Archive for November, 2008

Mengukur Rasa Cinta Kepada Allah SWT

Cinta ditilik dari sudut mana pun selalu menarik untuk dibahas. Sejarah mencatat bahwa sejumlah seniman, teolog, sampai filosof membicarakan cinta dari berbagai perspektifnya, baik dalam bentuk roman, puisi, syair, bahkan sampai dalam bentuk tulisan ilmiah yang bernuansa teologis, fenomenologis, psikologis, ataupun sosiologis.

Iklan

Hubungan Doa, ikhtiar, dan Takdir

Ketika Nabi Ibrahim menempatkan putranya yang masih bayi, yakni Ismail, dan istrinya, yaitu Siti Hajar, di suatu lembah yang dikenal dengan sebutan Bakka. Istrinya bertanya, “Allahu amaraka bihaadza (Apakah ini perintah Allah)?”, Ibrahim menjawab, “Ya.” Mendengar jawaban ini, Sti Hajar berkata, “Kalau begitu aku merasa tenang karena aku yakin Allah tidak akan meninggalkanku.”

Kencan dengan sang Khalik

Siapa sangka, dua jam sebelumnya Annisa masih bisa diajak bicara dan bercanda. Tetapi, dua jam kemudian ia mengerang kesakitan dan membutuhkan pertolongan gawat darurat sebuah rumah sakit untuk kesembuhannya. Ketika itu satu-satunya tempat bergantung/mengadu hanyalah Rabbnya. Dengan sadar, tak henti-hentinya asma Allah ia agungkan dengan lirih di sela-sela rintihan sakitnya.

Belajar dari Pohon Tua

Suatu ketika, di sebuah padang, tersebutlah sebatang pohon rindang. Dahannya rimbun dengan dedaunan. Batangnya tinggi menjulang. Akarnya, tampak menonjol keluar, menembus tanah hingga dalam. Pohon itu, tampak gagah di banding dengan pohon-pohon lain di sekitarnya. Pohon itupun, menjadi tempat hidup bagi beberapa burung disana.

Mendekatkan Diri Kepada Allah

Oleh: Iman Santoso, Lc


Bagi setiap muslim, apalagi dai, berkewajiban untuk mendekatkan diri kepada Allah agar meraih kecintaan-Nya. Dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan: “Pendekatan diri hamba-Ku yang paling Aku cintai adalah dengan sesuatu yang Aku wajibkan padanya. Dan jika hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri dengan nafilah (ibadah tambahan), sehingga Aku mencintainya.” (Bukhari)

Baca lebih lanjut