang tidak sampai pada tingkat murtad. Bagaimana hukumnya dalam hal ini?! Jawabannya adalah bahwa orang itu terdapat hak muwalah (diberi wala’) dan mu’adah (dimusuhi). Dia disayangi karena imannya, dan dimusuhi karena kemaksiatannya dengan tetap memberikan nasihat untuknya; memerintahnya pada kebaikan, melarangnya dari kemung-karan dan mengucilkannya bilamana pengucilan itu memang membu-atnya jera dan malu.

Baca lebih lanjut

Beberapa Contoh Tentang Setia & Memusuhi Karena ALLAH

oleh: Dr.Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al fauzan

Beberapa Contoh Tentang Setia Dan Memusuhi Karena Allah
1. Sikap Nabi Ibrahim Alaihissalam dan pengikutnya terhadap kaumnya yang kafir.
Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja’.” (Al-Mutahanah: 4)

Baca lebih lanjut

Mudahanah Dan Mudarah Berikut Kaitannya Dengan Al-Wara Wal Bara

oleh: Dr.Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al fauzan

Mudahanah dan kaitannya dengan al-wala’ wal bara’
Mudahanah artinya berpura-pura, menyerah dan meninggalkan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar serta melalaikan hal tersebut karena tujuan duniawi atau ambisi pribadi. Maka berbaik hati, bermurah hati atau berteman dengan ahli maksiat ketika mereka berada dalam kemaksiatannya, sementara ia tidak melakukan pengingkaran padahal ia mampu kelakukannya maka itulah mudahanah.

Baca lebih lanjut

Al-wala Wal Bara

oleh: Dr.Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al fauzan

Definisi al-wala’ wal bara’
Wala’ adalah kata mashdar dari fi’il “waliya” yang artinya dekat. Yang dimaksud dengan wala’ di sini adalah dekat kepada kaum muslimin dengan mencintai mereka, membantu dan menolong mereka atas musuh-musuh mereka dan bertempat tinggal bersama mereka.

Sedangkan bara’ adalah mashdar dari bara’ah yang berarti memutus atau memotong. Maksudnya di sini ialah memutus hubungan atau ikatan hati dengan orang-orang kafir, sehingga tidak lagi mencintai mereka, membantu dan menolong mereka serta tidak tinggal bersama mereka.

Baca lebih lanjut

Buah Tarbiyah Tauhid Asma’wa Sifat Pada Diri Individu & Masyarakat

oleh: Dr.Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al fauzan

Sesungguhnya iman dengan asma’ dan sifat Allah sangatlah berpengaruh baik bagi perilaku individu maupun jamaah dalam mu’amalah-nya dengan Allah dan dengan makhluk.

A. Pengaruhnya Dalam Bermu’amalah Dengan Allah
Jika seseorang mengetahui asma’ dan sifatNya, juga menge-tahui madlul (arti dan maksud)nya secara benar, maka yang demikian itu akan memperkenalkannya dengan Rabb-nya beserta keagungan-Nya. Sehingga ia tunduk dan khusyu’ kepadaNya, takut dan mengharapkanNya, tunduk dan memohon kepadaNya serta bertawassul kepadaNya dengan nama-nama dan sifat-sifatNya.

Baca lebih lanjut

Asma’Husna & Sifat Kesempurnaan,Serta Pendapat Golongan Sesat Berikut Bantahannya

oleh: Dr.Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al fauzan

Pertama: Asma’ Husna
Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Hanya milik Allah asma’ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma’ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Al-A’raf: 180)

Baca lebih lanjut

Makna Tauhid Asma’wa Sifat & Manhaj Salaf Didalamnya

oleh: Dr.Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al fauzan

A. Makna Tauhid Asma’ Wa Sifat
Yaitu beriman kepada nama-nama Allah dan sifat-sifatNya, sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah RasulNya Shallallaahu alaihi wa Salam menurut apa yang pantas bagi Allah Subhannahu wa Ta’ala, tanpa ta’wil dan ta’thil, tanpa takyif, dan tamtsil, berdasarkan firman Allah Subhannahu wa Ta’ala : “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)

Baca lebih lanjut

Tingkatan Dien

oleh: Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al fauzan

A. Definisi Tingkatan Dien
Dien adalah keta’atan. Dien juga disebut millah, dilihat dari segi keta’atan dan kepatuhan kepada syari’at.
Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imran: 19)

Sedangkan tingkatan dien itu adalah:
1. Islam
Menurut bahasa, Islam berarti masuk dalam kedamaian. Sedangkan menurut syara’ Islam berarti pasrah kepada Allah, bertauhid dan tunduk kepadaNya, ta’at dan membebaskan diri dari syirik dan para pengikutnya.

Baca lebih lanjut

Pilar-Pilar Ubudiyah Yang Benar

oleh: Dr.Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al fauzan

Sesungguhnya ibadah itu berlandaskan pada tiga pilar sentral, yaitu: hubb (cinta), khauf (takut) dan raja’ (harapan). Rasa cinta harus dibarengi dengan sikap rasa rendah diri, sedangkan khauf harus dibarengi dengan raja’. Dalam setiap ibadah harus terkumpul unsur-unsur ini.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman tentang sifat hamba-hambaNya yang mukmin: “Dia mencintai mereka dan mereka mencintaiNya.” (Al-Ma’idah: 54)
“Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)
Baca lebih lanjut